
Cklek!
Elisa yang lagi menyuapi Hansel, segera menoleh saat pintu ruangan terbuka. Elisa tersenyum dengan kedatangan Ella dan baby twins.
"Bunaaa!" girang Vina lari ke Elisa.
"Wah Vina sepertinya hari ini senang banget datang ke sini. Pasti mau ketemu sama Paman Hans ya?" tebak Elisa. Vina segera mengangguk kemudian merengek ingin naik ke pangkuan Elisa. Gadis cilik ini ingin melihat Hansel. Ella cuma tertawa kecil dengan tingkah Vina yang merengek.
"Bunaaa inyi ada jeyuk," senyum Vino sambil memberi satu buah jeruk pada Elisa. Jeruk dari dalam bingkisan yang dibawa Ella.
"Pfft, lama-lama Vino makin lancar bicaranya ya," tawa Elisa merasa geli diberi jeruk khusus dari Vino. Sedangkan Vina sangat girang duduk di pangkuan Elisa membuat Hansel dan Devan cuma geleng-geleng kepala.
"Oh ya, bagaimana kondisi Kak Hans?" tanya Ella sembari meletakkan bingkisan di atas meja.
"Sudah dalam pemulihan, mungkin beberapa hari ini dia sudah bisa keluar dari sini," jawab Elisa mengupas jeruk kemudian memberikan pada Vina lalu Hansel. Menyuapi satu ke mulut suaminya dengan perhatian.
"Baguslah, kalau begitu dia sudah bisa bekerja menggantikanmu," ucap Devan duduk di sofa bersama Vino kemudian diikuti Ella duduk di dekat putranya.
"Ahaha, begitulah. Aku pikir Hansel lebih handal mengurus perusahaan." Elisa agak grogi berhadapan dengan Devan. Takut Devan akan mengetahui identitas Hansel melalui pikirannya.
"Mungkin aku tidak bisa, Sya." Hansel angkat bicara.
"Loh, ada apa?" tanya Elisa dan Ella bersamaan saking terkejutnya tiba-tiba Hansel bicara seperti itu.
"Aku masih bekerja di perusahaan Devan, mana mungkin aku bisa pindah bekerja semudah itu. Sedangkan masa kontrakku masih la-"
__ADS_1
"Tidak usah pikirkan itu, kamu hari ini sudah aku pecat." Hansel terkejut mendengar ucapan Devan.
"Dipecat?" ucap Elisa ikut terkejut.
"Ya dipecat, jadi suamimu bisa bekerja di perusahaan Tuan Vian dan kamu bisa berkesempatan ikut mengurusnya, kan?" tanya Devan berdiri mendekati Hansel kemudian menepuk bahu mantan sekretarisnya.
"Cukup istirahat yang banyak, Hans. Dan ku harap kinerjamu di perusahaan Tuan Vian bisa menaikkannya ke deretan perusahaan yang bisa terus bersanding denganku. Tapi, aku juga tidak akan kalah darimu, Presdir Hans," lanjut Devan tersenyum smirk merasa Hansel bisa saja menjadi saingan bisnisnya.
"Tentu Presdir Devan, aku juga tidak akan kalah darimu." Hansel balas tersenyum smirk.
"Dan juga akan bersama mengerjai istri kita masing-masing, hehehe...." lanjut Devan dan Hansel menyeringai tipis dalam hati.
Elisa mengangkat alisnya, ia heran dengan ekspresi dua pria di depannya. Ia pun berdiri bersama Vina menuju ke Ella.
"Ella, kamu tahu apa yang mereka bicarakan? Kenapa aku merasa ada yang aneh?" tanya Elisa bisik-bisik.
"Punya rahasia?" tebak Elisa mulai merinding merasa dua pria itu bersekongkol untuk melakukan hal yang aneh di kemudian hari. Tidak seperti Ella yang otaknya kembali blenk. Berpikir, "Mungkinkah Devan dan Hansel benar-benar saling berhubungan?" itulah yang terbesit di dalam otak Ella.
