
Tok Tok Tok
Pintu diketuk dari luar, Ella berdiri mendekati pintu.
"Eh, Marsya belum pulang?" tanya Ella cuma melihat Marsya berdiri tersenyum padanya.
"Itu, Mommy sama Deddy bilang kalau Marsya bisa tinggal di sini Bunda. Tapi Marsya tidak tahu kamar Bunda Zeli, Bunda temani Marsya, boleh kan?" mohon Marsya dengan keimutannya membuat Ella tertawa kecil.
"Baiklah, Marsya bobonya sama Bunda saja gimana?"
"Eh, tidak bisa Bunda. Marsya mau tidur sama adek Vino dan Adek Vina," mohon Marsya lagi.
"Ah baiklah, sini Bunda antar." Ella pun menurut dan menggandeng tangan Marsya. Marsya menoleh ke belakang memberi jempol pada Vino yang sembunyi di balik vas bunga. Sekarang giliran rencana Vino lagi.
"Hihihi, Papa," panggil Vino pada Devan yang menunduk sedang merenungkan perkataannya yang pasti membuat Ella kesal padanya.
"Eh putra Papa kenapa ke sini?" tanya Devan pada Vino yang duduk di sebelahnya. Vino cuma tersenyum manis lalu memeluk Ayahnya. Namun ia mencubit hidungnya sendiri.
"Vino kenapa?" tanya Devan cemas. Vino cemberut dan mengkibas-kibaskan tangannya mengisyaratkan kalau Devan bau sekali.
"Papandi!" pinta Vino menunjuk kamar mandi, menyuruh Devan untuk mandi.
"Eh Papa bau?" Devan mencium bau badannya dan ternyata bau keringat gara-gara berurusan dengan Jastin tadi sore.
"Ahahaha, kalau begitu Papa mandi dulu, Vino di sini ya."
Devan tertawa kecil dan berdiri melepaskan kemejanya dan cuma memakai celana pendek. Ia pun masuk membawa handuk mandi. Vino menyeringai tipis, ia tak lagi bermuka imut.
Vino turun dari sofa lalu ingin membuka kamar mandi, tapi ia sangat pendek jadi tidak bisa meraih gagang pintu. Vino pun punya ide, ia lari ke ranjang lalu mengambil bantal. Vino meletakkannya di depan pintu lalu menginjak dan mulai menjinjitnya. Benar, idenya berhasil. Tak sangka anak sekecilnya ini bisa memiliki kepintaran dalam memecahkan masalahnya sendiri.
Pintu perlahan terbuka, Vino masuk dan melihat bayangan ayahnya di balik horden. Vino dengan pelan-pelan berjalan mengambil handuk yang tergantung tidak terlalu tinggi. Vino cuma menjinjit lalu mengambilnya. Setelah itu keluar dengan cepat. Ia tertawa kekeh berhasil melalui rencananya. Vino kembali sembunyi di vas bunga dengan handuk putih di tubuhnya. Tak lama, Ella datang kembali dan masuk ke dalam kamar tidak menyadari Vino. Vino segera lari dengan handuk Papanya, ia membawa kabur handuk Devan ke kamar Zeli.
"Hihihi." Tawa Vino.
"Eh, apa itu?" pikir Ella merasa bulu kuduknya merinding merasa ada bayangan putih yang lewat di belakangnya tadi. Ya, dia adalah Vino yang tadi lari, salah satu anggota trio kecebong.
"Sudahlah, mungkin ini cuma perasaanku. Mana mungkin ada hantu di mansion besar ini."
Ella menutup pintu dan mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Loh, kemana dia?" gumam Ella mencari Devan.
"Sudahlah aku lebih baik tidur," pikir Ella ingin merebahkan tubuhnya namun sayangnya anting kanannya terjatuh ke lantai.
"Astaga, kenapa bisa jatuh gini," desis Ella berjongkok di dekat tepi ranjang lalu mencari anting-antingnya di bawah ranjang, mengira jatuh terpental masuk ke dalam bawah ranjang. Sontak matanya tertuju pada dua kaki yang keluar dari kamar mandi. Ella segera berdiri.
Kedua matanya membola melihat sebuah tontonan yang amat-amat mengejutkan. Begitupun Devan sangat terkejut melihat Ella tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya, Devan pun terdiam dengan tubuh telan_jang, ia keluar untuk mengambil handuk lain.
"Kyaaaaa dasar kau suami mesum!" teriak Ella melemparkan bantal dan menutup kedua matanya. Ia sangat malu melihat burung puyuh yang berdiri milik Devan. Apalagi sixpack Devan yang menggoda matanya.
