Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
23. Terngiang - ngiang


__ADS_3

Malam ini terasa indah untuk pasutri Devandra dan Aradella. Hubungan mereka semakin harmonis. Tidak seperti Sekretaris Hansel yang lesu dan baru saja datang dari rumah Elisa. Ia baru tiba di rumahnya sekarang. Hansel duduk di sofa, merebahkan punggungnya dan memijit pelipis matanya. Malam ini ia sedikit pusing gara-gara melihat perdebatan di rumah Elisa. Rantang yang dia bawa tadi cuma diletakkan di atas meja.


"Hm, kemana semua orang?"


"Kenapa rumah terasa sepi?"


Hansel berdiri celingak-celinguk mencari Ibu, Ayah dan Adiknya.


"Ibu, Ayah!" panggil Hansel. Tapi tak ada yang menyahutnya.


Hansel duduk kembali. "Kemana semua orang?" pikirnya celingak-celinguk lagi. Kini Hansel semakin heran tiba-tiba isi rumahnya tak ada tanda-tanda kehidupan.


"Huft, mungkin semuanya lagi keluar. Lebih baik aku masuk ke kamar."


Baru juga mau berdiri, tiba-tiba seorang wanita berteriak dari arah pintu utama. Hansel duduk kembali dan menoleh.


"Wah, Hans! Kau kenapa baru pulang?" tanya Wanita itu lari dan kemudian duduk di dekat Hansel.


"Re-renita? Apa yang kau lakukan di rumahku?" Hansel berdiri sangat terkejut teman satu kantornya berkunjung ke rumahnya malam ini.


"Hans," ucap seorang wanita paruh baya. Hansel menoleh ke sumber suara.


"Ibu, Naomi?" Hansel mengabaikan Renita dan pergi ke arah Ibunya dan adik perempuannya. Renita menekuk wajahnya sedikit kesal dan kecewa diabaikan olehnya.


"Ibu sama Naomi dari mana? Kenapa bisa bersama Renita?" tanya Hansel menunjuk Renita. Wanita ini pun berjalan ke arah Ibu Naina. Ibu kandung Naomi serta Ibu yang membesarkan Hansel dari kecil.


"Ya aku ke sini karena kebetulan melihat Ibu dan Adikmu di jalan. Jadi sekalian aku antar dan memberimu berkas yang belum kau urus." Renita tersenyum manis di dekat Bu Naina dengan berkas di tangannya.


"Hans, kau jangan kaget, Nak. Berkat Renita, Ibu tidak perlu susah-susah harus mencari angkot, untung saja dia melihat kami dan berbaik hati mau mengantar Ibu dan Naomi pulang," jelas Bu Naina masuk ke arah dapur untuk meletakkan barang-barang pokok yang dia beli barusan di luar.


"Betul tuh Kak, coba saja tidak ada Kak Renita mungkin kita sudah dirampok di jalan," tambah Naomi duduk di sofa dan mulai menyalakan TV sambil makan snack.


Renita senyum-senyum melihat Hansel. Ia memang menyukai Hansel awal pertama ia masuk kerja di perusahaan Devan.


"Syukurlah, kalau begitu terima kasih, Ren. Sekarang sudah malam, kau boleh pulang." Hansel mendorong Renita ingin mengelurkannya dari rumah.


"Loh, Hans. Kamu jangan perlakukan Renita begitu, dia baru saja mengantar Ibu. Dia sekarang tamu kita di rumah ini." Dengan ramah, Bu Naina tersenyum pada Renita dan meletakkan nampam empat gelas jus dan roti.

__ADS_1


"Ahahaha," tawa Renita cengengesan.


"Tante tidak usah repot-repot begini, yang dikatakan Hansel memang benar. Aku harus pulang, tidak baik seorang wanita lama-lama di sini, aalagi masih single. Jadi sekretaris Hans-" ucap Renita memberikan berkas dan tersenyum manis lalu dengan cepat mengambil saru roti.


"Kalau begitu kau kerjakan berkas itu, besok kau temani aku jalan-jalan untuk bayaran ini. Sampai jumpa besok, Hans! Aku pulang dulu ya, Tante! Rotinya enak!" pekik Renita melambai ke Hansel lalu pergi ke arah mobilnya. Ia pergi dengan hati senang meninggalkan rumah sederhana Hansel.


"Huft, dia sedikit berlebihan." Hansel duduk di dekat Naomi dan menghela nafas. Bu Naina geleng-geleng kepala melihat dua anaknya.


"Ibu ke kamar dulu, Ayah kalian pasti sudah pulang juga." Bu Naina pamit dan pergi meninggalkan keduanya.


"Aku harus bicarakan ini pada suamiku, Renita memang cocok untuk Hans." Bu Naina bergumam masuk ke dalam kamarnya.


"Bang," panggil Naomi mengambil roti dan melihat Hansel sibuk menunduk sambil menatap berkas di tangannya.


"Bang! Kau kenapa diam?"


"Ada masalah?"


Pertanyaan Naomi diabaikan Hansel. Lelaki ini beranjak berdiri, rasa gelisah dan resah menyelimuti perasaannya sekarang.


"Kau di sini saja, aku mau ke kamar." Lagi-lagi Hansel menghela nafas.


"Hm, tumben dia sedih? Apa sudah terjadi sesuatu pada pekerjaannya?" gumam Naomi mengernyit heran.