Mata Elisa dan Ella tiba-tiba melebar membuat Vino dan Vina terkejut. Ternyata kedua wanita ini shock melihat Devan mengupas kulit jeruk khusus untuk Hansel.
"Eh buset, tumben mereka terlihat sangat dekat hari ini," gumam Elisa memperhatikan kelakuan Devan.
"Ya Kak Elisa, aku pikir mungkinkah Devan dan Hansel diam-diam pacaran di belakang kita? Terus mereka mau pamer?"
Tuk!
__ADS_1
Aduh! Ella meringis sakit ditepuk oleh Elisa sehingga Devan menoleh ke arah mereka.
"Ish, Ella! Kamu jangan berpikir aneh-aneh tentang suami kita. Kamu ini kenapa masih belum berubah sih, aku jadi heran kamu ini polos apa memang bodoh?" ucap Elisa agak kesal. Ella yang mendengarnya juga ikut kesal.
"Iih, aku kan cuma menebaknya saja. Bisa jadi kan mereka berdua punya hubungan gelap. Lagian juga mereka sudah lama saling bekerja bersama-sama." Ella mendesis cemberut membuat Hansel dan Devan mengangkat alis melihat perdebatan Elisa dan Ella yang terdengar nampak tidak jelas.
"Eh," Elisa pun diam merasa mulai terintimidasi oleh ucapan Ella. "Ah masa sih suamiku g*y?" gumam Elisa sedikit curiga dan takut.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Devan mendekati mereka. Reflek, Ella berdiri kemudian merangkul lengan Devan.
"Honey, kita pulang sekarang. Anak-anak tadi mau ke rumah Mama Chelsi, kita ke sana yuk," mohon Ella penuh harap dan tidak mau Devan dekat-dekat dengan Hansel.
"Loh, kita kan baru saja beberapa menit ke sini. Kenapa malah tiba-tiba ingin pulang?" tanya Devan makin terheran-heran.
"Hais, lihatlah anak-anak kita, Devan. Mereka itu sudah jenuh di sini, kita pulang saja. Nanti lain kali kita jenguk kak Hans," mohon Ella sekali lagi.
"Tapi sayang, kita baru sampai loh," ucap Devan masih bersikeras ingin tinggal. Elisa mengerutkan kening melihat adik iparnya tidak mau menuruti kemauan Ella. Elisa pun mendekati Hansel kemudian berkata : "Kalian pulanglah sekarang, waktu jenguk pasien juga sudah hampir habis. Aku kasian juga sama Vino dan Vina yang mau ke rumah Mama tapi harus lama-lama di sini, mending kamu bawa istri dan anakmu jenguk Mama, Devan."
"Nah betul honey, aku dengar Mama juga kurang sehat di rumah. Kita ke rumah Mama Chelsi ya," lagi-lagi dipaksa oleh Ella.
Karena dipaksa terus-menerus oleh Ella, Devan pun menuruti kemauan istrinya. Ia juga harus buktikan kepada Ny. Chelsi bahwa ia adalah menantu yang baik. Devan pun melirik Hansel, ada sedikit rasa takut kalau Hansel bisa merebut posisi menantu idaman di keluarga Marchela.
"Benar, sepertinya tadi Mama Chelsi terlihat kurang baik. Lebih baik aku ke rumah Mama membawa Vino dan Vina, siapa tahu kehadiran dua cucunya bisa membuatnya lebih baik lagi." Devan bergumam dalam hati kemudian ia pun mengiyakan.
"Baiklah, sekarang kita ke rumah Mama." Mendengar Devan setuju membuat Ella senang, keluarga kecil ini pun pamit untuk pergi ke rumah Tn. Vian lagi. Hansel cuma tersenyum melihat kepergian mereka, namun tiba-tiba ia diam terkejut setelah mendengar pertanyaan dari Elisa.
__ADS_1
"Hans, kamu masih mencintaiku, kan?"