Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
32. Lelaki Berengsek


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ella dan Aline sudah sampai di tempat tinggal Jastin. Keduanya turun dari mobil taksi dan mulai mengendap-endap mendekati bangunan yang menjulang tinggi.


"Kak, kau yakin ini tempat tinggal orang itu?" tanya Aline menatap sekeliling gedung apartemen. Ia nampak masih memakai pakaian siswa SMA dengan ransel di pundaknya.


"Menurut yang tertera di kartunya, ini nomor alamatnya," ucap Ella melihat kartu nama milik Jastin di tangannya.


"Wah, kalau begitu dia memang anak pengusaha. Dia saja tinggal di apartemen yang mahal ini," gumam Aline salut dengan tempat tinggal Jastin. Keduanya saling menatap tak sangka Jastin tinggal di apartemennya.


"Kalau begitu kita masuk ke dalam yuk, Kak," ajak Aline tak sabar untuk menyelidiki Jastin, ia mulai berjalan duluan dan meninggalkan Ella yag masih diam di tempatnya. Ella sepertinya ragu dan takut bila Jastin ada di dalam apartemennya sekarang.


"Kenapa diam saja, Kak?" tanya Aline kembali mendekatinya.


"Itu Al, bagaimana kalau Jastin ada di dalam? Kita bisa dicelakai olehnya, apalagi kita cuma berdua dan kita perempuan, tak ada seorang pria yang bisa menjaga kita," jawab Ella gelisah.


"Aduh Kak, mana ada lelaki itu di dalam apartemennya, ini masih jam kerja untuk para pengusaha seperti dia. Sekarang kita masuk saja, dari pada kelamaan berdiri di sini akan membuang waktu kita," jelas Aline tak percaya Jastin ada di apartemennya sekarang.


"Ya sudah deh, mungkin bisa juga. Lagian Devan juga sibuk di jam sekarang di kantornya." Ella mengerti dan berjalan bersama Aline. Keduanya masuk melewati pintu utama. Aline nampak memakai topi untuk menutupi sebagian wajahnya dan Ella menutupi bagian mulutnya dengan syall. Keduanya berhasil melewati petugas keamanan. Tujuan Ella dan Aline berjalan ke arah lift.


"Kak, kau tahu di mana letak nomor apartemennnya?" tanya Aline pada Ella di sampingnya yang diam saja.


Ella sebenarnya lagi menahan ketakutannya, takut bila Jastin memang masih ada di apartemennya.


"Kak!" panggil Aline kembali.


Ella tersentak kembali sadar.


"Kenapa, Al?" tanya Ella menatapnya.


"Kakak kok diam terus sih, aku kan jadi kesal!" ketus Aline tak terima diabaikan barusan.


"Ya maaf, tadi ada hal lain yang aku pikirkan. Jadi kau mau tanya apa?" tanya Ella mulai fokus dalam tujuannya ini.


"Ituloh, kau yakin lantai yang kita tujuh sudah benar?" Tunjuk Aline pada angka yang tertera di dekat pintu lift.


"Ya, ini sudah benar," jawab Ella menatap bergantian kartu Jastin dan angka tujuan lift.


"Oh, bagus deh. Sekarang kita harus fokus Kak, jangan pikirkan hal lain dulu. Aku ini deg-degan tau datang ke tempat asing ini." Kata Aline manyun dengan jantungnya yang deg-degan.

__ADS_1


"Ya maaf, aku juga deg-degan nih bukan cuma kamu saja," balas Ella ikutan manyun. Saat lift berhenti, keduanya segera keluar dan mencari angka plat milik Jastin. Namun saat sibuk mencari, tak sangka dua mata Ella berhasil melihat Jastin keluar dari salah satu kamar. Sontak Ella menarik Aline bersembunyi.


"Loh, ada apa Kak?" tanya Aline bersembunyi di balik vas bunga yang lumayan besar dan dapat menutup diri mereka.


"Sssht, Jastin. Dia lagi ke arah sini, sepertinya ingin ke kantornya," jawab Ella berbisik-bisik. Keduanya kembali was-was, mereka sungguh harus waspada terhadap satu lelaki ini. Apalagi Jastin pria yang berani terhadap wanita. Mereka takut ditangkap berdua olehnya.


Tap!


Kaki Jastin berhenti di dekat vas bunga. Ia merasa ada yang aneh. Hingga akhirnya berniat menoleh ke vas bunga. Ella dan Aline cuma bisa mendekatkan diri mereka sambil menutup mata. Posisi mereka sungguh dalam bahaya.


Namun saat Jastin ingin menoleh, ponselnya berdering. Jastin pun kembali berjalan nampak bicara pada seseorang.


