Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
62. Mertua Licik


__ADS_3

PRANGG!


Keramik dijatuhkan begitu saja oleh wanita paruh baya yang sedang beradu mulut dengan suaminya. Perdebatan ini terjadi setelah anak lelakinya meminta untuk menikahi sang kekasih pujaan hati. Namun tidak disangka, Ibu Naina tidak setuju Hansel menikahi Elisa, Nona sulung dari keluarga Marchela.


"Cukup, Bu! Pikirkan perasaan Hans juga, dia berhak memilih dan mendapatkan keinginannya. Ibu harusnya setuju hubungan mereka berlanjut!" ujar sang Suami yang bernama Pak Carlous terhadap istrinya yang mengamuk.


"Ibu sama sekali tidak menyukai wanita itu. Dia hanya anak angkat, Pak! Jika Hansel menikahinya itu percuma saja. Kekayaan keluarga Marchela tidak akan diwariskan padanya! Lebih baik, Hansel menikahi Renita!" bantah Bu Naina tetap dalam pendiriannya.


Deg!


Jantung Hansel berdegub cukup keras, ia menunduk di depan pintu kamar orang tuanya. Sungguh diluar pemikirannya, ternyata hanya karena Elisa anak angkat, Ibunya tidak menyukai hubungannya dengan Elisa.


"Segitunya Ibu membenci Elisa?"


Kedua kakinya bagaikan mati rasa, Hansel berjalan ke sofa sudah lelah mendengar perdebatan yang masih berlanjut.


"Bu tolong pikirkan dulu, meski Nona Elisa bukan anak kandung Tuan Vian, wanita ini pasti akan jadi penerusnya. Nona Elisa sudah dianggap sebagai anak kandungnya. Lagi pula, Tuan Vian tidak mendapatkan anak dari pernikahaannya dengan Nyonya Chelsi, dan itu artinya ada kesempatan Nona Elisa mewariskan kekayaan Tuan Vian. Kita juga bisa bekerja sama dengan perusahaan desain Marchela!!" tutur Pak Carlous masih membujuk Istrinya.


Hening ...


Bu Naina sontak memikirkannya.


"Ada benarnya juga, kalau begitu wanita ini bisa aku bodohi untuk mengambil alih perusahaan desain yang terkenal di kota ini, kenapa aku baru sadar dia bisa jadi kelinci percobaan? ahahaha ...."


Senyum Bu Naina mengambang, akal liciknya akhirnya muncul. Keserakahaannya terhadap harta kekayaan membuat dirinya sangat mengerikan. Entah apa yang akan terjadi bila Elisa harus menjadi menantu di keluarga yang penuh dengan kelicikan.


Hansel yang sedang mondar mandir di luar rumah nampak gelisah, ia sangat berharap bisa menikahi Elisa bulan ini. Ia amat mencintainya dan tidak peduli Elisa pernah menjadi kekasih dari atasannya. Yang terpenting, ia dapat hidup bersama dengan wanita yang dia cintai, sayangi, dan calon dari anak-anaknya di masa depan.


Pintu rumah terbuka, Pak Carlous menghela nafas melihat Hansel sedang membelakanginya, ia pun mendekati Hansel.


"Hans," panggil Pak Carlous menepuk bahunya dari belakang. Sontak Hansel berbalik dan langsung bertanya pada ayahnya.


"Bagaimana Pak? Apa Ibu merestui hubungan kami?"


Pak Carlous mengangguk dan memeluk putranya.


"Ayah merestui kalian, Ibumu juga sudah tidak akan mempermasalahkan ini. Malam ini ayah akan menemanimu melamar Nona Elisa."

__ADS_1


Hansel terkejut mendengarnya. Rasanya ia ingin teriak mendengar hati sang Ibu yang amat keras dapat diluluhkan juga.


"Terima kasih, Yah."


Hansel pun masuk untuk bersiap-siap nanti malam. Pak Carlous yang melihatnya sangat gembira hanya menunjukkan senyum kecilnya. Ia lakukan ini, demi kebahagiaan anak yang dia asuh dari kecil.


"Walau kau bukan anak kandung kami, kau berhak dapatkan kebahagiaanmu, Hans."


Sangat malang, Hansel yang dari dulu tinggal, dibesarkan, disekolahkan, disayang, dicintai, hanyalah anak asuh di keluarga Pak Carlous, dan Hansel tidak tahu akan identitas aslinya. Selama 25 tahun, Hansel telah dibohongi dalam hidupnya dan kini diumurnya yang ke 27 tahun, ia belum tahu soal dirinya yang sesungguhnya.


_____


Malam telah tiba, di mansion Tuan Vian. Elisa tersenyum di balik pilar. Ia memegang ponsel dan sekarang sedang menghubungi adiknya. Ia tidak bisa berhenti tersenyum atas kedatangan Hansel untuk melamarnya.


"Halo Kak, kenapa diam? Apa calon suamimu sudah datang?" tanya Ella yang penasaran di sebrang sana.


"Hm, dia sudah datang. Malam ini aku senang banget, dia bahkan datang tanpa memberitahuku," jawab Elisa senyum-senyum sendiri.


"Ekhm, berarti ini adalah kejutan untukmu," goda Ella membuat wajah Elisa merona.


"Wah selamat Kak, tidak akan lama lagi kau akan menjadi istri seseorang nih," puji Ella sedikit menggodanya.


