Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
31. Ucapan Jastin


__ADS_3

Pukul delapan pagi, di mansion Tuan Raka. Ella terlihat tergesa-gesa berjalan ke arah tangga. Ia sedang mengejar Devan, namun bunyi clakson mobil Devan terdengar sudah pergi meninggalkan mansion. Devan sedang buru-buru untuk mengamati proposal penting yang harus ia teliti sendiri di perusahaannya.


"Hais, dia sudah pergi berkerja. Padahal ada yang ingin aku katakan padanya."


Ella menuruni tangga dengan perasaan kacau balau. Ia mau memberitahukan jika Jastinlah yang menghasutnya kemarin. Kini Ella pergi ke arah dapur untuk melihat Vino dan Vina yang lagi sarapan pagi.


"Pagi Mami, Papi," sapa Ella tersenyum ramah pada mertuanya. Terlihat wanita ini selalu cantik dan sopan pada kedua orang tua Devan. Tuan Raka cuma tersenyum kecil saja lalu melanjutkan makan sarapan paginya. Sementara Zeli sudah dari tadi pergi ke sekolah.


"Pagi sayang, tumben kamu tidak turun sarapan bersama Devan, kalian baik-baik saja kan?" tanya Nyonya Mira cemas.


Ella duduk di dekat Vina dan mulai mengambil beberapa sendok nasi goreng ke piringnya.


"Hehe, biasa. Tadi lagi beres-beres kamar, Mih." Ella cengengesan sedikit. Ia tidak bisa ceritakan ini pada mertuanya.


"Oh, Mami pikir kalian habis bertengkar tadi malam," ucap Nyonya Mira menebaknya. Ella diam sebentar, ia menelan ludah dan kembali tersenyum.


"Kami kemarin baik-baik saja kok, Mih," sekali lagi Ella tetap menutupinya.


"Benarkah? Tapi kata pelayan, kemarin malam dia melihat Devan tidur di depan pintu. Apa itu benar?" tanya Nyonya Mira nampak ingin tahu pasti. Ella menghela nafas mulai mau mengatakan yang sejujurnya soal kegelisahannya.


"Itu sebenarnya-" ucap Ella berhenti bicara dikala Tuan Raka berdiri dari kursinya.


"Sayang, aku keluar sebentar dulu. Mau ke rumah Roy, sudah lama aku tak ke sana mengunjunginya," cium Tuan Raka pada kepala Istrinya dengan lembut. Sontak Nyonya Mira ikut berdiri dan menahan Tuan Raka.


"Sayang, kalau begitu aku juga ikut dong. Aku sudah lama tidak mengunjungi Roy dan Elma." Nyonya Mira memohon.


"Loh, tapi cucu kita siapa yang jagain?" ucap Tuan Raka melihat dua cucunya yang menggemaskan. Nampak seperti Devan dan Dean dulu waktu kecil.


Ella segera berdiri dari kursinya.


"Biar aku saja, Pih. Mami dan Papi pergi jalan-jalan saja. Soal Vino dan Vina, aku yang akan menjaga mereka," kata Ella berdiri di antata Vino dan Vina yang lagi makan bubur.


"Aduh, Ella. Menantu Mami baik sekali, sebenarnya Mami tidak mau jauh dari cucu Mami, tapi Mami juga mau keluar berkunjung. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi Mami saja ya, sayang." Nyonya Mira dengan lembut mengelus kepala Ella. Ella menunduk malu diperlakukan baik oleh mertuanya.


"Baik Mih, aku akan hubungi Mami kalau Vino dan Vina rindu sama Nenek dan Kakeknya," ucap Ella tersenyum.


"Ahaha, Mami sangat menyukaimu. Sekarang kita pergi keluar yuk sayang," ajak Nyonya Mira merangkul lengan Tuan Raka.


"Hm, baiklah. Cucu-cucu kakek di sini saja, Kakek dan Nenek kalian mau keluar dulu." Tuan Raka mencubit gemas pipi Vino dan Vina. Ella menunduk sedikit atas kepergian dua mertuanya.