"Sudahlah, mungkin malam ini dia habis dimarahi oleh atasannya. Lebih baik aku lanjut nonton saja." Naomi mengangkat kedua bahunya, ia tak peduli dan lebih peduli pada film di layar TV.


Brak!


Hansel meletakkan berkas itu di atas meja, terdengar cukup keras. Ia duduk di kursi dan perlahan membuka laptopnya untuk memulai meneliti isi berkasnya. Tapi kedua tangannya bagaikan mati rasa. Seperti ia tak punya rasa semangat lagi.


Hansel meremas rambutnya. Pikirannya dipenuhi soal Elisa hingga ia menjambat rambutnya sendiri. Hansel bingung, langkah apa yang harus dia ambil.


Karena terlalu berat rasanya dan perasaannya campur aduk bagaikan es campur saja. Ia berdiri dari kursi dan menjatuhkan dirinya di ranjang. Hansel melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat langit-langit kamar.


"Apa yang dia lakukan sekarang?"


"Apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"Apa jangan-jangan dia menangis?"


"Hais, harusnya mungkin tadi aku tak usah bicara soal perasaanku padanya."


Hansel tidur menyamping menghadap ke kanan, menuntup mata ingin tidur. Tapi pikirannya selalu saja pada Elisa. Hansel berdiri ingin mandi. Ia membuka kemeja dan semua pakaiannya. Tubuhnya terlihat gagah dengan sixpack yang ternyata cukup menggoda. Hansel masuk ke kamar hanya bermodal handuk.


Percikan air memenuhi isi kamar mandi. Meski begitu Elisa selalu terngiang-ngiang di kedua telinga maupun di dalam kepalanya.


"Aaarg!"


"Siapa lelaki itu! Mengapa dia begitu disukai oleh Tuan Vian dan kenapa Nona Elisa sangat mengenalnya. Apa dia pernah punya hubungan spesial dulu?"


Hansel keluar dari kamar mandi hanya bermodal handuk saja, ia menyisir rambutnya dengan kedua tangannya.


Setelah memakai baju tidur, Hansel menghempaskan tubuhnya. Menutup mata mencoba untuk tidur.


Tidak seperti di kamar lain, terlihat Ibu Naina sedang duduk di kursi dan berbicara pada Suaminya yang bernama Pak Carlous. Pria paruh baya sekaligus seorang pengusaha yang memiliki tindak misterius dalam menjalankan perusahaannya.


"Pak, bagaimana kalau kita suruh Hans berhenti jadi Sekretaris di perusahaan Welfin. Dia sudah lama bekerja di sana, aku yakin Hans bisa mengelola perusahaan keluarga juga. Dia bisa jadi Presdir muda di perusahaan. Dia bisa membantumu, Pak." Bu Naina mengusulkan pada Pak Carlous.


Pak Carlos yang lagi berdiri di dekat jendela segera menoleh ke istrinya.


"Bu, apa Ibu lupa? Hans itu cuma Anak asuh kita. Tak ada darah keturunan keluarga Carlous Bastian yang mengalir padanya. Kita tak bisa mengangkat Hans ke jabatan Presdir! Semua anggota di kelurgaku akan membantah itu, Bu." Jelas Pak Carlous tak bisa menerima usulan Istrinya karena anggota keluarganya tentu juga tak akan menyetujui Hansel diberi jabatan tinggi itu.


"Pak, berhenti katakan itu lagi! Hans itu anak kita, dia bukan anak asuh kita!"


"Kau sendiri yang bawa dia ke rumah ini saat dia berumur 2 tahun. Kau sendiri yang mengangkat Hans jadi anak kita, kau juga katakan untuk tidak mengungkit masalah ini!"


Bu Naina marah, ia kesal dengan ucapan Pak Carlous.


"Maaf, Bu. Aku terbawa emosi, akhir-akhir ini pencapaian perusahaan menurun. Ini gara-gara semua para orang munafik itu ingin merebut jabatanku. Mereka pikir cara kerjaku tidak becus!" kesal Pak Carlous duduk di kursi dan marah pada adik-adiknya.


"Ya sudah, Ibu sebenarnya ingin mengusulkan jika Hans menikah saja dengan Renita. Wanita ini baik dan perhatian, ia pasti bisa membantu kita juga," usul Bu Naina.


Pak Carlous berpikir sejenak lalu menghela nafas.


"Terserah Ibu saja, aku ikut Ibu. Kalau memang dia bisa diandalkan jadi menantu di keluarga ini, itu sudah cukup. Hans memang harusnya segera menikah, agar ia bisa membangun keluarganya, dan setelah itu ada alasan setengah sahamku bisa aku berikan untuknya dan dapat ia kelola dengan baik." Jelas Pak Carlous berdiri dan menuju ke tempat tidurnya.

__ADS_1


"Hm, benar. Setelah dia menikah, Hans tak perlu bekerja di perusahaan Welfin dan dia bisa menjadi calon Presdir. Ia bisa mengatur dan mengelola perusahaannya di masa depan."


Bu Naina sangat senang dan berdiri ingin tidur cepat. Malam ini sangat mudah dilalui oleh Bu Naina, tapi tidak untuk Hansel yang memikirkan Elisa di dalam kepalanya.


__ADS_2