Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
63. Jessica Karmelia


__ADS_3

Suasana hati Ella sangat baik hari ini, tiba-tiba saja ponsel yang ada di atas meja riasnya bergetar. Pelayan yang membantu merapikan kamarnya disuruh untuk keluar.


"Terima kasih bantuannya, Bi," ucap Ella sangat sopan.


"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya pamit keluar, permisi."


Pelayan wanita menundukkan kepala sedikit dan kemudian keluar meninggalkan Ella yang berjalan ke meja riasnya.


Derrrttt Derrttt


Ella segera duduk dan menyalakan ponselnya. Ternyata panggilan dari Elisa.


Ella : Halo Kak, ada apa?


Elisa : Ella, bisakah hari ini kau ke butikku? Ajak baby kau juga ya, aku merindukan keponakanku.


Ella : Ah baik Kak, aku akan ke sana setengah jam lagi.


Elisa : Ok, aku tunggu kalian.


Panggilan pun berakhir, Ella memasukkan ponselnya ke dalam tas mininya dan kemudian ia keluar dari kamar menuju ke baby twins berada.


"Dari suara Kak Elisa, sepertinya dia lagi gelisah. Apa yang sudah terjadi? Harusnya Kak Elisa senang tidak akan lama lagi dia akan menikah dan seharusnya dia lebih baik tetap di rumah saja. Aku harus ke sana secepatnya."


Ella membatin dalam hati.


"Selamat siang, Bibi," ucap Ella pada kepala pelayan yang sedang menemani si kembar.


"Siang Nyonya," balas Bibi pelayan berdiri dari duduknya.


"Oh ya, Bi. Mami di mana? Kenapa siang ini aku tidak melihat seorang pun selain kita?" tanya Ella duduk mamasangkan topi kepada dua anaknya.


"Itu Nyonya besar keluar menemani Tuan besar bermain golf siang ini," jawab Bibi pelayan. Ella pun berdiri lalu menatapnya.


"Kalau begitu, aku mau keluar sebentar ajak anak-anak ke butik kakakku. Kalau Mami mencari kita, Bibi bilang saja kami keluar jalan-jalan," ucap Ella menggandeng tangan Vino dan Vina.


"Baiklah Nyonya, hati-hati di jalan." Bibi pelayan tersenyum melihat dua anak kecil ini sangat gembira diajak keluar.


"Terima kasih, Bi!" Ella pun pamit lalu menuntun dua bocah kecilnya keluar dari mansion. Saat mau diantar oleh penjaga, tiba-tiba mobil suaminya datang. Ella pun tidak jadi menaiki mobil penjaga dan langsung menahan Devan yang mau masuk.


"Loh kalian mau ke mana?" tanya Devan berhenti sebentar dan kemudian mengelus kepala dua anaknya.


"Kak Elisa menyuruhku bertemu dengannya di butik. Kamu bisa kan antar aku?" jawab Ella sembari memohon.

__ADS_1


"Ahaha, kalau begitu tunggu aku di mobil. Ada yang ingin aku ambil di ruang kerjaku, sayang." Devan membelai rambut Ella lalu berlari masuk ke dalam mansion. Ella yang melihatnya buru-buru, hanya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba saja, Vino berbicara padanya.


"Mama, agal-agal Nono habyis," pinta Vino yang dari tadi mencomot agar-agar panjang alias kiko jelly.


"Puft, nanti kita singgah beli ya sayang."


Ella tertawa kecil dan segera masuk ke dalam mobil sembari menunggu Devan keluar. Dua bocah kembar duduk di belakang melihat Ibu mereka lesu nampak gelisah memikirkan soal Renita.


Ya memang kemarin Ella beri tahu pada Devan jika Ibu yang berulah di butik Elisa pasti suruhan Renita, tapi Devan malah berkata seperti ini padanya. Nampak Devan tidak percaya perbuatan Ibu itu adalah Renita.


"Tidak mungkin Renita berbuat seperti itu, dia salah satu karyawan yang aku percaya di perusahaan. Cara kerjanya juga sangat baik seperti Hansel. Mana mungkin dia akan mengganggu, kita tak bisa asal menuduh orang, sayang."


Seketika pintu mobil terbuka, Devan masuk dan meletakkan berkas yang dia ambil sendiri. Berkas penting untuk meetingnya kali ini. Bahkan Hansel saja tidak bisa diizinkan untuk mengambilnya sendiri.


"Sekarang mau ke butik Elisa?" tanya Devan memasangkan sabuk pengaman dan melihat dua anaknya yang tersenyum sudah menunggunya dari tadi.


"Hm, sekarang antar aku dan juga nanti singgah beli cemilan buat anak-anak," jawab Ella tersenyum.


"Ya Papa, agal agal buwanyak!" sahut Vina tertawa kekeh. Devan tertawa kecil dan kemudian menancap gas menuju ke sebuah supermarket. Setelah membeli cemilan, Devan membawa mereka ke butik Elisa.


Selang beberapa menit, akhirnya Ella sampai juga. Ia pun turun bersama dua anaknya berdiri di dekat mobil melihat Devan yang duduk di kursi pengemudi.


"Aku ke perusahaan dulu, kalau mau pulang kabarin aku. Nanti aku suruh seseorang jemput kalian," ucap Devan kuatir pada istri dan anak-anaknya, apalagi Ella sedang mengandung anak ke tiganya.


Devan cuma geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya dan kemudian melaju ke kantornya segera mungkin untuk hadiri meeting penting. Setelah kepergian Devan, Ella menuntun Vino dan Vina masuk ke dalam butik.


"Permisi Kak," ucap Ella sembari mengucapkan salam.


