
Elisa dan Hansel telah tiba juga. Keduanya turun dari mobil. Elisa berkacak pinggang lalu menyentuh dagunya.
"Kenapa kita ke sini, By?" tanya Elisa garuk-garuk kepala. Hansel reflek meraih pinggang Elisa dan merangkulnya.
"Apa kau belum sadar?" ucap Hansel bertanya balik. Sungguh suara Hansel amat dekat di telinga kanan Elisa. Hingga telinganya merona merasakan nafas kekasihnya.
"Sa-sadar apa, By?" tanya Elisa terbata-bata dan menunduk.
"Coba tebak, apa yang ada di depanmu," ucap Hansel melihat ke depan. Elisa pun ikut melihat ke depan, alis kanannya sontak terangkat.
"Ini cuma tempat kosong, By. Apa ada yang spesial dari bangunan ini?" Tunjuk Elisa pada bangunan yang tak terisi apa-apa.
Hansel melepaskan rangkulannya lalu berjalan ke depan.
"Ini akan menjadi tempat butik kekasihku, apa kau suka?"
Elisa terkejut mendengarnya. Ia pun menatap cermat bangunan itu lalu melihat sekeliling jalan yang sangat ramai akan pejalan kaki.
"Wow, ini butik untukku?" Elisa menunjuk dirinya, masih tak percaya sama sekali yang dia lihat. Dari dalam bangunan itu amat luas dan sangat cocok untuk usaha butiknya.
"Hm, ini kejutan dariku," jawab Hansel tersenyum.
Dengan hati riang, Elisa maju melompat ke arah Hansel.
"Aaaaaa ... thank you, By!" pekik Elisa berteriak gembira dan memeluk Hansel. Sungguh tak ada malunya malah teriak di tempat umum. Hingga para pejalan kaki menoleh ke arahnya.
Hansel cuma tersenyum ramah pada mereka atas kelakuan Elisa.
"Hiks, kau memang yang terbaik!" kata Elisa terharu menyapu pinggir matanya.
"Puft, aku turut senang bila kau menyukainya," ucap Hansel menepuk pelan kepala Elisa. Dengan cepat Elisa mengangguk senang. Ia pun mundur ke belakang ingin melihat lebih jelas dan kini senyumnya makin merekah melihat papan nama butiknya. Namun tidak disangka, Elisa makin mundur dan tak sadar dirinya hampir turun ke jalan.
Hansel membola melihat mobil ingin menyerempetnya. Dengan cepat, Hansel berlari langsung meraih pinggang Elisa.
"Ah, kenapa menarikku, By?" jerit Elisa kaget. Hansel menghela nafas merasa lega.
"Kau tanpa sadar jalan terus ke belakang, untung saja aku cepat menarikmu sebelum diserempet mobil!" jawab Hansel serius menatapnya.
Elisa terkejut dan melihat ke belakang diikuti oleh Hansel. Terlihat mobil yang hampir menabrak Elisa pergi begitu saja.
"Huft, syukurlah. Kau memang cekatan, aku sangat menyukaimu!" puji Elisa memberi dua jempol.
"Ya sudah, kemarilah ... ini kunci butiknya. Sekarang kita masuk untuk melihat luasnya, mulai besok kau bisa mengelolah," kata Hansel memberi kunci. Elisa mengangguk sangat paham dan menarik tangan Hansel untuk melihat butik yang akan dia kelola bersama Hansel.
Setelah melihat-lihat, akhirnya keduanya pergi. Mobil Elisa menuju ke rumah untuk mengantar Hansel. Setelah mengantarnya, kini Elisa sudah ada di dalam kamarnya. Ia tak henti-hentinya berguling sana sini di atas ranjang. Sangat senang dengan kejutan dari Hansel.
"Aku yakin, aku bisa mengambil hati Ibunya Hans!" gumam Elisa menutup wajahnya yang merona dan memikirkan dirinya telah merebut ciuman dari Hansel.
Beda di mansion lain, nampak suara pria berteriak dan mendobrak pintu kamar berkali-kali. Dia marah dan tidak terima perlakuan dari orang tuanya.
__ADS_1
"Mama, buka pintunya! Aku ini baru saja pulang, harusnya Mama memberiku makan atau kebebasan untukku!" racau Jastin yang dikurung oleh Ibunya.
"Tidak ada kata bebas untukmu lagi! Mulai sekarang, Mama dan Papa akan mengawasimu! Mama yakin kau pasti dari menggoda wanita di luar sana hingga kau lupa untuk pulang ke rumahmu sendiri!"
Sang Nyonya besar marah dan kecewa atas kepulangan putranya. Ia tahu, kelakuan Jastin dari club malam yang sering dikunjunginya.
"Tidak, Ma! Aku ini diculik hingga tak bisa pulang, sekarang Mama buka pintunya, atau aku rusak pintu ini!" protes Jastin tetap ingin keluar dan mengancam.
"TIDAK AKAN! MAMA TIDAK PERCAYA!"
Jastin sontak diam mematung dibentak oleh Ibunya.
"Huaaaa, Mama tega!" balas Jastin mengamuk di dalam kamarnya.
"Kalau begini, aku tidak usah pulang!" lanjutnya membentak lagi.
