
Pukul 03.24 Sore, terik matahari mulai condong ke barat. Walau begitu cuaca masih terasa panas. Mobil yang mengantar keluarga besar Tuan Raka dan keluarga kecil Presdir Devan sudah dekat ke tempat tujuan.
Di mobil Tuan Raka, nyanyian Marsya membuat mereka bersemangat. Lagu yang dia nyanyikan sangat cocok dengan tujuannya.
"Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan, ku lihat saja, banyak pohon cemara."
"Yeess, Marsya pintar nyanyi," sorak Zeli bertepuk tangan bersama Ny. Mira. Keduanya gemas akan tingkah lucu Marsya di dalam mobil.
"Ya dong, Marsya mau jadi penyanyi seperti Mommy, Marsya mau nyanyi lagu-lagu bagus, Bunda. Hihihi," tawa Marsya duduk diantara Zeli dan Rafa.
"Amin, semoga cucu Nenek kelak jadi artis seperti Mommy Dean. Terus jangan lupa sering-sering jenguk Nenek dan Kakek kalau sudah besar ya, cantik," kata Ny. Mira menoleh ke belakang.
"Hm, Marsya tidak akan lupakan Mimi dan Pipi."
Marsya bertingkah lucu membuat Zeli dan Ny. Mira tertawa kembali. Tuan Raka yang mengemudi hanya geleng-geleng kepala saja. Tidak seperti Rafa yang diam di kursinya melihat ke arah luar. Ia kesal dengan ucapan Jastin padanya.
Berkata jika dirinya memang hampir memperkosa Ella dan itu membuatnya akan terus mengganggu keluarga Devan. Hal ini memberi kemarahan tersendiri bagi Rafa, karena ia tidak mau terjadi sesuatu pada Ella dan ia kesal pada Devan juga.
Beda di dalam mobil lain, tak ada suara dan hanya keheningan saja. Pasutri muda satu ini masih saling mendiami.
"Ekhm, sayang," Devan mendehem, tapi Ella tetap melihat ke depan. Kedua baby twins yang duduk di belakang mulai memperhatikan Ayah mereka.
"Sayang, nanti kalau sudah sampai kamu mau ikut denganku jalan-jalan?" tawar Devan melirik-lirik Ella.
"Tidak,"
"Loh, kenapa? Kita bisa lihat pemandangan alam di puncak nanti. Kau pasti akan senang melihatnya," ucap Devan kaget dan sedih karena Ella menolak.
"Ada Vino dan Vina, aku sibuk urus mereka," kata Ella cuek.
Devan manyun dibuatnya, ini membuat baby twins tertawa diam-diam di kursi belakang.
"Ya baby kita bisa dititipkan sama Mami, sayang," lagi-lagi Devan tetap mengajak Ella, ia ingin berduaan dengan Istrinya.
Ella menghela nafas tanpa melihat Devan. "Tetap saja tidak bisa, aku tidak mau merepotkan Mami atau yang lainnya. Sekarang kau fokus mengemudi." Sekali lagi Devan dicuekin dan ditolak mentah-mentah.
Devan mendesis dalam hati. "Ya sudah deh, terserag kamu." Devan akhirnya mengalah dan berhenti bicara, ia fokus mengemudi. Ella diam-diam melirik Devan, dalam hatinya ia sangat senang dengan wajah Devan ditekuk kesal.
"Pfft, rasakan itu!" gumam Ella dalam hati melihat keluar jendela. Melihat pepohonan hijau segar berdiri di dua sisi jalan.
Tak memakan waktu banyak, mobil mereka sampai juga. Terdapat bangunan besar berdiri di depan mereka, sebuah vila yang besar dan bagus untuk ditempati. Ini membuat Devan teringat dengan vilanya yang dia tinggalkan. Masa lalunya bersama Ella yang sudah terkubur di sana. Masa-masa dimana dia begitu plin-plan dalam urusan cinta.
"Mommy! Deddy!" pekik Marsya lari ke arah Ibu dan Ayahnya. Keduanya sudah dari tadi menunggu mereka datang.
