
Elisa duduk kembali, menunduk kemudian mengusap air matanya. Menepuk sedikit dadanya agar dapat tenang, tapi mimpinya tadi sangat menakutkan.
"Tidak perlu terlalu sedih, menantu Mama akan cepat sembuh. Kamu jangan terlalu pikirkan,"
"Oh ya, Mama tadi membeli makanan untukmu. Kamu pasti belum makan, sekarang makanlah."
Ny. Chelsi duduk di sofa. Meletakkan kotak nasi yang dipesan dari restoran. Elisa melihat Hansel kemudian berdiri duduk di dekat Ibunya, ia melihat di atas meja tak ada piring sama sekali.
"Sekarang makanlah, biarkan Mama yang jaga." Ny. Chelsi menyentuh tangan Elisa kemudian melihat Elisa yang memandang kotak nasi di depannya. Berbagai lauk yang tersedia, tapi Elisa merasa tidak berselera untuk memakannya.
Elisa menoleh ke Hansel lalu mengambil sendok. Satu demi satu berhasil dia makan, walau terlihat enak tapi dimulut Elisa semuanya terasa hambar. Ny. Chelsi membuang nafas berat melihatnya seperti itu.
Selesai makan, Elisa kembali duduk di kursi samping brankar Hansel. Elisa tidak bicara sama sekali, dia memandang Hansel dengan tatapan kosong.
"Sekarang Mama mau pulang dulu, kalau ada apa-apa tinggal hubungi Mama, kamu jangan terus sedih. Mama yakin Hansel akan sembuh tidak seperti di dalam mimpimu," hibur Ny. Chelsi berdiri di dekat Elisa.
"Ya, Mah. Maaf sudah buat Mama cemas tadi." Elisa menunduk setelah dinasehati. Ny. Chelsi tersenyum lega. Saat mau keluar, Ny. Chelsi berpapasan dengan suaminya, Tn. Vian dengan pengacara.
"Loh, Papa kenapa ke sini?" tanya Ny. Chelsi tak jadi pergi.
"Ini loh, Mah. Papa mau kasih tahu Elisa soal urusan kantor. Sekarang waktunya perusahaan diurus oleh Hansel, tapi karena Hansel belum siuman, Papa mau usulkan Elisa untuk mengurus sementara." Tn. Vian menjelaskan sembari masuk melihat Elisa dan Hansel. Tn. Vian merasa kasihan melihat pasangan ini.
"Elisa," panggil Tn. Vian mendekatinya diikuti Ny. Chelsi dan pengacara. Elisa menoleh dengan tatapan datar, namun seketika terkejut melihat pengacara ayahnya.
"Papa, ada apa ini? Kenapa bawa pengacara? Papa mau aku sama Hansel bercerai?" tanya Elisa menebak asalan.
"Eh, bukan begitu. Kamu jangan salah paham dulu, Papa ke sini mau kamu urus kantor Papa."
Elisa terkejut mendengarnya, begitupun seorang wanita yang baru sampai di pintu depan. Bu Naina segera masuk setelah mendengar penolakan Elisa.
"Aku tidak bisa, Pah. Aku mau di sini menemani suamiku, lagian-" ucap Elisa terputus akibat Bu Naina.
"Tunggu dulu," sahut Bu Naina berdiri di antara mereka. Setelah melihatnya, Elisa seakan menatap benci pada Bu Naina yang tiba-tiba bersikap baik padanya.
__ADS_1
"Elisa, jangan menolak usulan Papa kamu. Biarkan Ibu yang jaga Hansel, kamu ini kan putri dari keluarga Marchela. Lebih baik kamu bantu Tuan Vian mengurus perusahaannya," ucap Bu Naina tersenyum ramah pada ketiga orang di depannya.
"Ck, apa yang dia inginkan lagi?" pikir Elisa berdecak dalam hati.
"Benar itu Elisa, jika saja Hansel tidak terbaring di sini, mungkin perusahaan bisa diurus olehnya," ucap Tn. Vian membuat Bu Naina terkejut. Tentu ini yang ditunggu-tunggu Bu Naina, tapi sayangnya Hansel belum kunjung sadar hingga membuat Bu Naina amat kesal pada Elisa.
"Sekarang Papa sudah tua, Papa tidak bisa terus-menerus mengurus perusahaan Papa. Apalagi Papa tidak terlalu banyak memberikan waktu bersama pada Ibumu, sekarang harapan Papa cuma ada padamu, kamu mau kan urus perusahaan Papa sampai Hansel sadar?" lanjut Tn. Vian berharap Elisa mau sembari melihat Ny. Chelsi yang berdiri di dekatnya.
"Maaf, aku tetap-" ucap Elisa ingin duduk tapi lengannya segera diraih oleh Bu Naina.
"Ahaha, Elisa. Kamu jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kamu juga butuh hiburan di luar sana. Ibu tidak mau menantu Ibu yang cantik dan baik ini terus bersedih. Ibu yang akan merawat Hansel. Sekarang kamu percayalah pada Ibu, Ibu sepenuhnya mendukungmu, kamu pasti bisa mengurus perusahaan Marchela."
