Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
67. Sengaja Dibius


__ADS_3

Malam yang sangat terasa panjang bagi Elisa. Sudah lelah jalan-jalan bersama adik dan ponakannya malah dikagetkan dengan suara dari rumah langganan barunya. Elisa buru-buru turun dari mobilnya sembari menyentuh dadanya. Masih belum bisa tenang dengan rasa paniknya terhadap hantu.


Tuan Vian dan Nyonya Chelsi yang duduk di sofa sedang bicara soal gaun pengantin untuk Elisa mengernyit heran dengan ekspresi ketakutan Elisa.


"Sa, ada apa denganmu, Nak?" tanya Nyonya Chelsi berdiri melihat putri sulungnya berjalan ke arah tangga.


Elisa berhenti dan menoleh lalu menjawab dengan senyuman kecil.


"Aku baik-baik saja kok, Mah. Elisa capek, mau tidur nih."


Elisa kembali jalan dengan bungkusan pesanan Bu Jessy di tangannya. Menaiki anak tangga dan kemudian pergi ke arah kamarnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Tuan Vian angkat bicara.


"Sepertinya dia baru pulang dari butiknya, mungkin kelelahan," jawab Nyonya Chelsi duduk kembali ke samping Tuan Vian.


Tuan Vian mendesis lalu menatap istrinya.


"Harusnya Elisa tidak usah bekerja, dia bisa bekerja di perusahaan. Besok butiknya harus segera ditutup, pernikahannya tidak akan lama lagi diadakan. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya," jelas Tuan Vian sedikit kesal. Untung saja Nyonya Chelsi menenangkannya.


"Ya Pa, tidak usah cemas. Nanti aku akan beri tahu padanya." Nyonya Chalsi tersenyum dan kemudian berdiri, ia menaiki anak tangga menuju ke kamar Elisa. Ingin melihat dengan jelas kondisi Elisa.


"Aaargh, dasar bego! Harusnya aku tadi suruh orang saja yang antar. Wanita ini pasti hantu! Beraninya dia ngeprenk aku!" Iiih amit-amit dah aku bisa ketemu hantu sebelum pernikahanku terjadi."


Elisa menjambak rambutnya, kemudian ia menghela nafas berat.


"Huftt, aku harus tenang. Tidak boleh terlalu pikirkan," lanjutnya lagi bersandar di sofa sembari melihat bungkusan di atas meja.


Seketika Nyonya Chelsi masuk menghampirinya, kemudian duduk di dekatnya.


"Mama?" ucap Elisa menoleh ke arah Ibunya.


"Kamu ada masalah?" tanya Nyonya Chelsi mengelus rambutnya. Elisa memeluk Ibunya lalu menangis manja.


"Hiks, Mama...."


"Loh, ada apa denganmu?" tanya Nyonya Chelsi terkejut.

__ADS_1


"Itu Mah, aku sangat mencintai Hansel. Tapi-"


"Tapi apa sayang?" tanya Nyonya Chelsi lagi.


Elisa terdiam, ia sedang menimbang-nimbang untuk beri tahu pada Ibunya.


"Sa, kamu kenapa diam?" Nyonya Chelsi bertanya lagi.


"Tapi-tapi aku tidak sabar untuk hari pernikahanku, Ma," jawab Elisa akhirnya menyembunyikan kegundahan hatinya.


"Pfft, kamu ini. Ya sudah sekarang kamu tidur, besok Mama akan membawamu memilih gaun pengantin. Putri Mama harus terlihat cantik di hari pernikahan nanti," ucap Nyonya Chelsi tertaws kecil dan menggelengkan kepala.


"Baik Ma, selamat malam."


Cup!


Elisa mencium pipi Ibunya, kemudian beranjak untuk tidur. Nyonya Chelsi pun keluar menutup pintu kamar putrinya dan perlahan-lahan melihat Elisa sudah tidur di ranjang. Setelah Nyonya Chelsi pergi, Elisa tidak bisa tidur. Dia ketakutan dan perlahan meneteskan air mata. Terpaksa, Elisa harus kuat untuk menghadapi Bu Naina, ia pun memejamkan mata untuk tidur.


