Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
89. Menantu Tajir


__ADS_3

"Jujurlah Elisa, siapa itu Maikeul?"


Deg! Detak jantung Elisa berdetak keras mendengar Hansel menyebut nama aslinya sendiri.


"Ya Tuhan, apa mungkin Hansel sudah membaca semua pesan dari Nyonya Jessy?"


Elisa menelan siliva dengar kasar, kini ia harus jujur dari pada Hansel salah paham nantinya. Elisa pun menghirup nafas banyak-banyak kemudian menatap serius mata suaminya yang masih menindihnya.


"Sya, siapa Maikeul?" tanya Hansel lagi.


"Ok, lepaskan aku dulu,"


Tapi Elisa tetap dikunci oleh Hansel yang masih menindihnya juga. Hansel mendesis sedikit kesal pada Elisa yang masih saja belum mengatakan sejujurnya.


"Sebe-sebenarnya Maikeul itu adalah-"


"Selingkuhanmu?" tebak Hansel memutuskan ucapan Elisa.


"Bukan By, dia bukan selingkuhanku, dia adalah-"


"Suamimu? Yang lain?" tebak Hansel makin parah. Ia sudah mulai salah paham.


"Ya dia suamiku tapi bukan yang lain, dia adalah kamu, By. Dan juga, cuma kamu suamiku yang bernama Maikeul."


Deg! Hansel melepaskan tangannya hingga Elisa dengan cepat beranjak duduk sambil mengatur nafasnya yang sedikit sesak. Sedangkan Hansel menyentuh dadanya yang tadi berdetak cukup keras. Tiba-tiba ia merasa sakit.

__ADS_1


"Kamu kenapa, By?" tanya Elisa cemas. Hansel menoleh, meraih tangan Elisa lalu serius berkata : "Jujurlah, katakan semua yang kamu sembunyikan, Elisa. Semua yang bersangkutan dengan Nyonya Jessy." Hansel tak bisa berhenti menatap Elisa. Entah tiba-tiba Hansel terlihat sedih.


Elisa pun dengan cepat memeluk Hansel, mengelus punggung suaminya dengan lembut.


"Maafkan aku, By. Maaf sudah merahasiakan ini darimu, sebenarnya... kamu bukan anak kandung Bu Naina tetapi anak kandung Nyonya Jessy. Kamu adalah putra kecilnya yang hilang 25 tahun yang lalu,"


"Cuma ... aku saja yang tahu rahasia ini, aku takut katakan pada orang lain terutama dirimu, aku takut ada orang yang datang untuk membunuhmu. Jika rahasia ini bocor bahwa kamu adalah Maikeul, kamu akan dalam bahaya. Aku takut kehilanganmu, dan maafkan aku, By."


Elisa menangis, ia tahu perasaan Hansel pasti campur aduk.


"Kamu percaya dengan ucapan Nyonya Jessy?" tanya Hansel melihat Elisa sambil mengusap air mata Elisa.


"Ya aku percaya, karena dia sudah melakukan tes DNA dan Nyonya Jessy pernah beritahu aku, kalau Maikeul punya tanda lahir di bahu dan kamu punya tanda itu. Walau kamu memang anak angkat di keluarga Charlous, tapi kamu penerus konglomerat di inggris, By. Aku sangat terkejut setelah Nyonya Jessy mengatakan identitas aslinya. Aku tak sangka kamu lelaki yang punya latar belakang yang hebat." Elisa menangis, ingat hubungan cintanya sudah dua kali kandas. Dan kali ini cukuplah Hansel yang terakhir memberinya kebahagiaan.


Hansel memeluk Elisa yang menangis, Hansel tahu istrinya sangat tertekan selama ini ketika ia terbaring lemah di rumah sakit dan ini cukup beban yang berat untuk Elisa, rahasia ini pastinya membuat Elisa selalu was-was tiap sekon, detik, menit, jam dan hari-harinya.


Hansel menunduk, dia sangat bingung. Percakapan Elisa dan Ny. Jessy di ponsel tadi nampak Ny. Jessy sangat cemas padanya dan perhatian padanya.


"Jika itu benar, siapa yang harus aku pilih?" ucap Hansel bingung memilih antara Bu Naina dan Ny. Jessy. Kedua wanita ini sangatlah penting baginya, karena Bu Naina sudah merawat dan membesarkannya sampai sekarang, sedangkan Ny. Jessy adalah Ibu kandungnya yang melahirkannya ke dunia ini. Dua keputusan ini membuat hati Hansel menderita untuk memilih.


