
Sesampainya di perusahaan, Ella dan Devan langsung masuk ke dalam dan disambut oleh para karyawan berbaris menundukkan kepala. Ella yang berjalan di samping Devan segera menggenggam tangan kanan suaminya. Pagi ini terasa aneh tiba-tiba disambut oleh para karyawan.
"Honey, apa setiap pagi mereka akan berbaris dan menunduk bila kau datang ke kantor?" bisik Ella pada Devan.
Dengan coolnya, Devan menjawab dan mempererat genggaman tangannya.
"Ini khusus untuk menyambut sekretaris baruku,"
Ella berjalan menunduk menyembunyikan rona wajahnya. Ia pun mencubit sedikit pinggang Devan.
"Dasar berlebihan!"
"Puft, apa kau tidak suka mereka? Kalau kau tidak suka, aku bisa memecat mereka semua."
Deg!
"Hei! Jangan asal bicara honey!" desis Ella memalingkan muka dan diam-diam tertawa. Lucu rasanya tiba-tiba punya suami yang berkuasa di sebuah perusahaan.
"Hm, apa yang dia tertawakan?" lirik Devan dalam hati.
Setelah menaiki lift, Devan menuntunnya ke arah ruangan Hansel. Ella terkejut karena melewati ruangan CEO.
"Honey, kau tidak salah jalan kan? Ini bukan ke arah ruanganmu tapi ke ruangan Kak Hansel," Ella menunjuk ke belakang.
"Ya tidak salah dong sayang, aku kan memang ingin ke ruangan Hansel," ucap Devan masih menariknya.
"Ta-tapi kan bukannya kau harus ke ruanganmu sendiri?" tanya Ella lagi. Devan berhenti dan dengan gemasnya mencentil kening Ella.
Tuk!
"Aduh, sakit honey," desis Ella mengusap keningnya yang memerah.
Devan mendengus lalu tertawa kecil melihat mulut Ella dimajukan, nampak wanita beranak dua ini sedang cemberut.
"Puft, itu hukuman kalau istri banyak tanya. Sekarang kau kan sekretarisku, jadi aku akan membawamu ke ruangan sekretaris Hansel. Eh, mungkin bagusnya calon kakak iparku," gumam Devan mengut-mangut.
"Memangnya aku tidak boleh ke ruanganmu?" tanya Ella lagi menunjuk ke arah ruangan CEO.
"Boleh kok sayang, tapi di ruangan sekretaris Hansel banyak yang harus kau pelajari," jawab Devan meniup kening Ella membuat wanita cantik ini tersipu.
"Em itu, apa yang harus aku pelajari?" tanya Ella yang kini dituntun ke ruangan Hansel.
"Banyak sayang, sebagai sekretarisku ... kau harus banyak-banyak belajar. Apa kau sudah paham?" ucap Devan bertanya balik.
Ella garuk-garuk kepala sambil cengengesan.
"Hehehe, aku tidak tahu. Bisnis terlalu rumit untuk dipahami."
Devan tertawa geli mendengarnya, ia segera masuk ke ruangan Hansel untuk melihat apa saja yang akan diajari untuk Ella.
__ADS_1
Sekarang Ella duduk di kursi sambil menunggu Devan yang sedang berdiri menyentuh dagunya dan melihat dokumen yang tersusun rapi di rak lemari.
Brak!
Devan tersenyum smirk melihat Ella melongo pada tumpukan dokumen itu di depannya. Ella pun segera mendongak ke arahnya.
"Ini untuk apa honey?" Ella menunjuk dokumen di atas meja.
Devan mengambil satu kursi lalu duduk berhadapan dengan Ella. Ia mulai menjelaskan pada istrinya sekaligus sekretarisnya yang ia rekrut begitu saja tanpa berkas ijasah. Maklum, Ella istri seorang CEO jadi terserah Devan mau melakukan apa terhadap bawahannya terutama pada Istrinya.
"Tentu saja dibaca sayang, setelah itu kau harus pahami."
Ella mengerti dan mulai mengambil dokumen paling atas. Setelah membukanya, dua matanya seakan ingin keluar melihat begitu banyak tulisan dalam satu lembar bahkan ada berbagai tanda panah. Devan tertawa kecil mendengar Ella menelan ludahnya.
"Apa aku harus baca semua ini?"
"Hm, bukan cuma dibaca sayang, tapi dihapal dan cermati,"
"Apa aku harus menghapal semua ini dan menelitinya?" sekali lagi Ella bertanya, ia bagaikan sedang bersekolah kembali.
"Ya benar sekali, ini tugas sekretarisku. Apa kau sanggup sayang?"
Ella menatap ngeri melihatnya, ia merasa tugas sekretaris lebih parah dari pada tugas sekolah.
"Honey," lirih Ella malah menangis membuat Devan berdiri terkejut.
"Loh sayang, kau kenapa menangis seperti ini?"
"Tidak sangka, bekerja di perusahaan itu lebih berat. Pasti tiap hari kau lelah dan kepalamu pasti sakit serta pusing membaca tulisan sekecil dan serinci ini,"
Devan geleng-geleng kepala dan duduk kembali.
"Kau tidak usah cemas, ini sudah terbiasa untukku. Sekarang belajarlah dari sekarang untuk bekerja di sini," ucap Devan menunjuk mejanya.
"Tapi honey, jujur aku tidak-" ucapan Ella terputus, ia kaget mendengar ucapan Devan terhadapnya.
"Hais, ternyata istriku sangat lemah. Padahal aku sangat berharap dia bisa mengelolah perusahaan ini bersamaku."
