
"Lepaskan aku, lepaskan aku!"
Dua pengawal Roland berhasil menahan Renita yang masih saja memberontak. Gara-gara dirinya yang membuat ulah, pernikahan Hansel dan Elisa jadi berantakan. Semua tamu undangan sudah pergi meninggalkan tempat aula. Begitupun Devan dan yang lainnya, terutama Ny. Jessy juga ikut. Mereka membawa Hansel ke rumah sakit secepatnya, sebelum nyawa Hansel melayang. Sementara anak-anak dibawa pulang oleh Ny. Chelsi dan Tuan Vian dulu ke mansion Tuan Raka.
PLAK!
Sebuah tamparan keras berhasil membuat Renita berhenti mengamuk. Tuan Roland geram dengan tindakan putrinya.
"Sampai kapan kamu memberontak seperti ini, Renita!" Tuan Roland membentaknya dengan keras. Kesabarannya telah hampir habis. Renita menangis keras, kemudian menatap Roland dengan sorotan kebencian.
"Lepaskan aku! Bukan aku yang menembak Hans, bukan aku! Tolong lepaskan aku, aku ingin ikut melihat Hans!" ronta Renita mengamuk lagi dengar deraian air matanya. Cengkraman para pengawal mulai terasa sakit di tangannya.
"Jika bukan kamu yang menembaknya, lalu siapa! Hanya kamu yang memegang pistol di sini, Renita!" Roland meraih tangan Renita dan menyeretnya pulang.
"Sini, kita pulang sekarang juga!"
Plak!
Renita berhasil menepisnya lalu dengan lantang meneriaki Roland.
"Sudah aku bilang, bukan aku yang menembak Hans! Kenapa-kenapa tidak percaya padaku, Deddy," lirih Renita menunduk sembari mengusap air matanya.
Roland tertegun mendengar Renita memanggilnya.
"Hiks... sumpah bukan aku yang tembak Hans," tangis Renita mengepal tangan.
Pluk!
Renita terdiam menerima pelukan dari Roland. Pelukan yang sedikit menenangkan hatinya yang pilu.
"Maafkan Deddy, ini salah Deddy sudah menelantarkan Ibumu dan kalian. Maafkan Deddy, Nak. Deddy percaya bukan kamu pelakunya,"
Renita spontan membalas pelukan Roland, kemudian menumpahkan air matanya.
"Hiks... aku mencintainya, mana mungkin aku yang menembak Hans," isak Renita semakin menjadi-jadi. Roland mengelus kepala putrinya lalu berkata, "Lepaskan dia, dia tidak bisa kamu miliki, Renita."
Seketika itulah air mata Renita makin pecah setelah mendengarnya. Roland terkejut merasakan Renita pingsan di pelukannya. Sontak ia mengangkat Renita ke arah mobilnya. Meninggalkan tempat itu untuk membawa Renita kembali ke mansionnya.
_____
"Selidiki semua yang ada di sana, temukan siapa dalang dari penembak tadi!
__ADS_1
"Baik Presdir."
Panggilan yang terhubung ke Devan berakhir, Ella yang berdiri di dekatnya tidak bisa berhenti mencemaskan Hansel yang ditangani oleh Dokter.
"Honey, semua pasti baik-baik saja kan? Kak Hansel akan selamat kan?" tanya Ella sudah mulai menangis, tidak tega membayangkan Hansel yang terkena tembakan tepat di punggung. Ella takut peluru menembus jantung Hans.
"Jangan menangis sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja, kita bantu berdoa buat Hansel." Devan memeluk istrinya yang gemetar. Tahu Ella sedang ketakutan, takut kehilangan kakak iparnya, apalagi Ella sudah dua kali melihat seseorang tertembak di depan mata, mengingatkannya pada kematian Viona.
Seperti halnya Elisa yang menangis, ia berdiri di samping Bu panti. Wanita yang malang, baru saja resmi jadi istri malah mendaptkan musibah. Pak Carlous dan Tuan Vian kini pergi untuk menyelidiki juga, mereka hanya berharap operasi Hansel dapat menyelamatkan nyawanya.
"Bu, pasti semua baik-baik saja kan?" tangis Elisa tidak kuat menahan air matanya.
"Sabar Nak, kita berdoa terus untuk suamimu,"
"Tapi ... aku takut Bu, aku tidak mau dia meninggalkan aku, aku sangat mencintainya. Kenapa-kenapa bisa seperti ini," isak Elisa dengan perasaan yang terguncang. Bu panti memeluk Elisa sembari memberikan sandaran tangisnya yang masih berlanjut.
Namun tiba-tiba Bu panti terkejut melihat dari kejauhan seorang wanita buru-buru ke arahnya, dia adalah Ny. Jessy yang menyusulnya tadi.
"Loh, Bu Sandra?" kata Ny. Jessy kini mengenali Bu panti.
"Nyonya Jessica?" balas Bu Sandra, pengurus panti asuhan yang memiliki nama lengkap Cassandra, dia adalah pengasuh Maikeul yang membawa Maikeul pergi dari kejaran preman saat melarikan diri bersama Ny. Jessy dua puluh lima tahun yang lalu.
