
"Anda siapa?"
Ny. Jessy tersenyum mendengar pertanyaan Hansel, kemudian dengan ramah menjawabnya.
"Saya Ibunya Renita, sedangkan kalian siapa? Mengapa kalian datang ke rumah saya?" balas Ny. Jessy bertanya sembari jalan bersama dua pengawal melewati Hansel dan Naomi
"Kak Hans, sepertinya Renita anak orang kaya deh, Ibunya sangat berwibawa dan dijaga ketat," bisik Naomi di samping Hansel.
Hansel tidak sangka pada teman kerjanya yang berasal dari keluarga kaya.
"Apa Renita benar-benar penduduk asli di kota ini?" gumam Hansel memperhatikan Ny. Jessy dengan cermat.
"Oh ya, kenapa kalian diam saja?" sahut Ny. Jessy bertanya lagi di depan pintunya.
"Eh itu... kami ke sini ingin memberikan undangan pernikahan pada Renita, saya teman kerjanya, Hansel Carlous dan ini adik saya Naomi Carlous," jawab Hansel segera memberikan undangan itu.
Ny. Jessy mengernyit setelah membaca undangan di tangannya, kemudian menatap Hansel dari bawah sampai ke atas.
"Oh jadi kamu yang bernama Hansel, tampan juga. Ternyata ini undangan pernikahanmu, kalau begitu biarkan saya yang akan hadir ke pesta pernikahan kalian," ucap Ny. Jessy dengan senyum ramahnya.
"Eh, kenapa bukan Renita?" sahut Naomi bertanya. Agak heran tiba-tiba Ny. Jessy yang mau hadir bukan Renita.
"Oh itu, Renita sekarang lagi sibuk di tempat ayahnya. Jadi akhir-akhir ini dia tidak bisa keluar," jawab Ny. Jessy menyimpan undangannya ke dalam tas lalu melihat Hansel.
"Kalau begitu kami pamit pulang, terima kasih keramahan anda," ucap Hansel dengan sopan.
"Eh cepat sekali, kalian masuk dulu," tawar Ny. Jessy.
"Maaf Tante, kami juga sibuk. Jadi lain kali saja, yuk kak Hans kita pulang sekarang." Naomi menolak karena takut Bu Naina mencarinya.
"Oh begitu, ya sudah hati-hati di jalan," ucap Ny. Jessy memakluminya. Hansel cuma tersenyum lalu berbalik pergi bersama Naomi. Namun sekilas Ny. Jessy melihat sesuatu dibalik kerah leher Hansel.
"Itu ... apa itu tanda lahir?" pikir Ny. Jessy melihat mobil Hans pergi. Tangan wanita ini spontan menyetuh dadanya, terasa ada sedikit rasa aneh yang tiba-tiba terbesit.
"Huft, mungkin cuma kebetulan saja." Ny. Jessy membuang nafas merasa salah mengira. Ny. Jessy ingat putranya juga memiliki tanda lahir di bagian bahu kanannya dan ini juga dimiliki oleh Hansel. Ny. Jessy pun masuk untuk mengambil kucing kesayangannya dan menyuruh dua pengawalnya untuk menunggu di depan rumah saja.
______
Mobil Hansel berhenti sebentar ke panti asuhan.
__ADS_1
"Loh Kak Hans, kenapa kita ke sini?" tanya Naomi heran dan turun bersama Hansel dari mobil.
"Aku harus beritahu pada Bu panti dan anak-anak sini, mereka orang yang baik-baik Naomi. Jadi Kakak mau mereka hadir di pernikahan kakak juga," jawab Hansel berjalan masuk.
"Tapi Kak, Ibu kan tidak menyuruhmu," kata Naomi berjalan di sampingnya.
"Naomi, yang mau menikah itu kakak, bukan Ibu. Jadi Ibu tidak punya hak untuk mengatur seluruh pernikahanku. Kamu diamlah, ikut kakak saja."
Naomi mengangguk sudah mendengarnya. Keduanya kini berdiri di pintu panti asuhan.
Tok Tok Tok....
