
Warning!!
Bukan cuma Elisa yang berdebar-debar, tapi Hansel juga ikut berdebar-debar sekarang. Saling bertatapan dalam satu kamar, ditambah lagi Elisa nampak melihatnya dengan tatapan penuh harapan.
Hansel pun duduk di dekat Elisa, menyentuh kemudian mengelus pipi istrinya. Ia sekali lagi meneguk siliva ketika dua matanya melihat bibir ranum Elisa.
"Sa, aku ..."
Jarak keduanya begitu dekat, Elisa yang tahu tindakan Hansel yang ingin menciumnya tak bisa berhenti deg-degan dalam hatinya.
"Hans, aku ..." lirih Elisa memegang tangan Hansel lalu tersenyum manis kemudian menutup mata. Hansel sedikit gugup melihat Elisa sudah siap. Ia pun menyentuh bibir Elisa lalu menciumnya. Ini awal tindakan yang Hansel lakukan agar rasa gugupnya hilang.
Kedua bibir mereka bertemu saling mellumat dan mengulum dengan rona merah di kedua pipi mereka. Hansel mendorong Elisa jatuh terlentang lalu kembali dicium.
"Uuhh, aroma tubuh Hans sangat wangi," gumam Elisa dalam hati. Ciuman itu makin hot ketika Elisa dengan inisiatifnya meraih tangan Hansel lalu menaruhnya ke dada kirinya. Tangan satunya menyelip ke dalam baju, meraba punggung kekar Hansel.
Sekali lagi Hansel dikejutkan, ia menghentikan cumbunya lalu mengatur sebentar nafasnya. Elisa tersenyum manis lagi di depannya. Senyum yang disukai oleh Hansel. Namun Hansel sedikit gemeteran setelah melihat tangannya berada di atas dada Elisa, seakan ia diminta untuk membuka sendiri kancing baju yang menutup kedua buah dada istrinua itu.
Dag-dig-dug...
Jantungnya berpacu kencang. Hansel menarik tangannya lalu berdiri. Elisa mengernyit heran, ia dengan cepat ikut berdiri di samping Hansel.
"Sayang, kamu kenapa?"
Hansel tak menjawab, ia mengepal tangan lalu melihat Elisa sebentar yang sudah berantakan akibat ulahnya barusan. Hansel pun menghela nafas sedikit kemudian memeluk Elisa.
"Aku... ingin keluar sebentar, mau minum."
Cklek!
Pintu kamar ditutup, meninggalkan Elisa yang berdiri camberut. Elisa duduk kembali ke tepian ranjang lalu menunduk.
"Apa Hansel punya masalah dalam hubungan sek-sual?" pikiran itu menyelimuti Elisa.
Sedangkan Hansel, ia menahan mimisannya. Ia sungguh tak sanggup untuk menyakiti tubuh istrinya. Apalagi ini pertama kalinya akan ia lakukan.
"Ish... bodoh! Kenapa aku malah keluar disaat seperti ini!" racau Hansel mengacak-acak rambutnya lalu meneguk habis segelas air di tangannya.
"Hais... kamu harus melakukan itu, Hans. Elisa sangat berharap padamu, tapi kamu malah mengacaunya malam ini. Apa kamu ini sungguh seorang pria sejati atau pecundang?" Hansel mengocehi pantulan dirinya di dalam cermin yang tergantung di ruang tengah.
"Tidak-tidak, aku bukan pecundang. Aku pria dewasa dan bahkan seorang Tuan muda Mafia di inggris, aku pasti bisa melakukan itu dengan mudah, tapi-" Hansel mengacak-acak rambutnya lagi hingga semakin berantakan. Ia pun menatap cermin, melihat dirinya yang menawan tanpa kacamata.
"Tapi aku takut akan permainanku akan mengecewakannya," Hansel meninju tembok di dekat cermin itu lalu menoleh ke arah kamarnya, ia pun merogoh sakunya kemudian melihat sebuah pil yang sudah dia sediakan sebelum terbang ke Hawaii.
"Tak ada cara lain, aku harus meracuni diriku dengan pil terlarang ini."
Hap!
Glug!
Hansel meminum satu pil perang-sang itu, ia berharap ini manjur untuk malam pertamanya. Setelah meminumnya, Hansel mencoba untuk tenang. Namun Elisa memanggilnya, "Sayaaaang!" Hansel sontak berbalik dan mendapati Elisa yang memakai baju putih panjang yang transparan, hingga kedua paha mulusnya terlihat dan bentuk pen-til dua bukitnya sedikit jelas dilihat oleh mata telanjangnya. Nampak Elisa sungguh seksi malam ini dan sudah siap melayaninya.