"Ku harap, Hans adalah pilihan terakhirku."


Sedangkan di sisi lain, Renita sudah sampai di mansion yang besar. Renita tercengang melihat berbagai pria bersenjata di setiap tempat tertentu. Renita menelan ludah dan turun dari mobilnya. Dua kakinya gemeteran, tapi ia harus berani karena ia tidak salah ke lokasi Ibunya. Renita dengan berani menghampiri dua pria berjas hitam yang memiliki otot besar bagaikan prajurit.


"Ekhm, permisi Pak," ucap Renita gugup. Walau begitu ia terlihat santai di depan dua pria perkasa ini.


"Siapa dan apa tujuan kamu datang kemari?" tanya pria perkasa itu dengan tegas.


"Sa-saya ke sini hanya ingin bertemu dengan Ibuku. Apa Ibuku ada di dalam sana?" balas Renita bertanya sembari memperhatikan mansion besar itu.


"Siapa nama Ibumu?"


Renita dengan cepat menjawabnya santai.


"Jessica Karmelia,"


Sontak dua pria perkasa terkejut, keduanya langsung saling berbisik-bisik satu sama lain membuat Renita mengernyit heran. Dalam hati Renita, ia amat kesal dengan dua pria ini.


"Kamu yakin?" tanya pria perkasa itu lagi.

__ADS_1


"Iyalah, Pak! Kalian pikir aku ini sedang bercanda? Aku lagi buru-buru nih, jadi kalian jawab dong! Di mana Ibuku?"


Kedua pria perkasa makin terkejut, ternyata Renita berani membentaknya. Tapi melihat watak Renita yang keras dan berani sangat mirip dengan Bos mereka, seperti Roland Gerrald.


"Ibumu ada di dalam, silahkan kamu cari sendiri Nona."


Renita makin kesal dengan tampang menyebalkan mereka.


"Ck, dasar brensek!" Renita berdecak dan memalingkan muka. Dua pria itu mulai greget ingin memberi pelajaran untuk Renita. Tapi keduanya sedikit takut karena Renita mencari istri Bos mereka.


"Apa hubungan dia dengan istri Bos Roland?"


Renita tidak peduli percakapan mereka, ia masuk membuka pintu di depannya. Seketika ia tertegun melihat kemewahan tiada tara. Sungguh ia merasa berada di mansion besar milik atasannya. Namun dekorasinya sangat berbeda.


"Selamat datang Nona," ucap pelayan wanita menghampirinya.


"Malam, siapa kamu?" tanya Renita sinis.


"Saya pelayan di rumah ini, sedangkan anda? Apa anda Nona Renita?" balas Pelayan itu bertanya sembari tersenyum manis.


Renita amat terkejut melihat pelayan itu tahu namanya.


"Ya saya Re-"


Ah!


Renita tiba-tiba menjerit, pundaknya disuntik dari belakang membuatnya jatuh ke arah pelayan itu. Pandangan Renita menjadi buram dan langsung pingsan begitu saja akibat efek cairan dari suntikan itu. Dua pelayan pun membawa Renita menaiki tangga menuju ke sebuah kamar kosong.


Setelah membawa Renita, dua pelayan keluar meninggalkan Renita yang terbaring di atas ranjang. Selang beberapa menit, Nyonya Jessy masuk mendekati Renita yang masih pingsan, ia sendiri yang menyuruh pelayan untuk membiusnya. Nyonya Jessy kemudian duduk di dekatnya.


"Maafkan Mama, Nak. Mulai sekarang, kamu tidak akan keluar dari sini. Setelah kamu sadar, Mama akan memberitahu siapa dirimu sebenarnya."


Cup!


Nyonya Jessy mencium kening Renita dengan lembut, ia pun keluar dari kamar dan menguncinya rapat-rapat. Nyonya Jessy akan setuju untuk mencari kembali putranya yang hilang bersama Roland. Mencari Maikeul, bocah kecil tampan yang hilang sekitar 25 tahun yang lalu. Penerus generasi keluarga konglomerat di inggris, GERRALD.


_____

__ADS_1


__ADS_2