Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
45. Luka Biasa


__ADS_3

Pukul 10.30 pagi di rumah sakit.


Terlihat Elisa menyuapi Hansel dengan penuh perhatian, sikap lembut Elisa membuat Hansel jadi gugup. Tidak seperti Elisa yang setiap saat menyuapi Hansel selalu melemparkan senyum manisnya.


"Hans,"


Elisa berhenti menyuapi Hansel, ada yang ingin dia katakan pada Hansel. Ini soal kebohongan Jastin yang mengatakan dirinya pernah dilecehkan oleh Devan.


"Ya Nona?"


Jantung Hansel deg-degan, ia merasa tegang melihat Elisa ingin serius kali ini. Suasana seketika hening, perlahan hembusan angin dari jendela menyakinkan Elisa untuk mengatakan satu hal pada Hansel.


"Itu, apa kau percaya dengan apa yang kau tahu tentang diriku dan Devan? Apa kau marah mendengar tuduhan Jastin pada Devan?"


Pertanyaan Elisa sontak membuat Hansel diam. Lelaki berumur 27 tahun ini pun menatap dalam-dalam netral kedua mata Elisa. Melihat sesuatu dari kedua mata wanita yang telah mengisi hatinya.


"Hans, ayo katakan sesuatu, apa kamu percaya?"


Sekali lagi Elisa bertanya, belum ada jawaban membuatnya menunduk dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Elisa merasa sedih mengira Hansel bisa saja percaya.


Hansel tersenyum dan dengan sentuhan lembut mengangkat dagu Elisa. Menatap kembali kedua mata cantik kekasih pujaan hatinya.


"Nona, untuk apa aku harus percaya? Itu tidak penting bagiku, yang sekarang penting bagiku adalah dirimu yang selalu menemaniku di sini," ucap Hansel menyisir rambut Elisa yang terurai panjang. Menyelipkan sedikit ke belakang telinganya.


Tangan Hansel diraih oleh Elisa, membuatnya tersentak.


"Hans, jika memang aku dan Devan melakukan itu apa kamu percaya?" tanya Elisa mencoba mengetes Hansel.


Hansel menelan ludah mendengarnya. Ia pun sontak berdiri.


Elisa terkejut melihat Hansel seakan marah, ia pun berdiri dan mundur perlahan. Namun tatapan Hansel padanya begitu tajam setajam burung elang yang ingin mematuk dirinya.


"Hans, kau-kau jangan marah dulu,"


Elisa terbata-bata dan terpojok pada dinding belakangnya.


Pak!


Satu tangan Hansel berhasil memojokkannya. Elisa menelan ludah bertatapan dengan Hansel. Ini mengingatkan dua tahun lalu saat ia dipojokkan oleh Hansel pertama kalinya di rumah sakit.


"Ha-hans, tadi itu aku bercan-"


"Shht," desis Hansel memutuskan ucapan Elisa dengan jarinya diletakkan di bibir Elisa lalu dengan lembut menyetuh bibir lembut nan merah muda itu. Bibir yang tak pernah dia rasakan.


"Ha-hans,"


"Shht,"


Lagi-lagi Hansel bertingkah seakan gemas terhadapnya. Benar saja, tangan kanan Hansel menyisir rambut Elisa dengan lembut bagaikan sentuhan yang penuh rasa sayang.


"Nona Elisa, ucapan Jastin itu memang bisa saja benar. Tapi mendengar dirimu mengatakan langsung padaku, mungkin aku simpulkan jika Nona ingin memancingku, sepertinya mengetes emosiku, apa itu benar Nona Elisa?"


Hansel menebak dengan suara lembutnya. Elisa menatap kedua mata Hansel dibalik kacamatanya. Ia segera mengangguk untuk membenarkan.


"Itu benar, aku cuma mau mengetesmu, Hans. Maafkan aku, itu aku cuma bercanda, hehehe," cengir Elisa menunduk. Ia deg-degan bertatapan dengan Hansel.


Hansel tersenyum miring mendengarnya, ia segera mengangkat dagu Elisa dan menatapnya serius. Elisa tentu kaget, jarak wajah keduanya begitu sangat dekat seakan Hansel ingin menciumnya. Tapi Elisa segera menutup mata tersipu malu, namun sesaat saja matanya membola setelah mendengar bisikan Hansel.


"Tapi aku tidak bisa mempercayaimu Nona sebelum aku membuktikannya sendiri,"


Elisa tersentak, sangat-sangat tidak paham maksudnya.


"Membu-membuktikan apa?" tanya Elisa tak tahu menahu.


Hansel tersenyum miring dan mendekati wajah Elisa, tatapan matanya tertuju pada bibir seksi kekasih cantiknya.

__ADS_1


"Membuktikan jika Nona masih gadis suci," sekali lagi Elisa dibisikan.


"Kyaaaa, mana bisa begitu! Kita belum menikah! Kau mesum!"


Elisa teriak segera mendorong Hansel dan tak sengaja menyentuh perban luka tembak di bagian lengan kirinya.


