
Pagi hari yang amat cerah kembali menyambut Ella dan Devan. Kedua mata Ella perlahan terbuka, ia melihat dirinya tak memakai sehelai kain sedikipun di tubuhnya.
Begitu pula Devan yang juga hanya dibalut seprai dan tidur dalam keadaan miring. Ella tersenyum, ia menyentuh bibir Devan yang lembut, bibir yang mellumat buas dirinya kemarin.
"Agh, seluruh tulangkan ku ingin patah semua, ini gara-gara dia!" desis Ella menyentuh pinggulnya. Lelah dan sakit melayani Devan kemarin.
"Aku harus mandi dulu, setelah ini harus siapkan kebutuhan Vino dan Vina, mereka pasti kemarin malam tidur sama Zeli." Ella berusaha ingin bangun. Baru saja duduk untuk meregangkan tangannya. Pinggangnya diraih oleh Devan hingga Ella terperanjak kaget.
"Good morning, hany," bisik Devan yang duduk di belajangnya. Dengan cepat, Ella buru-buru menutup kedua oppainya dengan seprai agar Devan tak iseng lagi di pagi ini. Ella takut burung Devan akan aktif kembali.
"Good morning to, honey," kecup Ella pada pipi Devan.
"Hm, bagaimana? Kemarin aku tidak membuatmu lumpuh kan?" tanya Devan mencolek-colek pinggang Ella.
"Ih, lumpuh apanya? Tubuhku ini malah mau patah-patah gara kau tau!" cetus Ella menghentikan Devan mencolek dirinya.
"Ahaha, ya sudah. Aku mau mandi dulu, kamu jangan cemberut." Sekali lagi pipinya yang dicolek. Ella mendengus lalu mendorong Devan.
"Kalau begitu pergi gih mandi!"
"Baik, Nyonyaku." Rayu Devan menggodanya. Ella hanya tertawa kecil melihat Devan beranjak segera masuk ke dalam kamar mandi membawa handuk.
Setelah keduanya selesai siap-siap, Devan mencium kening Ella.
"Aku keluar duluan, kamu pasti mau urus Vino sama Vina kan?" tanya Devan menebaknya.
"Hm, begitulah."
Devan mengacak-acak rambut Ella lalu keluar dari kamar. Langkah kakinya mungkin ingin ke dapur mengisi perutnya pagi ini. Tidak seperti Ella yang berjalan ke arah kamar Zeli dan tak sengaja berpapasan dengan adik iparnya.
"Eh, Kak Ipar. Pasti mau lihat Vino sama Vina?" tanya Zeli baru keluar dari kamarnya dan sudah siap ingin ke sekolah.
Ella tersenyum dan berkata, "Ya, sekarang di mana mereka?" tanya Ella masih berdiri di depan kamar Zeli.
Zeli menoleh ke dalam kamarnya sambil menunjuk dua anak menggemaskan masih tidur sedang mencomot jari jempol mungil mereka.
"Tuh, Kak Ipar. Vino dan Vina masih tidur, barusan mau ke kamar Kak Ipar, eh tapi karena Kak ipar ada di sini aku ke bawah duluan ya," ucap Zeli tersenyum ramah lalu berjalan ke arah tangga.
Ella hanya tersenyum melihat kepergiannya. Ia pun masuk ke dalam kamar dan ternyata dua baby twins memang masih terlelap dalam mimpi mereka.
Meski begitu, Ella tetap mengganti pampers keduanya agar setelah bangun tidur, ia tak mendengar kerewelan Vino dan Vina. Setelah memasangkan pampers baru, Ella menoleh ke arah pintu. Bibi pelayan masuk dan mendekatinya.
"Nyonya, ini ponsel anda. Saya tak sengaja melihatnya di sofa tadi pagi." Bibi pelayan memberikan ponselnya.
"Terima kasih, Bik," ucap Ella tersenyum dan mengambilnya.
"Oh ya, Nyonya. Tuan muda meminta anda ke ruangannya sekarang," lanjut Bibi pelayan yang kebetulan tadi berpapasan dengan Devan.
"Baik, Bi. Kalau begitu tolong jaga Vino sama Vina dulu, saya ke ruangan Devan." Ella tersenyum melihat sebentar dua anaknya lalu pamit ingin pergi ke ruang kerja Devan. Bibi pelayan menunduk paham, ia pun duduk di tepi ranjang menunggu dan menjaga Baby Vino dan Vina.
Dalam langkah kaki Ella, tiba-tiba ponselnya berdering seperti kemarin. Yang ditunggu-tunggu Aline dari kemarin akhirnya panggilan diangkat juga.
"Halo Kak," ucap Aline yang siap-siap untuk ke sekolah. Gadis muda ini kembali bersekolah berkat biaya dari Ny. Chelsi.
"Kenapa, Al?" tanya Ella masih berjalan ke arah ruang kerja Devan.
__ADS_1
"Berita besar Kak!"
"Berita apa?" tanya Ella mengernyit tiba-tiba suara Aline terdengar meninggi.
"Kak Elisa sama Sekretaris Hansel sudah pacaran,"
Dua mata bulat Ella melebar. "Kau serius?" tanya Ella tak percaya.
"Ya, aku serius. Kemarin malam Sekretaris Hans pulang bersama Kak Elisa. Terus Kak Elisa bilang kalau Hansel adalah kekasihnya dan calon suaminya. Kak Elisa menolak pria yang kemarin berkunjung. Terus tinggal tiga hari lagi Sekretaris Hansel akan menikahi Kak Elisa!" ungkap Aline menjelaskan kejadian kemarin malam.
Sungguh berita yang menghebohkan, Ella mempercepat langkahnya sambil menghubungi Aline.