"Wah, lihat siapa yang datang nih," ucap Dean pada Marsya yang digendong oleh suaminya.
"Hihi, pasti Mommy sama Deddy nungguin kita ya?" tawa Marsya melihat kedua orang tuanya lalu melihat semua orang turun dari mobil. Begitupun keluarga kecil Presdir Devan.
"Ya dong, sekarang mari kita masuk ke dalam," ajak ayahnya Marsya pada semua orang. Pasutri satu ini masuk duluan.
"Akhirnya sampai juga," letih Ny. Mira meregangkan kedua tangannya lalu merangkul lengan Tuan Raka.
"Sayang, malam ini kamu tidak akan sibuk kan?" lanjut Ny. Mira bertanya dengan manja.
"Mungkin tidak, memangnya kenapa?" balas Tn. Raka bertanya.
Ny. Mira tersenyum kecut. "Ya itu kau sering cuekin aku, sibuk baca ini dan itu. Aku kan jadi terlupakan, kau jangan terlalu banyak membaca koran," rengek Ny. Mira begitu manja.
"Ahaha, jadi begitu. Maaf ya sayangku, nanti kita keluar jalan-jalan." Kata Tn. Raka mencubit lembut hidung mancung istrinya. Ny. Mira makin gemas dan masuk bersama Tuan Raka.
Melihat kedua orang tuanya sangat mesra membuat dua jomblo di belakang mereka jadi ingin muntah. Zeli dan Rafa saling tatap dan membuang muka merasa muak. Hal ini karena keduanya merasa geli. Rafa dan Zeli pun masuk untuk memilih kamar.
Beda lagi dengan Devan dan Ella, keduanya masing-masing menggandeng tangan dua baby mereka. Terlihat Devan menggandeng tangan Vina, sedangkan Ella menggandeng tangan Vino.
Melihat kemesraan pasutri tua tadi, membuat Devan jadi gemas ingin juga seperti itu terhadap Ella.
"Sayang," ucap Devan mulai merayu.
"Tidak usah, sekarang kita masuk," ucap Ella cuek menggandeng tangan kedua baby twins dan meninggalkan Devan seorang diri.
"Ihhh, ngeselin deh!" desis Devan berdecak. Ia kesal karena baru juga mau manja-manjaan malah dicuekin lagi. Terpaksa Devan berjalan masuk sambil menyeret paksa kopernya.
__ADS_1
Vino dan Vina ingin tertawa tapi kasihan juga dengan muka manyun Papanya.
Setelah memilih kamar masing-masing, sebagian keluar untuk menghirup udara segar dan lama-lama akhirnya malam sudah tiba. Terlihat sekarang Ny. Mira sibuk di dapur bersama Dean dan Ella menyiapkan makan malam. Terlihat Dean memasak rendang sementara Ella memasak sup sayur, sedangkan Ny. Mira menyiapkan yang lainnya di atas meja makan.
Para kaum lelaki nampak sedang mengobrol di ruang tamu soal perusahaan mereka masing-masing, kecuali Rafa yang sibuk berpikir tentang cara memberi pelajaran untuk Jastin jika dirinya pulang nanti. Rafa berdecak, ia berharap Jastin mati saja setelah dia pulang dari berwisata.
Tapi alangkah terkejutnya, seisi vila panik setelah Zeli datang membawa kabar mengejutkan.
"Mamiii!" teriak Zeli menuruni tangga berlari ke arah mereka.
"Ada apa denganmu, Zeli?" tanya Devan berdiri disertai yang lainnya.
"Kenapa kau teriak, Zeli?" tanya Dean keluar dari dapur bersama Ella dan Ny. Mira.
Zeli panik dan menunjuk ke atas.
"Itu-itu anak-anak tidak ada di atas,"
"Apa?!"
Semua orang terkejut.
"Kau yakin Zel? Jangan bikin kita jantungan tau!" sahut Rafa tak percaya.
