
"Bunda!" Marsya berteriak girang. Anak kecil ini sudah bangun pagi-pagi dan menghampiri Ella yang lagi menyiapkan sarapan.
"Eh, Marsya sudah bangun ya? Sudah mandi juga?" tanya Ella sambil tersenyum.
"Iya dong, Bunda. Hari ini adalah hari spesial, jadi Marsya bangun pagi-pagi. Untung saja adek Vina dan Vino tidak ikut bangun, jadi tidak ganggu Bunda sekarang." Marsya sangat bahagia. Ia berputar-putar di depan Ella agar aroma wangi dirinya bisa menyebar ke seluruh ruangan.
"Ahaha, Marsya selalu ceria ya. Tidak pernah berubah," tawa Ella merasa geli sambil mengelus kepala Marsya.
"Ya dong, Marsya itu mirip sama Mommy, Bunda. Hehehe..." balas Marsya tertawa sambil tersipu merasa enak kepalanya dielus lembut.
"Oh ya, Bunda tau tidak?" ucap Marsya duduk di kursi.
"Hm, tau apa?" tanya Ella meletakkan piring untuk menyiapkan sarapan pagi sambil melihat jam sudah pukul 06.42 pagi.
"Hari ini adalah hari ulang tahun Mommy Dean. Marsya ingat harus kasih ucapan selamat untuk Mommy nanti malam. Jadi Bunda harus kasih tahu Marsya kalau lupa ya," jawab Marsya berbunga-bunga dengan nasi goreng yang lezat di atas piringnya.
"Eh, ulang tahun?" pikir Ella tiba-tiba ingat sesuatu.
"Astaga! Aku hampir lupa, ini kan hari ulang tahun suamiku juga. Untung saja ada Marsya yang kasih tahu aku, anak ini punya daya ingat yang tinggi." Ella bergumam merasa lega.
"Wah kalau begitu, Marsya nanti mau bantu Bunda, nggak?" lanjut Ella bertanya.
"Hm, bantu apa Bunda?"
"Hari ini kan ulang tahun ayahnya Vino dan Vina juga, jadi Bunda pengen bikin kue ulang tahun untuk Om Devan dan untuk Mommy Dean," jelas Ella menawarkan usulan.
"Wah asiik! Marsya mau Bunda, nanti kita bikin kue yang sangat besar! Hihihi...." seru Marsya bertingkah imut.
"Ahaha, kamu ini anak kecil yang paling ceria," tawa Ella merasa geli.
"Iya dong, kata Mommy ... kita harus ceria supaya banyak orang yang suka pada kita, Bunda."
Ella sontak terdiam setelah mendengarnya. Ia ingat di masa kecilnya, ia begitu ceria. Tapi Ibu tirinya tidak pernah menyukainya sama sekali.
"Huft, semoga engkau tenang di sana Ibu," gumam Ella ingat Bu Kalista.
"Kalau begitu, Bunda ke kamar dulu ya, Marsya,"
"Mau apa ke kamar Bunda?"
"Em, mau panggil adikmu dan Om kamu. Sekarang Marsya duduk manis tunggu kita sarapan pagi di sini ya, cantik,"
"Hm, baik Bunda." Marsya tersenyum dan patuh.
Ella pun pergi untuk memanggil Devan. Namun setelah membuka pintu dan masuk, ia tak menemukan suaminya.
"Eh, tadi waktu keluar masih tidur sini. Kemana dia sekarang?" ucap Ella mencari-cari Devan.
__ADS_1
"Pasti dia sudah bangun terus ke kamar anak-anak." Ella bergumam lalu ingin keluar. Namun tiba-tiba perut buncitnya diraih oleh tangan seseorang.
"Kyaaaaa!" jerit Ella terperanjak segera berbalik.
"Pagi istriku," sahut Devan tersenyum. Ekspresi Ella langsung berubah masam. Ia kesal hampir jantungan dan mulai mengoceh.
"Ish, honey! Kenapa usil banget sih! Kalau aku lahiran mendadak di sini, nanti aku bisa-"
"Shhht," desis Devan langsung meletakkan jarinya ke bibir Ella hingga wanita hamil ini terdiam dan tersipu.
"Aduh, istriku kalau lagi hamil memang selalu cerewet. Hanya dikejutkan sedikit, langsung marah-marah seperti singa. Tidak ada imut-imutnya sama sekali." Devan mencolek pipinya sambil mengelus perut Ella, ia merasa gemas dengan istrinya sendiri. Tapi tidak untuk Ella yang makin bermuka masam.
"Hmp! Ya sudah, jangan melirikku kalau tidak ada imut-imutnya," cetus Ella berbalik.
"Eh, maksudnya? Aku bisa melirik wanita lain di luar sana?" ucap Devan membuat Ella tersentak.
"Ish, honey! Bikin jengkel! Sekarang lebih kamu turun sarapan pagi. Aku mau ke kamar anak-anak untuk bangunkan mereka." Ella pergi dengan kekesalan.
"Eh, sayang! Aku tadi bercanda kok, kamu jangan simpan di hati dong," Devan segera berjalan di samping Ella.
"Tau ah," cuek Ella tak meliriknya.
