
Malam pun tiba, Elisa segera merapikan semua dokumen di atas mejanya. Di hari pertamanya bekerja hanya membahas hal-hal biasa, untung saja Tn. Vian masih sempat datang untuk memberi penjelasan tentang pengalihan perusahaan kepada para staf dan hari ini mereka sangat puas dengan kinerja Elisa.
Elisa pun meregangkan kedua tangannya, lalu meraih tasnya kemudian dengan gembira keluar dari kantor menuju ke mobilnya. Mengabaikan pandangan orang lain padanya.
"Huft... lebih baik aku pergi beli donat. Naomi pasti sudah lama menemani Hans di rumah sakit. Aku harus cepat menggantikannya, dia juga butuh waktu istirahat."
Elisa masuk ke dalam mobil pergi ke toko terdekat membeli donat dulu. Setelah membeli donat, Elisa pun menuju ke rumah sakit.
Cklek!
Pintu ruang rawat Hansel terbuka, Naomi yang sedang mengerjakan tugas rumah langsung menoleh. Ternyata itu Elisa yang sudah pulang dengan bingkisan di tangannya.
"Naomi, ini aku bawa donat untukmu, aku harap kamu suka makan donat," Elisa tersenyum memberikan bingkisan pada Naomi.
"Wah kak ipar baik sekali. Sangat tepat, aku suka banget makan donat. Bahkan di sekolah aku juaranya makan donat," girang Naomi mengambilnya kemudian ia letakkan di atas taplak meja. Naomi makin tergiur setelah membukanya.
"Pfft, pantas saja kamu lebih berisi dariku." Elisa tertawa kecil, ia pun duduk di dekat Naomi yang kini makan satu donut.
"Hehehe, dari kecil aku suka makan donut. Bahkan kak Hansel tau hobiku ini, tapi dia kadang melarangku. Dia bilang gini, 'Ingat Naomi, kamu ini masih muda. Harus jaga pola makan dan jaga bentuk body-mu. Karena kalau kamu terlalu gendutan nanti tidak ada cowok yang akan suka padamu!' hihihi...."
Elisa tertawa geli mendengar Naomi memperagakan ucapannya sendiri. Kemudian ia melihat Hansel yang masih belum sadar.
"Oh dan ada lagi kak Ipar!" Naomi ingat sesuatu sembari mengunyah donat.
"Apa itu?" tanya Elisa penasaran.
"Hehehe ini adalah rahasia kak Hans. Cuma aku saja yang tahu, dan aku mau kasih tahu ke kak ipar sekarang. Tapi kak Elisa mau tahu atau tidak?" tanya Naomi melirik Hansel.
"Mau, apa rahasianya?" balas Elisa bertanya, ia makin penasaran.
"Itu... kak Hans sebenarnya suka yang...." Elisa sontak diam setelah dibisikkan oleh Naomi. Kedua pipinya merona. Naomi tertawa kecil melihat kakak iparnya tersipu sudah tahu rahasia Hans.
"Aku jadi iri sama Kak ipar," ucap Naomi menggoda Elisa sembari melirik oppai Elisa yang gemoy.
"Ih Noami, kamu ini masih bocah! Jangan terlalu berpikir ke situ! Lebih baik kerjakan tugasmu lagi!" Elisa menepuk pelan kepala Naomi menggunakan buku belajarnya.
__ADS_1
Tuk!
"Aduh, hehehe maaf dan terima kasih donatnya, kak ipar." Naomi tersenyum manis, ia pun lanjut makan donut dan mengerjakan tugas sekolahnya yang akan dikumpulkan besok. Sedangkan Elisa hanya geleng-geleng kepala lalu berdiri, ia kini duduk di dekat Hansel. Meraih tangan suaminya kemudian berbicara sendiri.
"Hans, kamu harus tau hari ini semua orang di kantor membicarakan dirimu. Kamu lebih populer tau dari pada aku. Padahal aku yang jadi CEO tapi mereka mencarimu. Aku jadi kesel tau, ini gara-gara potret kamu yang tidak pakai kacamata di hari nikah kita jadi mereka mengagumi ketampanan mu,"
"Aku cemburu tau, pokoknya hari ini kesel banget! Aku tidak mau mereka bicara yang tidak-tidak tentangmu! Jadi sekarang kamu bangun dong, aku kesepian tau," lirih Elisa curhat sembari meletakkan tangan Hansel ke pipinya. Tapi Hansel tak merespon sedikitpun. Elisa menunduk, diam-diam mengusap pinggir matanya.
Naomi yang melihatnya ikut sedih. Ingin rasanya Naomi hibur Elisa, tapi dia tidak tahu cara menghibur orang lain.
"Kak ipar, sebenarnya aku masih punya rahasia. Yaitu, identitas Kak Hans. Tapi aku takut, kamu akan membenci Kak Hans yang cuma anak angkat."
Naomi membatin sedih, ia pun berdiri mencoba untuk katakan rahasianya yang lain. Namun saat ingin menepuk bahu Elisa, ponsel Naomi berdering. Spontan Elisa menoleh ke Naomi.
"Naomi, siapa yang menghubungimu?" tanya Elisa. Naomi pun dengan capat mengambil ponselnya di atas meja kemudian ia kembali ke arah Elisa.
"Ini kak ipar, sepertinya dari Ibu. Ibu mengirim pesan menyuruhku pulang cepat," jawab Naomi memperlihatkan pesan Bu Naina.
"Baiklah, kalau begitu kamu pulanglah istirahat," ucap Elisa tersenyum.
"Tapi-" Naomi tidak tega meninggalkan Elisa seorang diri.