"Terus Papa dan Mama keberatan sama hubungan mereka?" tanya Ella makin penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas kemarin Kak Elisa bertengkar sama Papa Vian. Mungkin hubungan mereka tidak disukai oleh Papa, tapi kalau Mama sih aku juga tidak tahu, Kak."
Ella menghela nafas setelah mendengarnya.
"Sekarang di mana Kak Elisa?" tanya Ella kini sampai di depan ruang kerja Devan.
"Ini kita lagi mau sarapan pagi bersama. Kak Elisa cuma diam dari tadi di kursinya," lapor Aline berbisik-bisik mulai mendekati meja makan.
"Baiklah, kalau begitu kamu sarapan gih. Pasti hari ini kamu sekolah kan?"
"Ya, ini sudah hari masuk sekolah,"
"Eh bentar, Kak!" tahan Aline membuat Ella tak jadi membuka pintu ruang kerja Devan.
"Kenapa, Aline?" tanya Ella mendengar Aline terkejut.
"Hm, bagus juga namanya. Kalau begitu kakak tutup panggilannya, terima kasih Aline,"
"Hm, sama-sama Kak."
Panggilan pun diakhiri, Ella masuk ke dalam ruangan dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia tersenyum melihat Devan yang sedang memperhatikannya.
"Wah wah, Istriku cepat juga datang ke sini," ucap Devan menyandarkan kepalanya di atas dua tangannya yang diletakkan di atas meja.
"Ya dong, kan dipanggil sama suami jadi harus cepat. Kalau lambat nanti kamu marah lagi," desis Ella duduk di sofa.
"Pfft, kau Istriku yang manis." Devan menggombalinya. Ia beranjak dari kursi kerjanya dan menuju ke tempat duduk Ella.
"Oh ya, aku barusan mendengar suaramu di luar. Kamu hubungi siapa? Lelaki lain?" tebak Devan duduk di sampingnya.
Ella mencubit hidung Devan. "Ih kamu jangan asal tuduh dulu, aku tidak bicara sama lelaki lain! Tadi itu Aline yang telfon," ujar Ella membuka majalah di atas meja.
"Terus kalian bicara apa?" Devan mulai penasaran.
Alis kiri Ella terangkat lalu menoleh ke suaminya.
"Hm, tumben nih mau ikut campur. Kamu kepo ya honey?" tebak Ella menyipitkan matanya.
"Tidak, siapa juga yang kepo," elak Devan merebut majalah di tangan Ella.
Ella tertawa kekeh melihat majalah terbalik di tangan Devan.
__ADS_1
"Ahahaha,"
"Loh, kamu kenapa sayang?" tanya Devan heran melihat Ella tiba-tiba tertawa.
"Pfft, kamu lagi baca apa dengan majalah yang terbalik begitu?" Ella menunjuk sampul majalah. Devan tersentak dan melihat majalah di tangannya. Sekarang gilirannya yang tertawa malu.
"Hehehe terbalik," cengir Devan membalikkan majalah itu dengan baik.
"Ini sih gara-gara kamu, aku jadi bodoh nih!" lanjut Devan ketus.
Sekali lagi Ella tertawa kecil lalu merebut majalahnya.
"Kalau kamu penasaran bilang saja honey. Tidak usah malu-malu, kan kamu sendiri malu-maluin dirimu sekarang."
"Ya deh, aku kepo nih! Jadi Aline bicara apa ke kamu?" lirik Devan sambil memperhatikan jam tangannya yang sudah pukul 07.32 pagi.
"Ini loh, soal Elisa." Devan memutar bola mata jengah mendengarnya.
"Elisa, Elisa terus, kenapa kalian selalu bicarakan soal Elisa. Aku pikir ada hal lain yang kalian bicarakan," lanjut Devan berdiri sambil berkacak pinggang kini menatapnya.
"Ya habisnya kata Aline ada pria asing ke rumah Mama terus-" ucap Ella ikut berdiri.
"Terus apa?" tanya Devan serius.
"Terus kata Aline Sekretaris Hansel sama Kak Elisa sudah pacaran," jawab Ella membuat Devan terkejut.
"Kau serius? Tidak lagi bicara omong kosong kan?" tepuk Devan pada kedua bahu Ella.
"Aku serius honey, kemarin malam panggilan yang kau abaikan itu dari Aline yang mau buktikan ucapannya tapi kamu malah lempar ponselku!" cetus Ella.
Devan mengut-mangut lalu menyentuh dagunya.
"Kamu lagi mikir apa, honey?"
"Itu sejak kapan Hans pacaran dengannya?" tanya Devan masih berpikir.
"Entahlah, mungkin mereka sudah lama pacaran diam-diam," jawab Ella memeluknya.
"Eh, kamu kenapa sayang?"
Ella mendongak ke Devan dengan senyum manisnya.
"Kamu tidak marah kan kalau mereka pacaran?" Ella ingin memastikan perasaan Devan.
"Em tidak, untuk apa harus marah? Kan sekarang aku sama Elisa tak punya hubungan lagi."
Ella melepaskan pelukannya, senang dan lega mendengar jawaban Devan.
"Ya sudah, kita keluar. Hari ini kau temani aku ke perusahaan. Hari ini ada sebuah acara pameran. Siapa tau ada yang aku sukai di sana," ucap Devan menarik Ella keluar.
"Baiklah, tapi tunggu dulu,"
"Kenapa sayang?" Devan berhenti menoleh ke Ella.
"Kamu tahu yang namanya Georgest Jastin?" tanya Ella. Sontak Devan melepaskan genggaman tangannya. Terlihat ia kaget setelah mendengar Ella menyebut nama yang tak asing di telinganya. Raut wajahnya langsung berubah derastis terlihat marah.
__ADS_1
"Ge-georgest Jastin?"