Krek!
Pintu panti asuhan terbuka, Bu panti terkejut melihat Hansel dengan satu gadis asing.
"Eh Sekretaris Hans kan?" tebak Bu panti memastikan.
"Benar Bu, saya sekretaris Hans... kakak angkatnya Ella. Ini adik kandung saya, namanya Naomi," ucap Hansel membenarkan. Naomi yang mendengarnya cuma menunduk.
"Kak Hans, sebenarnya aku bukan adik kandungmu," batin Naomi sedih. Tak kuat rasanya untuk merahasiakan ini.
"Em itu... besok saya akan mengadakan pernikahan. Saya akan menikah dengan kakaknya Ella, Nona Elisa. Jadi saya ke sini mengundang Bu panti dan anak-anak datang hadir ke pesta pernikahan besok, apa Bu panti sibuk?" jelas Hansel sedikit gugup.
Bu panti amat terkejut dan kemudian tersenyum. Tidak sangka lelaki di depannya baik terhadap anak-anak panti.
"Besok tidak ada kegiatan. Kamu sangat baik Naik, terima kasih sudah mengundang kami. Besok kami pasti akan hadir," ucap Bu panti setuju.
"Te-terima kasih bu, kalau begitu kami pergi dulu. Titip salam buat anak-anak di sini, permisi Bu..." pamit Hansel dengan sopan. Ia merasa lega sudah mengundang anak-anak yatim piatu.
"Sama-sama, hati-hati di jalan Nak Hansel."
Hansel mengangguk lalu pergi bersama Naomi ke arah mobil. Sekilas pandangan Bu panti melihat tanda lahir Hansel, Bu panti terdiam di tempat mengingat sesuatu.
"Apa ini cuma firasatku saja?" pikir Bu panti.
"Jika saja dia bersamaku, mungkin sudah besar seperti dirinya." Bu panti masuk ke dalam rumahnya. Mengabaikan firasatnya terhadap Hansel.
"Oh ya Kak, siapa nama Ibu tadi?" tanya Naomi ingin tahu.
__ADS_1
Hansel langsung diam lalu menyentuh dagunya.
"Dua tahun lalu Ella pernah kasih tahu padaku, tapi sekarang aku lupa hehhe...." cengir Hansel garuk-garuk kepala. Naomi menggelengkan kepala saja mendengarnya. Mobil Hansel pun meninggalkan panti asuhan.
_____
Di mansion Tuan Roland.
Renita sedang mengamuk di dalam kamarnya. Ia bagaikan burung yang dikurung ke dalam sangkar.
Brak!
Brak!
"Buka pintunya! Hei brensek, lepaskan aku dari sini!"
Renita tidak percaya semua ucapan Ibunya. Ia amat marah besar sudah dibius selama empat hari dan sekarang malah dilarang keluar oleh Tuan Roland.
"Keluarkan aku dari sini, kau bukan ayahku! Ayahku sudah mati!"
Renita menggertak tidak terima dirinya anak kandung dari orang yang menguncinya.
"Nona Renita, terimalah takdir anda. Anda Nona kedua dari keluarga GERRALD. Nona anak kandung dari Tuan Roland dan Nyonya Jessica. Tuan tidak mengizinkan Nona keluar agar Nona tidak disakiti oleh musuh Tuan Roland."
Perkataan pelayan semakin membuat Renita depresi. Pasalnya, ia berencana untuk gagalkan pernikahan Hansel dan Elisa tapi dihalang dengan statusnya.
"Cih, dia bukan ayahku! Tes DNA itu palsu! Keluarkan aku dari sini!" Kalian tidak berhak mengurungku!"
PRANG!
Pelayan terperanjak kaget mendengar keramik dipecahkan dari dalam kamar. Cinta membuatnya buta.
"Aku harus kabur dari sini, Hansel tidak boleh menikahi Elisa."
"Aaarrgghhh sialan! Aku akan menghabisi wanita ini, Hansel cuma milikku saja! Cuma aku yang boleh mencintainya!"
"SIALAN!"
PRANNGGG!
__ADS_1