
Dalam perjalanan menyusuri hutan, Ella mulai lelah berjalan. Melihatnya tersengal-sengal membuat Devan berhenti dan cemas dengan istrinya. Apalagi Ella dari dulu punya fisik yang lemah.
"Sayang, ada apa denganmu?"
Devan semakin panik setelah dipeluk oleh Ella.
"Aku-aku sangat capek, apa kita masih jauh dari villa? Apa kita tidak tersesat?"
Devan kasihan dengan istrinya, ia segera menggendongnya. Hal ini membuat Ella menjerit terkejut.
"Aaah! Kau mau apa honey?" tanya Ella direngek oleh Devan.
Devan tersenyum dan kemudian berjalan menyusuri jalan.
"Karena kau lelah, jadi biarkan suamimu yang membawamu ke villa, aku tidak mau kau kelelahan setelah kita sampai di sana."
Ella merona mendengarnya, ia pun merangkul erat leher Devan.
"Argh, Ella! Kenapa mencekikku," rintih Devan membuat Ella tertawa kecil.
"Ya sudah, turuni aku," pinta Ella tak mau menyusahkan Devan.
"Tidak, sekarang kau diam saja," tolak Devan.
"Iih, turunkan aku!" pinta Ella sekali lagi.
"Tidak akan,"
"Iiih, honey!" cetus Ella menjewer sedikit telinga Devan membuat suaminya berhenti. Merasa Ella mulai mirip dengan Ny. Mira yang suka menjewer telinga Tn. Raka.
"Honey!" pinta Ella teriak sedikit karena Devan tiba-tiba diam.
Devan bergumam sebentar, "Wah gawat, aku tidak mau Ella jadi Ibuku, kalau begitu aku menurut saja." Dengan terpaksa Devan akhirnya menurunkan Ella. Walau begitu, pantat dua gemoy istrinya ditepuk sedikit.
Pak!
Aduh!
Ella cemberut dijahilin lagi. Devan tertawa kekeh melihatnya.
"Ahahaha, sekarang kita berjalan bersama. Anak-anak pasti menunggu kita, kita harus cepat sampai di vila, sayangku." Kata Devan dengan penuh kasih sayang mencium pipi Ella.
Ella menunduk dan tersipu.
"Hm, baiklah."
Devan dan Ella berjalan saling bergandeng tangan menyusuri jalan di depan mereka. Meski terlihat dari raut wajah mereka nampak senang, di dalam hati mereka ada rasa ketakutan bila bertemu dengan babi hutan.
Tapi yang Ella gundahkan adalah foto yang dipegang bapak tua tadi. Ella merasa jika foto bocah kecil itu terlihat mirip dengan seseorang.
"Honey," panggil Ella ingin katakan pada Devan.
Devan menoleh dan tersenyum.
"Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Hm, tidak ada apa-apa."
Ella balas tersenyum dan tak jadi bicara, ia sepertinya tak mau ini menjadi beban untuk Devan.
"Yakin tidak ada apa-apa?" Devan mendekati wajah Ella yang merona. Sontak Ella mendorong wajah Devan karena jaraknya terlalu dekat.
"Benar honey, sekarang kita jalan lagi." Ella menarik tangan suaminya. Devan hanya menurut saja, namun pada saat ingin berbelok, tiba-tiba Ella menjerit.
"Aaaaaa .... honey!" jerit Ella memeluk Devan.
"Kenapa sayang?" tanya Devan sontak panik.
Ella menunjuk ke arah kanan dan menjerit kembali.
"Aaaa ... itu ada rumput bergoyang!" Tunjuk Ella membuat Devan terdiam. Bukan karena jeritan Ella tapi memang rumput yang ditunjuk Ella tiba-tiba bergoyang kanan ke kiri.
"Honey! Kenapa kau malah ikut bergoyang!" kesal Ella melihat pinggul Devan bergerak kanan ke kiri mengikuti rumput itu.
"Sayang, aku rasa di sana ada-"
"Ada apa?" tanya Ella ketakutan memeluk Devan. Takut bila ada gerombolan babi hutan. Devan tak menjawab melainkan teriak menjerit.
"Aaaaaaaaaaaa....!"
Jeritan Devan yang keras membuat Ella ikut menjerit.
"Aaaaaaaa! Apa honey! Kenapa malah teriak?" balas Ella menjerit.
"Ahahahaha," tawa Devan membuat Ella terkejut. Ella melepaskan pelukannya dan melihat Devan. Ia mengernyit keheranan.
"Pfft, sayang itu bukan babi deh. Itu Zeli dan Rafa yang lagi bertengkar dibalik rumput besar itu." Devan menunjuk makin dalam ke arah rumputan liar.
Ella menyipitkan mata dan ternyata benar dua adik iparnya yang lagi berdebat karena Rafa ingin berpencar mencari Devan dan Ella, tapi Zeli tidak mau.
"Oooi!" teriak Devan pada dua adiknya. Sontak Rafa dan Zeli yang saling tunjuk menunjuk reflek menoleh ke arah Devan.
"Bang Devan! Kak Ipar!" balas Zeli teriak dan senang akhirnya menemukan keduanya, gadis muda ini lari ke arah mereka. Sementara Rafa cemberut sedikit melihat Ella dan Devan saling bergandeng tangan. Ingin rasanya dia memegang tangan perempuan yang dia cintai juga.
"Huff, kapan aku bisa menggandeng tangan seorang gadis?" pikir Rafa melihat telapak tangan kanannya. Ia pun merogoh ponselnya dan kemudian menghubungi orang yang ada di villa serta anak buah yang datang mencari Devan dan Ella.
