Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
47. Butuh Solusi


__ADS_3

Setelah makan malam, keluarga besar Tuan Raka mulai keluar kembali. Masing-masing sibuk untuk dengan kegiatan mereka. Terlihat Tuan Raka memasangkan syall ke leher sang Istri sambil memandangi anak-anak dan menantu mereka dari balkon vila.


Terlihat Marsya keluar dari vila dan berlarian di sekitar Rafa dan Zeli yang lagi iseng-iseng membuat api unggun. Sedangkan Dean dan suaminya sibuk lagi berdebat di depan kamar mereka. Berdebat soal Marsya yang harus dibelikan tablet agar kejadian tadi tidak terulang lagi.


"Nah ini pasti cocok untuk Marsya. Ukurannya bagus untuknya," Dean menunjuk sebuah tablet ukuran besar.


"Ini tidak cocok, putri kita akan susah membawanya sayang," ucap suaminya tidak setuju seraya memperbaiki kerah lengannya.


"Tapi layarnya ini lebar, putri kita akan senang menonton leluasa sayang! Serta kualitasnya pasti bagus. Harganya juga sangat murah, cuma 100 juta sayang." Dean sekali lagi menunjuknya dan membujuk suaminya.


Bukan apa-apanya sih, Deddy Marsya hanya tidak mau putrinya kesusahan bila membawa tablet 10 inc dan tentunya berat. Ia pun menolak usulan Istrinya.


"Tetap tidak bisa! Sekarang, kita keluar melihat Marsya."


Dean berdecak melihat suaminya pergi ke luar vila dan meninggalkannya begitu saja. Sikap suaminya yang pemilih-milih kadang membuatnya jengkel.


"Ih, apa sih. Kan bagus dan cocok sekali untuk Marya, besok wisata akan dimulai, aku harus segera memesannya. hehehe."


Dean menyiringai tipis dan tak mau mendengar suaminya, ia mengira tablet ini bisa dipakai untuk memotret keindahan sekitaran vila ini besok. Saat mau menekan fitur pembelian, suara Devan membuatnya terkejut.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Devan mendekati adiknya.


Dean menghela nafas lalu memperlihatkan ponselnya pada Devan.


"Aku ingin beli tablet untuk Marsya, tapi adik iparmu tidak setuju aku beli ini. Menurutmu, ini bagus kan untuk Marsya?" tanya Dean menginginkan pendapat saudara kembarnya.


Devan mengambil ponsel Dean dan mengamati seluruh tablet itu. Devan menyentuh dagunya dan menimbang-nimbang.


"Hm, sepertinya memang-"


Dean mulai berseri-seri berharap Devan suka dengan pilihannya.


"Memang apa?"


"Memang tidak cocok." Devan menjawab adiknya. Seketika pandangan Dean terhadap Devan berubah drastis merasa jengkel.


"Ih, semua cowok sama saja menyebalkan!" celetuk Dean marah dan berbalik ingin pergi.


"Pfft, dasar tukang marah!" balas Devan mengejek adiknya. Dean melambai tidak peduli. Namun seketika ditahan oleh Devan.


"Eits, tunggu dulu."


Dean terkejut melihat Devan berdiri di depannya.


"Ada apa?" tanya Dean memelas.


"Itu kalau kau lagi ngembek, apa yang diperbuat suamimu agar kau tak ngambek lagi?" tanya Devan mencari usulan.


"Hm, memang kenapa? Kau dan Ella baik-baik saja kan?" balas Dean bertanya sambil mengerutkan keningnya.


Devan menghembuskan nafas berat dan kemudian menganggukkan kepala.


"Tidak baik, aku sudah dua hari ini diabaikan olehnya. Jadi menurutmu, bagaimana caranya dia tidak lagi ngembek padaku?" Sekali lagi Devan bertanya, ia sangat butuh solusi.


"Hm, apa ya?"


Dean menyentuh dagunya memikirkan hal-hal yang cocok untuk Ella.


"Ah, kau kasih saja berlian,"


Devan tercengang mendengarnya lalu menepuk wajahnya sendiri.


"Dia tidak akan menerimanya,"


"Lah, kalau begitu kasih emas murni saja," usul Dean lagi.


"Dia tidak akan terima,"


Dean mengerutkan dahinya.


"Ya kalau begitu, kasih mutiara. Bikinkan kalung yang cantik untuknya," usul Dean lagi.


"Dia tetap tak terima," ucapan Devan membuat Dean terheran.


"Loh kenapa begitu? Nilai-nilai yang aku usulkan ini sangat manjur untuk diberikan pada Ella,"

__ADS_1


"Ella itu tidak sepertimu, parfum harga mahal saja dia tidak mau pakai lagi. Apalagi usulan dari dirimu ini, dia tidak peduli dengan barang-barang mewah."


Dean terkejut mendengarnya.


"Wow, istrimu tidak mandang harta ya, dia sangat sederhana."


Devan hanya tersenyum mendengar Dean memuji Ella.


"Ya, itu yang aku sukai darinya. Dia tidak berlebihan dan tidak melebih-lebihkan sesuatu tak seperti dirimu."