"Hm, baiklah... maaf aku tidak bisa menemanimu malam ini kak ipar," ucap Naomi mulai membereskan tasnya.
"Tidak apa-apa, hati-hati di jalan." Kata Elisa pada adik iparnya. Naomi pun mengangguk kemudian pamit. Ia terpaksa meninggalkan Elisa yang jaga sendirian. Naomi tahu, Ibunya tidak ingin Naomi dekat-dekat dengan Elisa. Dan Elisa juga tahu akan ini. Elisa cuma bisa bersabar.
"Hans, aku sebenarnya ingin kasih tahu pada Naomi. Kalau kamu ini bukan kakak kandungnya, tapi aku takut identitas asli kamu bocor. Aku takut Hans, aku takut ada orang yang datang membunuhmu kalau aku tidak ada di sisimu. Aku takut kamu meninggalkan aku,"
Elisa menunduk sembari menggenggam tangannya sendiri kemudian ia buru-buru mengusap kasar air matanya.
"Tapi aku senang, karena Naomi anak yang baik. Dia memang pantas jadi adik angkat mu dan sekarang aku tahu kenapa kamu sering pingsan dan mimisan. Lain kali aku akan jaga jarak denganmu. Tapi kapan kamu bangun, aku rindu tahu sama kamu."
Malam ini Elisa cuma bisa curhat seorang diri di ruangan Hansel. Suaranya amat kecil, ia cuma ditemani oleh suaminya dan air matanya.
"Aku sangat merindukanmu, Hans."
__ADS_1
______
Hari-hari pun telah berlalu. Elisa sudah dua minggu lebih bekerja dengan baik di perusahaan. Meski Bu Naina sering mempersulitnya, Elisa tetap bersabar. Dan kini, Elisa berhasil melakukan kerja sama dengan perusahaan elit di luar kota.
Elisa segera ke rumah sakit, seperti biasa ia menemani Hansel. Elisa selalu bicara sendiri, mengajak Hansel bicara padanya. Sedangkan Naomi cuma bisa duduk menemani Elisa di kursi lain. Takut, Elisa depresi dan melakukan hal-hal lain bila tidak ditemani oleh seseorang. Tidak seperti Bu Naina yang sering mencaci Elisa sebagai orang gila dan orang kesurupan karena bicara dengan angin.
Hari ini adalah hari pernikahan Elisa dan Hansel yang ke 25 hari. Hansel sudah mau satu bulan belum sadar juga. Tapi Elisa masih setia menjaga suaminya. Karena ini adalah amanah dari Ny. Jessy. Terkadang Ny. Jessy sering menelpon cuma ingin tahu kabar pernikahannya dan Hansel. Ny. Jessy setiap menelpon selalu menyemangati Elisa, sangat beda dengan Bu Naina yang masih mencacinya sebagai pembawa sial.
"Hans, malam ini aku lelah sekali. Banyak yang harus aku tanda tangani dan sekarang perusahaan Papa mulai semakin berkembang. Banyak yang menawarkan kerja sama. Tapi sayangnya aku takut buat kesalahan jadi prosesnya sangat lambat,"
"Maaf Hans, aku capek sekarang jadi tidak bisa mengajakmu bicara lama. Sekarang aku mau tidur, kamu tetaplah di sini bersamaku."
Elisa melihat Naomi seperti biasa datang menemaninya. Ia tersenyum melihat Naomi sibuk dengan tugasnya. Elisa pun menyandarkan kepalanya, ia mencium punggung tangan Hansel lalu perlahan tertidur.
"Yos, sudah selesai. Sekarang dua hari kemudian aku akhirnya bebas jaga Kak Hans tanpa tugas menumpuk dari sekolah. Baiklah, Naomi! Malam ini kamu harus temani kakak iparmu bica-"
"Eh, sudah tidur?" gumam Naomi mendekati Elisa.
"Hm... sepertinya Kak ipar malam ini terlalu capek. Kalau begini lebih baik aku tinggal di rumah sakit."
Naomi mengambil selimut di rak lemari kemudian menutupi punggung Elisa. Saat mau memberi pesan kepada Ibunya, tiba-tiba tangan Hansel yang digenggam Elisa bergerak. Naomi menoleh ke arah Hansel. Kedua mata Naomi melebar melihat mata Hansel perlahan terbuka. Dengan senang, Naomi membangunkan Elisa.
"Kak Elisa bangunlah! Kak Hans sudah siuman!"
Sontak Elisa yang sedang berada di bawah alam mimpinya reflek bangun menatap Naomi kemudian Hansel.
Deg!
Jantung Elisa berdegub cukup keras dan kemudian Elisa tersenyum melihat Hansel yang kini menatap sepenuh dirinya. Seketika air mata Elisa yang tertahan mulai perlahan turun ke pipinya.
"Aku-aku tidak lagi bermimpi kan?" isak Elisa melihat bergantian Naomi dan Hansel. Takut ini cuma halusinasinya. Tapi melihat Naomi menggelengkan kepala, akhirnya Elisa kembali melihat Hansel dengan matanya yang berkaca-kaca. Dengan perlahan, Hansel mengangkat tangannya kemudian menghapus air mata Elisa.
"Aku... merindukanmu, Sya."
Mendengar suara lemah Hansel, Elisa langsung memeluknya. Air matanya tumpah malam ini dengan sangat deras di bahu Hansel. Naomi merasa lega melihat keduanya berpelukan. Ia turut senang dan terharu. Hasil kesabaran Elisa tidak mengecewakannya.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, Hans."
"Sangat merindukanmu..."