
Karena kejadian kemarin, hari ini Devan menyuruh Ella untuk berkemas. Devan tidak mau kemarin malam terulang kembali, apalagi Ella sedang mengandung anak ketiganya.
"Om, hari ini kita pulang?" tanya Marsya duduk manis bersama kedua adik sepupunya di sofa sambil memandangi Devan mencari berkas visanya. Sedangkan Ella membereskan semua barang di villa itu.
"Benar, hari ini terakhir kita di sini." Devan sudah siap menyiapkan visa dan tiket penerbangannya.
"Bukannya kita akan tinggal sebulan? Ini kan masih belum sebulan, honey." Ella menghampiri Devan, dia seperti Marsya yang belum rela meninggalkan pulau indah ini.
"Sayang, kemarin itu Mami kangen sama cucu-cucunya, jadi kita tidak boleh buat Mami sedih. Kamu mengertikan?" Devan dengan lembut menjelaskan. Walau terpaksa bohong, tapi ini demi kebaikan keluarga kecilnya, Devan sepertinya juga tidak memberitahu soal kemarin yang habis diteror oleh orang misterius.
"Baiklah, honey." Ella mengangguk paham sambil tersenyum. Devan pun mengecup kening Ella, tak lupa mengelus perut buncit istrinya, kemudian menatap dua anak kembar kecilnya dan Marsya.
"Sini ikut Papa, kalian tidak boleh jauh-jauh sama Papa,"
"Yeeee, Papaaaa!" seru Vina turun dari sofa kemudian merengek manja. Devan mencium puncak kepala Vina dan Vino bergantian lalu menggandeng tangan kedua anak kecilnya keluar rumah diikuti Ella yang membawa tas kecil dan Marsya yang cemberut di belakang. Sedangkan barang-barang mereka dibawakan oleh orang yang disewa Devan.
"Kalian sungguh mau pulang hari ini? Padahal kan aku baru-baru ini sampai, tapi kalian sudah mau pergi," keluh Elisa berdiri di luar bersama Hansel. Ella pun menjelaskan alasannya pada kakaknya, sementara Devan cuma memberi lirikan isyarat jika kepulangannya ini gara-gara kemarin malam.
"Baiklah, kalau sudah sampai, jangan lupa kabarin kita ya, La," ucap Elisa sudah mengerti.
"Hm, ayo Vino dan Vina salam dulu sama Bunda Sasa," kata Ella pada dua anaknya. Vino dan Vina yang sudah pintar secepatnya mencium tangan Elisa.
"Buna, Vinya mawu puyang," ucap Vina tersenyum manis.
"Haha, hati-hati di jalan. Marsya, Bunda titip salam sama Mommy Dean," ucap Elisa sedikit tertawa geli melihat kelucuan Vina.
"Siap, Bunda. Marsya nanti kasih tahu Mommy," hormat Marsya paham.
Devan dan Ella cuma menahan tawa, kelimanya pun pergi dari penginapan menuju ke arah bandara. Sekarang tinggal Hansel dan Elisa di sana berdua saja.
"Hm, kamu mau jalan-jalan dulu, Sa-sayang?" tanya Hansel canggung. Elisa menatapnya lalu membuang muka.
"Tidak, aku mau langsung pulang." Hansel tersentak menerima tolakan dingin dari Elisa. Bahkan Elisa pergi meninggalkannya begitu saja.
"A-apa yang telah terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba marah?" batin Hansel sedikit kecewa ditinggal. Ia pun menyusul Elisa ke penginapannya.
Sesampainya di penginapan, Elisa tetap masih saja cuek. Acuh tak acuh pada Hansel. Merasa sudah tidak tahan dicuekin, Hansel pun menghampiri Elisa yang sibuk menonton berita di televisi.
"Elisa, hari ini kamu kenapa?" tanya Hansel duduk di samping Elisa.
"Nggak ada apa-apa," jawab Elisa datar.
"Te-terus kenapa seharian ini kamu diam saja?" Hansel menyentuh tangan kanan Elisa. Sontak ditepis kasar membuat Hansel terperanjat.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku!" ujar Elisa tiba-tiba marah.