Dean tersentak mendengarnya, seketika dua matanya disipitkan tak terima dirinya disindir barusan.


"Hm, apa maksdumu ini?" Dean menyilangkan tangan di depan kedua oppainya.


"Sudahlah, kau tidak bisa memberiku solusi." Devan pergi dengan tampang lesu. Dean tertawa kecil melihat kondisi Devan yang dicuekin oleh Ella. Ia pun pergi untuk memesan tablet untuk Marsya.


"Hm, jadi Bang Devan sama kakak ipar masih marahan?"


Zeli bergumam, dari tadi dia bersembunyi di belakang pilar dan tak sengaja mendengar obrolan Kakak kembarnya.


"Wah, aku punya ide!" Zeli tersenyum miring dan berjalan segera ke kamar Ella.


Tok Tok Tok


"Kak ipar ...." panggil Zeli pada Ella yang sedang memakaikan sepatu untuk Vino dan Vina. Nampaknya Ella dan Baby twins ingin keluar melihat sekitaran vila juga.


"Ada apa kemari, Zeli?" Ella bertanya sambil menurunkan baby twins dari ranjang yang kini sudah siap untuk keluar.


Zeli melihat jam dinding sudah pukul 19.12 Malam.


"Itu, Kak Ipar mau keluar kan?" tebak Zeli bertanya.


"Hm, begitulah. Pasti di luar sangat ramai kan?"


"Ya Kak Ipar, di luar sangat ramai. Tapi-" ucap Zeli berjalan bersama Ella dan baby twins menuruni tangga.


"Tapi apa?" tanya Ella masih berjalan menggandeng tangan mungil dua anaknya.


"Itu," Zeli agak ragu untuk bertanya.


"Bagaimana kalau malam ini Kak Ipar temani aku jalan-jalan? Di arah barat tadi ada banyak kunang-kunang," usul Zeli ingin mulai rencananya.


"Hm, untuk apa dengan kunang-kunang?" tanya Ella terheran-heran.


"Ya itu bagus, Kak Ipar. Bagus buat Vino dan Vina, kita bisa menangkap beberapa kunang-kunang untuk dijadikan hiburan buat trio kecebongku," jelas Zeli membuat Ella terkejut. Bukan karena usulan Zeli tapi dua kata terakhir Zeli.


"Apa, trio kecebong?"


"Hehe, itu si Marsya sama baby twins, Kak Ipar tidak marah kan?" tanya Zeli dengan tampang imutnya.


"Ahaha, tidak apa-apa. Hanya saja kedengaran agak aneh," ucap Ella melihat Vino dan Vina. Ia tertawa kecil mengetahui julukan untuk cucu-cucunya Tuan Raka.


"Kalau begitu, Kak Ipar mau ikut denganku menangkap kunang-kunang?" mohon Zeli sekali lagi bermuka imut.


Ella melihat ke luar, gelap-gulita membuatnya merinding.


"Tapi Zeli, di luar sangat gelap, kita tidak punya penerangan," ucap Ella agak gelisah.


"Tenang saja, aku punya senter nih." Zeli memperlihatkan senter besar di tangannya. Ella geleng-geleng kepala melihat Zeli sudah siap.


"Kalau begitu, aku pergi bawa Vino dan Vina ke Mami," ucap Ella menggandeng tangan baby twins.


"Eits, biarkan aku saja. Kak Ipar tunggu aku di sana saja," Zeli menunjuk ke arah tempat yang sepi.


"Di bagian sana pasti banyak kunang-kunang, sekalian aku juga akan mengambil jaring untuk menangkap kunang-kunang." Zeli tersenyum manis agar dapat menyakinkan Ella.


"Hm, ya sudah. Aku tunggu kamu di sana, maaf sudah merepotkanmu Zeli," ucap Ella akhirnya setuju. Zeli kegirangan dalam hati.


"Tidak masalah, Kak Ipar!" hormat Zeli membuat Ella tertawa kecil. Gadis muda ini pergi membawa Vino dan Vina ke Nyonya Mira. Sedangkan Ella pergi berdiri sendirian ke tempat yang ditunjukkan tadi.


Setelah membawa baby twins, Zeli pergi ke lantai atas secepat mungkin. Ia mencari Devan sambil membawa alat yang ada di tangan kanannya untuk menangkap kunang-kunang nanti.


Terlihat Devan sedang berdiri sendirian di balkon, ia lagi memikirkan cara untuk menyenangkan hati Istrinya.


"Oi, Bang!" panggil Zeli mendekatinya.

__ADS_1


Devan mengerutkan keningnya melihat Zeli dengan sebuah alat.


"Kenapa ke sini? Dan untuk apa alat jaring itu?" tanya Devan.


Zeli tersenyum dan langsung menarik tangan Devan.


"Ikut saja denganku, Bang!"


"Kemana?" tanya Devan dituntun menuruni tangga.


"Ikut saja, aku yakin kau pasti akan senang!" ujar Zeli tidak sabar ingin membawa pasutri ini menangkap kunang-kunang di dekat hutan. Devan ingin membaca pikiran adiknya, tapi pikirannya juga penuh dengan sesuatu hingga ia tidak fokus.