Ella berdiri dan memberi hormat.
"Siap Pak Bos! Saya tidak akan mengecewakan anda! Mulai hari ini saya bersedia jadi sekretaris yang dapat dihandalkan!" tegas Ella tersenyum. Devan memberinya tepukan tangan lalu berdiri.
"Baiklah, tolong kerja samanya sekretaris Aradella."
Devan mengulurkan tangannya meminta untuk berjabat tangan. Ella dengan senang hati membalasnya.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Bos!"
"Pfft, ahahaha ... kau lucu sekali sayang. Kau sudah pintar berlagak seperti Hansel." Devan tertawa puas sambil mengacak-acak rambut Ella.
__ADS_1
"Hehehe, aku sudah pintar," cengir Ella senang dipuji oleh Devan.
"Baiklah, aku ke ruanganku. Sekitar dua jam, aku akan kembali ke sini untuk mengetesmu. Jadi apa kau keberatan Nyonya Ella jika suamimu pergi bekerja di ruangannya?" tanya Devan melihat jam tangannya, ini waktunya ia ke ruangan CEO untuk mengecek dokumen miliknya.
Ella dengan patuh dan paham memberi hormat lagi.
"Saya tidak keberatan Tuan Devan! Saya pasti akan menyelesaikan tugas saya!"
Sekali lagi tingkah Ella membuatnya tertawa geli. Devan pun mencium kening Ella dan pamit keluar dari ruangan Hansel. Setelah merasa aman tidak ada keberadaan Devan, Ella menyandarkan kepalanya ke atas meja.
"Huft, ini dokumen mau diapakan? Dihapal semua itu tidak mungkin bagiku, sekarang apa yang dilakukan Kak Elisa dan Kak Hansel? Apa hubungan mereka makin erat? Aku harus minta maaf pada Kak Elisa. Tapi sekarang-" ucap Ella mengacak-acak rambutnya, ia sedikit frustasi dengan dokumen yang amat banyak.
"Tapi sekarang aku harus baca ini semua! Benar-benar bikin kepala pusing, kalau begini aku tidur saja deh." Ella kembali menyandarkan kepalanya ke atas meja dan tidur beneran. Suara dengkuran kecilnya memenuhi isi ruangan. Sungguh cara kerjanya bisa diberi satu jempol. Ini pasti akan membuat Devan marah.
Namun ternyata tidak sama sekali, Devan yang melihatnya cuma geleng-geleng kepala dan perlahan masuk ke ruangan Hansel. Devan melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Ella agar tidak terkena debu sedikitpun saat berjalan, alias tidak dilihat oleh mata telanjang karyawannya.
Devan dengan hati-hati mengangkat Ella, ia keluar dari ruangan dan kini berjalan menuju ke ruangannya.
Cup!
Devan mencium kening Ella, membuatnya menggeliat geli di atas sofa panjangnya. Kini Ella terlihat puas dan nyenyak. Devan duduk di dekatnya dan mengelus pipi Ella.
"Dia pasti lelah selama ini, tapi aku senang dia sekarang ada kemajuan."
Devan bergumam dan kemudian pintu CEO diketuk oleh karyawan. Devan berjalan untuk membukanya.
"Ada apa datang kemari?" tanya Devan dengan suara khasnya.
"Pak, ini waktunya meeting untuk membahas sistem yang akan Presdir luncurkan," jawabnya dengan sopan. Devan melihat jam tangan sudah pukul 10.23 pagi.
"Baiklah, kita bahas sekarang juga."
Devan menutup pintu ruangannya, meninggalkan Ella yang tertidur dan kini berjalan ke ruangan rapat bersama stafnya.
"Emh, aku di mana?" Ella akhirnya bangun setelah melewati tidur panjangnya. Ella melihat sekeliling dan langsung berdiri menjerit.
"OMG! Kenapa aku ketiduran! Harus aku membaca, tapi siapa yang membawaku ke sini? Apa itu Devan?" pikir Ella buru-buru keluar untuk ke ruangan Hansel. Namun langkah kakinya terhenti mendengar suara wanita yang amat terdengar curiga. Ella mendekati suara itu, ia makin dekat dan sontak terkejut dengan ucapan Renita.
"Jadi benar, Nona Elisa punya butik?" tanya Renita sangat terkejut.
"Itu benar, Bos. Kami melihat sendiri hari ini Nona Elisa sedang berada di butiknya dan kini begitu ramai dan banyak orang-orang berdatangan melihat butik miliknya."
Renita berdecak, ia sedikit kesal dengan laporan suruhan untuk mengawasi Elisa. Maklum, pengunjung Elisa tentunya berasal dari teman terdekatnya serta teman dari Ny. Chelsi.
"Ck, ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus hancurkan butik itu sebelum Bu Naina melihat kesuksesan Elisa."
Ella menutup mulutnya dan segera pergi dari sana.
"Wow, ternyata Kak Elisa membuka butik. Kalau begitu, jangan-jangan dia adalah saingan Kak Elisa? Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus ke butik Kak Elisa!" gumam Ella segera menulis surat di atas meja Devan.
__ADS_1
"Pak Bos, sekretarismu minta cuty hari ini. Ada keperluan mendadak, jika Pak Bos ada urusan. Anda boleh cari saya di butik Nona Elisa. Love you Pak Bos!"
Setelah menulis, Ella mengendap-endap melewati ruangan rapat. Terlihat Devan sibuk menjelaskan pada staf-stafnya. Ella berhasil melewatinya, ia kini menuruni lift lalu berjalan keluar untuk mencari taksi. Ingin berkunjung ke butik Elisa.