"Pfft, ahahaha," tawa Devan menutup burungnya segera dengan selimut yang melilit burungnya kembali.
"Ih mesum! Kalau keluar dari kamar mandi pakai handuk! Jangan keluar telan_jang begitu! Begini jantungan!" rutuk Ella marah-marah. Devan mendekatinya, akhirnya Ella mau juga memarahinya.
"Tu-tunggu, kamu mau apa?" tanya Ella mundur dan terbata-bata.
"Sayang, kenapa kau takut begini? Bukankah kau sudah beberapakali melihat tubuh seksiku ini?" Devan menyeringi tipis memojokkan Ella ke tembok.
Ella membuang muka.
"Cih, siapa juga yang takut," katanya acuh tak acuh. Devan meraih dagu Ella dan langsung menciumnya. Ella membola dan reflek mendorong Devan.
"Ella, aku minta ma-"
"Aku ingin tidur, jangan ganggu aku sekarang," ucap Ella berjalan melewatinya. Devan mengepal tangan dengan sikap datarnya Ella. Ia kesal diabaikan terus-menerus.
"Ella, aku-" ucap Devan terhenti melihat Ella ingin jatuh.
"Aaah!"
Spontan dengan cepat Devan meraih tangan Ella agar tak terbentur ke pinggir ranjang, dan alhasil keduanya jatuh ke kasur. Terlihat Devan menindih Ella.
"Turun dari atasku!" pinta Ella teriak membuat tiga bocah di luar kamar yang sedang menguping terkejut. Mereka pikir rencana mereka akan berhasil ternyata tidak.
"Ella diam dulu, dengarkan aku!" tegas Devan masih mengunci Ella.
Ella sontak menangis, posisinya ini mengingatkan dirinya hampir diperkosa oleh Jastin. Hatinya belum bisa menerima kejadian hari ini.
"Ku mohon lepaskan aku, Devan!"
__ADS_1
Devan terdiam, ia pun melepaskan Ella. Ia kesal dirinya seakan dibenci oleh Istrinya. Ia sedih, karena Ella tak memanggilnya 'Honey' lagi.
"Ella, dengarkan aku dulu,"
"Tidak! Aku mau tidur, jangan ganggu aku!" tolak Ella masuk ke dalam selimut dan memejamkan mata.
Devan menghela nafas, ia menyeka air matanya. Ia menyesal karena tidak percaya dan tidak terlalu peduli pada Ella. Devan duduk di tepi ranjang dan tidur membelakangi Ella. Ia pun memejamkan mata untuk tidur juga.
Ella membuka mata, ia mengepal tangan.
"Maafkan aku,"
Dua kata ini yang keluar dari lubuk hati Devan dan Ella. Keduanya merasa bersalah dengan keadaan saling mendiami satu sama lain.
"Ekhm, kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Zeli pada ketiga bocah yang berdiri di depan kamar Devan.
"Hehe, Bunda. Kita mau masuk, tapi pintunya dikunci,"
"Aduh kalian ini, Papa dan Mama baby twins pasti sudah tidur. Kalian juga harus tidur, sini tidur sama Bunda."
Zeli mengajak ketiganya. Dengan terpaksa, ketiga bocah ini ikut bersama Zeli. Rencana mereka gagal total.
"Eh, bang Rafa!" panggil Zeli pada kakaknya yang sudah pulang.
"Kamu dari mana saja, bang?" tanya Zeli berdiri bersama ketiga bocah imut.
"Dari luar, kamu pergi gih tidur. Besok pasti kamu sekolah," jawab Rafa ingin ke kamarnya. Kedua mata Zeli tertuju pada bercak merah yang ada di baju belakang Rafa.
"Bang Rafa! Tunggu," tahan Zeli.
"Ada apa lagi?" tanya Rafa begitu datar. Sikapnya tiba-tiba berubah menjadi es balok yang dingin. Kaku dan datar.
"Em itu, besok kata Mami kita akan pergi wisata alam. Kamu mau ikut bang?"
"Oh, terserah. Aku ikut kalian saja." Kata Rafa pergi meninggalkannya.
"Ih, kok bang Rafa tiba-tiba dingin gitu! Bikin kesal!" rutuk Zeli kecewa dan pergi mengajak tiga bocahnya ke kamarnya untuk tidur.
Rafa masuk ke dalam kamar, ia membuka bajunya untuk mandi. Terlihat raut wajahnya amat kesal dan sangat marah.
__ADS_1
"Ck, awas kau Jastin!" decak Rafa masuk ke dalam kamar mandi. Dia baru datang memberi makan anjing-anjingnya tapi ternyata malah membuatnya sangat marah malam ini.