Ella mengelus-elus kedua lengannya, hawa dingin malam ini begitu terasa dingin. Ia berdiri sendirian sambil melihat sekelilingnya yang gelap dan diiringi suara jangkrik yang bernyanyi.


Tiba-tiba seseorang berdiri di dekatnya dan langsung bicara padanya.


"Kau kenapa ke sini, Ella?" tanya Rafa melihat Ella. Ella tersentak dan menoleh ke samping.


"Rafa? Mengapa kau ke sini?" balas Ella bertanya.


Rafa sontak mencentil kening Ella.


Tuk!


Auw-


Ella meringis sakit dan mengelus keningnya.


"Kenapa kau centil keningku?" tanya Ella cemberut.


"Itu karena kau malah bertanya balik, jadi ini hukuman untukmu," jawab Rafa tersenyum. Hanya mereka berdua yang berdiri di sana.


"Ya maaf, tadi itu aku kaget jadi langsung tanya," ringis Ella masih mengelus keningnya.


"Pfft, kalau begitu jawablah, apa yang kau lakukan di sini sendirian?" tanya Rafa kembali.


Ella berpindah mengelus lengannya dan menjawab, "Aku menunggu Zeli, dia mengajakku untuk menangkap kunang-kunang." Ella tersenyum kecil.


"Ooh, kalau begitu aku boleh ikut?" tanya Rafa tersenyum ramah pada Ella. Ella mulai grogi dan akhirnya menjawab Rafa.


"Bo- eh!" kaget Ella tiba-tiba pinggangnya dirangkul seseorang. Ia yang tak lain adalah Devan. Rafa dan Devan saling tatap membuat Zeli dan Ella terdiam. Tatapan mereka sungguh tajam.


"Tidak boleh, yang akan ikut cuma diriku saja. Aku yang akan menemani Istriku sendiri," kata Devan serius dan masih memeluk Ella dalan dekapannya. Zeli menelan ludah melihat ada persaingan di antara dua abangnya.


"Ahaha, Bang Rafa boleh ikut dong. Bang Devan boleh ikut juga, jadi sekarang mendingan kita masuk dan tangkap kunang-kunang," usul Zeli kegirangan. Namun tidak untuk Rafa dan Devan masih bertatapan.


"Hm, mari Zeli kita pergi duluan saja." Ella menarik Zeli pergi ke arah barat hutan. Meninggalkan dua saudara yang masih saling tatap.


"Dia Istriku, kau jangan berkhayal untuk memiliki!" tegas Devan pada Rafa.


Rafa berdecak dan menyusul Ella, ia mengabaikan Devan.


"Ck, siapa juga yang mau," ucap Rafa acuh tak acuh.


Devan greget dengan sikap adiknya, lelaki ini berlari mengejar Ella dan Zeli. Ia akan menjaga dan membantu Ella.


Ella menunduk, ia agak merasa aneh bila bersama Rafa dan Devan. Namun seketika ia dikejutkan dengan tangan yang menggeggamnya. Ella menoleh ke samping melihatnya.


Ella menunduk tersipu, rasa genggaman Devan sedikit kuat dan hangat. Sepertinya Devan tidak mau Ella jauh darinya hingga ia menggenggam tangan Ella. Devan menoleh melihat Ella yang memalingkan muka, tak ada penolakan dari genggamannya. Senyuman terlihat dibibirnya. Ia senang Ella tidak melepaskannya kali ini.



Tapi tidak untuk Rafa yang bermuka datar di belakang pasutri ini. Sedangkan Zeli yang memegang senter hanya senyum-senyum sendiri melihat Devan dan Ella perlahan akur. Kunang-kunang mulai terlihat berterbangan di depan mereka, sangat cantik dan menawan cahaya kecil yang mereka pancarkan. Saatnya penangkapan dimulai, alat yang dibawa Zeli dibagikan pada Ella, Devan serta Rafa.


Sudah ada beberapa yang mereka tangkap dan dimasukkan di dalam botol. Tapi saat Ella lompat ingin menangkap satu kunang-kunang, kakinya malah tersandung hingga dirinya ingin jatuh ke tanah.


"Aaaaa ...!"


Bugh!


Ella jatuh menindih seseorang.


Sontak Zeli terkejut melihat posisi yang amat-amat mencuci kedua matanya. Inilah waktunya Zeli pergi dan menyeret saudaranya meninggalkan Ella dan Devan yang saling bertatapan serta masih diam dengan posisi itu.


"Zeli, kenapa kau menarikku!" kesal Rafa ditarik begitu saja.

__ADS_1


"Waktunya kita pulang bang!" ucap Zeli menyeret paksa Rafa pergi ke vila kembali. Rafa makin kesal, ia baru sadar kalau dari awal Zeli hanya ingin Devan dan Ella bersama di dalam hutan. Padahal kunang-kunang yang dia tangkap juga masih ada di tempat tadi. Rafa pasrah ditarik pulang oleh adiknya sendiri.


__ADS_2