"Sa, kenapa turun ke sini?" tanya Hansel cepat-cepat berdiri normal sambil menunggu efek pil itu.
__ADS_1
"Aku menunggumu, tapi kamu tidak masuk lagi, jadi aku cemas padamu." Elisa memeluknya.
"Apa malam ini semua baik-baik saja?" lanjutnya sambil mendongak ke Hansel dengan wajah imutnya.
"I-itu," Hansel terbata-bata.
"Itu apa, hm?"
"I-itu, lebih baik kita kembali ke kamar sekarang." Hansel menarik tangan Elisa, namun Elisa berhenti di dekat sofa.
"Hansel, apa kamu sungguh ingin melakukan itu bersamaku?" tanya Elisa berterus terang. Tapi Hansel cuma diam dan masih membelakanginya.
"Sayang," Elisa memeluknya dari belakang dan bersandar di punggung Hansel.
"Jika kamu masih belum berani, kita tidak usah melakukan itu," lanjut Elisa pasrah. Namun tiba-tiba Hansel berbalik lalu menatapnya dengan aneh. Tatapan penuh padanya.
"Loh, mengapa melihatku begitu?" Elisa mundur sedikit takut.
Bagh! Elisa terperanjak, ia terpojok pada dinding yang ada di belakangnya setelah Hansel tiba-tiba mendekatinya.
"Ahhh!" jerit Elisa, ia terkejut setelah kedua tangannya ditarik ke atas puncak kepala.
"Hansel, lepaskan aku."
Tapi Hansel langsung menerjang bibirnya. Hasratnya pelan-pelan meningkat setelah efek pil itu mulai bekerja. Hansel begitu liar hingga tanpa izin ia menelusuri tengkuk leher istrinya. Mengecupnya dengan lembut dan meninggalkan tanda merah kepemilikannya. Tangan kanannya dengan sendiri menyelip masuk ke dalam baju Elisa.
"Uuhhhh, kamu ... mem-membuatku sesak," rintih Elisa segera mendorong Hansel. Ia terengah-engah hampir kehabisan oksigen.
"Kenapa-kenapa langsung menciumku?" Hansel tetap diam ditanya oleh Elisa. Sepertinya Hansel sudah dikontrol oleh hasratnya sekarang. Hasrat untuk bercinta.
Ahhhh!
Sekali lagi ia menjerit, tiba-tiba Hansel mengangkatnya lalu menghempaskannya ke atas sofa. Menindih tubuh Elisa, mengunci wanita itu hingga tak bisa bergerak.
"Ya Tuhan, ada apa dengan suamiku?" pikir Elisa.
"Pfft," Elisa mengernyit heran mendengar Hansel malah tertawa.
"Istriku yang cantik,"
Deg! Elisa lagi-lagi terkejut. Cara bicara Hansel dan pesonanya malam ini berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat bukan Hansel malam ini.
"Sayang, ka-kamu tidak usah memaksakan diri. Jika kamu belum berani, lebih baik kita pergi tidur saja."
Bagh! Hansel meninju sofa. Ia menyeringai tipis kemudian menyentuh bibir Elisa.
"Belum berani? Jadi kamu pikir aku takut begitu?" Hansel mengelus pipi Elisa. Elusan itu berbeda juga. Lembut, tapi menakutkan.
"Aku Hansel Carlous, tidak pernah takut pada apa-pun, bahkan Nona cantik sepertimu tidaklah sulit bagiku untuk menaklukkannya,"
Elisa terdiam, ia bersemu merona. Seakan sedang digombal oleh Hansel. Ia juga bingung kenapa tiba-tiba Hansel begitu berani.
"Oh ya? Kalau begitu-" ucap Elisa menerjang, hingga keadaan berbalik. Ia yang kali ini menindih Hansel.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa kamu bisa puaskan aku malam ini, Tuan muda?" lanjut Elisa dengan rayuannya sambil meraba dada Hansel.
Sontak, Hansel memegang buah dada kiri Elisa, lalu beranjak duduk. Ia berbisik ke telinga Istrinya. "Bukan aku yang akan memuaskanmu, tapi aku yang harus kamu puaskan malam ini, sayang."
Umhhhh....