"Eh, kalian sudah datang. Mari masuk, La!" panggil Elisa menyuruhnya masuk.


Ella pun masuk bersama si kembar. Nampak Vino dan Vina terpelongo melihat begitu banyak orang dan barang-barang. Sontak, keduanya semakin erat menggenggam tangan Ibunya. Takut pada orang-orang di dalam butik.


"Uh astaga, lihatlah siapa yang datang kemari?" Elisa tersenyum lalu berdiri dari kursinya dan mendekati Ella. Ia berjongkok kemudian mencubit pipi dua keponakan imutnya.


"Kalian ini sudah besar ya," lanjutnya sembari mengacak-acak rambut baby twins.


"Hihi Buna, ini agal agal. Buna mawu agal?"


Elisa terkejut sontak berdiri melihat Ella. Ia tak sangka keponakannya sudah pintar bicara dengan lancar.


"Wow, mereka baru saja setahun lebih sudah pintar bicara. Apa ini sungguhan?" tanya Elisa pada Ella yang menahan tawa.


"Ya begitulah, aku selalu mengajari Vino dan Vina belajar bicara. Meski umurnya baru satu tahun satu bulan, mereka bisa secepat ini menangkapnya, aku rasa-"

__ADS_1


"Anak-anakmu sangat beda denganmu dulu, kau umur empat tahun baru bicara, sepertinya kepintaran anakmu turun dari Ayahnya, yaitu Devan." Elisa memutuskan ucapan Ella membuatnya tertawa bodoh.


"Hehehe, aku rasa begitu." Ella cengengesan, tahu dirinya dulu sangat susah bicara dan bahkan belepotan. Keempatnya pun duduk bersama.


Setelah butik sepi, akhirnya Elisa mulai bicara soal Bu Naina.


"Aku sangat iri padamu, La," ucap Elisa meletakkan tiga gelas berisi jus dan susu putih di atas meja.


"Eh, maksudnya?" tanya Ella terkejut atas ucapan Elisa.


"Ya aku iri padamu yang punya mertua baik seperti Nyonya Mira dan Tuan Raka. Tidak sepertiku," keluh Elisa duduk dan menunduk.


"Loh kenapa denganmu Kak?" tanya Ella memberikan sedotan pada dua gelas susu putih untuk dua anaknya.


"Ella, aku rasa Bu Naina tidak suka padaku, dia bahkan menulis surat perjanjian untukku sebelum aku resmi jadi menantunya," jawab Elisa membuang nafas berat.


"Eh, setau aku ... Bu Naina orang yang baik. Bahkan dia baik sekali padaku, kenapa dia bisa seperti itu padamu?" tanya Ella mulai tertarik.


"Aku rasa dia membenciku dan sekarang Bu Naina sangat membenciku," jawab Elisa ingat pertemuannya dengan Bu Naina di restoran.


"Loh, kenapa bisa sampai segitunya?" tanya Ella heran.


"Itu karena aku tidak setuju perjanjian itu dan aku langsung merobeknya. Sekarang, aku harus bagaimana. Aaargh, wanita ini punya keinginan kuat agar aku tidak menikah dengan Hansel. Padahal aku sangat berharap bisa jadi istrinya. Hansel sangat tulus padaku, dan aku tidak mau harapanku pupus lagi," Elisa mengacak-acak sedikit rambutnya dan kemudian menyapu air mata yang dari tadi ingin tumpah.


"Kak tolong, ceritakan apa isi perjanjian itu," mohon Ella ingin tahu. Ia merasa Bu Naina pasti memberinya kesulitan yang amat besar. Elisa pun membocorkan semua isi perjanjian itu membuat Ella terkejut menutup mulutnya.


"Ya Tuhan, Bu Naina kenapa bisa sekejam ini. Ini seperti sedang mengancammu kak," ucap Ella mulai kasihan.


"Ya aku tahu itu, La! Dan sekarang aku pusing, aku ingin kasih tahu Hansel, tapi aku takut dia akan membenci Ibunya sendiri. Aku tidak mau merusak hubungan antara anak dan Ibu. Sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana, Bu Naina tidak mau hadir di pernikahan kita bila aku tidak setuju dalam perjanjian itu. Aku takut tidak bisa melahirkan anak laki-laki untuk Hansel," jelas Elisa panjang lebar semua kegundahan hatinya. Ini membuatnya depresi.


"Kak jangan kuatir, kakak harus percaya diri. Kami di sini selalu mendukungmu, kami akan membantumu Kak,"


"Tidak Ella, aku tidak mau merepotkanmu." Elisa menolak langsung. Tidak mau menjadikan ini beban untuk keluarga besar adiknya.


Kini keduanya menunduk lesu membuat dua anak bocah kecil yang dari tadi menyimak saling tatap. Kedua sedang bisik-bisik sendiri. Seketika pintu butik terbuka, sontak dua wanita ini berdiri dan menoleh ke arah pintu. Seorang wanita berumur sekitar 40-an masuk ke dalam mendekati mereka.


"Wah, ternyata butik ini sangat luas dan makin sukses berdiri di sini," ucapnya tersenyum pada Elisa dan Ella.


"Te-terima kasih, Bu. Ngomong-ngomong, anda siapa ya?" tanya Elisa melihat cermat penampilan Ibu itu. Terlihat anggun dengan paras yang masih terlihat cantik menawan.


Ibu itu tersenyum kembali dan kemudian mengulurkan tangan memberitahukan namanya, seketika itulah Elisa dan Ella terdiam saling bertatapan.


"Aku ... Jessica Karmelia."

__ADS_1


__ADS_2