"Ya, tadi aku ke atas mau ambil tablet, tapi tablet aku tidak ada terus aku cek ke kamar Marsya, eh anak-anak juga tidak ada, bang." Zeli berbicara cepat bagaikan dikejar kuda saja.
"Kau ini," desis Devan lari ke lantai atas, diikuti oleh Ella juga.
Dean segera mendekati suaminya untuk menyuruh anak buah yang ikut untuk berpencar mencari di sekitar vila. Mereka takut Marsya keluar bersama dua baby twins dan masuk ke dalam hutan.
"Aduh sayang, cepat dong cari cucu-cucu kita," rengek Ny. Mira.
"Kamu tenang dulu, siapa tau ada di lantai atas. Sekarang kita ke atas cek sendiri."
Ny. Mira mengangguk dan naik ke atas. Sedangkan Rafa dan Zeli mencari di belakang vila.
"Sayang bagaimana? Anak-anak ada di kamar?" tanya Devan sudah mengecek di kamar lain. Ella menggelengkan kepala.
Melihat Ella cemas, ini kesempatannya memeluk Ella.
"Sudah sudah, pasti kita akan temukan mereka," ucap Devan memeluknya.

Ella menyembunyikan wajahnya di dada Devan. Ia sangat cemas dengan kedua anaknya, bahkan ingin menangis. Devan agak terkejut merasa Ella benar-benar ingin menangis.
"Tidak apa-apa, mereka pasti akan ditemukan." Devan melepaskan Ella dan dengan lembut mengelus pipi Ella. Ella mengangguk saja berharap baby twinsnya segera ditemukan.
"Bagaimana, kalian temukan jejak?" tanya Ayah Marsya naik ke lantai atas dan melihat yang lainnya berkumpul kembali.
Zeli dan Rafa menggelengkan kepala tak menemukan apa-apa. Ny. Mira memeluk suaminya merasa cemas, begitupun Dean ikut makinz cemas.
"Aku yakin, pasti ada yang menculiknya!" tebak Zeli asal-asalan.
"Mana mungkin, ini sudah malam dan tidak ada yang bisa ke sini tanpa izin dari diriku." Ayah Marsya tidak percaya.
"Tapi bisa jadi juga," timpal Ella lepas dari Devan.
"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Ayah Marsya menatap serius Ella membuat Ella mundur ketakutan. Devan segera berdiri di depan Ella.
"Kau jangan menatap istriku begitu, tatapanmu menakutinya dan bisa saja ada yang lolos masuk ke sini, sekarang bukan waktunya saling lempar pendapat, kita cari mereka lagi," ucap Devan menarik Ella ingin pergi.
"Ck," Ayah Marsya berdecak, ia yang tak punya musuh mengira ini ada hubungannya dengan Devan yang memiliki banyak musuh di luar sana.
"Sayang, tenang. Kita cari lagi," ucap Dean menenangkan suaminya. Semua orang setuju dan mulai ingin mengecek kembali.
Namun saat mereka ingin bubar, suara tangisan memecahkan kekuatiran mereka. Pandangan mereka teralih ke sumber suara.
"Hiks, Mommy,"
"Ha? Marsya?"
__ADS_1
Semua orang kaget melihat Marsya menangis sambil mengelus kepalanya. Mereka segera mendekati Marsya terutama Devan dan Ella ingin tanyakan di mana baby twinsnya.
"Ya ampun, putri Deddy dari mana saja dan kenapa menangis?" tanya Ayah Marsya panik.
"Hiks, Deddy Mommy, kepala Marsya sakit," isak Marsya mengelus kepalanya.
"Kenapa bisa sayang?" tanya Dean bantu mengelusnya.
"Hiks, Mommy. Tadi itu Marsya nonton di tablet Bunda,"
"Owalah, jadi Marsya yang ambil?" tanya Zeli mendekatinya.
"Ya Bunda, tadi Marsya ambil terus-"
"Terus apa?" tanya Devan dan Ella mendekati Marsya.