"Wah, Kak Ipar. Kalian dari mana saja? Kenapa tidak pulang kemarin malam? Mami dan semua orang di vila mencemaskan kalian," Zeli berbicara seakan dikejar kuda, nafasnya tersengal-sengal sudah nampak kelelahan.
Ella ingin menjawab, namun Devan segera mendahuluinya.
"Kami, kemarin dikejar babi hutan. Untung saja ada bangunan vila yang bisa kita tempati. Sekarang beritahu pada kami jalan ke vila," jelas Devan melihat Zeli.
"Hm, kalau begitu mari ikuti aku." Zeli kegirangan dengan kompas arah yang dia pegang. Tiga bersaudara ini pun pergi dari hutan bersama Ella. Kini mereka hampir mendekati vila, nampak Rafa diam-diam bertanya pada Ella. Mumpung Devan berbicara pada Zeli soal baby twins.
"Ekhm, bagaimana keadaanmu semalam, La?" tanya Rafa tersenyum ramah.
"Hm, baik. Tapi kemarin kalian kemana saja?" jawab Ella balas bertanya.
"Oh itu, Zeli menyeretku untuk pulang agar kau dan bang Devan bisa berduaan."
Ella terdiam mendengarnya. Ia melihat Zeli yang tertawa kecil sedang diacak-acak rambutnya oleh Devan. Terlihat kakak beradik saling menyayangi.
__ADS_1
"Terima kasih, adik ipar," ucap Ella tersenyum pada Rafa membuat lelaki ini salting.
"Eh, kenapa berterima kasih?" tanya Rafa heran.
Ella tertawa sedikit dan menjawab, "Pfft, itu berkat kalian, aku dan Devan punya waktu bersama. Akhir-akhir ini kami saling mendiami gara-gara masalah kemarin lalu,"
Rafa terdiam melihat Ella menunduk sedih dan akhirnya terkejut dengan tawa Ella.
"Ahaha, tapi sekarang itu sudah berlalu. Lebih baik kita segera berjalan cepat, takutnya ditinggal Devan dan Zeli." Ella menepuk bahu Rafa dan berlari ke arah Devan.
Rafa berhenti sebentar dan menyentuh dadanya sambil melihat Ella berdiri di dekat kakaknya. Terlihat Devan mencium pipi Ella dengan penuh cinta.
"Aku iri padamu, bang Devan. Jika saja aku lebih dulu bertemu Ella, mungkin saat ini harusnya aku yang bisa leluasa mencium pipinya. Tapi sekarang, itu cuma impian belaka saja, lebih baik aku harus mencari pacar!" gumam Rafa berjalan mengejar ketiga orang ini. Rafa sedikit tersenyum melihat senyum manis Ella yang merekah. Ia sudah lama mengiklaskan Ella, namun hatinya masih kosong belum menemukan penggati untuk menempati hatinya sekarang.
"Waaaaaah, Bunda!" teriak Marsya akhirnya melihat dua orang yang dia cari-cari. Gadis kecil ini berlari ke arah Devan dan Ella.
"Lihatlah, siapa nih yang kangen sama Om?"
"Hihi, tentu saja Marsya!" sahut Marsya memeluk Devan dan melihat Ella yang tertawa geli dengan tingkahnya.
Dean dan suaminya mendekati mereka, begitupun Ny. Mira yang menggendong Vina dan Tn. Raka yang menggendong Vino.
"Mama!"
"Papa!"
Terlihat baby twins merengek ingin ke orang tuanya. Tapi Nenek dan Kakeknya tidak mau karena Ella dan Devan terlihat kecapean sekarang.
"Kalian dari mana saja? Kenapa baru pulang?" Mereka kompak bertanya.
Devan pun menjelaskan semua yang terjadi. Namun Devan tak memberi info detail soal pemilik vila yang dia inap semalam.
"Oh ya, apa waktu wisatanya masih lama?" tanya Ella pada Dean.
Dean menggelengkan kepala.
"Maaf, sepertinya wisata kali ini harus ditunda,"
Devan dan Ella terkejut mendengarnya kecuali semua orang diam karena sudah tahu alasannya.
"Loh, ada apa?" tanya Ella dan Devan bersama.
Deddy Marsya maju menjelaskan, "Ada kecelakaan di jalan yang akan kita lalui, hujan kemarin malam mengguyur kawasan itu dan mengakibatkan longsor. Sekarang sebagian anak buahku sudah aku kerahkan untuk membersihkan, tapi sepertinya butuh waktu lama untuk memindahkan bebatuan yang ikut longsor."
Ella menutup mulutnya, ia amat terkejut mendengarnya.
"Hujan? Apa kemarin malam hujan, honey?" tanya Ella pada Devan.
"Benar sayang, kemarin malam hujan dan karena itulah aku begadang sampai hujannya reda. Untung saja bukit di belakang vila bapak itu tidak ikut longsor."
Ella sontak memeluk Devan, ia sangat bersyukur Devan pria yang sangat waspada.
"Sekarang, kita lebih baik kembali ke kota. Ini belum saatnya kita berwisata." Jelas suami Dean sudah menyiapkan beberapa mobil yang akan mereka tumpangi.
Semuanya mengerti dan segera masuk ke dalam vila untuk membereskan barang-barang mereka. Setelah siap, keluarga besar Tuan Raka akhirnya meninggalkan vila dan menuju ke kota. Tak sangka, mobil Devan berpapasan dengan mobil bapak pemilik vila tadi. Ternyata kepergian bapak itu kini tertuju pada kota tempat tinggal Devan. Mencari apa yang selama ini hilang dari hidupnya.
__ADS_1