
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Hansel bertanya pada Dokter yang keluar dari ruangan dan sudah memeriksa Renita.
"Cuma goresan kecil, dia tidak apa-apa. Kau tenang saja,"
"Baguslah, Dok." Hansel mengelus dada merasa lega. Jika Renita kenapa-napa, dia akan dimarahi oleh keluarga wanita ini.
"Kalau begitu saya pergi dulu, dia akan siuman nanti, permisi." Dokter pamit lalu pergi meninggalkan Hansel.
Hansel menghela nafas dan melihat jam tangannya.
"Aku harus kembali, dia pasti menungguku di sana dari tadi."
Saat ingin pergi meninggalkan ruangan, tangannya ditahan oleh seseorang. Hansel berbalik dan terkejut melihat Renita sudah sadar. Perban di kepalanya amat jelas gara-gara benturan di kaki meja pemilik toko tadi.
"Hans, kau mau ke mana?" tanya Renita menatapnya.
Hansel melepaskan genggaman Renita. "Maaf, Ren. Kamu sudah baikan, sekarang aku harus kembali ke Nona Elisa," jawab Hansel mulai berjalan. Renita masih diam di tempat dan mengepal tangan. Dengan cepat tanpa peduli luka di kepalanya, ia berjalan dan menyeimbangi langkah kaki Hansel.
"Tunggu, Hans. Apa benar kamu sudah pacaran dengan Nona Elisa?" tanya Renita masih belum percaya.
"Itu benar, aku mencintainya dan untukmu kita cuma sebatas rekan kerja. Kau jangan asal bicara padaku, sekarang kau kembali lah ke ruanganmu." Hansel begitu dingin menjawabnya dan tetap berjalan. Dalam hatinya, ia benar-benar cuma menganggap Renita sebagai teman saja.
Renita berhenti dan menunduk lagi. Ia membiarkan Hansel pergi dan kembali ke ruangannya untuk merenungi keputusan Hansel yang berpacaran dengan Elisa.
Tidak seperti Devan sekarang yang sudah sampai di rumah sakit. Seluruh anak buahnya mencari Hansel di setiap lorong-lorong rumah sakit. Raut wajahnya tak bisa diungkapkan lagi, ia amat marah pada satu pria ini yang sudah berani membuat Elisa menangis di pinggir jalan.
"Cari Sekretaris Hans sampai dapat!" pinta Devan pada anak buahnya lagi. Tangannya sudah dikepal, siap-siap ingin memberi pelajaran pada Hansel. Semua pengunjung di rumah sakit bertingkat itu keheranan melihat para pria berjas hitam mengepung rumah sakit.
Mobil Jastin sampai juga di rumah sakit, Elisa dengan panik segera keluar dari mobil begitupun Ella ikut berjalan di belakanganya. Apalagi mobil Devan sudah terparkir dengan beberapa mobil lainnya.
"Hais, Devan terlalu berlebihan. Semoga saja aku bisa menemukan Hans duluan." Elisa mendesis masuk ke dalam rumah sakit dan mencari Hansel dengan lewat di lorong lain.
Namun tak sangka, saat Ella ingin menghentikan Elisa agar tidak berjalan cepat, tiba-tiba saja bahunya ditahan dan langsung dipojokkan oleh Jastin.
"Argh, kau! Apa yang kau lakukan!" jerit Ella kesakitan pada bahunya dan sedikit takut berhadapan dengan Jastin, apalagi sekarang cuma mereka berdua saja dan Elisa sudah hilang dari jangkauan Ella.
Jastin tersenyum miring, membuat Ella makin ketakutan.
Gleg!
__ADS_1
Ella menelan ludah mencoba mendorong Jastin. Tapi lelaki ini makin mengunci dirinya.
"Ck, lepaskan aku!" bentak Ella sekuat tenaga ingin lepas. Seketika seluruh tubuhnya merinding saat Jastin menyentuh dan mengangkat dagunya.
"Oh Nona, tidak usah memberontak. Aku hanya ingin melihat lebih dekat wajahmu, tak sangka rupanya kau adiknya Elisa."
Ella diam dan kembali menelan ludah. Posisi yang amat dekat ini seakan terlihat Jastin mau menciumnya. Ella dengan sekuat tenaga langsung menginjak kaki kiri Jastin.
"Aaaagh!" jerit Jastin melepaskan Ella.
"Ini kesempatanku kabur," gumam Ella segera mendorong Jastin dan lari entah kemana.
"Ck, sialan!" decak Jastin mengejarnya dengan amarah dan menahan kesakitan pada kakinya.
Ella lari terengah-engah, ia menuju ke sebuah tangga ingin mencari Elisa, namun sama sekali tak menemukan siapa-siapa. Saat ingin membuka pintu ke lorong lain, tiba-tiba tangannya ditahan. Ella kembali dipojokkan oleh Jastin yang berhasil mengejarnya.
"Argh, lepaskan aku!" jerit Ella kesakitan dirinya diseret ke sebuah ruangan. Ella benar-benar tidak sangka, Jastin orang yang sangat bermasalah. "Pantas Kak Elisa membencinya."
"Lepaskan aku!" pekik Ella dan langsung didorong masuk oleh Jastin. Ella sungguh kaget, dirinya dikunci bersama Jastin di ruangan kosong. Jastin tersenyum menyeringai mulai mendekati Ella.