Elisa dicium lagi. Ciuman itu makin liar membuatnya mulai bergairah. Sama halnya dengan Hansel. Ia yang dikontrol hasratnya, dengan cepat membuka kancing kemeja Elisa. Kedua matanya kini terpesona dengan dua gunung istrinya yang terpampang indah di balik BH berwarna biru. Ia pun menelusurinya, tak lupa mengecupnya, membuat tubuh Elisa sedikit bergetar, ia merasa menerima setruman.
"Uhhhh... Ahhhh, ja-jangan di sini. Ki-kita ke kamar saja," rintih Elisa keenakan pu-ting bukitnya dikullum lembut olehnya. Tapi Hansel tak mendengar, ia keasikan menjelajah tubuh Elisa. Hingga wanita ini merasa lebih menikmatinya. Ia seakan berada di tempat yang berbeda, hanya berdua dengan Hansel.
"Hans, aku-aku tak mau di sini," Elisa memohon. Ia merasa terangsang dan ingin lebih dari itu. Hansel menyeringai, ia juga ingin memuaskan juniornya yang dari tadi bersembunyi di dalam celana.
"Baiklah sayang, jangan menangis bila aku menyakitimu," ucap Hansel patuh dan langsung mengangkat kemudian membawa Elisa ke atas. Elisa menunduk, ia merona terus. Ia merasa miliknya sudah basah hingga meminta sendiri hal itu.
Cklek!
Uuhhbh Ohhhh Ahhhh...
"Lembutlah padaku malam ini," rintih Elisa sambil menutup mata ketika tubuhnya dijelajah lagi oleh Hansel. Ia yang terlentang bebas di atas ranjang, sangat memberi banyak ruang bagi Hansel untuk melanjutkannya.
"Lembut? Kalau begitu aku akan lebih-lebih lembut padamu, sayang."
Uhhhhhh...
Keduanya bercumbu kembali, sambil tangan Hansel perlahan membuka baju. Hingga kulit tubuh keduanya seakan menyatu dalam pelukan itu. Terutama bukit Elisa yang menempel ke dada Hansel. Ini membuatnya makin bergairah. Begitupun Elisa makin menikmatinya. Perlahan BH Elisa dibuka kemudian di lempar ke lantai. Kedua pucuk dadanya lagi-lagi dikullum bebas oleh Hansel. Dijilat, dicomot, dipe-lintir dan tak lupa diremas membuat Elisa mendesah habis-habisan.
Ahhhh... Uhhhh... Ohhh....
"Ja-jangan digigit, Sayang."
"Aku tidak akan melakukan itu sebelum anak kita lahir. Tapi punya mu sangat imut, aku rasa, mungkin lebih baik aku duluan yang harus mencobanya," Hansel mencentil puncak dada Elisa.
"Auwh, kamu jangan nakal!" ringis Elisa, ia memukul manja dada suaminya. Hansel pun berhenti, ia menatap tubuh Elisa yang indah lalu mencumbu bibirnya lagi.
"Apa kamu siap, sayang?" bisik Hansel mulai ingin menjebloskan juniornya. Elisa pun dengan malu-malu merangkul leher Hansel kemudian mengangguk.
"Aku selalu siap untukmu, tapi tolong lakukan lebih pelan sedikit," mohon Elisa tersenyum. Hansel pun dengan cepat kembali beraksi.
"Uhhhhaaa..."
Srak!
Srek!
Srak!
Hansel merobek CD biru itu, hingga mahkota Elisa terlihat bebes dan indah di depan matanya.
"Uuh, aku sudah tidak tahan," gumam Hansel segera membuka celananya. Kedua mata Elisa terbelalak melihat junior Hansel yang sudah berdiri tegak. Ia ingin teriak, tapi ia sedikit takut. Takut akan kenakalan dari junior suaminya yang memukau kedua matanya.
"Sa-sayang, ka-kamu yakin?" tanya Elisa menunjuk junior Hansel.
"Tentu sayang, junior sudah tak sabar untuk menaklukkanmu. Malam ini puaskan aku dengan desahanmu, istriku."
__ADS_1
"Ahhhhh! Pelan-pelan," desah Elisa ingin menangis kesakitan, tapi ia lebih menikmatinya. Namun Hansel yang dikontrol oleh pil itu makin bergairah untuk membuahi rahim Elisa dengan benih kecebong dari juniornya.
Keduanya pun mulai bercocok tanam malam ini. ******* Elisa yang makin terang-sang, dan Hansel yang lebih liar menggesekkan juniornya. Benar-benar suara ******* mereka berhasil memecahkan keheningan malam di dalam penginapan itu.