
Ella terkejut melihat adik iparnya menonjok wajah Devan di depan matanya. Begitupun Aline menutup mulutnya melihat Rafa emosi tak terima Ella menangis. Hansel hanya bisa mendesis di samping Aline, dia sudah mencoba menahan Rafa tapi Rafa menerobos masuk dan langsung memberi pukulan pada Devan.
"Kau brensek, bang!" ujar Rafa mengepal tangan dan menarik kerah leher Devan.
"Beraninya kau membuat Ella menangis, bukan kah aku sudah pernah bilang jangan biarkan air matanya jatuh kembali! Tapi kenapa kau bisa seberensek ini, ha!" bentak Rafa menatapnya dalam-dalam. Ella menunduk dan lari ke lantai atas. Aline yang melihatnya segera memberikan ponsel Ella pada Hansel lalu menyusul Ella.
"Lepaskan tanganmu!" tepis Devan mendecak, ia kesal pada adiknya yang tiba-tiba main asal pukul. Hansel ingin melerai mereka, tapi ia tahu kalau kakak adik ini lagi bertengkar pasti dirinya yang akan kena imbasnya. Namun Hansel penasaran mengapa Aline memberikan ponsel Ella padanya.
Hansel pun menyalakan layar ponsel itu dan mengabaikan perdebatan Devan dan Rafa. Alangkah terkejutnya setelah memutar rekaman suara yang dia dapatkan. Kedua bersaudara ini reflek menoleh ke Hansel ketika mendengar suara Jastin berdebat dengan Ella.
"Presdir, saya rasa-" Hansel menelan ludah ditatap oleh kedua pria di depannya.
"Dari mana kau dapat itu?" tanya Devan merebutnya dan memutar kembali.
"Ini dari Nona Aline, sepertinya dia memang bersama dengan Ella ke apartemen Jastin, Presdir. Yang dikatakannya tadi bukanlah sandiwara. Jastin sendiri yang memulainya."
Devan dan Rafa saling tatap, keduanya mengepal tangan kuat-kuat. Apalagi Rafa juga kenal Jastin, ia sangat membenci satu pria playboy ini. Hansel kini merasa Jastin sudah berhasil mengadu domba Atasannya.
"Ck, Jastin. Beraninya kau lakukan ini padaku," decak Devan, matanya penuh dengan amarah.
"Hansel, kau tahu apa tugasmu kan?" Devan melirik tajam ke Hansel.
"Saya tahu, Presdir,"
"Kalau begitu ikut denganku membereskannya hari ini juga." Devan pergi keluar rumah diikuti Hansel di belakangnya. Kini Hansel mulai tugasnya untuk melacak posisi Jastin serta menghubungi anak buahnya. Tujuan Devan ingin memberi pelajaran Jastin terlebih dahulu. Mobil pun melaju pergi dari rumah Tuan Vian.
Tidak seperti Rafa yang masih berdiri di tempatnya. Ia pun menaiki tangga untuk melihat Ella, namun cuma Aline yang dia temui di depan kamar.
"Aline, bagaimana dengannya?" tanya Rafa melihat pintu di dekatnya.
"Aku rasa Kak Ella butuh waktu, bang," ucap Aline menunduk sedih tak tahan mendengar Ella manangis di dalam kamarnya.
Rafa menghela nafas lalu menepuk bahu Aline dan menatapnya serius.
"Aline, sekarang di rumah ini cuma kamu yang bisa menjaganya. Jadi aku harap kau jaga kakakmu baik-baik dan jika bisa tolong tenangkan Ella. Aku harus pergi sekarang," ucap Rafa sedikit tersenyum, ia pun melihat pintu di depannya. Ingin rasanya ia masuk, tapi Ella sepertinya ingin sendiri dulu.
__ADS_1
"Kau mau ke mana?" tanya Aline ingin tahu.
"Aku ingin memberi makan anjingku dulu, jadi tetap di sini dan jaga Ella." Kata Rafa tak main-main lalu pergi keluar untuk menyusul Devan. Maksud ucapan Rafa yaitu ingin menjadikan Jastin makanan para anjing-anjingnya yang dia pelihara.
"Huft, sepertinya dia masih suka sama Kak Ella," lirih Aline kini duduk di depan pintunya sendiri. Ia akan berjaga-jaga sampai Ella keluar dari kamar. Walau sebenarnya ia sangat ingin tidur, tapi suara isak tangis Ella membuatnya tak bisa tenang.