"Sa-sayang, kamu kenapa?" tanya Hansel mencoba bicara lembut.
"Argh, aku kecewa padamu!" pekik Elisa memalingkan muka dan mengabaikan Hansel yang duduk di sampingnya. Elisa memencet remot dengan perasaan tidak karuan. Hansel pun menunduk, tidak bicara lagi. Elisa diam-diam meliriknya lalu memalingkan wajah lagi.
"Kecewa? Dia kecewa karena apa?" pikir Hansel sedang mencari alasannya.
"Apa jangan-jangan malam itu dia tidak puas?" Hansel mengira malam pertamanya kurang memuaskan.
"Ah, kalau begitu, harusnya dia marah dari kemarin bukan hari ini. Jadi apa mungkin dia tahu aku pakai pil perangsan, karena itulah dia merasa dibohongi?" Hansel lagi-lagi mengira itu alasan kekecewaan Elisa.
"Duh, atau mungkin saja Elisa tahu kemarin aku diteror? Tapi kalau dia tahu harusnya dia ketakutan, bukan marah begini," batin Hansel melirik Elisa yang serius menonton, seakan kehadirannya tidak dianggap oleh istrinya sendiri.
"Sa-sayang, kenapa kamu kecewa padaku? Memangnya aku salah apa?" Hansel akhirnya bertanya langsung dari pada memikirkan sendiri.
Elisa menoleh kemudian menunjuk Hansel dengan kesal.
"Salahmu karena sudah jahat padaku!" jawab Elisa sedikit membentak.
"Ha, jahat? Apa malam itu aku menyakitimu?" tanya Hansel mengira sudah menyakiti Elisa saat keduanya berhubungan.
"Ish, bukan!" ujar Elisa berdiri.
"Pura-pura? Tega melakukan apa?" Hansel tidak paham sama sekali.
"Katakan, apa kau yang paksa Devan untuk menikahi Ella dulu?" tanya Elisa to the poin.
Hansel kaget mendengarnya.
"Elisa, aku bisa jelaskan," ucap Hansel mencoba tenang.
"Jelaskan apa! Cih, kenapa sih kau biarkan Devan dan Ella menikah! kau kan tahu aku ini tunangannya Devan tapi kau malah membiarkan Devan menandatangi kontrak saat itu. Apa kau sengaja, agar aku dan Devan putus. Ini pasti keinginanmu kan, Hans!" teriak Elisa tanpa sadar memicu pertengkaran.
"Benar, walau aku tahu Devan dan Ella tidak melakukan apa-apa, aku tetap menyuruhnya bertanggung jawab. Lagipula, dari semua yang terjadi, kau akhirnya bisa berkumpul dengan adikmu kan? Itu juga berkat dariku," jelas Hansel tidak melihat Elisa sama sekali.
Dugh Dugh
"Jahat! Kau ini jahat, aku begitu lama mencintai Devan, tapi semuanya hancur karena mu! Aku bahkan membenci adikku gara-gara kau, kenapa-kenapa kau tega lakukan ini padaku, Hans!" racau Elisa memukul dada Hansel berkali-kali dengan kedua tangannya. Ia amat kesal sekali karena Hansel tidak jujur.
"Hiks, aku benci! Benci padamu!" tambah Elisa terisak. Hansel pun menangkap kedua tangan Elisa, menatap serius lalu berkata, "Apa kau menyesal menikahi pria yang menghancurkan cintamu? Jika kau menyesal, aku akan pergi dari hidupmu. Maaf sudah membuatmu menderita selama ini." Hansel melepaskan Elisa kemudian pergi keluar dari penginapan. Kata-kata Hansel barusan terdengar tidak bercanda dan tampak kecewa. Kecewa karena Elisa belum melupakan masa lalunya. Elisa jatuh terduduk dan menutup mulutnya agar berhenti terisak.
"Menyesal? Apa aku menyesal?"
__ADS_1
Elisa menunduk merenung, lalu menggelengkan kepala kemudian bangkit dan keluar. Tujuannya untuk mengejar Hansel, namun begitu cepatnya Hansel sudah hilang dari pandangannya.
