Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
16. Calon Suami


__ADS_3

"Kak!" panggil Ella sedikit terkejut melihat dua anaknya digendong oleh Hansel dan Elisa. Keduanya menoleh ke sumber sumber suara, melihat Ella baru keluar dari perusahaan bersama Devan.


"Apa yang sudah terjadi di sini? Kenapa bisa ada keributan tadi?" tanya Devan menatap serius Hansel. Sedikit rasa tak suka melihat raut wajah dua anaknya yang habis menangis.


"Sini Kak berikan Vino padaku." Ella meraih Vino yang digendong Hansel.


"Maaf Presdir, tadi ada dua Preman yang berani mengganggu Nona Elisa dan juga-" Hansel sedikit gelagapan. Agak sedikit grogi bicara pada Devan apalagi sekarang dirinya begitu dekat dengan Elisa.


"Honey, sudah jangan bahas itu lagi sekarang kamu antar kami pulang." Ella mencoba memecahkan suasana yang sedikit mencekam ini.


"Baiklah, sekarang kamu pulang bersama anak-anak," ucap Devan mengelus kepala Ella dengan lembut.


"Sekretaris Hans," lanjut Devan memanggilnya.


"Ya Presdir?"


"Sekarang kamu antar mereka pulang, aku masih ada urusan di kantor. Jadi sayang," ucap Devan mengelus kepala Vino dan Vina yang kini diam tak menangis lagi.


"Tidak apa-apa kan kamu pulang sama Sekretaris Hansel?" lanjutnya bertanya sambil tersenyum. Ella melihat Hansel dan Elisa lalu bergumam, "Hm ... sepertinya aku tidak boleh ganggu mereka." Ella tersrnyum langsung merengek menja pada Devan.


"Tidak, aku maunya kamu yang antar aku-" ucap Ella memberikan Vino pada Devan lalu mengambil Vina dari Elisa.


"Sama baby twins kita, kalau Kak Elisa biarkan pulang diantar sama Sekretaris Hansel."


Hansel dan Elisa tersentak mendengarnya.


"Aduh tidak bisa sayang, aku masih ada urusan." Devan tetap menolak untuk mengantar Istri dan anaknya. Ella mulai memasang wajah cengengnya dan sedikit kesal Devan tidak peka dikode-kode olenya.


"Hiks, katanya bakal turutin apa mauku, tapi-" Ella mengusap matanya mulai pura-pura meneteskan air mata. Melihat Ibu mereka menangis, baby twins mulai ikutan mewek.


"Hais, baiklah sayang. Sini aku antar kalian." Devan pun luluh dan pergi menarik Ella meninggalkan Elisa dan Hansel saja.

__ADS_1


Suasana kembali normal, tapi tidak untuk dua manusia yang masih berdiri di tempatnya.


"Hans," lirih Elisa memanggilnya. Inilah waktunya ia harus katakan kalau sebenarnya ia mulai suka padanya. Jika saja Hansel bisa membaca pikiran Elisa, mungkin Hansel akan terkejut. Tapi sepertinya lelaki satu ini belum PEKA alias sadar dengan tindakan Elisa hari ini.


"Em itu, maksud kamu barusan itu apa?" tanya Elisa dag-dig-dug.


"Yang mana, Nona?" Hansel lupa dengan ucapannya barusan.


"Hais, apa dia pura-pura lupa?" pikir Elisa sedikit mendesis.


"Itu-" ucap Elisa langsung diputuskan oleh Hansel.


"Ah yang itu ya, maaf Non sudah lancang berkata seperti itu tadi. Saya tidak sengaja, ini demi keamanan Non Elisa."


Elisa seketika murung setelah mendengarnya. Berpikir kalau Hansel tadi serius mengira dirinya sekarang adalah suaminya.


"Ahaha, santai saja." Elisa tertawa kecil lalu menepuk lengan Hansel. Lelaki ini pun hanya ikut tertawa.


Elisa mengangguk dan pergi namun Hansel segera teriak.


"Tunggu, Non!"


"Ya ada apa, Hans?" tanya Elisa berhenti.


"Mobil saya ada di sana, Non!" Tunjuk Hansel ke arah lain.


"Mari Non ikuti saya, itu bukan jalan ke rumah Nona."


Elisa kikuk lagi, benar-benar bodoh. Mungkin karena terlalu bersemangat pulang bersama Hansel hingga dirinya asal jalan begitu saja.


"Ehehe, ma-maaf." Elisa cengengesan segera mengikuti Hansel dari belakang. Diam-diam Hansel melirik Elisa, kedua matanya tertuju pada rantang yang dibawa Elisa dari tadi.

__ADS_1


"Non Elisa," ucap Hansel berhenti.


"Kenapa?" Elisa ikut berhenti.


"Rantang yang Nona bawa itu," Hansel menunjuknya. Elisa kini sadar dan segera memberikan rantang itu dengan terpaksa berbohong lagi.


"Oh ini rantang milik Ibumu, untung saja kau menyadarkanku. Jadi kau bisa bawa pulang rantang ini." Elisa sedikit gelagapan.


"Yah, terima kasih Nona." Hansel mengambil lalu kembali berjalan.


"Ya ampun, kenapa aku bodoh gini sih, harusnya aku bilang jujur saja. Gimana kalau nanti dia tahu kalau rantang itu punya aku sebenarnya!" desis Elisa selalu menunduk di setiap langkahnya.


"Ini gara-gara dia juga sih, kenapa coba dia tidak peka-peka!" kesal Elisa dalam hati. Keduanya pun naik ke dalam mobil dan seperti biasa hanya diam diantara mereka. Mobil pun melaju ke rumah Tuan Vian. Perasaan Elisa kini gelisah, entah apa yang akan ia hadapi selanjutnya.


Tak memakan waktu lama, mobil Devan sudah sampai di mansion ayahnya. Ella turun dari mobil sambil menuntun dua anaknya yang berjalan di sampingnya.


"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya," cium Devan pada kening Ella.


"Hm, hati-hati honey." Ella mengangguk dan tersenyum. Kedua babynya melambai melihat ayah mereka pergi kembali ke kantor. Seorang pelayan mendekati Ella.


"Selamat datang Nyonya muda," ucapnya menundukkan kepala.


"Terima kasih, Bi. Oh ya kebetulan Bibi ada, sekarang tolong bantu aku bawa Vino dan Vina ya, Bi. Aku tidak bisa menggendong mereka naik ke atas."


"Baik, Nyonya muda." Bibi pelayan patuh dan segera menggendong baby twins lalu berjalan ke arah anak tangga diikuti oleh Ella dari belakang.


Saat Ella ingin menginjakkan kaki ke anak tangga, ponselnya berdering. Ella segara mengangkatnya sambil melihat Bibi pelayan sudah naik ke lantai atas.


"Halo Aline, ada apa?" tanya Ella kembali menaiki tangga.


"Wow, Kak! Di rumah ada pria asing, katanya calon suami untuk Kak Elisa!" jawab Aline begitu panik langsung membuat Ella terkejut.

__ADS_1


"Apa, calon suami untuk Elisa?"


__ADS_2