
"Hans, aku menyukaimu!" ungkap Renita membuat Hansel langsung berbalik melihatnya. Kaget tiba-tiba wanita ini mengungkapkan perasaannya.
Bukan sebuah ungkapan biasa, Renita sungguh-sungguh mengutarakan cintanya. Wajah Renita merona sudah katakan kalimat itu.
"Apa yang kau bilang barusan?" Hansel tak percaya mendengarnya.
"Hans,"
Dengan lembut, Renita berkata malu-malu.
"Aku menyukaimu, sejak awal aku masuk ke perusahaan ini. Kau saat itu dengan perhatian membantuku, kau orang yang menyenangkan, meski sedikit kaku dan dingin, aku sudah lama menyimpan rasa ini untukmu."
Ungkapan Renita tidak main-main, ia perlahan ingin meraih tangan Hansel. Namun langsung didahului oleh Elisa. Kedua mata Hansel teralih pada kekasihnya yang tiba-tiba muncul dan menggegam tangannya.
"No-na?"
Genggaman Elisa semakin kuat, dengan tatapan sinisnya membuat Renita terkejut.
"Loh, kenapa Nona Elisa ada di sini?" Renita kesal melihat Elisa menempel pada Hansel.
Elisa mendecak dan tersenyum miring.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh di sini? Hans kan kekasihku, benar kan Sayang?" ungkap Elisa bertanya dengan suara manjanya. Mata Renita seketika melebar.
"Apa, kekasihmu?" Tunjuk Renita kepada Hansel yang diam sekarang.
"Ya! Hans kekasihku! Kau mau apa, ha?" bentak Elisa dengan angkuh dan merangkul manja lengan Hansel.
"Hans! Katakan, apa itu benar?" Renita bertanya langsung pada Hansel. Elisa mendengus kesal melihat tampang Renita yang nampak tenang.
"Sudah! Ini kita di jalan, malu dilihat semua orang dan untukmu Renita, lebih baik kau pergi makan duluan. Aku dan Nona Elisa akan pergi bersama."
Renita menunduk mendengar penolakan Hansel dan mengepal tangan ingin memukul Elisa.
"Ahaha, kau dengar kan? Hans dan aku sudah resmi pacaran, jadi kau tidak usah mengusik hubungan kita! Tak usah jadi calon pelakor!" tawa Elisa begitu pedas. Hansel sedikit terkejut dengan sikap sombong Elisa. Ada sedikit rasa tak suka bila Elisa sesuka hati menghina orang. Mengingatkannya saat Ella dulu.
"Nona, anda tidak perlu berkata seperti itu. Lebih baik kita pergi dari sini," ajak Hansel menggandeng tangan Elisa dan melewati Renita yang menunduk memendam amarah.
"Baiklah, maaf ya. Habisnya wanita itu sangat gatal padamu, aku sebagai kekasihmu sangat cemburu." Elisa cemberut di samping Hansel. Hansel ingin tertawa tapi melihat Renita ditinggal merasa kasihan.
"Tunggu dulu, Hans!" tahan Renita berhasil meraih tangan kiri Hansel. Elisa kaget, pandangannya menatap pada tangan Renita yang berani memegang tangan kekasihnya.
"Apa aku boleh ikut makan bersama kalian?" lanjut Renita tersenyum. Hansel ingin menjawabnya, akan tetapi Elisa langsung bicara dulu dan menepis tangan Renita.
Plak!
"Apa kau tuli, ha! Apa kau tak dengar kata dia barusan?" decak Elisa mulai emosi. Hansel terperanjak melihat Elisa yang mudah terbawa emosi. Padahal tadi Elisa terlihat lembut dan sekarang bagaikan harimau yang ingin menerkam Renita.
"Aku tidak tuli, Nona! Aku juga dengar, tapi aku duluan yang mengajak Hans jadi aku berhak ikut!" protes Renita tak mau kalah. Elisa mulai sewot, ingin benar-benar menjambak Renita.
"Dengar baik-baik, kau jangan sok tahu dan ingat baik-baik, aku dan Hansel sudah pacaran. Yang boleh jalan bersamanya cuma aku! Kau harusnya lebih tau diri!" Tunjuk Elisa tak main-main.
Hansel memijit kepalanya, terasa berdenyut sudah mendengar perdebatan kedua wanita ini. Hansel mulai ingin melerai mereka, namun lagi-lagi Renita angkat bicara.
"Diamlah, Nona! Harusnya kau juga tau diri, aku dan Hansel sudah lama berteman. Kau ini cuma wanita yang akan menyusahkan dia nanti!"
Perdebatan semakin panas, apa lagi Elisa makin naik darah. Karena tak terima, tangan yang dikepal dari tadi langsung menampar Renita dengan keras.
PLAKK!
Hansel terperanjak kaget, ia segera berdiri menghalangi kedua wanita ini. Tak sangka Elisa berani menampar wanita di depannya.
