Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
105. Tidak Berguna


__ADS_3

Orang itu pun pergi dari hutan dan melaju meninggalkan kawasan itu. Hansel mengernyit, ia sempat melirik pergerakan mulut orang itu. Begitupun juga Devan ikut mengangkat alisnya.


"Ish, jika saja dia tak punya pistol, sudah aku lompat menghajar orang itu! Awas saja, aku tidak akan tinggal diam!" decak Devan marah-marah.


"Jangan gegabah, kita tidak tahu rencana apa yang akan dia mainkan. Lebih baik kita cari jalan lain dan mencari tumpangan. Istrimu pasti mencemaskanmu, Devan." Hansel keluar dan pergi mencari jalan lain.


"Astaga, Ella?" pikir Devan sepenuhnya sadar.


"Eits, tunggu. Bagaimana dengan mobilku?" lanjut Devan berjalan di samping Hansel.


"Telepon orang saja untuk mengurusnya," jawab Hansel datar sambil melihat GPS dari ponselnya meski jaringan begitu buruk.


"Ck, sikapnya lama-lama kok nyebelin sbih!" batin Devan menggerutu.


"Oh ya, kenapa orang itu bisa melakukan ini? Seingatku, aku sudah tidak punya musuh. Apa jangan-jangan ini karena-"


"Aku," sela Hansel memutus ucapan Devan.


"Apa, kamu? Kok bisa begitu?" tanya Devan sangat terkejut. Hansel berhenti lalu melihat Devan. Ia menghela nafas kemudian menceritakan semua tentang dirinya yang tidak diketahui oleh Devan. Seketika hening, Devan diam membatu setelah Hansel selesai bicara.


"Puft, ahahahahaha...."


"Ada apa denganmu?" kaget Hansel melihat respon Devan yang tertawa lepas.


"Aduh perutku sakit mendengar ceritamu. Jangan gini dong, jangan kasih kejutan begini. Aku tahu kok, hari ini sangat spesial bagiku jadi kamu mau kasih kejutan pada adik iparmu yang gantengmu ini, tapi jangan buat kebohongan dong," tawa Devan tidak percaya. Hansel sedikit bermuka suram. Tak sangka Devan menganggap itu hanya setingan.


"Devan, cukup ketawanya! Aku lagi serius, aku ini lahirnya di Inggris, anak Bos mafia di sana. Jadi itulah ada yang mau membunuhku. Sepertinya informasiku sudah bocor ke tangan musuh. Jadi sekarang kita pulang, berhenti menertawaiku! Hmp!!" kesal Hansel pergi meninggalkan Devan.


"Astaga, kalau gini aku bisa kalah saingan bisnis dong!" batin Devan segera menyusul Hansel.


"Benar-benar sulit dipercaya, kurang asem!!" celetuk Devan dalam hati, ia agak kesal karena masih merasa dibohongi.

__ADS_1


"Tapi sedikit mengerikan juga, semua mimpiku tentang dia memang nyata. Aku masih ingat, suatu saat pasti aku akan bertemu dengan orang itu, tapi tak sangka orang itu adalah sekretarisku dulu!" batin Devan manyun di belakang Hansel.


"Sebenarnya siapa orang tadi?" pikir Hansel tak bisa tenang. Tiba-tiba ponsel Devan berdering, itu berasal dari Ella. Devan mengernyit mendapat pesan lokasi Ella.


"Ada apa, Devan?" tanya Hansel melihat Devan yang panik.


"Sepertinya terjadi sesuatu sama Ella, aku harus cepat ke sana Hans!" jawab Devan lari secepat mungkin untuk menuju ke lokasi istrinya. Devan takut penjahat itu ada pada Ella. Tapi dugaan Devan salah, karena Hansel tahu apa yang sedang terjadi, ia mendapat pesan dari Elisa jika pestanya sudah siap. Hansel pun melihat ke langit, lalu menyusul Devan. Setibanya di lokasi, Devan celingak-celinguk di pinggir pantai seorang diri.


"Ella! Kamu di mana sayang!!" teriak Devan sambil terengah-engah.


"Honey! Di sini, aku di sini!!" balas Ella berteriak dan melambai. Sontak Devan menengok ke kanan, ia terkejut Ella hanya seorang diri saja.


"Aahhhhh istriku!!" pekik Devan lari cepat ke arahnya kemudian langsung memeluknya erat dan mencium keningnya berkali-kali.


Pluk!! Chup Chup Chup!!


"Kamu baik-baik saja kan, honey?" tanya Ella mendongak. Kedua mata Devan sudah dari tadi berkaca-kaca.


"Huwaaaaaa, akhirnya istriku nggak ngambek lagi, Tuhan! Hiks,"


"Kamu sudah sembuh?" tanya Elisa melihatnya. Hansel tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke atas puncak kepala Elisa kemudian berkata:


"Melihatmu saja sudah menyembuhkanku, Sya,"


"Ko-kok bilang gitu sih," desis Elisa jadi tersipu malu.


"Karena-" ucap Hansel kini melihat Elisa.


"Karena kamu, belahan hatiku," lanjut Hansel menunjuk dadanya sendiri.


"Ish, jangan gombal deh!!" celetuk Elisa memukul manja dada suaminya.

__ADS_1


"Duh, mereka romantis banget honey," gemas Ella melihat Elisa dan Hansel tertawa bersama.


"Ella, itu nggak penting!!"


"Terus yang penting apa?" tanya Ella melihat Devan.


"Anak-anak kemana?" selidik Devan serius meliriknya.


"Ya ampun! Sini cepat, keburu dihabisi sama anak-anak," ucap Ella segera menarik tangan Devan menuju ke suatu tempat.


"Mau ke mana?" tanya Devan mulai penasaran.


"Rahasia, hihihi..."


"Ish, istriku sudah pintar ya main rahasia-rahasiaan. Kalau aku dapat yang aneh-aneh bakal aku hukum 10 ronde nanti malam!"


"Ish honey! Jangan ngomong gitu napa!!" cetus Ella cemberut.


"Ahahahaha." Devan tertawa lagi. Ini yang dia suka, suka melihat reaksi istrinya kalau lagi cemberut. Rasa panik itu hilang setelah melihat anak-anak mereka sedang berkumpul menunggunya. Tapi Devan makin terkejut dengan kejutan untuknya malam ini.


"I-ini semua untukku, sayang?"


"Hm, selamat ulang tahun ke 26 suamiku tercinta, semoga tambah panjang umur, tambah ganteng, tambah pinter mencintaiku, tambah sayang sama keluarga, jadi ayah yang terbaik untuk anak-anak, jadi suami yang sangat bertanggung jawab, terus....-" ucap Ella berhenti akibat sorakan dari seseorang dari ponsel.


"Semoga jadi manusia lebih berguna di bumi ini," sambung Dean yang video call dengan Marsya. Devan terperanjak mendengarnya. Sudah bebas dari maut, malah harus mendengar ucapan ngeselin saudara kembarnya.


"Eh, kamu pikir selama ini aku tidak berguna ya? Gara-gara aku, kamu bisa menikahi suamimu itu, jangan suka menilai orang begitu dong!!" cetus Devan marah-marah.


"Pufft, bodo amat."


"Hmp, menyebalkan!" desis Devan membuang muka.

__ADS_1


"Honey," lirih Ella geleng-geleng kepala.


"Oh ya, terima kasih ya sayang. Aku senang banget dapat kejutan ini, istriku memang pinter dekorasi tempat ini. Sepuluh jempol untuk istri kecilku yang chubby ini." Devan mencubit gemas dua pipi Ella.


__ADS_2