"By, semua keputusan ada padamu. Siapa pun kamu pilih, aku akan selalu dukung dan selalu di sampingmu." Elisa tersenyum sambil menggenggam tangan Hansel.


"Aku... bingung.... aku... sangat... bingung," lirih Hansel segera beranjak tidur. Ia tidur menghadap ke samping. Memeluk dirinya sendiri, kebenaran ini membuatnya sangat bingung. Perasaannya sangat berkecamuk. Dia masih shock, apalagi Renita ternyata adalah adiknya. Rekan kerjanya yang selama ini bersama-sama bekerja di perusahaan Welfin adalah adik kandungnya sendiri. Itu artinya adik yang selama ini dia jaga sejak kecil di rumah Bu Naina bukanlah adik kandungnya. Hansel sangat sedih tak punya hubungan darah dengan Naomi, adik yang dia sayangi.


"Naomi... pasti sangat sedih tahu kalau aku cuma kakak angkatnya selama ini."

__ADS_1


Elisa ikut tidur lalu memeluk Hansel dari belakang. Terdengar Hansel sedikit terisak. Lelaki penyayang ini tak sanggup menerima kenyataannya. Ini lebih menyakitkan dari pada luka tembak yang Hansel rasakan. Malam ini, Elisa cuma bisa menenangkan Hansel.


_____


Pukul 12.24 siang. Elisa di rumahnya sedang duduk sendirian sambil memikirkan Hansel yang sekarang sudah mulai mengurus perusahaan Tn. Vian.


Elisa nampak gelisah, ia takut sendirian di rumahnya. Ia sangat was-was. Ia tak bisa tenang. Elisa pun pergi ke rumah Bu Naina, karena di rumah Ny. Chelsi tak ada orang sebab Ny. Chelsi dan Tn. Vian sedang bepergian tiga hari di luar kota hanya berdua saja. Sedangkan Aline, pasti masih berada di sekolahnya. Sementara Ella sedang liburan bersama Devan dan baby twins ke Hawai. Jadi, cuma Bu Naina tempat yang bisa dikunjungi oleh Elisa.


Namun tak sangka di dalam perjalan, Elisa melihat Bu Naina sedang cekcok dengan dua ibu-ibu. Elisa memarkirkan mobilnya lalu turun menghampiri Bu Naina yang masih lanjut cekcok saling tunjuk antara ibu-ibu. Tapi Elisa berhenti setelah mendengar ocehan Bu Naina.


"Hei, putraku ini lelaki hebat. Dia sangat pintar memilih istri yang tepat hingga putraku bisa sehebat itu menjadi CEO! Kalian jangan sekali-kali menghina putraku dan menantuku!" ujar Bu Naina marah ingin menjambak ibu-ibu di depannya. Ucapan Bu Naina sedikit membuat Elisa heran karena Bu Naina tiba-tiba seakan memujinya.


"Yaelah, putramu itu beruntung karena menikahi wanita yang lebih kaya dari suamimu. Sudah deh Bu, untuk saja kamu dapat menantu tajir jadi hidup keluarga Carlous tidak terlalu melarat. Ahahaha....."


Tawa mereka semakin membuat Bu Naina kesal, karena setiap bertemu pasti yang dibahas adalah menantu dan anak-anaknya.


"Cih, kalian ini benar-benar!" ujar Bu Naina ingin menampar namun tiba-tiba seseorang menahannya.


Pak!


"Jangan kotori tanganmu dengan ulat bulu seperti ini, Bu," kata Elisa menahan tangan Bu Naina agar tak berbuat kasar. Para Ibu ibu malah tertawa lepas lalu pergi.


"Ck, mengapa kamu ada di sini?" decak Bu Naina sinis.


"Em itu, kebetulan mau ke rumah Ibu. Jadi-"

__ADS_1


"Oh baguslah, kalau begitu antar sekalian Ibu pulang!" titah Bu Naina melewati Elisa dengan angkuh dan masuk ke dalam mobil Elisa. Elisa yang diabaikan makin greget.


"Astaga, dia ini sebenarnya kenapa?" desis Elisa dalam hati, ia kini duduk bersama mertuanya dan mulai nyalakan mesin. Diam-diam Bu Naina melirik Elisa, tatapannya terlihat sayu. Elisa pun membawa Bu Naina kembali ke rumah.


__ADS_2