"Sudah cukup!"
Bentakan Hansel membuat Elisa tersentak. Renita tersenyum miring di belakang Hansel. Tahu jika bentakan itu tertuju pada Elisa. Dengan cepat dan suara dibuat-buat, Renita menangis di samping Hansel.
__ADS_1
"Hiks, aku hanya ingin ikut dengan kalian. Aku cuma mau berhubungan baik denganmu Nona Elisa, tapi tak sangka kau begitu mudah emosi. Hiks," isak Renita berpura-pura nampak menyedihkan.
Hansel mulai kasihan. Tak seperti Elisa yang makin marah dengan akting Renita. Saat Elisa ingin bicara, Hansel langsung angkat suara.
"Nona Elisa, anda terlalu berlebihan. Harusnya Nona memakluminya, tak ada salahnya Renita ikut dengan kita. Dia hanya ingin dekat denganmu, Nona. Bukan untuk hal lain." Hansel sedikit kecewa tidak seperti Elisa yang tiba-tiba sakit hatinya mendengar pembelaan Hansel untuk Renita. Jelas-jelas Renita ingin cari gara-gara padanya.
Dengan emosi, Elisa mendorong keras Renita hingga jatuh ke tanah. Hansel makin terkejut dibuatnya.
"Aaakh!" jerit Renita terbentur ke pinggir tembok toko, bahkan keningnya terbentur sedikit pada kaki meja riasan toko itu.
"Pembohong! Dia itu pembohong! Dia hanya ingin mengusik hubungan kita, Hans!" Tunjuk Elisa geram.
"Nona!" Hansel membentak. Renita terperanjak kembali melihat Hansel emosi. Sedangkan Elisa diam di tempatnya.
"Kau-kau berani membentakku?" tepuk Elisa pada dadanya. Menahan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak beraturan dan berusaha mengontrol nafasnya.
Hansel menghela nafas mencoba untuk tenang.
"Maaf, Nona. Aku hanya ingin-" ucap Hansel berhenti saat suara Renita tiba-tiba terdengar kesakitan. Hansel menoleh, matanya melebar melihat Renita pingsan tak berdaya. Terutama Elisa juga ikut terkejut melihat kening Renita berdarah, ia pun mundur selangkah.
"Ren!" pekik Hansel segera berlutut di depan Renita. Menepuk pelan pipi Renita agar sadar kembali. Tapi tetap saja tak ada pergerakan. Renita pingsan sungguhan.
Hansel segera mengangkat Renita, ia melihat sebentar Elisa. Tapi kini yang penting kondisi Renita, Hansel berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat.
Elisa menunduk dan mulai merasa bersalah. Ia pun perlahan mendekati Hansel.
"Hans, maafkan aku. Aku tak bermaksud-" Elisa berhenti bicara saat mobil taksi berhenti di depan Hansel.
"Nona, anda minta maaflah pada Renita nanti. Sekarang, apa anda ingin ikut?" tanya Hansel sambil memberi isyarat pada Pak supir membukakan pintu untuknya lalu meletakkan Renita di dalam mobil.
"Bagaimana Nona, apa anda ingin ikut?" Sekali lagi Hansel bertanya. Ekspresinya benar-benar datar sekarang. Sikapnya mulai dingin.
Elisa diam saja, ia tentu tak mau minta maaf.
"Huft, baiklah," ucap Hansel membelai rambut Elisa.
Saat ingin masuk ke mobil, Hansel kembali mendekati Elisa. Ia meraih kedua tangan Elisa.
"Maaf atas barusan dan tolong jangan bertindak seperti ini lagi." Sekarang Hansel dengan lembut mengecup kening Elisa lalu masuk ke dalam mobil.
"Aku pergi dulu, Nona."
Suara Hansel hilang seketika, ia benar-benar pergi meninggalkannya. Elisa semakin menunduk, perlahan matanya berkaca-kaca ingin menangis. Ia mencoba untuk menahannya. Sekarang kedua kakinya mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Pemilik toko hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan mereka.
"Hiks,"
Elisa mulai terisak, ia berhenti di sebuah bangku di pinggir jalan. Ia sangat jauh dari perusahaan. Hanya terus menunduk yang dilakukan Elisa.
"Dia membentakku, apa aku memang salah barusan?" pikirnya sambil mengusap matanya dengan kasar. Elisa sadar, sikapnya memang berlebihan. Sibuk mengusap air matanya yang masih turun membasahi kedua pipinya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
"Kak!" panggil Ella turun dari mobil diikuti oleh Devan. Keduanya terkejut melihat satu wanita ini menangis sendirian.
"Ella?" Elisa berkata lirih.
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Ella duduk di dekatnya. Elisa menghapus kasar air matanya dan mencoba senyum, tak mau menangis di depan Devan. Tak mau dianggap cengeng.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Kali ini Devan yang bertanya. Memang tadi keduanya ingin ke pameran, tapi tak sangka pameran sudah selesai dengan cepat hingga akhrinya mereka kembali ke perusahaan.
