Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
33. Diajak Bercinta


__ADS_3

"Aku harus ambil ini, foto mereka bisa aku jadikan bukti pada Papa kalau Jastin sebenarnya lelaki cab*l!" pikir Ella memasukkan beberapa foto bugil wanita yang nampak bersama Jastin.


"Sepertinya Jastin adalah seorang cassanova. Dia sesuka hati memainkan wanita di luar sana, entah berapa wanita yang dia tiduri!" geram Ella tak terima bila Jastin sampai-sampai menikah dengan Elisa.


Saat ia ingin ke meja lain untuk mencari rekaman soal Elisa dan Devan, pintu kamar terbuka membuat Ella terkejut.


"Loh, Aline? Kau kenapa?" tanya Ella melihat Aline masuk buru-buru ingin ke kamar mandi.


"Aduh mau pipis kak, jangan tinggalkan aku ya. Tunggu aku sebentar!" pekik Aline masuk ke dalam kamar mandi.


"Hais, dia ini benar-benar tidak bisa diandalkan," desis Ella geleng-geleng kepala. Ia kembali melanjutkan aksinya. Beberapa saat, tiba-tiba terdengar Aline menjerit dari dalam kamar. Ternyata gadis ini terjatuh dan pingsan di dalam kamar mandi. Terlihat Aline bersandar di pinggir tembok.


"Aline kamu kenapa?" tanya Ella cemas dan berkali-kali memanggil Aline. Namun, tak ada suara Aline membuat Ella makin cemas. Ella mencoba membuka pintu kamar mandi, tapi pintu di kunci dari dalam.


"Aku harus hubungi seseorang datang ke sini!" pikir Ella mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Devan. Tapi Devan sedang rapat dan ponselnya di dalam 'mode jangan ganggu' hingga Ella makin ketakutan sendirian. Kini Ella harus keluar dari apartemen Jastin untuk meminta bantuan.


Setelah membuka pintu kamar, mata Ella melebar melihat Jastin tiba-tiba masuk ke dalam apartemnnya. Dengan cepat, Ella menutup dan mengunci pintu, ia kini mundur perlahan sambil melihat ke arah kamar mandi.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa lelaki ini bisa pulang dengan cepat?" pikir Ella dengan jantungnya yang tak beraturan. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Apalagi soal kemarin hampir dirinya dilecehkan oleh Jastin.


Jastin mengernyit heran melihat tas wanita ada di sofanya. Ia datang untuk mengambil proposal yang dia tinggalkan tadi. Kini pandangannya tertuju pada kamarnya sendiri.


"Apa ada orang yang masuk?" gumam Jastin bertanya pada dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Jastin berjalan cepat di dalam kamarnya. Sontak ia makin terkejut kamarnya di kunci dari dalam.


"Oii, siapa di dalam!" bentak Jastin marah.


"Kalau kau tidak jawab, maka aku akan dobrak pintu ini! Jangan harap kau bisa kabur dari apartemenku!" pinta Jastin serius dengan kata-katanya.

__ADS_1


Jantung Ella semakin berpacu, ia ketakutan berdiri di dekat ranjang. Tapi alangkah terkejutnya saat Jastin menebak dirinya.


"Ooh, atau jangan-jangan kau ini kan Ella?" tebak Jastin tersenyum miring. Ella geleng-geleng kepala, ia menuju ke kamar mandi dan mengetuk pintu. Tapi Aline masih tetap pingsan di kamar mandi.


"Ella buka pintunya!" bentak Jastin makin parah.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau!" sahut Ella akhirnya angkat bicara.


"Ahahaha, dugaanku ternyata benar. Kau memang datang pasti untuk membuktikan remakan itu. Tapi tidak usah takut padaku Ella, aku pasti dengan senang hati akan memberikanmu, bahkan jika kau mau kita bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Devan pada Kakakmu."


Ella tersentak mendengar ucapan Jastin. Rasa takutnya makin meningkat.


"Bohong! Kau jangan harap bisa menyentuhku! Dan jangan lagi fitnah suamiku!" bentak Ella tak terima. Ia segera menghubungi Devan kembali, namun setelah memencet tombol malah dikagetkan dengan pintu didobrak hingga ponsel Ella jatuh ke taplak kaki. Saat inilah Ella dengan cepat menendang ponselnya masuk ke bawah ranjang. Entah ponselnya berhasil tersambung atau tidak.


Jastin menyapu kemajanya yang habis mendobrak meja. Ia menyeringai tipis melihat Ella benar-benar ada di dalam kamarnya seorang diri. Dengan perlahan-lahan, ia mulai menutup kembali pintu dan mendekati Ella.