"Au-" ringis Hansel setengah membungkuk.


Ha! Kaget.


"Hans, kau kenapa?" tanya Elisa panik melihat Hansel kesakitan. Matanya melebar kembali melihat perban itu perlahan memerah.


"Aduh, Hans. Lukamu terbuka, aku akan panggil Dokter, ini salahku. Kau tunggu di sini," lanjutnya segera keluar dan berlari ke ruangan Dokter hingga teriakan Hansel diabaikan.


"Tunggu, Nona!"


Hansel sedikit kesal Elisa pergi dari ruangannya. "Astaga, padahal tadi itu aku cuma mau balas mengetesnya. Dia pasti mengira aku ini pria mesum, auu-"


Hansel meringis sakit dan duduk kembali ke brankarnya. Benar, lukanya terbuka.


"Hais, ini pasti gara-gara terlalu aku gerakkan," desis Hansel menahan sakitnya. Saat mau merebahkan punggungnya, suara tak asing menghentikannya.


"Ya ampun, Hans. Kenapa bisa begini? Bagaimana kau bisa tertembak?" kaget Ibu Naina datang mengunjungi Hansel bersama Renita.


"Hans, kenapa tidak memberi kabar padaku? Kenapa kau malah beritahu orang lain? Aku kan bisa kau hubungi," ucap Renita mendekati Hansel. Hansel menyembunyikan tangan kirinya.


"Aku hanya tidak mau kalian kuatir, maaf Bu kalau tidak memberitahumu," kata Hansel hanya melihat Ibunya. Renita cemberut diabaikan. Tapi tatapan matanya mencari-cari seseorang.


"Kau ini, kalau kau kenapa-napa Ibu dan Ayah yang pasti cemas, sekarang jawab Ibu, kenapa bisa kena tembak? Sini coba Ibu lihat di bagian mana kau tertembak,"


Hansel tersenyum dan tak mau perlihatkan lengannya.


"Ini luka biasa kok Bu, cuma di lengan bukan di kepala atau jantung. Jadi Ibu tidak usah cemas," kata Hansel bersikeras.


Hansel segera angkat bicara, ia mana mungkin berhenti, apalagi posisinya bisa dia gunakan untuk tiap hari bertemu Elisa.


"Maaf, Bu. Aku tidak bisa, aku sudah lama mengikuti Presdir Devan, aku tidak bisa berhenti begitu saja," tolak Hansel serius.


"Tapi Hans, Ibu cuma mau kau bekerja dengan aman saja. Ibu tidak ingin kau mengulangi ini,"


"Maaf Bu, aku tetap tidak bisa." Sekali lagi Hansel menolak. Renita menatap Bu Naina yang sedikit kesal karena Hansel tetap tak mau berhenti, padahal Hansel bisa bekerja diperusahaan Pak Carlous. Renita pun angkat bicara karena usulan Bu Naina ada benarnya juga.


"Kalau Hans keluar dari perusahaan Welfin, itu artinya ia tak akan ketemu tiap hari wanita itu," gumam Renita dalam hati.


"Hans, sepertinya Ibumu-"


"Sudah diam!" Hansel sedikit tegas kali ini. Matanya tidak main-main sekarang.


"Tapi Hans-" lagi-lagi Renita berhenti bicara setelah mendengar ketukan.


"Permisi, Bu. Maaf, saya harus memeriksa luka pasien dulu," ucap Dokter yang dipanggil oleh Elisa. Ia masuk mendekati ketiga orang ini, sedangkan Elisa berdiri di depan ruangan tidak masuk ke dalam karena ia agak tegang bertemu dengan Ibunya Hansel.


"Bagaimana Dok, apa anak saya baik-baik saja? Lengannya tidak parah kan, Dok?" tanya Bu Naina melontarkan dua pertanyaan.


"Ibu tidak usah cemas, ini luka tembak ringan. Dia cuma tidak boleh terlalu banyak menggerakkannya, harus butuh waktu untuk pemulihan. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter pamit sudah mengganti perban Hansel.


"Lihat, Dokter bilang aku cuma butuh istirahat, Ibu tidak usah cemas," ucap Hansel melihat keluar, ia mencari Elisa yang tidak masuk bersama Dokter tadi.


"Walau begitu, Ibumu tetap kuatir, Hans. Apa lagi kamu ini anak lelaki satu-satunya."


Ucapan Renita dibenarkan oleh Bu Naina.


"Benar apa yang dikatakan Renita, sekarang Renita akan menemanimu di sini," ucap Bu Naina membuat Elisa diluar terkejut. Elisa menunduk mendengar usulan itu.


"Sepertinya, Ibunya Hansel lebih menyukai Renita. Jika seperti ini apa aku bisa bersama Hansel?"

__ADS_1


Elisa gundah memikirkan hubungannya yang bisa saja kandas gara-gara calon mertuanya. Ia ingin masuk, tapi takut juga. Tidak seperti Renita yang senang dengan usulan Bu Naina, tapi Hansel segera menolak.


