
Menunggu itu sangat menyakitkan untuk Elisa yang masih duduk di samping Hansel. Bahkan hari ini Elisa tidak bekerja serta pulang ke rumah mertuanya.
"Sampai kapan kamu akan sadar?"
"Aku sudah ada di sini sejak kemarin, Hans."
Butiran air matanya segera dihapus kasar. Elisa menyandarkan kepalanya di dekat tangan Hans. Menatap tangan suaminya yang selalu digenggam. Elisa memejamkan mata, kepalanya sedikit berdenyut akibat kurang tidur semalam.
Perlahan, tiba-tiba saja tangan Hansel bergerak. Elisa reflek bangun melihat dengan jelas. Senyumnya merekah sangat indah melihat kedua mata Hansel perlahan bergerak.
"Ha-hans,"
Elisa ingin menangis, tapi ia tak mau perlihatkan sedihnya pada Hansel.
"Hans, akhirnya kamu sadar juga," lirih Elisa meletakkan telapak tangan Hansel ke pipinya yang ditampar oleh Bu Naina kemarin.
Hansel menoleh ke Elisa, samar-samar melihat istrinya. Tersenyum kecil dan kemudian menghapus air mata Elisa yang jatuh tanpa disadari.
"Aku... aku merindukanmu, Hans."
Mulut Elisa bergetar mengucapkannya, ia amat senang merasakan tangan Hansel yang lembut di pipinya.
"Aku... juga," lirih Hansel menatapnya senang.
"Kamu harus tahu, semua orang cemas padamu. Mereka sangat takut setelah kamu ditembak, aku juga-" ucap Elisa perlahan terisak.
"Aku juga takut kamu akan meninggalkan aku, Hans," lanjut Elisa akhirnya menangis. Tidak kuasa menahan air matanya yang tertahan dari tadi.
"Aku-"
"Aku... minta maaf, istriku." Hansel berkata dengan lemah. Elisa sedikit terperanjak mendengarnya, ia kemudian menggelengkan kepala.
"Bukan salahmu, ini salahku. Karena melindungi aku, kamu tertembak," isak Elisa mencium punggung tangan suaminya.
"Ja-jangan... menangis, ini-ini bukan salahmu."
Elisa tetap menggelengkan kepalanya, ia tetap merasa kejadian kemarin adalah salahnya.
"Hiks, aku senang. Kamu baik-baik saja, jangan coba-coba untuk meninggalkan aku,"
__ADS_1
"Aku janji setelah kamu sembuh total, aku akan jadi istri yang berbakti dan jadi menantu yang baik di keluarga Carlous."
Sekali lagi butiran mata Elisa jatuh membasahi kedua pipinya. Hansel tersenyum mendengarnya, namun sedikit sedih melihat mata istrinya yang sembab. Ini pertama kalinya, ada seseorang yang menangisi dirinya. Hansel melirik ke atas meja, membuat Elisa ikut menoleh melihat ada piring yang dipenuhi makanan.
"Sejak kapan ada piring di sini?" pikir Elisa merasa aneh.
"Kamu mau makan, Hans?" lanjut Elisa menebak arah mata Hansel. Hansel mengangguk sedikit kemudian berkata membuat Elisa terkejut dan tersipu.
"Kamu pasti belum makan, makanlah sesuatu sayang."
Elisa berdiri mengambilnya, menatap makanan itu kemudian geleng-geleng kepala.
"Aku sudah makan tadi, jadi karena kamu baru sadar mungkin yang harus makan adalah kamu,"
"Sekarang aku akan suapi khusus untuk suamiku tercinta."
Elisa amat senang hingga ucapannya terasa geli di telinga Hansel. Di dalam ruangan ini serasa hanya berdua saja, terasa dunia milik berdua.
"Terima... kasih, kamu sangat baik menungguku, maaf sudah merepotkanmu," lirih Hansel sembari menguyah.
"Emh tidak, aku malah senang tau!" cetus Elisa kembali menyuapi Hansel kemudian menunduk setelah meletakkan piring itu di atas meja. Hansel mengernyit heran melihatnya menangis.
"Apa-apa aku sedang bermimpi?" lirih Elisa takut jika ini hanyalah halusinasinya saja melihat Hansel sadar. Ia takut, ia sangat menderita bila itu benar.
