
Setelah menempuh perjalan sekitar tiga jam, akhirnya keluarga besar Devan sampai juga di mansion. Terlihat para pelayan berhamburan keluar untuk membawa masuk barang-barang.
"Dadah semuanya!"
Marsya melambai dari dalam mobil pada semua orang. Baby twins melompat kegirangan.
"Dah dah!"
Semua orang tertawa begitupun Ella dan Devan melihat keluarga kecil itu pergi meninggalkan mansion. Semuanya masuk ke dalam mansion untuk mengistirahatkan tubuh mereka siang ini.
Terlihat isi rumah besar itu sangat mewah, besar dan luas. Meski begitu, Ella sudah terbiasa dengan kemewahan dan dirinya tetap dalam kesederhanaannya.
"Benar-benar hari yang melelahkan, bahkan kita tidak jadi untuk wisata keliling melihat keindahan alam bumi ini."
Tuan Raka menghempaskan dirinya ke sofa bersama Rafa juga di sofa lain. Lelah dan jenuh terasa diseluruh tubuh keduanya.
"Sudah, sudah. Jangan kecewa begitu, yang penting kemarin kita masih bisa kumpul bersama," hibur Nyonya Mira pada suaminya. Tuan Raka tersenyum dan membelai rambut sang Istri.
Tiba-tiba saja Zeli mulai bertingkah. Dia dengan manjanya duduk di dekat Tuan Raka. Melihat tingkahnya itu hanya membuat Ella dan Devan geleng-geleng kepala dan kemudian pergi menaiki tangga bersama dua baby twins.
"Papi ...." rayu Zeli menyandarkan kepalanya ke dada ayahnya.
Tn. Raka mengernyit heran. "Tumben manja, pasti ada maunya nih?" tebak Tn. Raka mencentil kening Zeli. Nyonya Mira hanya duduk sambil mengetik status di media sosial.
"Hari ini wisata ditunda lagi, tapi tidak masalah. Hari wisata bisa digantikan dengan hari lain tidak seperti hari ini yang sangat spesial untukku."
Ny. Mira tertawa geli mengirim status itu, dirinya sangat bahagia dapat pulang bersama anak-anak dan menantu serta cucunya dengan selamat.
"Oh ya Pi, Zeli mau belikan iphone."
Tn. Raka tersedak kopi yang disediakan pelayan tadi.
Huk ... huk
"Iphone? Serius, mau beli lagi?" tanya Tn. Raka menelan ludah. Ia sangat terkejut karena putrinya tahun lalu sudah dibelikan ponsel iphone keluaran baru yaitu Iphone 11 pro max.
Zeli memelas dan bergelayut manja.
"Papi, belikan Zeli iphone dong,"
"Hadeh, Iphone apa lagi? Di kamar kamu banyak sekali Iphone yang bisa kamu pakai bergantian," ucap Tn. Raka memijit keningnya.
Zeli menunduk cemberut dan berkata, "Itu sudah lama, Pi. Zeli maunya yang baru, teman-teman Zeli sudah banyak yang beli ponsel baru tahun ini. Sekarang Zeli mau juga," rengek Zeli ingin dibelikan lagi pada ayahnya. Hidup di keluarga sultan, membuat Zeli mudah untuk memenuhi keinginannya.
Dengan terpaksa dan tak tega juga, akhirnya Tn. Raka mengeluarkan card golden limit. Mata Zeli berseri-seri melihat kartu emas milik ayahnya.
"Ahahaha, dasar cengeng," ledek Rafa tertawa melihat tingkah manja adiknya.
Zeli mendengus lalu melototinya.
"Apa lo ketawa, ha!"
"Wleeek, dasar manja!" ledek Rafa lagi.
"Iiih, Papi, Mami! Lihat Bang Rafa, dia menyembalkan!" Tunjuk Zeli pada tampang Rafa yang meledeknya.
"Aduh, sudah sudah. Jangan saling meledek, sekarang pergi beli apa yang kau mau," ucap Tn. Raka memberikan card miliknya.
"Hihihi, Zeli sayang Papi dan Mami."
Rafa di sana berdiri dan memperlihatkan ponselnya yang tentunya merk Iphone 12 pro Max.
__ADS_1
"Ahaha, dasar manja. Kalau mau sesuatu ya harus pakai uang sendiri dong. Jangan cuma habisi uang orang tua, lihat deh aku punya iphone dengan hasil jeri payahku."