"Aku-aku cuma ingin menangis dan menenangkan diriku saja."
Elisa berkata dan mengontrol emosinya agar segera turun.
"Ini pasti Papa yang tidak merestuimu ya, Kak?" tebak Ella asal-asalan. Elisa menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Bukan itu, semuanya baik-baik saja kok. Kamu tidak usah tanyakan itu."
__ADS_1
"Kau berbohong!" kata Devan menatapnya serius. Elisa diam membisu lalu menatap Devan.
"Apa maksudmu!" ujar Elisa sedikit kesal. Tahu pasti Devan ingin membaca pikirannya.
"Kak, jujur saja. Siapa dan kenapa kau menangis tadi?" tanya Ella makin ingin tahu.
Elisa memeluk Ella, tangisnya langsung pecah.
"Apa aku jahat? Aku tidak sengaja mendorong Renita, tapi Hansel malah membentakku dan meninggalkanku, dia pergi bersama Renita. Padahal kami baru kemarin jadian, tapi dia-" Isak Elisa menjadi-jadi. Ella dan Devan tentu kaget setelah mendengarnya.
"Kak Hansel pelakunya?" pikir Ella sambil mengelus punggung Elisa. Devan mengepal tangan, ia marah pada Hansel yang sudah berani membuat kakak iparnya menangis.
"Honey, kamu mau kemana?" tanya Ella melihat Devan masuk ke mobil.
"Cari Hansel!" jawab Devan melaju meninggalkan kedua wanita ini. Elisa segera berdiri dan teriak ke Devan.
"Devan, berhenti! Jangan apa-apakan dia!" teriak Elisa takut Devan melakukan sesuatu pada Hansel. Ia tahu ambisi Devan. Takut Devan mencelakai sekretarisnya sendiri.
Ella berdiri, kini ia cemas pada Hansel. Apalagi saat ia membahas teman-temannya di kantor, Devan begitu marah. Kini keduanya duduk di bangku pinggir jalan.
"Ella, kita harus susul Devan!"
"Tapi kita mau cari ke mana? Dia sudah pergi," kata Ella berdiri dan tak lagi melihat mobil Devan. Elisa ikut berdiri.
"Aku tahu di mana, Hansel. Dia ada di rumah sakit."
"Kalau begitu, kita cari Hansel."
Baru saja ingin menghentikan taksi, lagi-lagi ada mobil yang berhenti di depan mereka. Bukan Devan, tapi seorang yang sangat dikenali Elisa.
"Jastin?"
"Jastin?" pikir Ella melihat pria bule dan tampan dengan kacamatanya keluar dari mobil lalu menghampiri mereka.
"Jadi ini yang namanya Jastin?" batin Ella sedikit mundur. Takut sedikit pada lelaki ini, takut ada maksud lain.
"Elisa, apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa ada di sini?"
Elisa tak menjawab dan langsung meminta bantuan pada Jastin.
"Tolongin aku, Jas! Tolong bawa aku ke rumah sakit!" pinta Elisa sungguh-sungguh.
"Untuk apa?" tanya Jastin sedikit terkejut karena Elisa bagaikan lemah di depannya sekarang dan tidak seperti kemarin yang arogan. Meski begitu, tatapan Jastin tertuju pada Ella.
"Hm, wanita ini lumayan juga." Jastin diam-diam memberinya kediapan mata. Ella terkejut segera bersembunyi di belakang Elisa.
"Yang jelas bantu aku!" pinta Elisa sekali lagi.
"Kak Elisa, lebih baik kita pakai taksi saja." Ella menolak tak mau dibantu oleh Jastin.
"Hm, kakak? Dia panggil Elisa, kakak? Apa Nona kecil ini adiknya?" pikir Jastin tersenyum miring.
"Lumayan juga Nona ini." Lanjutnya membatin.
"Jastin, bantu kami!"
"Oke, sekarang aku akan mengantar kalian. Kalian masuklah ke dalam mobil." Jastin tersenyum pada keduanya lalu berjalan ke kursi pengemudi.
"Kak Elisa, lebih baik kita pakai taksi saja," ucap Ella tak mau naik.
"Ayolah, Ella. Kita tak punya waktu, Devan pasti akan mengamuk pada Hansel. Aku tak mau Hansel kenapa-napa."
Dengan terpaksa, Ella masuk bersama Elisa. Jastin tersenyum picik, ia sempat-sempatnya melirik Ella di kaca spion mobil.
"Wanita yang manis, dia lebih unggul dari Kakaknya."
__ADS_1
Mobil pun melaju meninggalkan tempat mereka. Ella tak henti-hentinya merasa cemas, apalagi agak risih dilirik oleh Jastin. Ella mencoba menghubungi Devan, tapi Devan sibuk menghubungi anak buahnya hingga panggilan tidak terhubung.
"Ayolah angkat, honey!"