Akan tetapi Maikeul saat itu yang masih kecil malah hilang dari jangkauannya. Hingga akhirnya Bu Sandra mendirikan panti asuhan demi menemukan Maikeul, berharap Maikeul dapat ditemukan.
"Bu Sandra, ini kamu kan?" tanya Ny. Jessy memastikan. Spontan Bu Sandra membungkuk setengah badan.
"Benar Nyonya, ini saya. Maafkan saya Nyonya, Tuan muda Maikeul hilang gara-gara saya. Tolong jangan tangkap saya, saya selama ini juga mencarinya,"
Deg!
Ny. Jessy terkejut segera menyentuh bahu Bu Sandra.
"Jadi Maikeul tidak ada padamu?" tanya Ny. Jessy, mengira Maikeul ada pada Bu Sandra selama ini, tapi dugaannya salah.
"Saya minta maaf Nyonya, Tuan muda kecil melarikan diri. Dia sudah hilang cukup lama. Maafkan saya Nyonya," jawab Bu Sandra ketakutan. Ternyata yang tadi Bu Sandra lihat, bukanlah halusinasi, melainkan majikannya yang dilihat di aula pernikahan saat memberi selamat pada Hansel dan Elisa.
"Ya Tuhan, kemana putraku berada,"
"Nyonya... Nyonya," panik Bu Sandra menahan Ny. Jessy yang ingin jatuh pingsan. Dua pengawal yang ikut segera ikut menahannya. Devan yang melihatnya mulai penasaran tapi sekarang ia dihubungi oleh anak buahnya. Ternyata pelaku penembak sudah diketahui. Devan pamit ke Ella sembari mencium kening istrinya.
"Sayang, aku pergi sebentar. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap Devan mengelus kepala Ella.
__ADS_1
"Hm, baiklah Honey. Tolong jangan lama-lama," balas Ella tersenyum melihat suaminya pergi, kemudian mendekati Elisa yang selalu menatap pintu ruangan.
"Kak Elisa," lirih Ella ingin menyentuh pundaknya. Elisa berbalik melihat Ella, ia tak bisa berhenti terisak-isak. Ini adalah titik lemah untuknya. Tidak sanggup menunggu kabar kondisi sang suami yang lagi dioperasi.
"Ella, aku-aku tidak mau Hans meninggalkan aku,"
"Tenanglah Kak, suamimu pasti kuat. Aku yakin itu, Kak Hansel tidak akan meninggalkanmu, Kak. Dia juga mencintaimu." Ella berkata sembari menenangkan Elisa yang selalu meneteskan air mata.
Suasana makin menegangkan setelah pintu ruangan terbuka, salah satu Dokter keluar dengan ekspresi sedikit panik.
"Maaf, apa di sini ada keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Saya Dok, saya istrinya. Bagaimana kondisi suamiku?" balas Elisa ingin sekali masuk.
"Sekarang kami butuh darah golongan O, pasien hampir kehabisan darah. Kami sangat butuh pendonor darah secepat mungkin," kata Dokter membuat Elisa teridiam karena darahnya dan Ella tidaklah sama dengan Hansel, apalagi Bu Sandra juga.
"Saya Dok! Saya bergolong darah O, apa saya bisa bantu?" sahut Ny. Jessy menawarkan diri.
"Baiklah, kemarilah Bu! Kami harus melakukan teranfusi darah." Ny. Jessy pun masuk bersama Dokter. Elisa kembali memeluk Ella. Dia takut, sangat ketakutan.
Di dalam ruangan, tak jauh dari Hansel. Ny. Jessy selalu melihat Hansel dari jauh, matanya melebar melihat jelas tanda lahir di bahu Hansel. Hatinya mulai tergerak untuk melakukan sesuatu.
"Dokter, bisakah anda melakukan tes DNA, aku dengannya?" tanya Ny. Jessy yang lagi donor darah.
"Ibu anggota keluarganya?" balas Dokter bertanya.
"Itu... saya kerabatnya. Saya cuma mau pastikan saja," jawab Ny. Jessy berbohong.
"Baiklah, Bu. Kami akan lakukan untukmu, hasil tes DNA akan keluar besok, Ibu tunggu kabar dari kami," ucap Dokter akhirnya mau juga.
"Terima kasih, Dok." Ny. Jessy tersenyum dan kembali melihat Hansel yang ditangani oleh Dokter lainnya. Mengeluarkan peluru yang hampir melubangi jantung Hansel.
Sedangkan di luar, Elisa selalu saja berharap hasil operasi berjalan lancar. Elisa tidak henti-henti menutup mata, berdoa untuk keselamatan suaminya. Begitupun Ella.
"Kakak ipar!" panggil Naomi yang akhirnya datang bersama Bu Naina. Naomi berhasil memanggil Bu Naina untuk melihat Hansel.
"Naomi, Ibu...."
PLAK!
Ella dan Naomi terkejut melihat Bu Naina dengan cepat menampar Elisa tanpa ampun dan kejam.
__ADS_1
"I-ibu...."