
Elisa terbelalak melihat rumah Hansel yang lumayan besar. Ia segera menoleh ke Hansel yang berdiri di dekatnya. Hansel tersenyum tahu pasti Elisa terkejut.
"Hans, ini rumah kita?" tanya Elisa menunjuknya. Hansel memeluk Elisa membuat wanita ini tersentak tiba-tiba Hansel berani merangkul perutnya.
"Ya Sya, ini rumah kita sementara." Hansel mengelus kepala Elisa. "Sementara? Jadi kita akan pindah lagi gitu?" tanya Elisa tidak paham.
"Benar sekali, suatu saat nanti kita akan pindah ke rumah paling besar dari ini. Sekarang, jangan terlalu pikirkan. Lebih baik kita masuk dan istirahat." Hansel tersenyum sembari menarik tangan Elisa. Menuntun istrinya masuk ke rumah besar itu. Cuma mereka berdua saja.
Tapi ucapan Hansel membuat Elisa bertanya-tanya dalam hati. "Kenapa aku merasa kalau ada yang aneh?" pikir Elisa menurut saja dituntun masuk. "Wow," Elisa kembali melongo dengan isi rumah itu yang mempunyai perabotan mewah.
"Ekhm, ada apa Sya? Kenapa kamu cuma berdiri di situ?" tanya Hansel mendehem sembari duduk di sofa. Bersandar dengan santai sambil melihat Elisa yang berdiri seorang di dekat pintu. Elisa pun bergegas duduk di dekat Hansel kemudian tersenyum.
"Hehehe, itu. Ternyata kamu pria yang pekerja keras, aku jadi kagum padamu yang bisa membangun rumah sebesar ini," cengir Elisa garuk-garuk kepala. Hansel menahan tawa mendengarnya.
"Ya ... jadi apa kamu ada rasa menyesal setelah menikah denganku?" tanya Hansel mendekatinya.
"Eh sama sekali tidak ada," jawab Elisa mundur sedikit. Hansel makin mendekatinya lalu meraih dagu Elisa kemudian bertanya lagi.
"Jika aku miskin, apa kamu menyesal?" tanya Hansel. Elisa dengan cepat menjawab : "Sama sekali tidak!"
"Kalau aku cacat, apa kamu akan menjauhiku?" tanya Hansel ingin mengetes Elisa.
Elisa diam sejenak kemudian menjawab dengan cepat.
"Tentu saja tidak! Aku akan setia merawatmu dengan senang hati." Hansel tertawa kecil mendengarnya kemudian bertanya lagi. Kali ini, Elisa diam begitu lama. "Kalau seandainya aku cuma anak angkat, apa kamu akan meninggalkan aku?"
"...."
Elisa menunduk, ia sedang bimbang sekarang. Ia amat ingin beri tahu Hansel jika suaminya ini bernama Maikeul. Seorang penerus Mafia dari inggris. Melihat Elisa yang menunduk, Hansel pun dengan cepat merangkul pinggangnya hingga Elisa jatuh ke dekapannya.
"Jangan pikirkan itu, lupakan ucapanku barusan. Aku cuma bercanda," ucap Hansel menyentuh hidung mancung Elisa dengan jari telunjuknya. Elisa tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.
"Hm, aku tahu kok. Kalau begitu aku ke dapur dulu, masak untuk makan malam." Elisa berdiri sembari mengambil bingkisan di atas meja yang dia sempat beli saat berhenti di sebuah supermarket. Hansel menengok ke Elisa yang berjalan menundukkan kepala. Tiba-tiba ia tersenyum miring, senyum yang misterius.
"Huft, gimana nih... aku belum mahir bikin makanan. Apa aku harus pesan saja di luar?" pikir Elisa sambil melihat bahan-bahan di atas meja. Elisa takut masakannya tidak disukai oleh Hansel.
"Aaaah" desah Elisa tiba-tiba dirangkul dari belakang. Ia sangat kaget pada Hansel yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Hans, kamu ini bikin aku kaget saja. Untung jantung aku sudah sehat, kalau tidak aku pasti sudah kena serangan jantung!" cetus Elisa melihat tangan Hansel yang merangkul perutnya. Hansel menyandarkan dagunya ke bahu Elisa, ia semakin erat memeluk istrinya. Suasana ini makin membuat Elisa berdebar-debar.
"Aku tak bisa jauh darimu, Sya," bisik Hansel ke telinga Elisa membuat Elisa jadi merona.
"Eh, kan kita satu rumah. Untuk apa kamu harus begini? Sekarang kamu pergilah istirahat, aku akan masak untukmu." Elisa melepaskan tangan Hansel.
"Kalau begitu temani aku tidur," mohon Hansel dengan muka menyedihkan. Elisa yang melihatnya tak tega, dan akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah, kalau kamu sudah tidur aku akan bangunkan kamu kalau makan malam sudah selesai aku buat." Elisa tersenyum. Seketika Hansel mengangkatnya.
"Astaga, Hans! Kamu bikin aku hampir jantungan lagi!" kesal Elisa dibawa ke kamar.
"Pfft, aku hanya tangan tak ingin kamu lelah menaiki tangga," tawa Hansel mulai menaiki anak tangga.
"Tapi Hans, kamu baru saja sembuh. Aku tidak mau kamu masuk rumah sakit." Elisa menundukkan kepala. Tiba-tiba kepalanya dikecup membuatnya tersipu.
"Bagiku, kamu sangat ringan dan kamu sangat berharga seperti berlian. Aku tidak mau dirimu tergores sedikitpun." Hansel merayunya hingga Elisa mencubit gemas lengan Hansel. Dari ucapannya, Hansel takut Elisa akan jatuh dari tangga setelah capek bepergian ke rumah baru mereka.