"Aaarg! Jangan mendekat!" pekik Ella ketakutan. Apalagi tubuh kekar Jastin membuatnya makin menakutkan.


"Kau, kau mau apa!" Tunjuk Ella padanya. Tangannya dan seluruh tubuhnya gemeteran dan mulai mati rasa.


"Eh, aku mau apa? Bukannya kau datang sendiri padaku?" ucapnya begitu lembut.


"Ya aku datang untuk membuktikan rekaman itu pasti palsu!"


Jastin tersenyum picik mendengarnya.


"Ahaha, dasar bodoh. Baby, kau jangan mudah percaya. Rekaman yang aku katakan kemarin memang tidak ada, Devan dan Elisa memang tidak melakukan itu. Tapi kau tidak usah kuatir, jika kau mau kita bisa membuat rekaman kita sendiri," goda Jastin dengan senyum liciknya mulai ingin mengajak bercinta dengan Ella.


"Gila! Sudah aku duga, kau ini memang pria cab*l! Kau pria bejat!" pekik Ella penuh kebencian di dalam matanya. Jastin sedikit geram dihina oleh Ella.

__ADS_1


"Kau! Beraninya berkata begitu padaku," desis Jastin langsung meraih pergelangan tangan Ella dan mencengkangramnya dengan kuat.


"Ya, aku memang berani. Aku tidak takut padamu! Jadi lepaskan aku!" ronta Ella mencoba lepas dari Jastin.


"Ahahaha, jangan pernah berharap bisa keluar dari sini sebelum aku bercinta denganmu, Baby!" geram Jastin menghempaskan Ella ke atas ranjang.


"Aaaaa! Kau mau apa, ha!" pekik Ella teriak karena kedua tangannya dikunci oleh Jastin yang kini berada di atasnya. Posisi mereka sungguh terlihat ingin bercinta siang ini.


"Oh baby, jangan munafik di mataku. Kita rasakan bersama-sama, aku akan berikan permainan yang panas untukmu. Kau pasti akan menyukai goyanganku," bisik Jastin sungguh-sungguh. Ella diam membisu mendengarnya, benar-benar dirinya hampir terhipnotis.


"Dasar brensek! Kau gila!" Sekali kali Ella memberontak sekuat tenaga. Tapi Jastin malah menyukainya karena Ella nampak seperti wanita ****** yang ingin dimanjakan olehnya.


"Oh baby, santai saja. Aku tidak akan menyakitimu, aku akan pelan-pelan bercinta denganmu. Kau harus tahu, aku tidak sabar ingin menikmatimu, Baby."


Ella menangis mendengarnya.


"Ku mohon, lepaskan aku. Aku sudah punya suami dan anak, kau jangan lakukan apa-pun padaku!" mohon Ella dengan air matanya. Ia nampak menyedihkan kali ini.


Jastin malah tertawa bagaikan kerasukan setan.


"Oh oh, ini yang aku suka darimu. Pasti kau sudah mahir bermain dengan Devan. Bagaimana kalau kau memuaskanku, Baby. Tidak apa-apa jika kau hamil, tenang saja, aku akan jadikan dirimu sebagai Istri keduaku setelah menikahi kakakmu dan menghancurkan suamimu itu, ahahaha." Tawa Jastin semakin menggila.


"Apa dia pasien sakit jiwa?" pikir Ella masih menangis tak berdaya di bawah Jastin. Tanpa pikir panjang, Jastin dengan buasnya langsung merobek pakaian luar Ella hingga BH miliknya yang membalut kedua oppainya terpampang indah di depan mata Jastin. Inilah yang disukai oleh pria setan ini. Dia makin menggila melihat oppai Ella yang sangat menggoda, ia tak sabar merasakan percintaan dengan istri milik orang lain.


"Lepaskan aku, hiks," isak Ella ingin teriak, tapi suaranya sudah habis.


"Ahaha, nikmati diriku, sayang," bisik Jastin langsung mengecup tengkuk leher Ella hingga membuatnya Ella mengeluarkan ******* indahnya. Namun saat ingin melucuti semua pakaian Ella, pintu kamar langsung ambruk saat seseorang menendangnya dengan kuat.


Brak!

__ADS_1


Jastin berhenti untuk memperkosa Ella dan terkejut dengan kehadiran dua pria yang amat dia benci. Devan yang berhasil melacak posisi Ella juga terkejut dan tak sangka malah melihat Jastin hampir memperkosa istrinya sendiri. Jastin berdiri dari ranjang dan tersenyum picik ke Devan. Ella menangis dan menatap suaminya datang juga. Devan mengepal tangan, ini sebuah penghinaan untuknya.


"Kau! Dasar keeparat!" geram Devan maju untuk memukulnya.


__ADS_2