
Sedangkan di rumah sakit. Elisa sedang berhadapan dengan Ny. Jessy. Kecanggungan membuat keduanya belum bicara apa-pun. Apalagi tadi Elisa menangkap basah Ny. Jessy yang menangis di dekat Hansel.
"Em Nyonya Jessy, mengapa anda menangis?" tanya Elisa gugup. Nyonya Jessy melihat Hansel kemudian dengan cepat meraih tangan Elisa. Tindakan ini membuat Elisa terperanjak.
"Ada apa denganmu, Nyonya Jessy?" Elisa bertanya lagi. Ny. Jessy melirik dua pengawal di depan ruangan. Waktunya tinggal sedikit lagi di rumah sakit.
"Nona Elisa, saya sangat senang hari ini kamu bersama putraku," jawab Ny. Jessy mulai terus terang.
"Ha, putra Nyonya? Maksudnya?" Elisa sedikit terkejut. Keningnya mengerut setelah mendengarnya.
Ny. Jessy menutup wajahnya kemudian sedikit menangis. Elisa makin terkejut mendengar isakan Ny. Jessy. Ini makin tidak jelas untuk dicerna.
"Sebe-sebenarnya, ini adalah salahku. Aku tidak becus menjaga putraku dua puluh lima tahun yang lalu. Putraku Maikeul telah hilang selama itu, dia putraku yang sangat aku sayangi. Dia pewaris keluarga GERRALD," jelas Ny. Jessy semakin membuat Elisa shock. Untung saja jantungnya sudah sehat, Elisa tidak menyangka wanita di dekatnya adalah istri dari konglomerat yang terkenal di negara inggris. Pengusaha besar serta bos Mafia.
"Itu artinya Renita putri konglomerat dong," gumam Elisa sedikit kasihan pada Ny. Jessy yang sedang mengusap air matanya.
"Nih, Bu. Pakai sapu tangan ini saja," lanjut Elisa memberikan sapu tangannya. Ny. Jessy menerimanya begitu saja kemudian menghapus air matanya.
"Em itu, siapa milik sapu tangan ini?" tanya Ny. Jessy senang dengan perhatian Elisa.
"Itu sapu tangan suamiku, dia yang memberikannya padaku saat aku sedih. Dia pria yang baik dan selalu menghiburku. Aku sangat mencintainya." Elisa menjawab dengan senyuman lalu melihat ke arah Hansel. Tangan Ny. Jessy bergetar mendengarnya, tangisnya makin pecah membuat Elisa terkejut lagi.
"Bu Jessy, tolong tenanglah. Ceritakan padaku mengapa anda bisa begini? Mungkin aku bisa membantu anda," ucap Elisa menenangkannya. Sontak kedua matanya melebar menerima pelukan dari Ny. Jessy.
"Hiks, terima kasih... terima kasih kamu sudah mau mencintainya, aku senang dapat mengenalmu, Nak. Kamu memang pantas jadi menantu di keluarga GERRALD." Isakan Ny. Jessy makin tidak jelas di telinga Elisa.
"Ahaha, aku rasa ada yang salah, Bu. Aku menantu dari keluarga Carlous bukan dari keluarga Ibu," cengir Elisa garuk-garuk kepala. Ny. Jessy melihat Elisa dan tersenyum diantara isak tangisnya.
__ADS_1
"Tidak Nak, kamu adalah menantuku." Elisa sontak diam mendengarnya.
"Menantu? Ahaha, sepertinya Ibu terlalu berlebihan. Mana mungkin aku menantu Ibu, aku kan nikahnya sama Hansel bukan Renita." Elisa tertawa bodoh kemudian mengambil gelas untuk minum, agar ia sedikit tenang.
"Tidak Nak, kamu ini memang menantu saya. Kamu memang tidak menikahi Renita, tapi menikahi kakak Renita yaitu Maikeul."
Deg!
"What? Maikeul?" kaget Elisa sampai terbatuk-batuk, untung saja isi air yang dia minum tidak keluar. Ia pun berdiri di depan Ny. Jessy dan berkata baik-baik.
"Huft, Bu Jessy mungkin sudah salah mengira. Saya ini sama sekali tidak mengenal Maikeul dan yang saya dinikahi oleh Hansel, bukan Maikeul," ucap Elisa tersenyum membenarkan. Kemudian Elisa berjalan ke arah Hansel sembari bicara pada Ny. Jessy.
"Sepertinya, waktu kunjungan pasien sudah habis. Bu Jessy lebih baik-"
"Tunggu dulu, yang aku katakan ini memang benar. Sebenarnya Maikeul adalah suamimu sekarang," ucap Ny. Jessy berhasil membuat Elisa melihatnya.
"Maikeul, dia malaikat kecilku. Saat semuanya mengincarku untuk dibunuh, cuma Maikeul yang aku punya saat itu dan sekarang-" ucap Ny. Jessy berdiri di dekat Hansel. Meletakkan sapu tangan di tangan putranya.