"Baiklah, siapkan saja di atas mejaku. Aku sekarang akan kembali."


Suara Jastin hilang setelah masuk ke dalam lift. Ella dan Aline keluar dari persembunyian mereka. Keduanya nampak mengelus dada merasa lega.


"Syukurlah, tadi itu sungguh bikin aku tegang aku saja. Dia dari dekat sedikit menakutkan, iiih," ngeri Aline merinding di tempatnya.


"Ya, mumpung dia keluar kita segera ke dalam apartemennya!" ucap Ella tak sabar untuk mencari bukti rekaman itu. Ia menarik tangan Adiknya langsung.


"Apa passwordnya?" ucap keduanya lagi dan saling menatap kebingunan.


"Aduh, percuma dong kita ke sini kalau tidak bisa masuk!" kesal Aline pada Ella.


"Ya tenang dulu, kita pikirkan passwordnya sekarang. Waktu kita cuma tinggal dikit nih, takutnya Jastin kembali ke sini." Kata Ella menenangkan Aline. Kedua pun menghela nafas dan mulai mondar-mandir memikirkan passwordnya.


Aline seketika punya ide, ia segera bicara pada Ella.


"Kak, mana kartu Jastin?" minta Aline mengulurkan tangannya.


"Oh ini, kamu mau apa?" tanya Ella memberikannya. Aline mengedipkan mata saja.


"Serahkan padaku saja, Kak. Aku pasti bisa memecahkan passwordnya." Aline menunduk mulai mencoba asal-asalan. Namun tetap saja salah. Ella tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. Tetapi tawa kecilnya berhenti saat mendengar pintu terbuka.


Krek!


Benar, Aline berhasil memecahkan passwordnya cuma bermodal kartu Jastin saja.

__ADS_1


"Loh, bagaimana kamu bisa membukanya, Al?" kaget Ella sungguh tak percaya.


Aline tersenyum kemenangan dan mulai memuji dirinya sendiri.


"Ya, dong. Aku tahu cara ini dari anak majikanku, dia pernah bilang trik-trik apa yang bisa membongkar password orang."


Ella diam terpaku mendengarnya, sungguh luar biasa.


"Kalau begini, kamu bisa masuk kapan saja ke kamar Om-om hidung belakang dong, Al." Ella sempat-sempatnya mengejek Aline.


"Ih, apa sih! Tidak lucu!" ketus Aline segera membuka lebar aparteman itu. Sontak keduanya tercengang di tempat.


"Eh buset, apartemennya cakep banget. Semua isinya benda-benda mewah," ucap Aline perlahan maju dan menatap sekeliling apartemennya.


Ella buru-buru menutup pintu apartemen itu, ia segera mencari setiap laci meja yang ada di depan matanya.


"Aline! Kamu ini bantu aku dong," pinta Ella melihat Aline berjalan sambil melihat beberapa lukisan indah.


"Cari apa?" tanya Aline seakan lupa tujuannya.


"Aduh, cari rekaman!" kata Ella menjawabnya dengan kesal.


"Lah, rekaman apa?" gumam Aline baru tahu tujuannya. Ella berhenti membongkar isi laci meja.


"Itu rekaman misterius, kamu bantu cari dong!" pinta Ella kembali dan mengabaikan ucapan Aline.


"Ya ya, ini juga aku cari nih." Aline akhirnya patuh dan mulai mencari juga. Di dalam apartemen luas itu cuma mereka berdua yang sibuk membongkar isi laci meja dan lainnya.


"Huft, sepertinya di ruangan ini kosong," keluh Ella mengusap keringatnya yang bercucuran. Ia mulai capek mencari rekaman itu.


"Aline!" panggil Ella pada adiknya yang sibuk di dapur.


"Oi, Aline! Jangan makanlah, sini bantu aku cari rekaman!" ketus Ella kesal melihat Aline malah enak-enakkan makan es krim.


"Ya bentar dulu lah kak, ini aku lagi makan. Aku belum makan siang tau, mumpung es krimnya enak nih." Aline menolak. Seketika itupun Ella mendengus kesal, merasa tak ada gunannya Aline dibawa bersamanya.


"Ya sudah deh, aku cari ke kamar Jastin. Siapa tau dia simpan rekamannya di situ." Ella pergi, ia masuk ke dalam kamar pribadi Jastin. Ella kembali tercengang, matanya membulat melihat foto beberapa wanita bugil di dalam laci yang berhasil dia buka. Ini hal yang sangat mengejutkan baginya, ternyata Jastin memang lelaki brensek.

__ADS_1


__ADS_2