
Elisa merebahkan dirinya dan menghubungi Hansel, tapi Elisa mengurungkan niatnya, ia takut akan membuat Hansel emosi nantinya. Elisa menutup mata, tetes demi tetes air matanya kembali turun. Ia sekarang mencoba menenangkan pikirannya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Hans."
Keluhan hati Elisa amat dalam, ia takut Hansel akan menghindarinya besok. Kini Elisa cuma bisa menutup kepalanya dengan bantal dan diam-diam menangis di dalam seprainya. Tidak seperti Ella yang sekarang duduk dan tertawa geli dengan tingkah Baby twinsnya. Terlihat ia dan Zeli sedang menonton TV di kamar adik iparnya ini.
"Zeli, bagaimana? Apa Devan akan pulang?" tanya Ella menoleh ke Zeli yang berdiri memegang ponselnya.
"Tenang kak ipar, semuanya beres!" jawab Zeli mantap.
"Hm, tumben Devan menurut padamu," ucap Ella heran sambil memberi susu botol kepada dua anaknya lalu memperhatikan drama korea di TV. Sebuah drama action yang selama ini dia tonton, mumpung Devan belum tiba dari kantor.
"Hap!" Zeli lompat ke arah samping Ella, ia duduk mengajak dua ponakannya bermain.
"Iya dong, aku cuma kasih tahu dia kalau kak Ipar tiba-tiba pingsan," jawab Zeli santai saja.
Mata Ella melotot ke depan lalu menoleh ke Zeli. Sangat terkejut dengan ucapan adik iparnya.
"Apa, pingsan? Kau bilang begitu?" Ella sontak berdiri.
"Ya, habisnya Kak Devan dari dulu susah disuruh pulang, jadi aku beri alasan seperti itu." Kata Zeli santai-santai saja lalu kembali menggelitik dua ponakannya.
"Hadeh, dia pasti sangat terkejut kau beri tahu dengan bicara seperti itu, padahal aku baik-baik saja di sini," desis Ella geleng-geleng kepala. Baru juga mau menghempaskan pantatnya ke sofa lagi, pintu utama mansion dibuka amat keras.
Broakk!
"Ella!" panggil Devan sudah sampai, raut wajahnya begitu panik.
"Tuh kan, haduh Zeli lain kali kamu jangan begitu pada Kakakmu, dia jadi ketakutan sekarang," nasehat Ella pada adik iparnya.
"Iya, iya. Maaf, lain kali aku ulangi," ucap Zeli langsung diberi mata melotot dari Ella.
"Maksudnya?"
"Ahaha, bercanda. Maksudku, aku tak akan mengulanginya," cengir Zeli tertawa puas. Melihatnya, membuat baby twins ikut tertawa.
"Huft, ya sudah kamu jagain Vino dan Vina. Aku ke bawah dulu," ucap Ella siap-siap ingin keluar dari kamar.
__ADS_1
"Siap, kak Ipar!" hormat Zeli dan sekali lagi baby twins tertawa geli. Ella pun keluar dari kamar ingin ke Suaminya.
"Mami! Mami!" panggil Devan teriak-teriak di ruang tamu.
"Maaf, Tuan. Kenapa ya?" tanya Bibi pelayan datang mendekatinya.
"Bi, di mana Mami? Kata Zeli, Mami bawa Ella yang pingsan tadi di kamarnya," jawab Devan sangat panik, matanya mencari-cari sosok Ibunya.
"Oh itu, Tuan besar membawa keluar Nyonya besar,"
"Apa? Keluar? Di mana mereka bawa Ella, Bi?" tanya Devan gagal paham membuat Bibi pelayan mengangkat sebelah alisnya.
"Eh, Tuan dan Nyonya besar tidak membawa pergi Nyonya Ella, Tuan."
"Apa? Terus di mana Istriku, Bi?" kaget Devan makin parah, kini ia semakin ketakutan terjadi sesuatu pada Istrinya.
Ella menuruni tangga sambil cengar-cengir melihat punggung Devan yang membelakanginya. Bibi melihat Ella dan ingin berbicara.
"Sssht," kode Ella agar Bibi pelayan diam saja. Ia ingin mengejutkan suaminya.
"Bibi, kenapa diam saja? Di mana Istriku dan apa dia baik-baik saja?" tanya Devan lagi.
"Honey, aku di sini!" ucap Ella kegirangan. Sontak Devan berbalik, suaranya sangat amat dia cemaskan.
"Sayang? Kau tidak pingsan?" tanya Devan melihat dari atas sampai bawah. Bibi pelayan menunduk permisi untuk pergi lalu kembali masuk ke dapur lagi.