"Hansssss!" panggil Elisa teriak mencari Hansel sambil mengusap kedua matanya. "Aaaa, sialan. Kenapa sih aku ungkit itu. Harusnya aku tidak memarahinya, dia tidak boleh pergi. Tidak boleh!" Elisa kembali mencari Hansel. Rasa panik dan cemas menyertainya di setiap langkah kakinya.
"Hans, maaf! Jangan main petak umpet dong. Iya, aku salah, harusnya aku tidak usah bahas itu. Kamu keluar dong, Bi!" pekik Elisa tidak peduli pandangan orang di sekitarnya. Tetap saja Hansel tidak muncul-muncul. Elisa makin kuatir. Tiba-tiba saat ingin berbalik, seseorang menahannya.
"Ka-kamu siapa?" tanya Elisa pada wanita bule bepakaian hitam. Walau terlihat cantik, tapi tampak menakutkan.
"Bom itu sebentar lagi akan meledak, kalau kau mencintai nyawamu maka tinggalkan pulau ini, tapi jika kau memang mencintainya, cepatlah pergi selematkan dia di jalan XXX. Waktumu tinggal lima belas menit." Wanita itu berbisik kecil dengan seringai, ia kemudian pergi membaur ke keramaian orang. Rupanya Hansel diculik.
Saking terkejut menerima bisikan menakutkan itu, Elisa makin ketakutan dan sangat mencemaskan Hansel. Dia pun mengejar wanita bule itu, namun sialnya begitu cepat hilang. Elisa tanpa pikir panjang mencari alamat jalan itu, sebelum waktunya habis. "Hans, aku tidak mau kehilanganmu!" Elisa tidak peduli bahaya apa yang akan dia temui nanti. Dia bukan wanita yang gampang menyerah dan melarikan diri begitu saja.
Sedangkan Ella dan Devan sudah berada di dalam pesawat yang sekarang terbang meninggalkan pulau Hawaii. Ada rasa kuatir tiba-tiba muncul di hati Ella.
"Sayang, kenapa lihat terus ke luar jendela?" tanya Devan yang duduk di sampingnya.
"A-aku lupa kasih tahu Elisa, honey," jawab Ella sedikit gelisah sambil mengelus perutnya.
"Lupa kasih tahu apa, sayang?" tanya Devan mengelus rambut Ella.
"Itu, tidak akan lama lagi aku lahiran, semoga saja Elisa dan Hansel masih tetap tinggal sampai aku lahiran." Rupanya Ella takut bila Elisa yang akan tinggal di inggris tidak bisa hadir pada lahiran anak ketiganya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mana mungkin dia akan membiarkan itu terjadi, dia dan Hansel pasti akan pulang melihatmu. Sekarang jangan sedih ya," ucap Devan mentoel pipi Ella, mencoba menghiburnya.
"Hm, baiklah. Semoga bisa bertemu mereka lagi." Ella tersenyum manis dan memeluk Devan. Devan menghela nafas lega. Meski masa depan tidak bisa dipresdiksi, Devan akan mencoba melindungi dan menjaga keluarga kecilnya.
"Mama, jangan cedih."
Vina berpindah duduk di samping Ibunya, tidak lupa memberi pelukan.
"Hahaha, putri Papa ini memang pengertian." Devan mengacak-acak rambut Vina dan melirik Vino yang diam dengan ekspresi datar menatapnya, meski diberi senyuman oleh Devan, tetap saja Vino bermuka datar, Devan jadi cemberut sendiri punya anak seperti Vino. Lalu bagaimana dengan Marsya? Ya bocah satu ini asik berkelana di dunia mimpinya, alias bobo cantik.
"Mama, Papa ucil!"
"Mamaaaaaa!"
Baby twins berhasil dibuat menjerit.
"Hahaha, biarkan Papa main sama kalian."
"Cidak mauuuu!"
"Duh, anak Papa comel banget sih... "
__ADS_1
Ella di sana cuma tertawa geli melihat Devan menjahili dua anaknya dan mendengar Marsya mengigau minta adek baru. Canda tawa dan jeritan kecil memenuhi pesawat yang akan membawa mereka pulang.