"Terus nonton kartun di bawah ranjang, tapi kepala Marsya terbentur," isak Marsya memeluk Deddynya. Terlihat gadis ini baru bangun dari tidurnya.
"Loh, memangnya Marsya kenapa bisa terbentur kepalanya?" tanya Rafa ikutan penasaran.
"Itu tadi Marsya habis nonton tidur sama adek Vino dan adek Vina, baru mau bangun tapi kepala Marsya terbentur, ini sakit."
Semua orang terkejut dan langsung bertanya.
"Tadi tidurnya di ranjang siapa?"
"Ranjangnya Bunda Zeli." Marsya menjawab sambil menunjuk Zeli. Semua tatapan melihat Zeli.
"Loh bukannya tadi Zeli bilang tidak ada di dalam kamarnya," ucap Ny. Mira melihat putri bungsunya.
"Hehehe, itu-"
Zeli tertawa kekeh dan garuk-garuk kepala.
"Itu apa?" tanya semuanya kompak membuat Zeli deg-degan.
"Itu aku memang tidak mengecek di bawah ranjangku."
Semuanya geleng-geleng kepala, Ny. Mira dan Tuan Raka segera ke kamar Zeli untuk mengecek di bawah ranjang. Ingin melihat cucu baby twinsnya. Sedangkan Dean dan suaminya pergi menenangkan Marsya.
"Kenapa tidak kau cek tadi?" tanya Devan dan Rafa bersamaan.
Zeli merasa ditekan, ia pun bersembunyi di belakang Ella. Ia merasa takut dua lelaki ini akan memarahinya karena sudah membuat semua orang panik.
"Ya habisnya tadi pas mau cek ke bawah ranjang malah ada laba-laba, jadi aku keluar saja, hehehe,"
"Ish, Zeli! Bikin jantungan!" pekik Rafa ingin menjitak kepala Zeli.
"Aaaaaaaa, kaborr. Gorila marah!" pekik Zeli lari ke lantai bawah, Rafa emosi karena tadi sibuk pikirin Jastin malah dibuyarkan oleh Zeli. Ia segera mengejar Zeli.
"Huft, sepertinya Vino dan Vina ada di kamar Zeli. Kita harus pergi melihatnya," lirih Ella mengelus dada merasa lega.
Saat mau berjalan ingin ke kamar Zeli, Devan segera menahan tangannya. Ia merasa teringat sesuatu.
"Tunggu sayang," ucap Devan.
"Hm, kenapa?" tanya Ella datar.
"Itu kamu masih ingat waktu kita awal bikin debay?" sontak Ella melepaskan tangan Devan.
"Tidak usah ungkit, itu sudah lama."
Ella berjalan kembali, ia sedikit kesal karena waktu itu dirinya dipaksa keluar dari bawah ranjang demi membuat debay. Hari di mana keperawanannya diserahkan.
"Pfft, sepertinya dia masih ingat. Aku jadi merasa tingkah baby twins sekarang mirip dengan Ella dulu. Tidur di bawah ranjang."
Devan segera berjalan, wajahnya merona berseri-seri ingat pertama kalinya mereka bercinta bersama di sore hari. Apalagi Ella yang selalu menolak dan berkata 'Aku masih kecil' dan ini membuat Devan tertawa geli.
Benar, baby twins sekarang digendong oleh Ny. Mira dan Tn. Raka. Terlihat dua baby twins tidur pulas dipundak Nenek dan Kakeknya. Ella merasa lega begitupun Devan. Semua kepanikan ini terjadi gara-gara ulah trio cebong keluarga Welfin. Tak sangka trio cebong berhasil membuat mereka luntang lanting mencari sana sini.
Makan malam pun akhirnya dimulai dan melupakan kejadian tadi. Semuanya duduk bersama di atas meja yang sama, kecuali baby twins yang masih tertidur pulas di kamar Ibunya. Sedangkan kini Devan tak henti-hentinya melirik Ella dengan lesu.
__ADS_1
"Huft, apa dia masih marah padaku?"