Rafa meledek lagi dan menyimpan ponselnya. Sontak Zeli berdiri.
"Emang kenapa? Suka-suka aku dong, lagian juga bang Rafa sudah punya pekerjaan. Kalau aku kan masih sekolah. Wleek!" balas Zeli meledek dengan lidahnya yang dia keluarkan.
"Bodo amat, yang jelas kamu manusia paling manja yang ada di rumah ini. Mending aku keluar dari pada melihat kemanjaan, keuwwuan yang tidak berfaedahmu."
Zeli semakin cemberut mendengarnya, kakinya dihentak-hentakkan melihat Rafa keluar begitu saja.
"Papi lihat bang Rafa! Dia itu harusnya dikirim ke planet venus saja, tidak usah tinggal di bumi. Mulutnya itu menyebalkan!" cetus Zeli duduk di dekat Ayahnya yang lagi menutup kedua telinganya.
"Astaga, kalian ini sudah besar masih saja mempermasalahkan hal kecil. Lebih baik sayang, kamu temani putri kita keluar. Takutnya ada yang culik," ucap Ny. Mira pada suaminya.
Tn. Raka menghela nafas berat.
"Huft, baiklah. Sini Papi temani kamu keluar."
Zeli berdiri dengan riang dan memeluk Ayahnya lalu mencium pipi kiri Ibunya. Ia senang dengan perlakuan kedua orang tua.
"Ck, dasar adik manja." Rafa berdecak dan pergi ke parkiran. Ia memilih mobil favoritnya yaitu Mourta julukan dari mobil Lamborghini yang termahal, termewah, dan tentunya tereksis serta sangat cocok dengan dirinya yang sangat tampan, cool, dan tereksis juga, memiliki hati selembut kain sutra. Tapi tidak untuk musuhnya yang bisa mengubahnya bagaikan singa yang haus ingin menerkam mangsanya hingga lenyap.
Rafa pergi dari mansion. Tujuannya untuk melihat Jastin. Sedangkan Ny. Mira yang sudah melihat suami dan putri bungsunya pergi, ia kini berjalan menaiki tangga ingin meminta baby twins. Sementara para pelayan dengan cepat membereskan ruang tamu.
______
Beda di kamar Ella yang bersih dan mewah. Nampak Ella yang lagi sibuk mengganti popok baby twins di sofa, kini sudah selesai.
"Mamado," rengek Vino dan Vina ingin bermain.
"Ahaha, kalian ini. Baru juga sampai di rumah sudah mau main. Sekarang bukan waktunya main, tapi tidur sayang."
Ella gemas dan mengacak-acak rambut Vino dan Vina. Tawa geli memenuhi isi kamar. Namun tawa Ella berhenti setelah mendengar ucapan dua anaknya.
Ella diam mematung mendengarnya. Ia tahu maksudnya dua anaknya yaitu meminta seorang adik baru.
"Ella," panggil Ny. Mira mengagetkannya.
Sontak Ella berbalik.
"Ya, ada apa Mi?" tanya Ella tersenyum ramah.
Ny. Mira masuk dan mendekati menantunya. Tersenyum seramah mungkin pada Ella dan dua cucu kembarnya.
"Pasti kamu lelah, biarkan Mami yang ajak main si kembar," Ny. Mira menurunkan baby twins dan kini berdiri di dekatnya.
Ella sedikit tak enak dan segera bicara.
"Biarkan aku saja, Mi. Mami kan pasti capek dari bepergian."
Ny. Mira tertawa kecil mendengarnya dan kemudian mengelus rambut Ella dengan penuh kasih sayang.
"Mami tidak capek, malah Mami lagi senang ada waktu buat cucu Mami. Mumpung ayah mertuamu keluar, jadi sekarang kamu istirahat," ucap Ny. Mira meraih kedua tangan kecil cucunya.
Ella menunduk menghargai kebaikan ibu mertuanya.
"Baiklah, kalau begitu maaf sudah merepotkan Mami."
"Eh, tidak masalah. Sekarang Mami keluar dulu, Vino dan Vina dadah dulu dong sama Mama Ella." Kata Ny. Mira pada dua cucunya.
Vino dan Vina dengan sangat paham, melambai ke Ella.
"Dadah Mama," lambai keduanya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dadah sayang," balas Ella melambai dan menghela nafas. Duduk sendirian di tepi ranjang. Seketika, suara benda jatuh dari dalam kamar mandi.
