
"Sudahlah, aku mau masak! Jangan pikir begituan!" ketus Elisa buru-buru masuk ke ruang dapur. Dia sedikit malu dengan pikiran kotornya. Hansel cuma tersenyum kecil kemudian melirik sinis ke arah luar penginapan. Ia ingin memeriksa sesuatu dan meninggalkan Elisa di ruang dapur sendirian.
Ketika menyusuri sisi vila kecil itu, Hansel tiba-tiba berhenti setelah mendengar pintu utama diketuk.
"Hm, siapa yang ketuk?" pikir Hansel segera jalan ke pintu itu. Ia dengan waspada perlahan membuka pintu yang masih terkunci.
Cklek!
"Pagi Om Acel!" seru Marsya tersenyum lebar.
"Ma-marsya? Kamu ini benaran Marsya?" Hansel kaget melihat keponakan Devan datang ke villanya.
"Hihi, iya Om. Ini Marsya yang datang," tawa Marsya di depan pintu.
"Datang sendirian ke sini?" tanya Hansel lagi.
"Iya, Om."
"Ke sini jalan kaki?"
"Ya, Om."
"Marsya dari mana tahu tempat Om di sini?" tanya Hansel merasa bingung.
"Karena Marsya anak yang pintar," jawab Marsya melompat kecil membuat Hansel jadi tertawa mendengarnya.
"Celana Da-lam milik Daddy yang hilang saja bisa Marsya temukan, apalagi rumah Om Acel."
"Ahaha, kamu ada-ada saja ya," tawa Hansel mengacak-acak rambutnya.
"Hehehe, sebenarnya Bunda Syasa yang kasih tahu kemarin," cengir Marsya berkata jujur.
"Oh ya, Bunda Syasa ada, Om?" lanjutnya bertanya.
"Ada dong, tuh di dapur," jawab Hansel menunjuk dapur.
__ADS_1
"Wah kalau begitu Marsya mau ke dalam ya, Om!" Tunjuk Marsya begitu semangat. Hansel pun mengangguk saja.
"Yess, sekalian Marsya mau bantu Bunda!" seru Marsya lari masuk ke dalam dapur. Membuat Elisa terkejut dengan kedatangannya.
"Anak ini, masih belum berubah." Hansel menutup pintu lalu duduk di sofa, bersandar santai sambil berpikir.
"Memang cuma firasatku saja, mana mungkin musuh Mommy bisa datang kemari. Apalagi tempat bulan maduku, aku ubah dan rahasiakan ke Mommy, jika memang musuh Mommy mencariku, mereka harusnya tak pergi ke sini."
Namun saat ingin menyalakan TV, Hansel dikejutkan dengan tindakan Marsya yang keluar sambil menarik Elisa.
"Ayo Bunda, kita ke Bunda Ella," ucap Marsya menarik tangan Elisa.
"Ada apa ini? Kenapa Marsya menarikmu?" tanya Hansel berdiri.
"Oh itu, hari ini ulang tahun Ibunya," jawab Elisa kini didekati Hansel.
"Ya Om, Marsya ke sini mau ajak Bunda bikin kue sama Bunda Ella. Mommy Marsya nanti malam ulang tahun, hehehe," Marsya cengengesan di antara keduanya.
"Berarti Om Marsya ulang tahun juga ya?" tanya Elisa tahu itu.
"Ya Bunda, tapi hari ini Om lagi sedih," jawab Marsya.
"Karena Bunda Ella tidak bicara sama Om, jadi Om Devan pergi keluar. Bunda Ella mau bikin kejutan buat Om, hihihi."
"Ya ampun, Ella bisa-bisanya begitu. Sini kita ke Bunda cepat, pasti sekarang lagi sibuk bikin kue," kali ini Elisa yang menarik Marsya.
"Tunggu, biarkan aku ikut juga," tahan Hansel.
"Eh, tapi kamu lagi sakit. Istirahat di rumah saja, kalau acaranya sudah mau dimulai nanti aku kabarin,"
"Tapi aku sudah sembuh!" kata Hansel serius. Tapi Elisa tidak percaya.
"Jangan keras kepala, kamu tetap tinggal di sini, By. Aku tidak mau kamu pingsan di sana, maaf ya tidak bisa menemanimu dulu," ucap Elisa tersenyum manis lalu keluar dan menutup pintu, ia jalan kaki bersama Marsya menuju ke tempat Ella.
Melihat istrinya pergi, Hansel tak bisa tinggal diam. Ia tidak tenang bila Elisa jalan berdua dengan Marsya. Terpaksa, Hansel diam-diam mengikutinya dari belakang. Sesekali bersembunyi ketika Elisa menoleh ke belakang.
__ADS_1
Hansel yang bersembunyi di balik tiang, ia baru merasa lega sudah melihat Elisa dan Marysa masuk ke villa Devan. Namun ia terkejut setelah menerima bisikan dari belakangnya.
"Oii!"
"Devan?" ucap Hansel kini menatapnya.
"Ngapain sembunyi di sini? Lagi ngintip istri orang ya?" selidik Devan meliriknya curiga.
"Ya ampun, nggak lah!"
"Terus ngapain di sini?" tanya Devan penuh selidik.
"Barusan antar Elisa dan Marsya,"
"Ngapain istrimu ke sini?" tanya Devan lagi. Hansel terdiam, ia berpikir sejenak. "Sepertinya Devan pasti mau masuk, aku harus halangi dia."
"Oii, kenapa malah diam?"
Sontak Hansel menarik lengan Devan.
"Loh, ada apa ini?"
"Temani aku jalan-jalan," ucap Hansel serius membuat Devan terperanjak.
"Idih, buat apa kita harus berdua jalan-jalan? Aku ini masih normal, tidak perlu diajak jalan-jalan sama pria-"
"Ish, banyak bacot! Ikut aku sekarang juga, ada yang ingin aku bicarakan padamu soal kemarin yang tertunda itu," tarik Hansel merasa Devan banyak mengoceh. Karena begitu serius, Devan pun mengikutinya.
"Tunggu, kenapa aku merasa dia yang lebih berkuasa?" pikir Devan merasa dirinya begitu mudah menuruti kemauan Hansel, pria yang menjadi kakak iparnya sekarang ini.
"Bentar, dari sekretaris jadi kakak iparku? Pernyataan macam apakah ini?" gumam Devan tiba-tiba bermuka masam dituntun oleh mantan bawahannya dulu. Devan belum tahu, jika mantan sekretarisnya ini adalah calon Bos Mafia.
Tap! Suara langkah kaki begitu keras terdengar ditelinga Hansel begitupun Devan. Keduanya menoleh ke belakang namun tidak ada yang mencurigakan dari kerumunan orang-orang.
"Barusan seperti ada yang mengikuti kita, apa cuma firasatku saja?" gumam Devan masih melihat sekeliling. Hansel di sana ikut melihat, kali ini bukan lagi firasatnya karena suara itu bagaikan nyata, apalagi Devan juga mendengarnya.
__ADS_1
Memang benar, seseorang diam-diam mengawasi mereka. Satu sosok misterius yang memakai jubah hitam dan sedang menyeringai di dalam tempat persembunyiannya, yang tak jauh dari tempat Devan dan Hansel berdiri. Sosok itu tersenyum licik sambil memegang satu buah pistol di tangan kanannya.
"Hehehe, akhirnya aku menemukan kalian."