
Chup!
Dengan cepat, Hansel mencium Elisa hingga berhasil membuatnya terkejut atas tindakannya ini.
"Umhhhh," desah Elisa mendorong sedikit dada Hansel.
"Kamu sangat manis hari ini, istriku," ucap Hansel merayunya. Ia senang bisa mencium Elisa tanpa ragu-ragu lagi.
"Ish, dasar! Ambil kesempatan dalam kesempitan!" cetus Elisa berdiri, ia malu dipuji barusan. Sedangkan Hansel tertawa kecil melihatnya marah.
"Hmp! Sekarang tidurlah!" celetuk Elisa ingin keluar. Tapi demi menahan Elisa, Hansel berpura-pura lagi.
"Huachi!"
Sontak Elisa berbalik mendengar Hansel yang bersin dan terkejut melihat suaminya memeluk diri sendiri.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Elisa menyentuh kening Hansel. "Astaga, kenapa tambah panas?" pikir Elisa menatapnya.
"A-aku kedinginan, sayang." Elisa terperanjat melihat Hansel yang memohon di depannya.
"Ya Tuhan, sejak kapan suamiku yang pria dewasa ini bertingkah imut begini?" pikir Elisa seakan tak tahan.
"Sekarang tidurlah, selimutnya pasti tidak akan membuatmu kedinginan." Elisa menyelimuti Hansel kemudian tersenyum lalu berbalik ingin keluar. Tapi lagi-lagi ditahan oleh Hansel.
"Tunggu dulu,"
"Hm, apa lagi?"
"Itu, jendelanya lebih baik ditutup. Aku merasa semakin dingin."
Melihat Hansel yang menggigil, akhirnya Elisa pun ke arah jendela.
Srek!
__ADS_1
Srek!
"Hm, sekarang bagaimana?" tanya Elisa kini melihat kamar itu sedikit gelap. Hansel tak menjawab, ia malah berpura-pura makin menggigil dan ditambah bersin.
"Saa... aku-"
Huachii!
"Ah, Hans!" pekik Elisa mendekatinya.
"Kita ke rumah sakit saja, bagaimana?" usul Elisa kuatir. Hansel menggelengkan kepala. Ini membuat Elisa malah lebih cemas. Ia tanpa babibu lagi segera naik ke ranjang lalu masuk ke selimut dan cepat memeluk Hansel.
"Sa, kamu kenapa memelukku?" tanya Hansel pura-pura tidak tahu. Kali ini Elisa yang diam, ia tak berani melihat Hansel.
"Tenanglah, aku akan baik-baik saja," sekali lagi tak ada suara. Tapi lama-lama terdengar isak tangis. Hansel terkejut dan cepat mengangkat dagu istrinya. Benar, Elisa diam-diam menangis.
"Eh, apa tadi aku berlebihan?" pikir Hansel merasa bersalah.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" lanjut Hansel bertanya.
"Aku apa?" tanya Hansel mengelus kepala Elisa.
"Aku takut," lirih Elisa.
"Hm, takut apa?"
"Hiks, takut kamu sakit parah lah! Aku tidak mau kehilangan kamu," jawab Elisa terus terang. Hansel terhenyak, kemudian tertawa kecil.
"Pfft, tenanglah. Aku tidak akan sakit parah kok," tawa Hansel menenangkannya sambil mengusap mata Istrinya. Elisa tak mau mendengar, ia geleng-geleng kepala dan memeluknya erat.
"Aku makin takut kalau kamu bilang begitu,"
"Ya sudah, temani aku istirahat kalau kamu takut,"
__ADS_1
"Hm, baiklah." Elisa mengangguk lalu memejamkan mata. Tidak seperti Hansel yang menang banyak.
"Hehehe, dimanja gini ternyata asik juga." Hansel bergumam dalam hati kemudian ia balas memeluk Elisa dan senyum-senyum sendiri.
"Oh ya, kenapa bisa ketiduran tadi?" tanya Hansel ingin tahu.
"Em itu, biar kalau kita sampai ke inggris, aku tidak akan mempermalukan kamu di sana. Aku tidak mau dicap jadi menantu tidak tahu apa-apa dari keluargamu. Terutama ada Renita, dia pasti akan mengejekku nanti," jelas Elisa murung harus berhadapan dengan adik iparnya itu.
"Pfft, tidak usah sedih. Setelah kita sampai di sana, aku akan selalu di sampingmu dan tak akan biarkan itu terjadi," hibur Hansel bicara serius. Elisa mendongak, ia pun tersenyum.
"Hm terima kasih, sayang." Ini terasa sangat menenangkan dirinya.
"Sama-sama, istriku."
Chup! Hansel mengecup keningnya, kali ini ia yang akan memanjakan Elisa. Tetapi, ia tak menyangka jika Elisa tidur lagi di sampingnya.
"Pfft, dia lebih takut dari perkiraanku," gumam Hansel. Seketika itupun ponselnya bergetar.
"Eh siapa? Apa itu Mom lagi?" lanjutnya segera mengangkat panggilan. Muka imutnya sekarang berubah drastis menjadi serius dan dingin. Kembali seperti Hansel yang dulu.
"Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Hansel merasa terganggu.
"Maaf Presdir, saya baru saja sampai di Inggris. Apa lebih baik saya langsung menyamar ke sana?" ucap anak buah itu sedikit takut.
"Lakukan yang aku perintahkan untukmu. Awasi kelakuan keluargaku terutama adikku, Renita. Jika ada hal mencurigakan segera beritahu padaku dan jangan buat dirimu dalam bahaya. Jika itu terjadi, aku tak bisa menjamin hidupmu di sana," kata Hansel serius bicara.
"Baik Presdir. Saya tidak akan mengecewakan anda."
Tuut!
Panggilan berakhir, Hansel menghela nafas lega sudah tahu anak buahnya telah sampai untuk menjadi mata-matanya.
"Aku harus pastikan sebelum terbang ke sana." Akibatnya, Hansel tak bisa istirahat. Ia lebih menyukai memandang istrinya sekarang. Akan tetapi, di depan kamarnya tiba-tiba ada suara langkah seseorang. Hansel pun terkejut mendengar langkah kaki itu makin keras.
__ADS_1
"Siapa yang masuk?" pikir Hansel langsung was-was.