"Maaf, Bu. Aku tidak butuh Renita di sini, sudah ada orang yang akan menemaniku dan merawatku di rumah sakit ini,"


Renita dan Bu Naina terkejut bersama.


"Siapa orang itu?" tanya Bu Naina dan Renita bersama lagi.


Elisa yang berdiri di luar hanya menutup mata, ia mulai was-was dirinya akan dipanggil.


"Dia Nona sulung dari keluarga Marchela. Dia Nona Elisa, kakak kandung Ella, Bu," jelas Hansel membuat Bu Naina terdiam.


"Elisa, masuklah kemari!" panggil Hansel tahu Elisa ada di luar. Elisa mendesis, ia grogi bertatap muka dengan Bu Naina, apalagi ada wanita saingannya di dalam sana.


"Permisi," ucap Elisa masuk dengan sopan. Ia berjalan mendekati Hansel. Melihatnya masuk membuat Renita sedikit kesal.


"Ibu, dia Nona Elisa. Dia kakaknya, Ella. Serta dia adalah kekasihku,"


Bu Naina tersentak mendengarnya.


"Kekasihmu?" Bu Naina menunjuk Elisa.


"Ya, Bu. Nona Elisa kekasihku, dia yang membawaku kemari, aku menyayanginya,"


"Ibu mau kan restui kita?" tanya Hansel berharap Ibunya tidak keberatan dengan hubungan mereka.


Bu Naina menatap serius Elisa, tatapannya membuat Elisa mundur sedikit. Renita tersenyum kecut, melihat Elisa nampak ketakutan.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Bu Naina langsung. Elisa diam membisu, dia tidak tahu mau jawab apa karena dia tak punya pekerjaan.


Ini kesempatan Renita, ia pun angkat bicara.


"Dia Nona kedua dari keluarga kaya raya, mana mungkin dia bekerja, Tante. Dia kan cuma berharap pada uang Ayahnya,"


"Renita, apa maksudmu ini!" Hansel sedikit kesal.


"Apa? Kamu mau membelanya? Dia kan memang tidak bekerja apa-apa sekarang, dia cuma menguntungkan uang ayahnya saja," ucap Renita tetap kukuh. Hansel makin kesal, apalagi Elisa cuma diam.


"Apa itu benar, kau tidak punya pekerjaan? Jika begitu-"


"Dia punya pekerjaan, Bu!" sahut Hansel membela kekasihnya membuat Elisa menatapnya sekarang.


"Ha, kerja? Dia kerja apa?" tanya Renita lagi mewakili Bu Naina sambil melipat tangan di depan dadanya.


"Dia punya banyak toko butik, dia bekerja tiap hari di toko itu dan menghasilakan 500 juta perhari, dia sangat mandiri, Bu. Dia baik hati, dia merawatku semalam di sini," bela Hansel menjawab Renita. Elisa tersenyum dibela oleh Hansel, meski itu hanya ucapan omong kosong.


"Ck, ya sudah kita pulang saja Renita." Bu Naina pergi begitu saja bersama Renita, nampak keduanya kesal dengan tampang sombong Elisa. Hal ini membuat Elisa menunduk.


"Sepertinya Ibumu tidak suka padaku, Hans," keluh Elisa menatap Hansel sedih.


"Kau harusnya jangan berbohong, aku kan memang tidak punya pekerjaan selama ini, aku cuma taunya habisin duit, aku tidak mandiri, aku ini pemboros, aku bahkan tidak tahu masak, apalagi punya butik, aku itu banyak kekurangan," jelas Elisa menunduk.


Hansel tertawa kecil mendengar ocehan Elisa. Ia pun berdiri dari berankar dan memeluknya dengan penuh cinta membuat Elisa diam merasakan kehangatan pelukan itu, apalagi ucapan Hansel membuatnya tenang.


"Aku senang kau jujur apa adanya, tapi kau jangan lesu, aku sebagai kekasihmu akan mendukungmu terus, jadi setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan membangun butik untukmu," ucap Hansel melepaskan pelukannya.


Perasaan Elisa seakan berbunga-bunga mendengar, ia menunduk tersipu dan senyum-senyum sendiri.


"Kalau begitu, aku akan ubah sifatku. Aku harus mandiri dan tidak boleh menyusahkanmu. Aku juga harus belajar masak yang enak!"


"Pfft, aku suka semangatmu, apalagi masakan kari yang sangat enak dari dirimu." Hansel menggombalnya sambil mencolek dagu Elisa. Elisa semakin merona mendengar masakannya diungkit lagi. Ya, itu masakan yang berhasil dia buat sendiri.


Hansel tertawa kecil dan memeluknya lagi, terasa oppai Elisa yang besar menempel di dadanya, dan ini membuat Hansel merona.


"Terima kasih, Hans." Elisa balas memeluk, ia menyukai gombalan Hansel. Keduanya kini saling tatap dan seakan ingin saling mencium, namun keinginan itu terhenti. Keduanya masih malu-malu kucing untuk bercumbu pagi ini. Terlihat Hansel dan Elisa tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2