Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
17. Cari Solusi


__ADS_3

"Kau yakin ada pria lain di sana?" Sekali lagi Ella bertanya masih belum percaya.


"Yalah kak, ini pertama kalinya dia datang ke sini. Wajahnya ke bule-bulean gitu."


Aline melirik lelaki asing yang lumayan punya paras yang tampan dan cool. Apalagi tubuhnya memang bisa diberikan dua jempol. Mata birunya bahkan mengalahkan mata Hansel.


Meski begitu Devan lebih keren darinya.


"Sekarang dia lagi apa?" tanya Ella kembali jalan ke kamarnya.


"Dia lagi bicara sesuatu pada Papa Vian. Entah apa yang mereka bicarakan, Papa sekarang tertawa bersamanya dan sepertinya pria ini memang sangat akrab sama Papa, Kak!" lapor Aline mengintip dari balik lemari yang ada di belakang kedua pria yang sedang duduk di sofa.


"Terus Mama ke mana?" tanya Ella mencari Nyonya Chelsi.


"Di dapur kak, lagi bikin jamuan untuk pria ini,"


"Sekarang Elisa belum pulang?" Ella lagi-lagi bertanya.


"Belum kak, dari siang saja dia tidak ada kabar sama sekali," ucap Aline mengendap-endap naik ke atas lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Ya sudah, kalau ada Kak Elisa kamu hubungi aku lagi," kata Ella ingin ke kamar si kembar dulu sambil memikirkan keputusan apa yang akan diambil oleh Elisa.


"Baik Kak, tenang saja aku akan laporkan apa yang terjadi di sini."


Panggilan dua saudara tiri ini pun berakhir. Ella menghela nafas panjang lalu membuka kamar dua anaknya. Ia tersenyum melihat baby twinsnya tidur di petang ini, mungkin lelah habis menangis gara-gara tadi.


"Oh ya Bi, terima kasih sudah membantuku bawa mereka," ucap Ella duduk di tepi ranjang sambil melihat Bibi pelayan.


"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya pamit untuk menyediakan makan malam nanti." Bibi pelayan menundukkan kepala sedikit lalu pergi dari kamar si kembar.


Ruangan yang terlihat ceria yang dipenuhi berbagai hiasan membuat kamar itu nampak nyaman untuk kedua baby twinsnya. Ella berdiri sambil mondar-mandir dengan ponsel di tangannya yang ia mainkan sebentar.

__ADS_1


"Sepertinya dia masih bersama Sekretaris Hansel. Tapi apa mereka sudah pacaran? Kalau masih belum, ini gawat! Aku harus hubungi dia," gumam Ella cemas pada Elisa dan mulai mengotak-atik ponselnya.


Derrtt Derrtt Derrtt


Ponsel Elisa bergetar memecahkan keheningan di dalam mobil. Elisa buru-buru mengambil ponselnya di dalam tas mininya. Ia melirik sedikit Hansel yang fokus mengemudi. Tiba-tiba alis kanan Elisa terangkat sedikit melihat nama pemanggil.


"Eh, Ella? Kenapa dia hubungi aku?" pikir Elisa langsung mengangkatnya.


"Halo, La. Ada apa?" tanya Elisa sedikit berbisik.


"Kak gawat! Sepertinya tidak akan lama lagi kau akan dinikahi oleh teman Papa," jawab Ella terdengar panik.


"Tu-tunggu, bagaimana kau bisa bicara serius begini?" tanya Elisa kaget mendengarnya hingga cara bicaranya terbata-bata.


"Barusan Aline kasih tahu padaku, kalau ada pria asing di rumah Mama. Lebih baik kau siap-siap menghadapinya, tapi-"


"Tapi apa, Ella?" tanya Elisa semakin cemas dan gelisah. Ditambah lagi Ella malah berhenti bicara dan makin membuatnya penasaran.


"Kak Elisa, kau sudah jadian kan sama Hansel?" Sekali lagi Ella bertanya. Rasa penasarannya meningkat ingin tahu lebih jelas. Tidak seperti Elisa yang grogi untuk menjawabnya.


"Itu sebenarnya belum, kami belum jadian. Kamu tidak usah tanya lagi!" cetus Elisa merasa malu pada Ella yang sudah tahu perasaannya pada Hansel.


"Loh, bukannya kalian saling suka dan cinta?"


"Tidak Ella, Sekretaris Hans tidak seperti yang kamu pikirkan, dia masih seperti dulu. Aku rasa dia tidak pintar mencintai wanita jadi selalu jomblo sampai sekarang." Kata Elisa sedikit meledek pria di depannya.


"Hm, siapa yang dia hubungi?" pikir Hansel diam-diam melirik Elisa. Berpikir Elisa sekarang lagi menghubungi pria lain hingga berbisik-bisik begitu. Rasanya Hansel tidak suka melihat Elisa sekarang.


"Pfft, kalau begitu kau ajari Kak. Kau kan pernah pacaran, nah kebetulan tuh kau bisa ajari dia pacaran," bisik Ella pada panggilannya.


"Ya gimana ya, aku bingung mau memulainya gimana. Masa aku nembak dia duluan, kan itu aneh. Aku merasa kalau dia akan tertawa bila aku yang mengungkapkan perasaan duluan," jelas Elisa garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Wow, memangnya kau sudah jatuh cinta sama Sekretaris Hansel?" tanya Ella kembali membuat Elisa kikuk.


"Ya begitulah, habisnya dia agak kaku. Jadi aku sedikit menyukainya dan juga dia sedikit menyenangkan."


Ella tertawa kecil mendengar penuturan Kakaknya dan merasa dugaannya benar jika dua-duanya pasti saling cinta.


"Ya sudah aku tutup nih, kamu siap-siap hadapi calon suamimu. Kalau kau tak mau nikahi dia, lebih baik kau seret Hansel jadikan suamimu, Kak!" bisik Ella serius.


Mata Elisa sedikit melebar dan kembali melirik Hansel. Kini ia harus cari solusi bagaimana menahan Hansel nanti.


"Baiklah, terima kasih infonya, Ella. Kau memang terbaik!" kata Elisa senang.


"Em, sama-sama Kak."


Panggilan diakhiri, Ella kini sibuk memperhatikan dua baby twinsnya dan berharap Elisa mendapat rencana.


"Aku harus cari solusi, aku tak mau menikahi Om-om yang sudah beristri!" gumam Elisa mantap dengan niatnya.


"Non Elisa,"


"Ya ada apa, Hans?" sahut Elisa segera melihatnya.


"Apa yang Nona lakukan barusan?" Hansel mulai penasaran hingga berterus terang bertanya padanya.


"Oh itu, Ella. Maaf sudah mengganggumu, Hans," jawab Elisa tersenyum. Hansel agak gugup jika dipanggil selalu begitu. Padahal awal-awalnya ia kenal dengan Elisa tak pernah dipanggil sesingkat itu.


"Tidak apa-apa, Nona." Hansel paham dan kembali fokus mengemudi. Elisa sedikit cemberut melihat sikap kaku Hansel. Tapi sekarang Elisa nampak sibuk berpikir.


"Siapa lelaki yang ingin menikahiku?"


"Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau dinikahi semudah ini, aku akan menjadikan Hansel sebagai pengganti Devan. Aku yakin, Hansel bisa diandalkan."

__ADS_1


Itulah isi di dalam lubuk hati Elisa. Ia akan berusaha mengendalikan nasibnya kali ini dan tak mau dikekang oleh Ayah tirinya.


__ADS_2