Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
83. Begitulah Sayang


__ADS_3

Sesampainya di rumah Tuan Vian. Ella yang baru saja mau masuk malah berhenti setelah melihat Devan yang keluar. Keduanya saling berpapasan. Namun sekarang Devan terlihat kesal.


"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" tanya Devan mengangkat alis merasa heran.


"Hehehe, aku ingin mengunjungi Kak Hansel. Tapi aku maunya pergi bareng kamu." Ella terpaksa cari alasan lain.


"Oh, ya sudah kemarilah. Biar aku yang mengantarmu," ucap Devan menepuk pelan kepala Ella kemudian berjalan duluan ke arah mobil, ia nampak masih dengan ekspresi kesalnya terhadap Tn. Vian.


"Mama Nyeyek nda liyak?" Vina menunjuk ke arah pintu. Gadis cilik ini ingin bertemu dengan Ny. Chelsi. Namun Ella yang tahu keinginan Vina segera menolak.


"Nanti kita ketemu sama Nenek, tapi sebelum itu kita sekarang ke rumah sakit jenguk Paman Hansel." Akhirnya Vina mengerti setelah dibujuk oleh Ella. Sementara Vino diam-diam tertawa melihat keinginan adiknya tidak dituruti.


Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil Devan. Diam-diam Ella mencuri pandangan, ia masih penasaran dengan ekspresi suaminya. Karena kebelet pengen tahu hasil perdebatan antara Devan dan Tn. Vian, akhirnya Ella bertanya di tengah-tengah perjalanan ke rumah sakit.


"Honey," ucap Ella gugup sambil melihat Devan yang fokus mengemudi.

__ADS_1


"Ya, ada apa sayang?" tanya Devan sesekali melihat istrinya.


"Em... itu, bagaimana hasilnya? Kamu sudah bicara sama Papa? Kamu sudah melepaskan Hansel?" Ella bertanya-tanya saking keponya.


Dua detik masih hening, lima detik Devan belum bicara, akhirnya satu menit berlalu Devan menjawab dengan tenang.


"Huft, sepertinya memang harus merelakan Sekretaris Hansel."


Spontan kening Ella mengerut setelah mendengarnya. Rasanya agak aneh ucapan Devan. Ella pun bertanya lagi.


"Ya begitulah sayang, aku tidak bisa membantahnya. Sebagai keponakan dan menantu yang baik, aku cuma bisa menurutinya untuk melepaskan sekretaris Hansel," ucap Devan menghela nafas berat. Ella yang habis mendengarnya ikut menghela nafas kemudian tertawa kecil. Devan mengerutkan kening mendengar tawa Ella yang terdengar senang.


"Ada apa denganmu?" tanya Devan berpikir Ella seperti orang yang tiba-tiba kesurupan. Tak ada angin, tak ada yang lucu tapi istrinya malah tertawa.


"Pfft, tidak ada apa-apa. Aku cuma senang mendengarnya, Honey," jawab Ella tersenyum manis.

__ADS_1


"Baguslah, kalau kamu senang," ucap Devan balas tersenyum sambil mengelus kepala Ella kemudian melihat dua anaknya yang duduk manis di belakang dari kaca spion.


"Oh ya honey, mungkin setelah keluar dari rumah sakit, Kak Hans bisa bekerja sama denganmu, kan?" tanya Ella lagi. Kali ini Devan yang tertawa. Ella mengangkat alisnya merasa heran.


"Pfft, ahaha... itu tidak bisa,"


"Loh, kenapa tidak bisa?" tanya Ella benar-benar polos, tidak tahu sama sekali tentang bisnis.


"Itu karena kami beda jalur." Ella terdiam mendengar jawaban Devan. Ia makin terheran-heran mendapatkan dua kata yang agak aneh. "Beda jalur, apa maksudnya ini?" gumam Ella bertanya pada dirinya sendiri.


Setelah sampai ke rumah sakit, Devan dan Ella serta baby twins masuk ke dalam rumah sakit. Keempatnya berjalan ke ruangan Hansel. Terlihat baby twins sangat menggemaskan berjalan di tengah-tengah Ella dan Devan yang tertawa gemas dengan cara berjalan Vina yang kegirangan.


Beda dengan Vino yang tiba-tiba ketakutan. Hingga Ella jadi bingung dengan anaknya yang satu ini, tapi Devan segera menggenggam tangan kecil Vino. Sehingga Vino kembali tenang seperti anak pada umumnya. Ia tahu apa yang ditakuti oleh Vino.


Kepekaan yang diturunkan dari Devan membuat bocah cilik ini jadi ketakutan di setiap langkahnya. Inilah takdir Vino sebagai anak pertama yang lahir mempunyai kemampuan yang telah turun temurun di keluarga Welfin. Bocah yang sama dengan Devan yang dulu peka dapat melihat m@khluk . Namun sekarang Devan sudah menutup kemampuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2