Nyonya berbalik terkejut mendengarnya.
"Apa kau bilang? Tidak usah pulang?" geram sang Nyonya.
"Ya, Mama ini terlalu mengekangku! Dikit-dikit dikurung, aku ini cuma mau bebas, kalau begini aku tidak mau jalankan perusahaan Papa!" ronta Jastin makin menjadi-jadi.
Sang Nyonya makin kesal dan segera pergi meninggalkan ocehan putranya.
"Mama tidak peduli, kau akan dikurung selama satu bulan!"
Jastin tercengang mendengar waktu kurungannya. Jastin mengepal tangan, ia kesal orang tuanya tidak percaya padanya.
"Aaaaaargh, aku benci tinggal di sini!" teriak Jastin baru ingat jika aset-asetnya disita semua. Pria berdarah bule ini duduk meremas kepalanya. Ia sudah tak bisa bebas untuk balas dendam dan bercinta dengan wanita di luar sana. Kini dirinya bagaikan anak ayam yang dikurung induknya sendiri.
_____
Esok harinya, cuaca pagi ini amat cerah. Di meja makan, semua anggota keluarga besar Raka sudah berkumpul untuk sarapan pagi. Terlihat Ella melirik-lirik Devan dan Rafa, masih penasaran apa yang mereka bicarakan kemarin.
Kreak!
Zeli dan Rafa berdiri bersamaan dan pamit ke Tuan Raka dan Nyonya Mira.
"Zeli pergi ke sekolah dulu Pi, Mi,"
"Hm, hati-hati di jalan dan tolong kamu ikut sama Rafa perginya," kata Tuan Raka sambil mengunyah.
"Loh, kok sama aku sih. Arah kampusku dan sekolah Zeli kan beda, Pi." Rafa protes tidak mau pergi bersama Zeli.
"Rafa, Zeli ini anak perempuan. Lebih baik kau antar dia, siapa tau setelah teman-temannya melihat Zeli datang bersamamu, mungkin tak akan ada yang mengganggu adikmu," sahut Nyonya Mira mengusulkan.
"Puft, yang ada teman-temanku malah kepincut sama Bang Rafa," Zeli merangkul lengan Rafa.
"Ya, kan Bang?" lanjut Zeli menebaknya.
__ADS_1
Rafa terdiam dan bergumam dalam hati.
"Hm, bagus juga. Siapa tau ada gadis yang cocok untukku di sana," batin Rafa tersenyum sumringah. Devan dan Tuan Raka yang dapat mendengar keinginan Rafa cuma geleng-geleng kepala.
"Gimana, Bang? Mau gak antar aku?" tanya Zeli melepaskan rangkulannya.
Rafa setuju dan menarik Zeli.
"Ya sudah, aku pamit pergi ke kampus Mi!" pamit Rafa keluar bersama Zeli yang sempat-sempatnya melambai ke arah Vino dan Vina.
Setelah kepergian adiknya, Devan pun berdiri.
"Aku sudah kenyang, hari ini aku mau ke kantor,"
"Sekarang juga?" tanya Ella ikut berdiri. Devan mengangguk dan meraih pinggang Ella.
"Eh, ada apa nih?" lanjut Ella terkejut.
"Itu, mungkin Hansel belum masuk kerja. Jadi mungkin kau bisa mengganti jabatannya sementara," ucap Devan melepaskannya.
"Maksudnya, aku jadi sekretarismu?" tebak Ella menunjuk dirinya. Devan mengangguk dan menarik Ella keluar.
"Aku dan Ella pergi dulu ya, Mi, Pi! Vino dan Vina aku titip sama kalian!" pekik Devan berlalu pergi.
"Ish, kenapa langsung pergi. Harusnya tadi kita pamit juga sama anak kita!" cetus Ella duduk di dekat Devan.
"Hm, ada apa dengan ekspresimu ini? Kau tidak suka jadi sekretarisku?" tanya Devan mengangkat alisnya.
"Aku suka kok, tapi aku tidak tahu tugas sekretaris itu bagaimana,"
"Pfft, itu sangat mudah. Tugasnya sama seperti dirimu, hanya melayaniku," goda Devan mencolek dagu Ella.
"Apa, melayanimu? Jadi Kak Hansel tugasnya melayanimu?"
Devan tercengang dan segera menepuk jidatnya.
"Bukan melayani di atas ranjang, sayang. Tapi-"
"Tapi apa?" tanya Ella melototi Devan.
"Yang jelas Hansel tugasnya tidak seperti dirimu. Kau jangan pikirkan hal lain, anggap saja tugasmu sekarang seperti seorang pelayan. Itu saja!" jawab Devan belepotan menjelaskannya. Sangat susah jelaskan pada Ella yang tidak punya pendidikan.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan patuh kata Bosku!" hormat Ella pada Devan.
"Pfft, ahaha kau ini istriku serta sekretarisku sekarang. Jadi ini waktunya mengajari istri polosku menjadi wanita pintar berbisnis."
Ella bermuka datar mendengar ejekan Devan.
"Dasar suami menyebalkan!"
__ADS_1
Ella menyilangkan tangan merasa kesal. Devan tertawa kecil dan mengelus rambut Ella dengan lembut lalu berangkat bekerja ke perusahaannya.