Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
34. Hampir Diperk*sa


__ADS_3

"Kau! Dasar keeparat!" geram Devan maju untuk memukulnya. Dengan cepat, Jastin segera menghindar. Ia begitu santai bicara pada Devan dan ini membuatnya makin geram.


"Wah wah, aku tidak menyangka Presdir Devan datang menangkap kelakuan istrinya," ucap Jastin menepuk tangan dan seakan memfitnah Ella yang datang sendiri.


"Kau masih berani bicara seperti itu padaku!" Kerutan kekesalan mulai terlihat sangat jelas di pelipis mata Devan. Benar-benar Jastin tak merasa takut padanya.


"Oh tentu saja, untuk apa aku harus takut padamu," Jastin begitu picik dalam berbicara. Devan mendengus makin geram, dia langsung berjalan dan menarik paksa tangan Ella.


"Apa yang kau lakukan di sini, ha!" bentak Devan sudah termakan emosi. Ella menangis, tangannya dicengkram kuat oleh Devan.


"Dengarkan aku dulu, honey. Semua yang kau lihat barusan-"


"Diam!" Devan kembali membentaknya. Jastin tersenyum miring mengira kesalahan ini adalah kelakuan Ella hingga Devan membentak istrinya sendiri.


Hansel tentu terkejut, apalagi penampilan Ella makin menyedihkan. Dia yang sebagai kakak angkatnya segera membuka kemeja dan menutupi tubuh Ella dengan baik.


"Presdir Devan, anda tentunya tidak usah membentaknya. Pasti ada alasan mengapa Nona Ella berada di sini, tahan emosi anda, Presdir." Hansel berkata serius dan membawa keluar Ella yang menangis. Pikiran wanita ini kacau dan bercampur ketakutan dirinya hampir diperkosa.


Ella menoleh sebentar ke belakang. ia melihat Devan masih berdiri di hadapan Jastin, ia tahu bahwa Devan pasti sudah salah paham dan membencinya nanti. Padahal niatnya datang kemari untuk membuktikan keburukan Jastin. Namun ia terlalu naif untuk berurusan dengan Jastin.


"Ella, kau baik-baik saja?" tanya Hansel mencoba menenangkan Ella yang sedang memukul bekas cupan yang ditinggalkan Jastin barusan. Wanita ini cuma menunduk dan menangis saja. Hansel pun dengan berat hati menyuruh anak buahnya mengantar Ella ke dalam mobil. Sedangkan dia kembali ke apartemen Devan agar tidak terjadi sesuatu pada atasannya.


Benar sekarang, kedua pria di dalam apartemen masih saling tatap menatap. Jastin dengan santainya duduk di sofa empuknya dan melihat Devan berdiri dengan tangan dikepal.


"Ahaha, tatapan apa itu? Kau ingin memukulku?" tebak Jastin tertawa bagaikan tak bersalah.


"Jastin, aku tidak menyangka kau berani melakukan itu pada Istriku. Dengar baik-baik, jika terjadi sesuatu pada istriku maka perusahaanmu akan lenyap dalam semalam!" kata Devan memberinya ancaman, ia sangat ingin memukul wajah Jastin yang menyebalkan.


Jastin berdiri dengan tenang dan melipat kedua tangan di depan dada lalu tertawa kembali.


"Ahaha, kau sedang mengancamku? Oh tenang, kau jangan marah padaku. Aku di sini korban loh dan lihatlah di mana kau berada. Kau berada di apartemenku, dan itu artinya istrimu sendiri yang datang padaku bukan aku yang meminta dia kemari," ucap Jastin mulai ingin membuat emosi Devan naik.

__ADS_1


Devan diam sebentar, kini ia tidak tahu mau bicara apa karena ucapan Jastin ada benarnya. Yang mengganjal di dalam pikirannya adalah mengapa Ella bisa datang ke apartemen Jastin?


"Oh Presdir Devan, kau harusnya tidak datang kemari, kau benar-benar menggangguku bercinta dengan istrimu yang seksi itu. Harusnya kau datang setelah percintaan kami selesai," jelas Jastin mulai memanas-manaskan Devan.


"Dasar brensek! Kau harusnya sadar diri, dia adalah Istriku, mengapa kau malah ingin menodainya, ha!" bentak Devan langsung meraih kerah Jastin dan mencengkaramnya kuat. Sorotan mata Devan penuh kemarahan. Perkataan Jastin terdengar jijik di kedua telinganya.


Plak!


Jastin menepis tangan Devan dan memperbaiki kerah lehernya lalu tersenyum licik kembali.


"Aku macam-macam padanya? Oh bukan dong. Dia sendiri yang ingin bercinta denganku, dia berkata padaku kalau kau tidak dapat memuaskannya."


Raut wajah Devan berubah drastis sudah tidak dapat menahan kesabarannya untuk tidak memukul.


"Ahahaha, kau sangat lemah Devan, tubuh Istrimu benar-benar nikmat, untung saja aku sudah menanam benih-benihku dalam rahimnya, ahaha." Tawa Jastin mulai lagi ucapan omong kosongnya. Seketika itupun pipi kirinya ditonjok oleh Devan dengan cukup keras.


Bug!