Broak!
"Honey?" pikir Ella panik segera berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Honey, kamu sedang apa di dalam?" Ella teriak sedikit, tak ada suara membuatnya makin panik.
"Honey, jawab dong. Kamu tidak apa-apa kan di dalam?"
Sekali lagi tak ada suara. Akhirnya Ella membuka pintu dan dengan cepat berjalan ke tirai yang menutupi buthtub. Tapi sayangnya, tak ada siapa-siapa saja.
"Ya ampun, di mana Honey?" gumam Ella garuk-garuk kepala. Devan harusnya ada di dalam kamar mandi, tapi benar-benar tak ada sama sekali.
"Hais, apa jangan-jangan dia diculik hantu?" pikir Ella ketakutan, ia ingin segera keluar untuk melapor. Tapi seketika perutnya dirangkul dari belakang.
"Aaaagh!" jerit Ella berbalik.
Deg!
"Hello, baby."
Devan tersenyum sumringah sudah menjebak Ella masuk ke dalam kamar mandi. Ella makin kesal dibuatnya, karena sudah panik dan sekarang yang ditakutkan baik-baik saja, sekarang Devan mulai menggodanya.
"Ih, kebiasaan! Suka jahilin aku!" kesal Ella memukul-mukul manja dada Devan.
"Puft, segitunya kah kamu takut aku kenapa-napa?" goda Devan mengangkat turunkan alis matanya.
"Ya dong, aku pikir kamu jatuh. Ternyata malah ngegoshting istrinya sendiri." Ella menyipitkan mata. Devan tertawa kekeh mendengarnya.
"Karena kamu baik-baik saja, aku mau keluar," kata Ella berjalan melewati Devan. Terlihat Devan tersenyum licik tak akan membiarkan istrinya keluar begitu saja.
Brak!
''Ahhh''
Ella menjerit kembali dirinya dipojokkan ke dinding. Ella terkejut dengan tindakan Devan yang mengunci kedua tangannya ke atas. Tak ada ruang untuknya memberontak, Devan menatap kedua matanya dan turun menatap bibir seksi Ella. Seakan ingin mengajaknya bercumbu mesra sekarang.
"Ho-honey, kamu mau apa?" tanya Ella terdengar polos.
"Hm, mau apa? Tentu saja mau nagih janji darimu istriku."
Deg!
Ella makin terkejut, ternyata Devan masih ingat dengan janjinya di vila bapak tua saat mandi bersama.
"Hehe, tapi honey kita ini baru saja tiba di rumah lho. Lebih baik kita keluar dan istirahat." Ella mencoba untuk menolak. Akan tetapi, Devan yang tak sabaran sudah berpuasa dua hari segera meluncurkan cumb*nya ke leher Ella.
"Aaah ... uuuh, honey stop!"
Ella merinding diantara d4sah4n dan nikmatnya dikecup oleh Devan. Kecupan lembut dan makin buas akhirnya membekas di lehernya. Tanda merah ada di mana-mana. Tangan jahil Devan mulai menjamah tubuh Ella. Dari elusan pinggul naik ke bukit kembar Ella. Bibir bawahnya cuma digigit saja, Ella mencoba menahan untuk tidak mendesah. Tapi Devan tetap akan membuat Ella terangs4n dan mau melayaninya. Pada akhirnya Ella terbuai dan menikmatinya.
"Nona bebek mau kah kau kawin dengan Tuan biawak dan melahirkan kecebong baru?" bisik Devan menjilat telinga Ella.
Ella tak dapat menjawab, mulutnya dilum4t habis dengan bibir seksi dan hot milik Devan, sixpack gagah itu tak hentinya menggetarkan gairah Ella. Hanya respon tubuh saja membuat Devan kini paham. Seketika Devan mengangkat Ella dan mengajaknya bercinta di dibalik tirai.
Pakaian keduanya terlepas dan menyisakan tubuh mereka yang telan-jang bulat. Gerakan dan ******* serta ritme permainan akhirnya dimulai, sangat jelas suara aneh "Plok plok plok" begitu nikmat terdengar. Devan kali ini berhasil melakukan pelepasan di dalam rahim bebek kecilnya.
"Ahhh love you honey"
"Love you to sayang"
__ADS_1
Keduanya bercumbu mesra melepaskan gairah yang membara dari tadi.