"Kasihan juga Kak Ella, pasti dia sangat sedih dengan kejadian ini."
Beberapa menit kemudian, tak ada lagi suara tangis Ella dari dalam kamar. Ini membuat Aline mulai cemas. Pintu di depannya diketuk-ketuk beberapa kali.
"Kak Ella, kau baik-baik saja?" panggil Aline. Namun tak ada suara apa-pun.
Aline mondar-mandir di depan pintu.
"Aduh, gimana nih. Apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu padanya?" pikir Aline makin cemas dan kembali memanggil Ella.
"Kak Ella!"
"Buka pintu,"
"Kak Ella jangan diam dong,"
Percuma, tak ada respon dari dalam.
Aline pun menghubungi Elisa.
"Halo Kak," ucap Aline begitu panik.
"Loh kamu kenapa?" tanya Elisa yang lagi berjalan di pinggir jalan untuk mencari taksi, ia habis berbelanja di supermarket.
"Kak bisa kah kau pulang sekarang?" ucap Aline memohon.
"Eh, memangnya kenapa?"
"Ini Kak Ella ada di sini, dia barusan habis bertengkar dengan suaminya, dan sekarang mengunci dirinya di kamarku. Sampai sekarang belum keluar-keluar juga," jawab Aline mondar-mandir di depan kamar.
__ADS_1
"Apa, mereka bertengkar? Bagaimana bisa?" Elisa sangat kaget mendengarnya.
"Ini gara-gara Jastin, dia pria brensek! Dia hampir memperkosa Kak Ella, dan malah menuduh Presdir Devan pernah tidur denganmu. Jadi semuanya salah paham deh."
Elisa akhirnya geram mendengar ucapan Aline, ia geram kepada Jastin sudah seenaknya membuat berita palsu.
"Ya sudah, sekarang kau tenang. Coba ajak Ella bicara, aku segera pulang-" ucap Elisa berhenti bicara, ia melihat Jastin masuk ke sebuah club malam yang tak jauh darinya bersama seorang wanita. Elisa semakin geram melihat tingkah Jastin yang menggoda-goda wanita. Tingkahnya bagaikan sampah di matanya. Ia pun berlari ke arah club malam itu untuk menangkap basah kelakuannya.
Aline terkejut mendengar panggilan tiba-tiba terputus.
"Loh, halo kak!" panggil Aline lagi.
Aline tak punya waktu lagi, ia pun segera menuruni tangga ingin keluar mencari seseorang untuk mendobrak pintu kamarnya. Tapi saat membuka pintu, Nyonya Chelsi dan baby twins yang lagi dituntun oleh Bibi pelayan sudah ada di depan matanya.
"Loh Aline, ada apa denganmu?" tanya Nyonya Chelsi.
"Mah, ini gawat. Kak Ella belum keluar-keluar dari kamarku,"
"Loh kok bisa begitu?" tanyanya lagi sambil masuk ke dalam rumah.
Aline pun menjelaskan dari awal permasalahan Devan dan Ella. Setelah mengetahuinya, Nyonya Chelsi sangat terkejut dan langsung melihat ke lantai atas. Ia pun melihat serius ke Bibi pelayan.
"Aline, kamu jaga Vino dan Vina. Biar Mama dan Bibi yang dobrak pintunya. Mari Bi, bantu saya dobrak pintu kamar Aline," ajak Nyonya Chelsi lari ke arah tangga.
"Baik, Nyonya."
Sekarang tinggal Aline dan baby twins di ruang tamu. Aline cuma bisa duduk di sofa bersama baby twins yang tak tahu apa-apa. Suara pintu terdengar mulai didobrak.
"Satu ... dua ... tiga!"
Brak!
Sudah beberapa kali didobrak dan akhirnya pintu berhasil terbuka juga. Nyonya Chelsi langsung masuk namun isi kamar Aline kosong. Nyonya Chelsi makin panik bersama Bibi pelayan. Keduanya pun menuju ke kamar mandi.
Setelah membukanya, kedua mata wanita ini melebar terkejut melihat Ella basah kuyup dan tak sadarkan diri di dalam bathtub.
__ADS_1
"Astaga Ella!" pekik Nyonya Chelsi segera mendekati putrinya. Bibi pelayan reflek menutup mulut melihat anak majikannya tak berdaya dengan kepala ditundukkan. Terlihat, bekas cupan Ella masih terlihat dan membekas, seperti halnya rasa sakit di dalam hatinya.
Bersambung, jangan lupa like dan vote, sehat-sehat semua.