"Sekarang dia sudah ada di depanku. Dari kecil, cuma dia yang selalu memberiku sapu tangan jika aku menangis. Tidak disangka, kebiasaannya masih ada sampai sekarang. Suamimu adalah putraku, dia Maikeul bukan Hansel."
Elisa terbelalak mendengarnya, apalagi Ny. Jessy dengan lembut mengelus kepala Hansel. Ini bagaikan suatu berita besar yang sangat mengejutkan. Elisa seakan hampir pingsan dibuatnya.
"Mana mungkin, suamiku adalah putra sulung dari kelurga Carlous. Bagaimana anda bisa simpulkan begitu saja?" tanya Elisa belum percaya. Mendengarnya, Ny. Jessy memberikan hasil tes DNA pada Elisa hingga wanita muda ini tercengang melihat hasil tes 99% hubungan cocok. Kemudian Ny. Jessy lanjut bicara.
"Dia memang putra sulung dari kelurga Carlous, tapi bukan putra kandung dari keluarga itu. Melainkan Suami kamu adalah putra sulung dan putra kandung dari keluarga GERRALD. Penerus generasi berikutnya, dia Tuan muda Maikeul dan kamu adalah menantuku. Nyonya muda dari keluarga GERRALD. Aku senang sudah hadir di acara pernikahan kalian dan senang mendapatkan menantu yang perhatian sepertimu, Nona Elisa."
Elisa menatap berulang Hansel dan Ny. Jessy kemudian menalan ludah. Ia tidak tahu apa ia harus senang? atau sedih? Elisa pun menunduk mulai bingung untuk percaya.
__ADS_1
"Nona Elisa," ucap Ny. Jessy meraih tangan Elisa.
"Saya harap kita bisa berhubungan baik, dan saya harap kamu dapat menjaga Maikeul. Saya belum bisa membawa kalian ke inggris," lanjut Ny. Jessy berhenti sejenak lalu melihat Hansel.
"Ke inggris untuk apa?" tanya Elisa gelagapan.
"Kalian adalah bagian terpenting di keluarga Gerrald. Dan karena itulah kalian berhak ke inggris untuk memulai hidup di sana. Tapi sekarang kalian harus tetap di sini," jawab Ny. Jessy melihat jam tangan emasnya.
"Kenapa begitu?" tanya Elisa makin penasaran.
"Karena kekuasaan ayah Maikeul sedang diserang oleh musuh kami, saya tidak mau kalian jadi incaran mereka. Saya tidak ingin kalian dibunuh, apalagi Maikeul adalah penerus. Dan dari pernikahan kalian pasti akan menghasilkan penerus berikutnya. Jadi rahasia ini cukup kita berdua yang tahu," jawab Ny. Jessy meraih tangan Elisa.
Elisa diam mematung setelah mendengarnya. Ternyata hubungannya dengan Hansel lebih hebat daripada dengan Devan maupun Jastin. Apalagi anaknya nanti akan jadi penerus berikutnya sebagai Bos Mafia.
"Jadi, kapan rahasia ini terbongkar?" tanya Elisa agak takut menanggung rahasianya. Takut pada musuh-musuh Roland yang akan mengincar dan membunuhnya.
"Sampai masalah di inggris selesai, kalian harus baik-baik di sini. Dan kamu jangan kalah dengan wanita kemarin, jangan biarkan dirimu ditindas oleh siapa-pun. Jika ada yang berani, maka hubungi aku saja, kamu satu-satunya harapanku menjaga Maikeul di sini." Ny. Jessy menjawabnya kemudian memeluk Elisa.
"Aku senang mendapat menantu sepertimu."
Elisa pun membalas pelukan Ny. Jessy dan kemudian tersenyum miring. Pikiran Elisa tertuju pada Bu Naina yang ternyata cuma Ibu angkat Hansel. Ini sangat mudah untuk buat perhitungan ke Bu Naina nantinya.
"Aku-aku sangat senang dan pastinya suamiku pasti senang juga. Saya janji akan menjaganya sampai anda kembali untuk mengatakan hubungan anda yang sebenarnya."
Ny. Jessy lega mendengar ucapan Elisa. Ia pun tersenyum ramah lalu pamit ke Elisa. Tak lupa mengelus rambut Hansel kemudian pergi meninggalkan ruangan itu bersama pengawal.
"Huft, ya Tuhan. Cobaan apalagi ini, aku tidak tahu mau senang apa sedih. Aku takut, mereka akan mengincar kami. Ini sangat berat untuk merahasiakan. Apalagi Hansel masih lemah, ini kesempatan mereka untuk menyingkirkan Hansel, aku harus lindungi suamiku dengan ketat!" Elisa duduk di dekat Hansel. Ia sangat gelisah, bukan lagi takut pada Bu Naina melainkan pada musuh Roland yang bisa saja datang membunuhnya.
__ADS_1