"Kau-kau mau apa?" Ella mundur perlahan dan segera merogoh saku celananya. Namun ponselnya hilang, dan sekarang ponsel itu ada di tangga yang tadi tak sengaja jatuh saat Ella berlari.
"Aku mau apa?" Jastin mengulangi ucapan Ella sambil perlahan mendekatinya yang makin mundur dan akhirnya mentok ke tembok di belakangnya.
"Nona, tidak perlu takut. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Dilihat-lihat kau lebih manis dari Kakakmu. Bagaimana kalau kita pacaran?" goda Jastin makin dekat dan mulai memainkan rambut Ella. Mata birunya seakan ingin menghipnotis Ella.
"Tidak, kau gila!" tolak Ella mendorong dada Jastin.
"Oh, gila? Jangan kasar padaku, Nona." Cengkram Jastin pada dua tangan Ella. Ella merintih, pergelangannya dicengkram amat kuat. Ia tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa kabur lagi. Hanya dapat berharap Devan bisa menemukannya.
"Kau harus tahu," bisik Jastin pada telinga kanan Ella. Ella menggeliat geli dibisik oleh Jastin, apalagi nafas Jastin yang berbau alkohol menyeruak pada hidungnya.
"Kakakmu itu sebenarnya sudah-" Bisikan Jastin membuat mata Ella membola.
"Bohong!" ujar Ella tak percaya.
"Oh bohong? Jadi kau tak percaya Kakakmu itu sudah tak lagi perawan? Dia itu wanita ******, kehormatannya sudah hilang." Jastin tersenyum picik, ia bagaikan setan di mata Ella.
"Pembohong!" pekik Ella berhasil mendorong Jastin dan segera ke arah pintu ingin keluar. Namun pintu terkunci membuat rasa ketakutanya makin meningkat.
__ADS_1
"Oh oh oh, kuncinya ada di tanganku Nona," kata Jastin memperlihatkan kunci di tangannya dan kembali memojokkan Ella ke pintu ruangannya.
"Beraninya kau lakukan itu pada kakakku!" geram Ella menatapnya tajam. Marah dan kesal bercampur rasa takutnya.
"Aku yang lakukan? Oh bukan, Nona. Bukan aku yang merebut keperawanan Kakakmu, tapi kekasih barunya dulu. Tapi sekarang mungkin sudah putus gara-gara mantannya menikahi wanita lain. Tapi kau tidak usah kuatir, aku tidak akan membocorkan aib kakakmu, asalkan kau mau pacaran denganku maka semuanya akan aman."
Penuturan Jastin membuat Ella diam. Pikirannya kini tertuju pada Devan. Mengira Devan sudah merebut keperawanan Elisa.
"Bohong, kau jangan fitnah suamiku! Dia tidak mungkin lakukan itu pada Kakakku!"
Jastin terkejut mendengarnya.
"Su-suamimu?"
"Apa Devan, suamimu?" tanya Jastin tak percaya.
"Ya, dia suamiku! Dia tidak mungkin lakukan itu!" Lagi-lagi Ella tetap membela Devan.
"Ahahaa, benar-benar luar biasa. Ternyata kau Istri pria brensek itu. Tapi tak masalah, aku suka gayamu. Itulah Devan lebih memilihmu, dan sekarang mungkin aku bisa memilikimu juga, Nona manis." Jastin kembali merayunya, dari dalam matanya nampak ingin balas dendam pada Devan. Ella hanya bisa diam dagunya disentuh oleh Jastin. Pikirannya kini kemana-mana soal Devan dan Elisa.
"Kau tetap gila! Kau pembohong! Aku tak percaya padamu! Dan aku tak suka kamu, aku lebih menyukai suamiku!" dorong Ella menjauh dari Jastin. Ia berhasil merebut kunci tanpa disadari oleh Jastin.
"Oh jadi kau masih belum percaya ucapanku?" Suara Jastin begitu lembut dan mulai mendekati Ella bahkan diam-diam ingin membuka ikat pinggangnya.
"Dia wanita yang manis, lumayan juga," gumam Jastin dalam hati.
"Aku harus pergi dari sini." Pikir Ella mundur dan perlahan mendekati pintu kembali.
"Ya, aku tak percaya! Kau tak punya bukti!"
Jastin terkejut mendengar keteguhan Ella yang tetap tak dapat ia hasut. Dengan santai Jastin tertawa.
"Ahaha, bukti? Oh aku punya bukti."
Ella diam membisu mendengarnya. Kini perasaannya tiba-tiba tak karuan. Jastin mendekati Ella dan membisikkannya dengan lembut.
"Jika kau ingin buktinya, maka datanglah dan mintalah sendiri padaku. Kau pasti akan percaya setelah melihatnya, mereka berdua nampak begitu seksi,"
"Sekarang aku pergi dulu, sayang."
__ADS_1
Jastin memasukkan kartu namanya di saku kemeja Ella lalu mengelus lembut kepalanya dan merebut kunci yang sudah disadari olehnya. Ia keluar dari ruangan itu sambil tertawa puas. Tak seperti Ella yang jatuh ke lantai dan menekuk lututnya. Menyembunyikan wajahnya.
"Tidak, tidak. Devan tidak mungkin lakukan itu." Tangis Ella pecah, ia sesugukan di ruangan itu sendirian.