Elisa risih mendengar Bu Naina yang berbicara padanya, seakan dia mendengar ocehan Bu Naina yang sangat munafik. Di depan orang tuanya, Bu Naina bersikap baik. Tapi entah bila kepergian orang tuanya nanti pasti akan bersikap buruk padanya lagi.
"Wah, Bu Naina ternyata baik sekali. Mama setuju dengan Bu Naina," sahut Ny. Chelsi termakan ucapan Bu Naina.
"Jadi gimana, Elisa?" tanya Tn. Vian menunggu jawaban Elisa.
Elisa pun menghela nafas kemudian tersenyum paksa.
"Baiklah, aku setuju."
Semuanya menghela nafas terutama Bu Naina sangat senang. Tn. Vian pun menyuruh pengacara mengeluarkan berkas lalu menyuruh Elisa tanda tangan. Setelah tanda tangan, Tn. Vian mengelus kepala putri angkatnya, menenangkan putrinya sembari melihat menantunya.
"Dalam tiga hari kemudian, mulai saat itulah kamu akan bekerja di perusahaan Papa,"
"Papa berharap, menantu Papa cepat sadar agar perusahaan bisa diurus olehnya, Papa yakin jika Hansel mengurusnya bisa semakin maju dan sukses, apalagi jika kalian berdua yang mengurusnya. Sekarang Papa mau ke kantor lagi, ada meeting yang harus Papa hadiri. Kamu baik-baik di sini bersama mertuamu." Tn. Vian pamit kemudian pergi bersama Ny. Chelsi yang pamit dulu ke Elisa.
"Mama pergi dulu ya, sayang." Ny. Chelsi mengelus kepala Elisa, ia pun pergi meninggalkan Elisa dan Bu Naina.
Kini Elisa agak was-was terhadap Bu Naina yang sedang menatapnya di sofa. Seketika Bu Naina berdiri mendekatinya. Tapi Elisa terkejut setelah diperlakukan baik oleh Bu Naina.
"Elisa, Ibu minta maaf atas kemarin. Ibu benar-benar shock mendengar Hansel tertembak. Ibu harap kita bisa menjalin hubungan baik," ucap Bu Naina meraih tangan Elisa dan tersenyum. Senyumnya terlihat tulus, namun ini agak aneh.
__ADS_1
Bu Naina dalam hati agak kesal diabaikan oleh Elisa yang diam saja. Bu Naina pun berkata lembut lagi.
"Sekarang Ibu mau pulang dulu, mau kasih tahu ini soal ayah mertuamu. Dia pasti sangat senang mendapatkan menantu yang dapat dihandalkan."
Sekali lagi Elisa cuma diam saja.
"Ck, menyebalkan!" decak Bu Naina dalam hati kemudian pergi dari ruang Hansel yang mewah.
"Huft, setan apa lagi yang telah merasuki Ibu Naina?" keluh Elisa sembari melihat Hansel.
"Hans, aku tidak tahu dengan sikap Ibumu. Dikit-dikit dia jahat, terus dia baik lagi. Apa Ibumu punya kepribadian ganda?" lanjut Elisa curhat pada Hansel. Elisa pun berdiri kemudian mencium lembut kening Hansel.
"Aku janji akan jadi istri yang bisa dihandalkan!" Senyum Elisa akhirnya tenang lalu pergi ke kamar kecil untuk membasuh muka.
Cklek!
Seorang wanita masuk mendekati Hansel seorang diri. Ia menatap sedih Hansel. Matanya berkaca-kaca sembari mencoba menyentuh puncak kepala Hansel. Tapi tangannya bergetar, hingga akhirnya air matanya pecah membasahi kedua pipinya. Ia menangis mencoba menahan isakannya.
"Tidak mungkin,"
"Ya Tuhan, inikah putraku Maikeul?"
Ny. Jessy mengusap kasar air matanya, ia sangat terharu. Perlahan tangan yang bergetar itu mengusap lembut puncak kepala Hansel. Sekali elusan, air matanya jatuh berlinang.
"Maikeul, ini Mommy. Maafkan Mommy baru menemui, Nak..."
Dengan cepat Nyonya Jessy meraih tangan Hansel. Meletakkannya ke pipinya yang basah akibat linangan air mata. Tangan kecil Maikeul dulu masih sama terasa hingga sekarang. Tangan kecil yang selalu dia genggam sudah berkali lipat besarnya. Tapi kehangatan malaikat kecilnya masih sama. Ny. Jessy tersenyum, kerinduannya pada Maikeul akhirnya terbalaskan hari ini. Ny. Jessy amat senang sudah hadir ke pernikahan putranya kemarin.
"Maikeul, Mommy senang melihatmu hari ini. Kamu malaikat kecil Mommy, dan sekarang kamu sudah besar, Nak. Kamu bahkan lebih tampan dari ayahmu." Ny. Jessy mengusap air matanya. Suara tangis Ny. Jessy terhenti setelah mendengar seseorang memanggilnya.
Ibu-
____
__ADS_1