"Ya ngambek. Jangan ngambek dong sayang, aku kan barusan cuma bercanda doang," sekali lagi memohon pada istrinya. Tapi Ella sudah dalam mode cueknya.
"Oh ya sayang, hari ini kamu ingat nggak?" lanjut Devan bicara lagi dengan ekspresi berbunga-bunga.
"Ingat apa?" tanya Ella masih cuek.
"Hm, hari apa ya?" ucap Ella pura-pura berpikir dan berhenti sejenak.
"Hayo ini hari apa, sayang?" tanya Devan lagi.
"Ah, aku ingat!"
"Wah, ingat apa sayang?" tanya Devan semakin happy.
"Sepertinya hari ini adalah hari baby twins harus belajar bernyanyi. Sekarang aku harus cepat bangunkan mereka dan sarapan pagi bersama Marsya." Ella masuk ke dalam kamar dan sekali lagi mengabaikan Devan yang berdiri mematung sendirian.
"Oh tidak, engkau menusuk hatiku ini Ella. Bisa-bisanya Istriku lupa hari spesialku, aku pikir kamu akan ucapkan selamat ulang tahun untukku lalu memberiku ciuman pagi. Tapi... Oh ternyata hari ini kau hanya berikan aku tusukan yang amat menyakitkan." Devan melow sambil menggigit bibir bawahnya, ia pun menangis sudah dilupakan dan diabaikan oleh Ella pagi ini. Merasa istrinya sedang jahat padanya.
"Hiks, bisa-bisanya dia lupa hari ulang tahunku."
Namun seketika aksi melownya berhenti setelah mendengar tawa anak kecil dari belakang.
"Ahahaha, Om Devan lagi apa di sini? Kok bisa nangis dan cakar-cakar tembok?"
"Om lagi main drama ya? Ahahaa...."
__ADS_1
"Om Devan aktingnya jelek sekali, tidak seperti Mommy yang pintar berakting. Om Devan tidak cocok jadi aktor."
Marsya tertawa terbahak-bahak sambil mengejek tingkah Devan. Seketika itulah tatapan Devan menjadi sinis. Marsya tidak takut, malah kembali tertawa.
"Ahahaha, Om matanya kalau sipit tidak ganteng. Daddy lebih ganteng dari pada Om Devan, ahaha...."
Sontak Devan mengepal tangan, ia merasa kesal mendengar tawa Marsya yang mirip dengan saudara kembarnya, Dean.
"Ish, anak ini... punya sifat seperti Ibunya. Walau anak kecil imut dan manis, tapi sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Bahkan beraninya membandingkan aku dengan kedua orang tuanya. Apa dia tidak takut sama sekali? Aku bisa saja melemparnya ke laut!" Devan tak henti-hentinya menggerutu dalam hati. Namun kekesalannya sirna setelah dipeluk oleh keponakannya dan sebuah ucapan terdengar di telinganya.
Pluk!
"Happy bedday... Om,"
Marsya mendongak ke atas. Walau ucapan itu kurang jelas, tapi Devan tahu artinya itu hingga ia terharu. Devan sontak jatuh berlutut. Memandangi Marsya dengan mata berkaca-kaca.
"Marsya, tadi itu untuk Om?" tanya Devan mengusap matanya. Ia sangat senang dapat ucapan ultah pertama dari keponakannya.
"Ahahaa, Om Devan jangan nangis dong. Om seperti anak kecil, tidak cocok menangis. Lagi pula ucapan tadi itu bukan untuk Om,"
Deg!
Rasa terharu Devan sirna lagi. "Maksudnya?" tanya Devan terkejut.
"Pfft, itu untuk Mommy nanti malam."
Jeddar! Devan menunduk, ia seperti merasa kecewa sedang dipermainkan. Tidak seperti Marsya yang tertawa cekikikan dan kemudian berbisik.
"Tadi Marsya bercanda kok, selamat ulang tahun ya Om,"
Chup!
Devan terbelalak, ia pun melihat Marsya yang tersenyum ramah lalu berlari dan teriak sambil tertawa.
"Ahaha, Om Devan tukang nangis."
"Ish, Marsya! Beraninya kamu bilang begitu!" teriak Devan berdiri lalu mengejarnya ke ruang dapur.
Sedangkan Ella yang dari tadi menguping di dekat pintu ikut tertawa, ia merasa geli dengan tingkah Devan dan Marsya.
"Pfft, padahal ucapan ultah pertama itu bisikan dariku. Tapi dia mengira itu dari Marsya. Untung saja Marsya tahu kedipan mata untuk bekerja sama. Mungkin aku harus pura-pura cuek padanya sampai malam nanti. Aku jadi penasaran, bagaimana tingkahnya nanti." Ella tak bisa berhenti tertawa dalam hati.
"Mama, napa cawa?" tanya Vina yang sudah berdiri di dekatnya dan disusul oleh Vino.
"Ahaha, tidak ada apa-apa sayang. Sekarang kita turun sarapan sama Papa dan kakak sepupu kalian," ajak Ella menggandeng tangan mungil kedua anaknya.
"Yah ... Mama." Patuh Vino dan Vina yang tersenyum manis. Tidak seperti Vino yang bermuka datar.
__ADS_1
Benar, setelah sampai di meja makan. Ella tak bicara satu kata pun pada Devan, ini membuat Devan jadi makin galau.
.