"Pfft, terima kasih La. Semoga saja dilancarkan,"


"Aamiin, Ya Tuhan. Kalau begitu aku tutup, Ibu mertuaku memanggilku sekarang. Jangan lupa ya undang kami ke pernikahanmu nanti," ucap Ella nampak buru-buru.


"Ya itu pasti, sampai jumpa di pesta La!" ujar Elisa dan kemudian mematikan panggilan itu. Ia kembali melihat pembicaraan dua orang tuanya dan calon suaminya. Nampak Pak Carlous bersalaman pada Tuan Vian, keduanya setuju untuk menikahkan Elisa dengan Hansel.


Kini keputusan sudah ditetapkan, Elisa segera turun mengejar Hansel yang ingin pulang bersama Pak Carlous.


"Eh, Elisa. Mama pikir kamu sudah tidur jam segini?" ucap Nyonya Chelsi. Elisa meraih tangan Ibu kandungnya dan tersenyum melihat Hansel.


"Tidak dong, Mah. Aku tadi selalu mendengar pembicaraan kalian," jawab Elisa masih melihat Hansel.


"Ahahaha, jadi bagaimana? Apa kau senang menikah dengan kekasihmu ini?" tanya Tuan Vian tertawa melihat putri kesayangannya bahagia malam ini.


"Emh, sangat senang. Terima kasih, Papa mau restui hubungan kami," jawab Elisa berpindah memeluk lengan ayahnya. Tuan Vian hanya mengangguk dan tersenyum. Kini Elisa melepaskan rangkulannya dan berpindah ke hadapan Hansel.

__ADS_1


"Em itu, aku senang kau datang malam ini bersama ayahmu,"


"Baguslah, aku juga senang dapat melihat senyummu malam ini."


Elisa menunduk dan tersipu lalu meraih tangan Hansel.


"Terima kasih kejutannya dan terima kasih kepada Pak Carlous." Elisa kembali menunduk. Pak Carlous cuma memberi senyuman melihat Elisa nampak senang bertemu putranya.


"Ya sudah, kami pamit pulang, selamat malam Nona Elisa," ucap Pak Carlous lalu pergi bersama Hansel. Elisa melambai ke arah mobil Hansel yang perlahan pergi. Tuan Vian dan Nyonya Chelsi geleng-geleng kepala, keduanya pun naik ke lantai atas.


"Cieee selamat ya Kak!" seru Aline memberi salaman pada Elisa. Gadis 17 tahun ini masuk ke dalam kamar dan mendekati Elisa yang sedang duduk menyisir rambutnya.


"Hm, terima kasih, Lin. Aku tidak sabar menunggu pesta pernikahanku dengan Hansel," ucap Elisa membalas salaman adik tirinya, ia nampak tak sabar menunggu seminggu untuk hari pesta pernikahannya.


"Ya Kak Elisa, kalau begitu selamat malam calon pengantin, xixixi," ucap Aline ikut senang mengetahui dan melihat ekspresi bahagia Elisa. Elisa mengangguk dengan senyumannya. Setelah Aline keluar dari kamar, ia pun merebahkan tubuhnya ke ranjang. Menutup mata dan tak sabar untuk hari esoknya serta memikirkan hubungannya dengan Hansel yang cuma sebulan pacaran, ia sudah dilamar dan akan segera menikah.


"Huft, terima kasih Tuhan. Kau berikan aku jodoh yang baik untukku, kau memang adil memberiku kabar baik ini."


Elisa menutup mata kembali setelah berdoa untuk kelancaran hubungannya dan pernikahannya.


Namun sayang sekali, esok paginya ia mendapatkan sebuah kabar buruk dari calon Ibu mertua yang sekarang duduk di hadapannya, keduanya nampak berada di sebuah restoran. Keinginan Bu Naina bagaikan ancaman di pernikahannya dengan Hansel.


"Maksud dari kertas ini apa, Ibu?" tanya Elisa berdiri memegang kertas di tangannya. Sangat terkejut setelah membaca isi kertas itu.


Bu Naina berdecak lalu berdiri dengan senyum licik dan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya.


"Kau pasti sudah paham, ini sebuah perjanjian diantara kita. Dan kau pasti tahu, aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah merestui hubungamu dengan putraku! Tapi kau tidak usah kuatir, bila kau bisa melahirkan seorang bayi laki-laki maka aku akan dengan senang hati merestuimu dan mengakuimu sebagai menantuku,"


"Dan bila selama setahun ini kau tidak hamil dan melahirkan anak laki-laki, maka kau harus bercerai dengan putraku! Dan jangan sekali-kali kau katakan ini pada Hansel, jika kau bocorkan perjanjian kita maka mulai sekarang jangan mendekati putraku!" jelas Bu Naina tersenyum picik.


DEG!


Elisa sangat terkejut mendengar penjelaskan Bu Naina, apalagi tidak sangka dengan sikap Bu Naina padanya.


"Ya Tuhan, apa ini sifat asli calon Ibu mertuaku?"


Elisa terdiam, ini sebuah rintangan untuknya. Menikahi lelaki yang sangat dicintai dan baik padanya, tapi Ibu mertuanya nampak berniat jahat padanya, bagaikan ia dianggap sebagai mesin pembuat anak. Keputusan apa yang akan diambil oleh Elisa?

__ADS_1


__ADS_2