Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
92. Meronta-ronta


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Hansel dan Elisa masih malu-malu untuk saling terbuka. Hari ini Tn. Vian dan Ny. Chelsi sangat terkejut menantunya adalah seorang generasi mafia di inggris. Namun identitas Hansel masih dirahasiakan kepada publik. Ny. Jessy tidak mau memicu musuh Tn. Roland ke negara ini.


Sekarang, Ny. Chelsi dan Ny. Jessy sangat senang bisa menjalin hubungan besan. Kini Tn. Vian memberi waktu bulan madu untuk Elisa dan Hansel. Pasangan ini tentu senang diberi waktu hanya berdua. Sedangkan Ny. Jessy harus kembali lagi ke inggris agar dapat mengurus Renita yang makin melunjak di inggris.


Di rumah Hansel.


Ny. Jessy duduk berdua dengan Elisa. Wanita ini akan pamit kepada anak dan menantunya.


"Elisa, Mama hari ini harus kembali ke inggris. Mama harap, setelah kalian bulan madu, kalian berdua segera kembali ke inggris," ucap Ny. Jessy sambil meminum tehnya.


"Apa kami benar-benar akan tinggal di inggris, Mah?" tanya Elisa agak sedih harus meninggalkan negaranya.


Ny. Jessy menepuk bahu Elisa kemudian tersenyum.


"Tentu saja, kamu menantu keluarga Gerrald. Kalian akan tinggal di sana, apalagi Maikeul pewaris yang akan menggantikan ayahnya dan kamu berhak ikut tinggal dengan kami."


Elisa cuma tersenyum mendengarnya, ia belum berani setuju. Setelah beres-beres, Ny. Jessy mengelus kepala Elisa lalu meraih tangan Hansel yang kini sudah berdiri di depan pintu.


"Maikeul, Mama harap kamu bisa jaga dirimu dan menantu Mama. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kalian segera laporkan pada Mama," ucap Ny. Jessy kuatir meninggalkan anaknya.


"Mama tidak usah cemas, kami pasti akan menjaga satu sama lain."

__ADS_1


Sontak Ny. Jessy memeluk putranya, setelah itu masuk ke dalam mobil bersama dua bodyguordnya. Mobil itu pun melaju ke bandara. Sekarang rumah itu sepi lagi, cuma Hansel dan Elisa yang duduk bersama di sofa.


"By," Elisa mulai ingin bicara.


"Kenapa, Sya?" tanya Hansel berdiri.


"Begini, sebelum kita pergi bulan madu nanti. Bagaimana kalau kita jenguk Bu Naina dan Naomi di rumah sakit?" usul Elisa memikirkan Bu Naina. Hansel tersenyum sedikit kemudian mengelus kepala Elisa.


"Baiklah, sekarang kita bersiap-siap. Setelah itu kita ke rumah sakit." Hansel menarik tangan Elisa, menuntunnya naik ke lantai atas. Elisa cuma selalu menunduk merona bila tangannya digenggam oleh Hansel. Namun tiba-tiba, Hansel berhenti membuat Elisa ikut berhenti dan mengernyit heran.


"Ada apa, By? Kenapa berhenti?" tanya Elisa. Tanpa babibu, dengan cepat Hansel memberinya kecupan di pipi Elisa. Sangat lama, membuat mata wanita itu sedikit melebar.


Pak!


"Dasar!" rutuk Elisa masuk duluan ke kamar.


"Pfft, baru juga dicium dia sudah malu-malu begitu. Bagaimana kalau aku ajak gelud? Apa dia lebih malu?" gumam Hansel mulai berpikir liar. Namun saat mau masuk ke kamar, matanya melebar melihat tangan Elisa perlahan menurunkan resleting bagian belakang bajunya hingga punggung halus Elisa terpampang di depan matanya. Hansel sontak mimisan. Merasakan darah mengalir, Hansel masuk segera ke kamar mandi.


Cklek!


"Eh, By. Kamu kenapa masuk secepat itu?" tanya Elisa heran di depan pintu. Hansel yang bersandar di pintu sedang mengatur nafasnya. Ia membayangkan tubuh Elisa yang bug*l di depan matanya.

__ADS_1


"Astaga, kenapa aku bisa lemah kalau dia begitu?" pikir Hansel mengusap hidungnya pakai tissue. Namun sontak juniornya tiba-tiba menegang, perlahan tegak setelah mendengar Elisa tiba-tiba mendesah kesakitan.


"Ahhh... By. Tolong aku... ahhh ahhh!"


rintih Elisa kesakitan di balik pintu. Suaranya benar-benar mencuci otak Hansel membuat otaknya makin liar. Hansel gemeteran, ia menelan ludah dan segera membuka pintu kamar mandi. Ternyata, rambut Elisa tersangkut resletingnya.


"Ya ampun, aku pikir dia sengaja memancingku. Ternyata dia sedang kesusahan," pikir Hansel segera mendekati Elisa.


Elisa terperanjat merasakan tangan Hansel sedang menurunkan resletingnya. Meski begitu, Hansel mencoba untuk tetap tidak mimisan. Namun junior di bawah makin meronta-ronta melihat punggung Elisa yang halus. Tak sengaja, rambut Elisa tersangkut lagi hingga wanita ini tanpa sengaja mendesah.


"Ahhh... ahhh sakit By... pelan... pelan... nariknya."


Deg! Jantung Hansel berpacu bagaikan kuda liar. Dia sudah tidak tahan hingga mengangkat Elisa ke ranjang. Menjatuhkan Elisa kemudian menindihnya.


"Sya... apa kamu sengaja mendesah?"


"Ahh... sakit, aku tidak sengaja kok. Itu tadi beneran sakit." Elisa menggigit bibir bawahnya. Tapi melihat mata jahil Elisa, Hansel segera mencumbu bibirnya. Tak peduli lagi, kerena juniornya sudah tidak tahan meronta-ronta.


....


Like dan Vote ya

__ADS_1


__ADS_2