Terlihat mobil kembali pergi meninggalkan mansion.

__ADS_1


"Huft," keluh Ella duduk di kursi kembali. Ia sedang memikirkan ucapan Jastin.


"Mama," panggil Vina begitu imut. Anak kecil ini menunjuk ke mangkuk sup.


"Pfft, Vina sudah mau makan sayur ya?" tanya Ella mengajaknya bicara. Vina spontan menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Ya sudah, buburnya dihabisin dulu ya sayang, setelah ini Mami akan ajak kalian ke rumah Nenek Chelsi, yeeey!" girang Ella pada dua anaknya.


Krik krik krik


Dua baby twins cuma diam saja, keduanya tak paham maksud ucapan Ella. Ella menggaruk kepalanya melihat ekspresi datar dua anaknya. Seketika Vino dan Vina tertawa bersama.


"Ahahaa, kalian ini ngeprenk Mama ya biar ditergawakan," gelitik Ella pada dua anaknya. Keduanya makin tertawa terbahak-bahak sudah mendiami Ella tadi. Mungkin bermaksud membalaskan sikap Ella terhadap Devan kemarin.


Setelah semuanya sudah siap, Ella menggandeng kedua tangan anaknya. Ia dengan rapinya berserta Vino dan Vina pamit pada Bibi pelayan.


"Bibi, kalau Mami dan Papi pulang, Bibi bilang saja kalau Vino dan Vina ada di rumah Ibuku. Hari ini aku ingin mengunjungi Ibuku dan saudaraku," ucap Ella tersenyum pada Bibi pelayan.


"Baik Nyonya, anda tidak usah kuatir. Saya akan katakan pada Nyonya besar dan Tuan besar." Bibi pelayan menunduk sedikit.


"Kalau begitu, kami pergi dulu ya." Pamit Ella keluar dari mansion. Vina yang digandeng tangannnya menoleh ke belakang. Terlihat ia sedang melambai ke Bibi pelayan.


Vino di samping Ella malah tertawa mendengarnya, begitupun Ella makin gemas pada dua anaknya yang lucu dan imut-imut. Kini ia berserta Vino dan Vina naik ke mobil. Petugas mansion sendiri yang akan mengantar Ella ke rumah Ibunya.


Sesampainya di rumah Tuan Vian, baby twins turun dari mobil bersama Ella.


"Terima kasih, Pak!" ujar Ella tersenyum. Petugas cuma mengangguk kecil dan kemudian pergi kembali ke mansion. Waktu di jam tangan Ella sudah pukul sepuluh pagi. Saat mau mengetuk pintu, pintu rumah sudah dibuka duluan.


"Eh, Ella?" ucap Nyonya Chelsi terkejut yang datang adalah putri keduanya bersama cucu-cucu imutnya.


"Pagi, Mah. Aku ke sini bawa Vino dan Vina, tidak apa-apa kan Mah?" tanya Ella sedikit ragu-ragu.


"Eh, tidak apa-apa kok, Mama malah senang kamu ke sini bersama cucu Mama. Mari masuk sayang, Mama akan buatkan susu untuk Cucu-cucu Mama yang manis ini," cubit Nyonya Chelsi pada dua cucunya. Ella merasa lega, hubungannya dengan Ibunya sekarang makin erat saja.


Ella masuk dan duduk istirahat sebentar di dekat dua anaknya yang ikutan duduk bersamanya. Pandangan mata Ella sedang mencari seseorang.


"Oh ya Mah, Kak Elisa di mana? Kenapa rumah terasa sepi?" tanya Ella pada Nyonya Chelsi yang keluar membawa dua gelas susu untuk cucunya sendiri. Nyonya Chelsi duduk di sofa lain sambil melihat si kembar begitu senang meminun isi gelas susu mereka yang diletakkan di atas meja.


"Elisa lagi keluar, mungkin akan lama. Seperti biasa, dia pergi mengunjungi Hansel," jawab Nyonya Chelsi tersenyum.