Setelah sampai di depan kamar, Hansel menurunkan Elisa. Wanita ini tiba-tiba merinding untuk masuk ke dalam kamar.
"Em Hans, aku lebih baik turun ke bawah saja. Kamu tidur duluan, nanti aku naik lagi bangunin kamu," ucap Elisa merasa ngeri masuk ke kamar berduaan dengan Hansel. Pikirannya mulai liar tertuju pada malam pertama.
"Kamu temani aku sampai aku tertidur, aku takut kamu akan pergi dariku, Sya," ucap Hansel duduk di tepi ranjang. Elisa pun ikut duduk di samping Hansel.
"Ba-baiklah, kalau begitu kamu tidurlah. Aku akan tetap di sini mememanimu," kata Elisa tersenyum. Hansel pun berbaring dan menyelimuti dirinya. Ia memejamkan mata sambil menggenggam tangan kanan Elisa. Nampak Elisa setia duduk di samping Hansel.
Karena merasa jenuh tak melakukan apa-apa, Elisa pun membuka ponselnya. Setelah menyalakan data, seketika sebuah notif muncul di layar ponselnya. Sebuah pesan dari app Wechat.
"Nyonya Jessy?" gumam Elisa dalam hati. Ia pun melirik Hansel kemudian ingin membukanya.
Ny. Jessy : Elisa, bagaimana kabarmu hari ini? Apa Maikeul baik-baik saja di situ?
Elisa : Ya, Bibi. Dia sudah sembuh dan hari ini keluar dari rumah sakit. Sekarang dia sedang tidur di sampingku.
Ting!
Ny. Jessy : Syukurlah, Bibi senang mengetahuinya. Tak akan lama lagi Bibi akan kembali untuk melihat kalian.
__ADS_1
Elisa sontak melepaskan genggaman Hansel. Dia sangat terkejut Ny. Jessy akan kembali dari inggris. Saat ingin membalasnya, tiba-tiba pesan tak dapat dikirim.
"Astaga, aku lupa mengisi vocher dataku. Ini gara-gara aku keasikan menonton film di Youtube kemarin. Hais...." Elisa mendesis segera menengok Hansel yang sudah tertidur. Elisa pun merogoh saku celana Hansel. Ia mengambil ponsel Hansel yang diisi vocher kemarin, ia pun menekan password, namun Elisa tidak tahu pssword ponsel Hansel.
"Aduh, apa kata sandinya? Kenapa Hans malah menggantinya menjadi password huruf? Kemarin dia pakai sandi angka deh," desis Elisa melirik Hansel.
"Hans," Elisa terpaksa membangunkan Hansel.
"Hm, ada apa Sya?" lirih Hansel melihatnya.
"Itu... apa password HP kamu?" tanya Elisa menunjuk ponsel milik Hansel.
Hansel yang setengah mengantuk pun menjawab : "Peluk aku." Reflek, Elisa mengangkat alisnya. "Ha? Maksudnya aku harus peluk kamu dulu?" tanya Elisa tak mengerti. Hansel pun melirik Elisa kemudian berpikir sejenak. "Hm," Hansel bergumam sembari tersenyum tipis.
"Ya, kamu peluk aku dulu. Setelah itu passwordnya akan terbuka."
"Wow, Hp kamu lebih canggih daripada Hp aku ya. Cuma tinggal peluk kamu langsung buka password," ucap Elisa nampak percaya.
"Ya mungkin, sekarang kamu mau peluk aku atau tidak?" tanya Hansel meliriknya lagi. Elisa pun melihat ponselnya, ia ingin sekali membalas Ny. Jessy,dia pasti sekarang menunggu balasan darinya.
"Hm, baiklah." Elisa pun berbaring dan dengan gugup mengangkat tangannya. Kini hati berdebar-debar, ia pun segera memeluk Hansel. Mendekap tubuh Hansel ke pelukannya dan tak lupa menyandarkan sedikit kepalanya ke dada Hansel.
"Sekarang apa passwordnya sudah bisa terbuka?" tanya Elisa mendongak melihat Hansel.
"Peluk aku selama lima menit," jawab Hansel memejamkan mata merasakan kehangatan Elisa dan juga pastinya oppai gemoy Elisa.
"Ba-baiklah," ucap Elisa memeluk Hansel sedikit erat. Ia juga mulai nyaman.
"Hans, apa kata sandinya?" tanya Elisa sudah memeluk Hansel selama lima menit. Tapi Hansel rupanya tidur beneran.
"Lah, malah tidur sungguhan. Sekarang, kata sandinya apa dong?" pikir Elisa masih berbaring di samping Hansel sambil melihat ponsel Hansel yang masih terkunci.
"Ish, dia bohong! Awas saja nanti aku kasih pelajaran!" Namun niat itu diurungkan setelah ia dipeluk oleh Hansel.
"Tidurlah, Sya. Aku ingin kamu selalu berada di sampingku," bisik Hansel mencium kepala Elisa dengan lembut.
Elisa sontak tersipu dan menurut saja. "Ba-baiklah." Hatinya kembali berdebar-debar takut untuk melewati malam ini. Pikirannya kembali teralih pada malam pertamanya.
__ADS_1
"Aduuh... kenapa malah makin deg-degan sih!" desis Elisa dalam hati tak bisa tidur dipeluk oleh Hansel. Meski begitu, ia perlahan memejamkan mata dan tak mendengar pesan baru masuk ke ponselnya dari Ny. Jessy. Pesan dari Inggris.