
Merasa ada yang mencurigakan, Hansel pelan-pelan melepaskan pelukan Elisa kemudian beranjak dari tempat tidur lalu berjalan dengan berani ke arah pintu.
Cklek!
Tetapi setelah pintu dibuka, benar-benar tak ada siapa pun di depan kamar. Hansel pun menyentuh dagunya.
"Apa cuma firasatku saja?"
"Tapi jelas-jelas ada suara langkah kaki yang aku dengar barusan. Apa mungkin-"
Hansel yang mulai was-was pun ingin mengecek isi penginapannya. Namun niatnya terhenti setelah mendengar suara dari belakangnya.
"Elisa?" Hansel segera mendekati istrinya yang terbangun.
"Hm, kamu kenapa berdiri di pintu, By?" tanya Elisa sambil mengucek-ucek matanya. Ia terbangun akibat merasa tak ada Hansel di sampingnya.
"I-tu," Hansel berpikir sejenak.
"Kamu mau ke toilet ya?" tanya Elisa menebak asalan.
"Benar, tadi aku mau ke sana, tapi karena kamu bangun jadi ditunda dulu," jawab Hansel terpaksa berbohong.
"Oh, kalau begitu aku temani kamu, gimana?" Elisa tersenyum sambil berdiri di depan Hansel.
"Eh, mau ikut masuk toilet juga bersamaku?" tanya Hansel lebih mendekati Elisa.
"Eh, bukan begitu. Aku-aku temani sampai di depan toilet saja, bukan mau ikut masuk." Elisa menunduk. Ucapan Hansel itu berhasil membuatnya salah tingkah.
"Lagian juga kamu sedang sakit, aku kuatir sama kamu. Siapa tahu nanti kamu jatuh," lanjut Elisa memainkan dua jari telunjuknya.
__ADS_1
Melihatnya malu-malu, Hansel cuma menahan tawa kemudian menepuk pelan kepala istrinya.
"Istriku terlalu cemas padaku, ini membuatku semakin ingin cepat sembuh," ucap Hansel memujinya lagi.
"Ya-ya sudah, sini aku temani kamu ke toilet."
Elisa seperti tak sabar membawa suaminya. Sangat jelas pada genggamannya yang sedikit kuat dirasakan oleh Hansel sekarang. Tidak seperti Hansel yang masih melihat sekelilingnya dan memikirkan langkah kaki mencurigakan itu.
"Lebih baik tidak usah beritahu Elisa, ini bisa membuatnya cemas dan ketakutan. Mungkin saja yang barusan cuma firasatku saja."
Hansel bergumam dalam hati, ia membuang jauh-jauh kecurigaannya itu.
"Yakin, tidak mau ikut masuk?" tanya Hansel kini berdiri di dekat pintu sambil menatap Elisa.
"Ya tidaklah," tolak Elisa mengalihkan tatapannya. Walau begitu, pipinya yang merona tak bisa dia sembunyikan.
"Ish, kamu masuk saja, By!" ujar Elisa mendorongnya masuk.
"Kalau aku jatuh, gimana?" ucap Hansel masih menggodanya.
"Tidak akan jatuh, kecuali kamu sengaja jatuh biar aku bisa masuk ke dalam. Betul kan?" tebak Elisa tahu kode-kodean Hansel.
"Pfft," Hansel tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Elisa. "Sebenarnya aku mau kamu ikut masuk bukan hal bodoh itu, tapi aku kuatir ada seseorang di villa ini yang sedang bersembunyi." Hansel bergumam dalam hati belum tega masuk ke dalam toilet.
"Ayo masuk, tidak usah bengong di sini. Nanti kamu kencing di dalam celana!" Elisa mendorong Hansel masuk lagi.
"Ahaha, baiklah. Nona Elisa, tolong berdiri di sini sampai aku keluar ya,"
"Iya-iya, Presdir Hansel, suamiku," gemas Elisa mencubit pipi Hansel membuat Hansel jadi tersipu. Ia pun masuk ke dalam dan membiarkan Elisa menunggu di luar.
__ADS_1
Cklek!
"Eh, kok cepat sekali?" kaget Elisa melihat Hansel sudah keluar.
"Ya karena cuma kencing, bukan BAB, Sya," ucap Hansel geleng-geleng kepala. Padahal ia sama sekali tak kencing di dalam toilet.
"Barusan belum ada 1 menit deh, tapi kamu sudah keluar, aneh," gumam Elisa menyentuh dagunya. Hansel pun memijit pelipisnya, ia pun menarik Elisa agar melupakan yang ada di dalam pikirannya.
"Sekarang kamu pergi tidur lagi, aku mau masak buat makan siang nanti," ucap Elisa menunjuk dapur. Tapi Hansel menggelengkan kepala.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala?" lanjut Elisa bertanya.
"Aku tak mau tidur,"
"Terus, mau apa? Mau aku bikin kan teh dulu?" tanya Elisa sambil melepaskan genggamannya untuk menuju ke ruang dapur. Tapi Hansel dengan cepat merangkul perutnya dari belakang membuat Elisa terkejut. Ia pun kemudian berbisik ke telinga istrinya.
"Aku maunya kamu, Sya." Elisa merona mendengar bisikan kecil itu.
"Dia-dia sudah berani merayuku, apa dia tidak akan mimisan lagi?" pikir Elisa jadi deg-degan.
"Itu, maksudnya?" lanjut Elisa berbalik melihatnya. Mengira, Hansel meminta itu lagi.
"Ya maksudnya, mau di dekat kamu terus. Mau di samping istriku, kalau aku di kamar dan tidur, aku merasa kesepian, Sya."
Mendengar jawabannya, Elisa menghembus nafas lega.
"Ohh, aku pikir-"
"Pikir apa, Sya?" tanya Hansel pura-pura polos di depannya.
__ADS_1