"Tidak sayang, kamu-"
"Arrh," Hansel tiba-tiba merintih kesakitan luar biasa. Sontak Elisa berdiri segera melihat kondisi Hansel.
"Kamu-kamu kenapa, Hans?" tanya Elisa panik dan ketakutan. Hansel makin kesakitan dan langsung bangun duduk kemudian memeluk Elisa dengan erat.
"Maafkan aku, istriku,"
"Maaf? Maksudnya apa?" tanya Elisa makin ketakutan.
"Hans, kamu jangan menakutiku dong, kamu kenapa?" Sekali lagi bertanya melihat Hansel makin kesakitan dan jatuh ke kasur lagi.
"Hans, kamu kenapa!" pekik Elisa menangis. Hansel tidak menjawab bahkan berhenti kesakitan, tapi dirinya pingsan kembali.
"Hans, hans! Kamu jangan gini dong!" lanjut Elisa mengguncang tubuh Hansel. Kepanikannya memuncak setelah melihat tangan kanannya ada banyak darah.
__ADS_1
"Darah?" gumam Elisa melihat segera ke arah bagian lengan kanan Hansel.
"Aaaaaaa!" teriak Elisa kaget. Ternyata Hansel mengalami pendarahan. Sontak Elisa menekan bel tapi ini belum cukup, ia segera menuju ke pintu dan berteriak keras diantara ketakutan dan kepanikan laur biasa.
"DOKTER! DOKTER!" Elisa menangis sejadi-jadinya. Tak ada siapa-siapa yang dia lihat sekarang. Rumah sakit sangat sepi dan sunyi, ini menakutkan! Elisa kembali ke Hansel dan terkejut melihat Hansel tiba-tiba mengalami kejang-kejang.

"Tolong! Hans, kamu harus bertahan, tolong siapa pun itu tolong ke sini!" pekik Elisa jatuh ke lantai. Tubuhnya lemas tak kuasa dengan semua ini. Elisa menutup wajahnya, menangis kembali.
"Hans, jangan tinggalkan aku!"
"ELISA! BANGUN, Nak!"
Suara Ny. Chelsi membangunkan Elisa yang mengigau. Elisa pun sadar dari tidurnya, ia menoleh ke sumber suara. Elisa berdiri memeluk Ibunya.
"Mama? Hiks, Mama tolongin Hansel. Tolong panggilkan Dokter, Mah!" racau Elisa panik menggoyangkan tangan Ny. Chelsi.
"Dokter? Untuk apa, Nak?" tanya Ny. Chelsi heran.
"Hansel, Mah! Hansel pendarahan, dia harus ditangani secepat mungkin, ini gara-gara aku, Mah!" jawab Elisa makin meracau sembari menangis tak henti-hentinya.
Ny. Chelsi terkejut, kemudian melihat menantunya yang terbaring belum sadar. Tak ada yang terjadi pada Hansel sama sekali. Ny. Chelsi memeluk putrinya dan sudah tahu Elisa baru saja bermimpi buruk.
"Sya, tenang sayang. Hansel baik-baik saja, tidak pendarahan. Lihatlah, suamimu masih terbaring baik di sana." Ny. Chelsi menenangkan Elisa yang gemeteran.
"Tidak Mah, Hans kejang-kejang! Dia-" Elisa berhenti meracau setelah melihat Hansel yang baik-baik saja. Ini menakuti Elisa, ia perlahan mundur.
"Tidak-tidak mungkin, tadi itu Hansel pendarahan,"
"Apa jangan-jangan tadi itu cuma halusinasiku?" Elisa menatap Ibunya dengan tatapan sedih. Ny. Chelsi memeluk putrinya dengan rasa kasihan.
"Tenanglah, Sya. Itu cuma mimpi, Nak."
Elisa sontak menangis, dugaannya benar. Ini yang dia takutkan bila terlalu larut dalam kesedihannya. Takut depresi ringan terjadi padanya hingga akan bermimpi buruk dan berhalusinasi. Sungguh Ny. Chelsi merasa tak berdaya melihat putri sulungnya yang menyedihkan.
Elisa berkata lirih dalam pelukan Ibunya sembari menangis melihat Hansel, suami yang dia rindukan. Merindukan suara dan hiburan dari Hansel.
"Aku merindukannya, Mah."
__ADS_1