"Hehehe, ciee lagi kuatir sama Istrinya," rayu Ella melihat dua pasang bola mata indah suaminya.
"Astaga, kau ini bikin aku jantungan tau! Aku pikir kamu jatuh di kamar mandi atau dari lantai dua. Aku benar-benar terkejut!" ketus Devan kesal sambil mencubit gemas dua pipi Istrinya.
"Ahaha, ini gara-gara Zeli." Tawa Ella melihat muka gemas Devan. Tapi tawanya sontak berhenti dikala perutnya dirangkul oleh Devan hingga oppai indahnya membentur ke dada kekar suaminya.
"Ho-honey, mau apa?" tanya Ella deg-degan apalagi sekarang tindakan Devan agak senonoh dan mereka berdua ada di ruang tamu.
"Sayang," lirih Devan mendekati wajahnya.
"Suamimu baru pulang, apa tidak ada sambutan spesial malam ini?" lanjutnya berbisik dan tanpa Ella sadar tangan kiri Devan mulai mere_mas lembut oppai montok bagian kanannya.
__ADS_1
"Auh aaah, kau kenapa?" desah Ella merona.
"Aku mau dicium olehmu," bisik Devan mulai menggodanya.
"Hais tidak boleh, kau habis kerja belum gosok gigi!" tolak Ella manyun. Tapi Devan tak mau kalah, ia kembali mere_mas oppai Istrinya.
"Sssht ... aaah, cukup!" desis Ella mendesah lembut.
"Ya sudah, kasih kecupan dong di sini," ucap Devan manja, sambil memaikan dua alisnya. Terlihat diangkat-angkat sambil mengelus oppai Ella. Untung saja semua pelayan lagi ada di dapur untuk menyiapkan makan malam jadi tidak melihat tindakan anak majikannya.
Ella menelan ludah.
"Baiklah, baby tuminituminitu ku. Istrimu ini akan kasih ciuman manis di sini," rayu Ella sambil menyentuh bibir lembut suaminya. Tapi jantungnya berdebar-debar, takut ada pelayan melihat mereka. Devan sudah tak sabar ingin menciumnya. Perlahan-lahan Ella menutup mata dan mulai ingin mencium Devan.
Deg deg deg
Detak jantung Ella sangat jelas sedang merasa deg-degan. Tapi baru juga mau dicium oleh Istrinya, Devan kembali manyun mendengar ponsel Ella berdering. Ella pun sadar dan merogoh saku celananya.
"Hm, siapa yang menghubungiku?" pikir Ella ingin mengangkatnya. Tapi Devan menahannya cepat dan langsung merebut ponsel itu lalu melemparnya ke sofa.
"Ih, honey! Itu pasti dari Aline, kenapa kamu ngeselin sih!" ketus Ella ingin pergi mengambilnya. Namun baru juga selangkah, Devan menarik tangannya dan langsung mencium bibir lembut Istrinya. Mata Ella melebar melihat Devan tak sabaran.
"Honey, kita lagi di ruang tamu," Ella menunduk menghentikan aksi suaminya.
"Tapi tak ada siapa pun di sini sayang, kita bebas lakukan apa saja. Mumpung Mami dan Papi tidak ada di rumah untuk mengatur kita, bagaimana kalau kau layani aku malam ini, hm?" ucap Devan memohon.
Ella tersipu lalu merangkul leher Devan, ia tahu Devan pasti akan meminta ini setelah pulang. Apalagi gara-gara tinggal di mansion, keduanya tak bebas untuk saling berbagi kemesraan.
"Boleh, honey." Dengan manja, Ella menjawab sambil mencium bibir suaminya. Devan tak mau kalah, dengan nafsunya yang bergejolak ia mellumat lembut bibir Ella. Sangat lembut dan menyenangkan.
"Ah, kamu ini!" ketus Ella tiba-tiba diangkat oleh Devan.
"Sayang, kita lanjutkan di kamar boleh, kan?" goda Devan berseri-seri meminta jatah malam. Ella tersipu saja dikode barusan. Devan tertawa geli dan membawa Istrinya naik ke lantai dua menuju ke kamarnya ingin melaksanakan olahraga malam di atas ranjang.
"Berapa ronde, honey?" bisik Ella mulai merayunya.
"Sebisa kau sayangku," balas Devan sambil mencium kening Ella. Keduanya benar-benar mengabaikan panggilan dari Aline dan ingin berbagi hasrat malam ini. Tak seperti Zeli yang sibuk mengurus Baby twins sendirian.
__ADS_1
"Ahahahaha," tawa baby twins bersama Zeli sedang menonton Drama di layar TV.
...___...