"Kak Elisa barusan pergi ya, Mah?" tanya Ella lagi.

__ADS_1


"Ya, sudah satu jam dia keluar," jawab Nyonya Chelsi menghela nafas berat.


"Huft, sepertinya aku tak bisa tanyakan ini pada Elisa. Kata-kata Devan kemarin masih belum bisa aku percayai. Kalau begitu aku harus buktikan sendiri, aku harus ke rumah Jastin," pikir Ella mulai bertekad ingin pergi ke rumah Jastin sendiri. Tapi saat mau pamit, Ella terkejut melihat Ibunya memijit kepalanya sendiri.


"Kenapa, Mah? Mama lagi sakit?" tanya Ella duduk di dekat Nyonya Chelsi. Ia cemas pada Ibunya sambil melihat Baby twins masih meminum susu mereka.


"Ini loh, Ella. Soal Kakakmu, Papa kamu sedang marah, karena Elisa dan Hansel benar-benar pacaran. Padahal Papamu mau menikahkan Elisa dengan Jastin. Katanya Jastin sangat cocok dengan Kakakmu ini, sekarang Mama pusing mau milih siapa. Kakakmu berharap Mama dukung dia dengan Jastin, tapi Papamu mendesak Mama untuk membela Jastin." Jelas Nyonya Chelsi kembali memijit kepalanya.


Ella diam sebentar, ini juga kesempatan untuknya kalau Jastin sebenarnya adalah pria bejat dan cabul. Ella berdiri dari sofa dan melihat Ibunya.


"Mah, aku mau keluar sebentar dulu. Mama bisa kan jaga Vino dan Vina sebentar?" tanya Ella berharap Ibunya mau.


"Memangnya mau kemana?" tanya Nyonya Chelsi balik


"Ada yang mau aku beli di luar, Mah. Tidak apa-apa kan?"


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Mama tidak tahu menenangkan Vino dan Vina kalau mencarimu nanti."


"Siap, Mah!" hormat Ella paham dan segera mencium kepala dua anaknya bergantian.


"Mama keluar dulu ya sayang, kalian jangan bikin Nenek repot ya." Kata Ella menasehati dua anaknya. Vino dan Vina cuma tersenyum saja. Setelah itu, Ella pun pamit untuk keluar dari rumah. Saat membuka pintu, tiba-tiba Aline sudah pulang dari sekolah.


"Loh, Kak Ella. Tumben ke sini, ada apa Kak?" tanya Aline. Maklum gadis muda ini tidak belajar karena guru mereka melakukan rapat sementara.


Ella berpikir sejenak, merasa Aline bisa menemaninya ke tempat Jastin untuk membongkar keburukan Jastin. Dengan cepat, Ella menarik Aline ke depan rumah.


"Eeeeh, kita mau ke mana Kak?"


"Ke rumah Jastin, kita tak boleh biarkan Elisa nikah sama lelaki itu dan sekarang kau temani aku ke rumah Jastin untuk mencari bukti atas kelakuannya," jawab Ella melambai ke salah satu taksi.


"Loh, memangnya Jastin kenapa?" tanya Aline tidak paham.


"Dia itu lelaki cabul dan aku tidak mau Elisa menikah dengannya!" kata Ella sontak membuat Aline terperanjak.


"Owalah, pantas dong Kak Elisa tidak suka. Ternyata dia pria cabul."


"Tapi Aline, aku belum bisa buktikan dia cabul atau tidak di depan Mama. Tapi sekarang kita buktikan dulu."


Ella masuk ke dalam taksi bersama Aline.


"Hm, kalau begitu kita harus masuk diam-diam ke rumah orang itu, kita tak boleh ditangkap olehnya." Kata Aline sudah paham. Mobil taksi pun melaju ke alamat Jastin. Untungnya ada kertas tanda pengenal Jastin yang tidak dibuang jadi Ella dan Aline tahu lokasi Jastin. Keduanya ingin ke rumah Jastin langsung.

__ADS_1


__ADS_2