
Bahagia, satu kata ini yang sekarang dirasakan Nona sulung dari keluarga Marchela. Nampak Elisa berdiri di luar ruangan menunggu pemeriksaan Hansel yang sedang diperiksa oleh Dokter. Hatinya berbunga-bunga bagaikan dewi yang mendapatkan sang dewa untuk menempati hatinya. Elisa tidak sabar menunggu Hansel keluar.
Ceklek!
Dagu Elisa terangkat disertai dua matanya melihat Dokter keluar bersama Hansel. Dengan cepat, Elisa berdiri dari kursi dan memberi senyuman manisnya pada Hansel, ia berdiri di dekatnya.
"Bagaimana keadaan kekasihku, Dok?"
Hansel merona mendengar pertanyaan Elisa. Sungguh terang-terangan dirinya disebut kekasih di depan orang lain. Ini yang sangat disukainya.
Dokter melihat catatannya dan tersenyum pada pasangan kekasih ini. Memberitahukan soal kondisi luka yang sudah mulai membaik.
"Pacarmu sudah tidak apa-apa, dia punya fisik yang kuat," Dokter menepuk sedikit dibagian luka Hansel.
Plak!
"Astaga, Dokter!"
Elisa terkejut melihat Dokter memukulkannya begitu saja. Namun anehnya, Hansel tidak merespon apa-apa dan cuma tersenyum padanya.
"Lengan kamu tidak sakit, By?" Elisa berpindah tempat dan melihat lengan yang ditepuk Dokter.
"Puft, Nona tidak usah kuatir. Lukanya sudah membaik," Hansel dengan lembut mengelus rambut Elisa.
"Tapi tadi itu pasti sakit, aku tidak mau kamu kehilangan tanganmu." Mata Elisa berkaca-kaca merasa tak tega.
Dokter dan Hansel terkejut mendengarnya, ucapan Elisa sungguh berlebihan dengan rasa paniknya. Sontak Hansel merangkul pinggangnya dan melihat kedua matanya dalam-dalam.
"Kamu tidak usah sedih, kalau tanganku hilang kan ada kamu di sisiku, Nona."
Elisa tertegun digombal lagi, seketika dada Hansel dipukul-pukul manja dengan raut wajah merona tersipu.
"Hm, mulai terbiasa gombalnya!"
Dokter tertawa kecil melihat tingkah romantis dan keakuran satu pasangan ini.
"Terima kasih, Dok. Berkat pertolongan anda, saya tidak kehilangan tangan saya,"
__ADS_1
"Ini sudah tugas saya, kalau begitu saya permisi. Masih banyak pasien yang harus saya periksa,"
"Baik Dok, terima kasih banyak!" Elisa menunduk sedikit. Dokter pun pergi meninggalkan Elisa dan Hansel. Suasana kembali hening sementara.
"...."
Keduanya menghela nafas dan saling menatap. Lagi-lagi Hansel tersenyum dan mengacak-acak sedikit rambut kekasihnya yang terurai panjang. Sontak ia kaget dipeluk tiba-tiba oleh Elisa.
"Nona, ada apa?" Alis kanan Hansel terangkat merasa heran.
Elisa makin memeluknya dan menjawab dengan lirih.
"Aku senang akhirnya kamu keluar dari rumah sakit, aku tidak tega melihatmu diinfus terus,"
"Puft, Nona terlalu mencemaskanku." Hansel tertawa.
Elisa melepaskan pelukannya, kemudian berkacak pinggang menatap Hansel dengan tajam membuatnya mundur sedikit.
"Tentu saja aku cemas, aku ini kan kekasihmu! Jadi wajar dong, dasar!" ketus Elisa cemberut menyilangkan tangan di depan dadanya. Hansel terdiam melihat keseriusan Elisa.
"Apa-apa Nona benar mencintaiku?"
"Ya dong, aku kan mencintamu. Kamu tidak percaya?"
