Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
18. Tunggu Hans!


__ADS_3

Aline garuk-garuk kepala sambil berdiri di dekat pilar tepatnya di lantai dua dan masih mengawasi pria asing yang berbicara pada Tn. Vian. Gadis muda berumur 17 tahun ini sibuk berpikir apa keputusan Elisa nantinya.


"Orangnya cakep juga sih, kalau gini pasti Kak Elisa mau,"


"Apalagi sepertinya masih muda, seusia dengan Sekretaris Hansel. Siapa nama pria ini?" gumam Aline kini melihat Ibunya keluar dari dapur membawa nampan dengan tiga cangkir teh bersama kue brownis yang enak.


"Eh, Tante tidak usah repot-repot segala," ucap pria itu sedikit tak enak disambut baik oleh Ny. Chelsi.


Ny. Chelsi tertawa kecil lalu meletakkannya di atas meja. "Kamu ini tidak usah malu-malu, lagian kamu tamu spesial hari ini. Kami senang Nak Jastin mau berkunjung ke rumah." Sambutan Ny. Chelsi hanya membuatnya tersenyum ramah.


"Terima kasih, Tante," balasnya tersenyum ramah juga. Ia bernama Georgest Jastin. Tuan muda kedua tampan yang punya mata biru indah sekaligus pengusaha besar dari keluarga Tuan Georgest. Usianya 27 tahun dan berhasil mengembangkan perusahaannya di luar Negeri. Pengusaha yang sukses dan berjaya sekarang. Memiliki ikatan sahabat baik pada Tuan Vian sejak dulu.


"Ahaha, Om ikut senang kau kembali ke kota ini." Tn. Vian ikut tertawa gembira di dekat Istrinya.


"Ya Om, hari ini aku juga senang bisa ada waktu untuk singgah menemui kalian dan Elisa. Jadi, apa Elisa ada Om?" tanya Jastin mencari-cari sosok yang dia tunggu dari tadi.


"Oh itu, putri Om lagi keluar. Kau tunggu saja, aku yakin dia pasti senang dengan kedatanganmu." Tn. Vian menepuk riang lengan Jastin. Lelaki ini hanya cengengesan saja.


"Silahkan, minum teh dan kuenya Nak Jastin," tawar Ny. Chelsi tersenyum.


"Hm, baik Tante." Jastin tersenyum dan mulai meminum teh.


"Oh ya, Jastin." Tn. Vian kembali ingin bicara.


"Ya, Om ada apa?" tanya Jastin meletakkan cangkir tehnya.


"Om sudah tau tujuan kamu ke sini, pasti ingin membicarakan Elisa kan?" tebak Tn. Vian terus terang.


Jastin dengan ramah mengiyakan. "Ya, Om. Aku ingin menemui Elisa sekaligus membicarakan itu." Jastin jadi grogi sekarang.

__ADS_1


"Hahaha, Om senang mendengarnya. Kau tidak usah kuatir, Om pasti akan setuju bila kau nikahi Elisa," ucap Tn. Vian membuatnya kini yakin.


"Jadi kapan orang tuamu ke sini? Om sudah lama ingin bertemu dengan teman lama Om, Ayahmu Tuan Georgest itu."


Jastin meneguk silivanya. Ia juga bingung kapan waktu baiknya, apalagi keluarganya terbilang manusia paling sibuk di dunia.


"Haha, Pah. Kamu jangan desak Jastin secepat itu. Kita biarkan dulu Jastin dan Elisa bangun hubungan baik. Urusan pernikahan dipikirkan nanti saja kalau mereka sama-sama sudah siap." Ny. Chelsi tertawa gemas di dekat Suaminya sambil melihat Jastin yang menunduk sedikit malu.


"Ah bagus juga, tapi lebih cepat itu lebih baik. Om akan tunggu kabar baiknya dari keluargamu." Tn. Vian mulai setuju. Ketiganya kembali mengobrol biasa-biasa saja sambil menunggu Elisa pulang.


Tapi tidak untuk Aline yang mulai gatal ingin menghubungi Ella lagi. Tapi ponselnya kehabisan daya hingga akhirnya gadis muda ini masuk ke dalam kamar segera dan mencas ponselnya.


Tak menunggu waktu lama, mobil Hansel sudah tiba di depan rumah Tuan Vian. Terlihat Hansel keluar dan membuka pintu untuk Elisa.


"Mari Nona," ucap Hansel mengulurkan tangan. Elisa dengan senang hati langsung menerimanya.


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya pamit dulu." Hansel tersenyum. Ia pun menutup pintu mobil lalu berbalik ingin ke kursi pengemudi.


Elisa menunduk belum masuk, ia mengepal tangan tak mau Hansel pergi dulu.


"Tidak, aku harus menahannya!" pikir Elisa buru-buru menahan lengan Hansel.


"Tunggu, Hans!" tahan Elisa menatapnya sedih.


"Ada apa, Nona?" tanya Hansel berhenti dan melihatnya heran. Apalagi genggaman Elisa sedikit kuat. Elisa menunduk lalu melirik sebuah mobil asing. Elisa tahu, pasti pemilik itu adalah calon suami yang akan dijodohkan untuknya.


"Aku-aku mau-"


"Mau apa, Nona?" tanya Hansel makin penasaran. Genggaman Elisa semakin kuat dan sedikit gemeteran.

__ADS_1


"Aku-aku mau kau tetap di sini, Hans." Elisa mulai memohon.


"Untuk apa, Nona?" tanya Hansel makin tak tahu menahu.


Elisa makin grogi dan greget. Ia merasa lelaki di depannya belum peka juga. Elisa mendekatinya, semakin dekat.


"Non Elisa baik-baik saja?" Hansel kembali bertanya.


"Apa kau-"


"Kau apa, Nona?"


"Apa kau menyukai seseorang, Hans?" Hansel seketika diam mematung mendengar pertanyaan Elisa.


"Hans, bisakah kau menjawabnya?" mohon Elisa tak sabar.


"Saya-" Hansel melepaskan genggaman Elisa lalu tersenyum.


"Semua orang pasti menyukai seseorang, dan begitu saya juga menyukai seorang wanita. Sekarang Nona masuklah, tidak baik Nona berdiri di sini apalagi cuaca malam begitu dingin." Kata Hansel dengan perhatian, ingin rasanya ia mengelus kepala wanita di depannya. Tapi Hansel tahu diri, ia hanya lelaki biasa dengan jabatan biasa-biasa saja tak seperti Elisa yang seorang putri dari pengusaha Tuan Vian yang sejabatan dengan Atasannya.


Hansel kembali berbalik ingin masuk ke mobil, tapi ditahan lagi oleh Elisa.


"Aku ingin tahu, siapa yang kau suka Hans?" tanya Elisa lagi.


"Maaf, Nona. Itu privasi saya." Hansel tersenyum dan mulai membuka pintu mobil. Elisa semakin menunduk, terpaan angin tidak akan membuatnya goyah.


"Hans, berhenti! Aku-aku sebenarnya menyukaimu!" ungkap Elisa serius menatap punggung Hansel. Sontak Hansel perlahan berbalik dan sangat terkejut mantan kekasih atasannya mengutarakan hal itu padanya. Rembulan yang indah di atas langit adalah saksi atas ungkapan hati Elisa.


"Nona, serius?"

__ADS_1


__ADS_2