"Ucapanmu tidak bisa membohongiku! Jika aku sudah temukan kebenarannya antara dirimu dengan istriku maka siap-siaplah berurusan denganku jika ini semua adalah salahmu!" kata Devan menekankan ucapannya. Ia sangat tidak main-main kali ini. Devan melepaskan Jastin dan keluar dari apartemen itu. Ia ingin berbicara pada Ella mengapa dia bisa ke apartemen Jastin.


"Woi, Devan! Aku benar loh, tubuh istrimu sangat nikmat, ahaha." Tawa Jastin tertawa kembali seraya mengusap bibirnya yang berdarah gara-gara habis dipukul. Tawanya makin menggila. Bayangan tubuh Ella yang seksi belum bisa sirna dari pikirannya.


Hansel berhenti saat melihat Devan keluar dari apartemen.


"Hansel, kita ke rumah Nyonya Chelsi," ucap Devan bernada dingin.


"Ba-baik, Presdir." Kata Hansel dengan patuh. Keduanya berjalan ke arah mobil.


Di dalam perjalan pulang, Ella hanya menunduk saja. Sedangkan Devan masih mengepal tangan dan duduk di kursi depan bersama Hansel. Tak sedikitpun melirik Ella yang duduk dibelakang masih sesugukan.


Melihatnya begitu, Devan jadi bimbang untuk mempercayai Ella atau tidak. Mobil Hansel kini nampak menuju ke rumah Tuan Vian untuk menjemput baby twins Vino dan Vina serta membicarakan ini pada Ella di sana.

__ADS_1


Sementara Aline, gadis muda ini baru sadar. Ia memijit kepalanya yang pening gara-gara terbentur tembok. Aline segera berdiri dan merapikan pakaiannya. Saat ingin membuka pintu wc, ia terkejut mendengar suara Jastin. Aline spontan menutup mulut mulai deg-degan.


"OMG! Kenapa Jastin ada di sini? Kalau dia sudah ada, terus Kak Ella di mana?" pikir Aline mencemaskan Ella. Ia segera membuka pintu, namun tak ada siapa-siapa. Aline pun buru-buru ingin membuka pintu kamar, namun lagi-lagi suara Jastin terdengar di luar kamar.


"Ahahaha, benar-benar bodoh. Pasutri ini mudah sekali kupancing ke dalam hasutanku. Mungkin setelah kejadian hari ini kalian pasti akan bercerai, setelah itu aku dapat menikahi kakak beradik ini," tawa Jastin begitu mengerikan. Aline menutup mulutnya sudah tahu keburukan Jastin.


Suara apartemen ditutup nampak Jastin pergi dari apartemennya, saat ini lah Aline keluar. Tapi ketika mau melangkah, suara ringtone ponsel terdengar. Aline tak jadi keluar, ia mencari suara itu. Suara yang terdengar di bawah ranjang.


Aline pun menengok ke bawah, ia berhasil menemukan sumber suara. Aline mengambil ponsel Ella yang jatuh. Ternyata itu suara ringtone alarm. Setelah mematikannya, di layar ponsel Ella rupanya fitur perekam suara sedang aktif. Aline pun mematikan perekam itu.


Namun pikirannya menangkap sesuatu, Aline segera menyalakan hasil rekama suara itu. Mata Aline membola mendengar perdebatan Ella dengan Jastin. Terdengar Jastin berkata akan dua hal. Yaitu Jastin berkata Elisa tidaklah perawan, dan itu hanyalah kebohongan Jastin. Serta dari isi rekaman kalau Jastin imgin memperkosa Ella.


"Sialan! Pria ini memang bajinan! Aku harus kasih ini ke Papa!" pikir Aline geram terhadap Jastin. Aline segera keluar dari kamar itu dan mengambil tasnya yang tadi dilihat oleh Jastin. Gadis ini buru-buru pergi dari apartemen, tujuannya untuk pulang ke rumah melaporkan kebusukan Jastin yang sudah memfitnah Devan merebut kesucian Elisa dan ia ingin memperkosa Ella.


"Kau benar-benar setan, Jastin! Kau tidak cocok jadi suami Kak Elisa!" geram Aline lari ke arah jalan menuju rumah Tuan Vian. Tak ada waktu untuk menunggu taksi. Namun sebuah pengendara motor berhenti di depan Aline yang tidak lain adalah Rafandra.


"Woi, Markonah!" panggil Rafa berhenti dan membuka helmnya.


Sontak Aline tanpa pikir panjang langsung naik ke motor Rafa. Mengabaikan panggilan Rafa yang menyebalkan untuknya.


"Eh, kau ini kenapa?" tanya Rafa terkejut dengan keberanian Aline yang tiba-tiba naik begitu saja.


"Jalan, Bang! Ini gawat! Kak Ella dalam masalah, kau bawa aku pulang ke rumah segera!" pekik Aline memaksa.


"Apa? Ella dalam masalah?"


"Ya, bang! Buruan gih jalan!" pinta Aline sudah tak sabar ingin sampai ke rumah.


Melihat Aline bersungguh-sungguh, Rafa pun memasang kembali helm-Nya lalu menancap gas. Ia cemas terhadap Ella.


"Pegangan, markonah!" teriak Rafa lantang.

__ADS_1


"Ish, iya!" ketus Aline kesal dipanggil begitu, ia pun terpaksa memeluk pinggang Rafa dengan erat. Keduanya pun menuju ke rumah Vian dengan kecepatan di atas rata-rata.


__ADS_2