Hansel menelan siliva dan segera tersenyum.
"Aku percaya, Nona."
Elisa menyipitkan mata merasa Hansel sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu belum percaya, aku akan teriak di rumah sakit ini kalau aku-" Mulut Elisa segera dibungkam oleh Hansel.
"Itu tidak perlu, Nona. Ini tempat umum, tidak baik berteriak di tempat ini."
Elisa tertawa kecil dan mengerti. Ia pun meraih tangan Hansel.
"Ya sudah kalau begitu kita keluar jalan-jalan. Kamu pasti bosen kan, By?" Elisa tahu dan sekarang menggandeng tangan Hansel.
__ADS_1
"Baiklah, karena ini usulan dari wanitaku, maka aku akan menurut saja."
Elisa berhenti mendengar kata 'WANITAKU' ini bagaikan satu kata yang sangat berarti dan membuat kedua telinganya memerah.
"Bagus deh, aku mencintaimu By!"
Cup!
Kini giliran Hansel yang merona dikecup pipinya sudah dicium oleh Elisa. Dengan penuh riang, keduanya pun keluar dari rumah sakit untuk refleshing serta kencan mereka. Terlihat Elisa masuk ke dalam mobilnya.
"Bagaimana jika aku yang mengemudi saja?" usul Hansel yang duduk di dekat kursi pengemudi dan melihat Elisa memasang sabuk pengaman.
"Hm, tidak perlu. Tangan kamu masih dalam pemulihan, biarkan aku saja yang kali ini mengantar pacarku pulang!"
Elisa menolak dengan gembira. Mendengar dan melihat tingkah lucunya, Hansel cuma tertawa kecil. Tawa Hansel sontak membuat Elisa mendekatinya.
"No-nona, ada apa menatapku?" Suara Hansel terbata-bata.
Elisa meraih dasi Hansel dan fokus melihat bibir lelaki yang sekarang sedikit merinding dengan posisi yang amat begitu dekat. Bagaikan Elisa sedang ingin menindihnya.
"Aku cuma penasaran, apa pacarku pernah merasakan ciuman di sini," ucap Elisa meletakkan jari telunjuknya di bibir Hansel. Hansel menuduk, ia sebenarnya ingin merasakan ciuman di bibir juga. Terdengar Hansel tak henti-hentinya menelan ludah.
"Jika ingin jujur, aku memang tidak pernah merasakannya. Tapi Nona tidak usah kuatir, ciumanku hanya untuk-"
Cup!
Mata Hansel membulat tak melanjutkan ucapannya. Sungguh tak sangka ciuman pertamanya direbut oleh wanita yang menempati hatinya. Telinga Hansel memerah begitupun wajahnya merona.
Bagaimana bisa? Tentu Elisa langsung menerobos dan kini mengulum bibirnya dengan lembut, mengajari Hansel cara berciuman dengan pasangannya. Merasa aneh, tiba-tiba ciuman itu makin panas, Hansel menikmatinya bahkan mellumat bibir bawah dan atas milik Elisa. Tanpa sadar tangan kanannya malah meremas bukit gemoy milik Elisa hingga suara indah nan lembut keluar juga.
Elisa berhasil dibuat mendes4h, membuat Hansel berhenti dan memalingkan muka sudah berani dan sudah diluar kendalinya.
"Puft," Elisa hanya tertawa. Ia tahu Hansel sedang malu sudah meremas oppainya. Tak ada suara yang keluar dari mulut Hansel. Elisa senyum-senyum sendiri dan mulai menancap gas meninggalkan rumah sakit.
"Dasar, dia merebut ciuman pertamaku duluan."
Hansel membatin dan diam-diam melirik Elisa. Sekali lagi hidungnya mimisan. Hansel mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil memikirkan Elisa wanita yang berani juga.
__ADS_1
"Huft, kalau begini aku harus cepat-cepat menikahinya."
______