
Esok paginya, di rumah sakit. Elisa hari ini tidak masuk ke kantor. Dia begitu senang hingga tak mau jauh dari Hansel yang mulai membaik. Bu Naina dan Pak Carlous datang ke rumah sakit untuk melihat Hansel, begitupun Ny. Chelsi dan Tn. Vian. Naomi yang diantara mereka agak grogi, pasalnya Naomi takut terhadap Tn. Vian. Ia takut kalau tahu identitas Hansel yang cuma anak angkat di keluarganya.
"Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?" ucap Tn. Vian lebih dulu bertanya pada Dokter yang datang memeriksa.
"Syukurlah, sekarang tak ada yang perlu dikuatirkan. Luka bagian dalam sudah membaik, tinggal memulihkan tenaga untuk memulai aktivitasnya."
Ny. Chelsi senang mendengarnya, terutama Bu Naina yang tidak sabar Hansel yang akan mengurus perusahaan Tn. Vian. Ini mempermudah untuk mengambil alih semua aset perusahaan milik Tn. Vian.
"Syukurlah, kalau begitu tidak akan lama lagi Hansel akan menggantikan Elisa," ucap Bu Naina langsung membuat semua mata tertuju padanya.
"Eh, maksud saya tak akan lama lagi Hansel cepat sembuh total dan akan mulai bekerja." Bu Naina tersenyum kemudian diikuti oleh Ny. Chelsi.
"Ahaha, Bu Naina sepertinya bahagia hari ini melihat putra sulungnya sudah siuman, iya kan Pak Carlous?" Ny. Chelsi tersenyum ramah pada Bu Naina dan Pak Carlous yang kini kikuk gara-gara ucapan istrinya sendiri. Seakan ucapan Bu Naina lebih tertuju pada pemegang alih perusahaan.
"Huft, lambat laun sifat aslinya pasti ketahuan." Elisa membatin sembari membuang nafas. Tn. Vian pun mendekati Hansel sambil tersenyum.
"Karena sekarang kamu sudah mulai membaik, ke depannya tolong jaga dirimu baik-baik. Karena mulai sekarang, tanggung jawab Elisa sudah ada di tanganmu. Aku cuma ingin kamu membahagiakannya."
Elisa menatap Tn. Vian, merasa ayah angkatnya memang selama ini perhatian padanya. Dari mata Tn. Vina hanya ingin melihat putri yang dia besarkan dari kecil harus bahagia.
"Baik Tuan Vian,"
Pak!
"Astaga, Papa!" kaget Elisa reflek berdiri melihat Tn. Vian memukul pelan lengan Hansel. Begitupun yang lainnya ikut terkejut. Dokter cuma geleng-geleng kepala melihat mereka kemudian pamit keluar.
"Ih, Papa kok langsung mukul Hans!" protes Elisa tidak terima.
"Ahaha, jangan terlalu kepancing. Lihatlah, menantu Papa baik-baik saja." Tn. Vian tertawa melihat kekuatiran Elisa pada Hansel.
"Ya tapi, Hansel baru siuman kemarin! Ih Papa bikin kesal!" Hansel cuma tertawa kecil melihat istrinya protes.
"Sudah, ini tidak sakit. Kamu duduklah, Sya."
__ADS_1
Karena disuruh Hansel, Elisa pun duduk kembali dengan patuh sambil bermuka cemberut. Semua orang tertawa kecil melihatnya, kecuali Bu Naina yang risih. Ia pun keluar tak suka dengan Elisa kemudian Pak Carlous ikut keluar menyisakan Hansel, Elisa, Ny. Chelsi dan Naomi.
"Kalau begitu, Papa ke perusahaan untuk mengurus sesuatu. Kalian mengobrollah di sini." Tn. Vian pamit pada istrinya kemudian pergi dari ruangan Hansel.
Kini Ny. Chelsi mengajak Naomi duduk bersama untuk membahas bagaimana Hansel bisa sadar. Sedangkan Hansel dan Elisa tak bisa lepas untuk saling berpegang tangan. Nampak Hansel selalu tersenyum pada Elisa.
"Hans, aku mau kasih pesan dulu ke Ella. Dia pasti senang mengetahui ini."
Hansel cuma mengangguk mendengar Elisa. Elisa pun mencari ponselnya di dalam saku kemudian ia mengirim pesan. Setelah itu, Elisa dengan perhatian menyuapi Hansel dengan sepotong apel yang dikupas oleh dirinya sendiri.
"Maafkan aku, pasti aku membuatmu menderita selama ini, Sya," lirih Hansel tahu Elisa terus menjaganya.
"Hm, tidak usah minta maaf. Aku malah senang selalu di sampingmu." Elisa menggelengkan kepala lalu memberi sepotong apel masuk ke mulut Hansel. Mendengar penguturan Elisa, Hansel cuma membelai rambut Elisa dengan lembut.
"Kamu hari ini sangat cantik, aku tidak menyangka istriku lebih menawan setelah aku siuman," Hansel mulai merayunya. Elisa bukannya tersipu melainkan tiba-tiba kesal.
"Ish, jadi waktu dulu aku tidak cantik gitu?" tanya Elisa manyun. Memajukan bibirnya yang ranum.
"Pfft, kamu terlihat manis sekarang dengan ekspresi lucumu."
"Pfft, lihatlah istriku tersipu setelah digoda." Elisa pun berdiri mengambil apel lain, ia tidak tahan dilirik-lirik jahil oleh Hansel. Ia nampak malu-malu seperti saat ia ingin memulai hubungan dengan Hansel.
"Sejak kapan dia mulai berani menggodaku?" gumam Elisa melirik Hansel yang selalu melihat ke arahnya.
"Iiih, kok sekarang aku jadi merinding?" lanjut Elisa kini sadar akan satu hal yaitu, malam pertamanya bila Hansel keluar dari rumah sakit. Elisa menelan ludah tak berani membayangkannya. Hehehe....
_____
Di vila Devan.
"Honeeey!" teriak Ella buru-buru menuruni tangga. Nampak ia sedang mengejar Devan yang akan berangkat ke perusahaan pagi ini. Devan berhenti tidak jadi keluar dari vila.
"Pelan pelan sayang, kamu ini lagi hamil jangan terlalu berjalan cepat," ucap Devan menghampirinya.
__ADS_1
"Aku ada kabar gembira!" Ella dengan girang menunjuk ponselnya. Devan mengerutkan keningnya.
"Berita apa, sayang?" tanya Devan ingin melihat isi pesan Ella.
"Ini loh, tadi aku lagi lihat Vina sama Vino main, eh tau-taunya ada notif dari Kak Elisa," jawab Ella menunjuk-nunjuk ponselnya.
"Ya terus? Apa isi notifnya?" tanya Devan lagi.
"Itu, Kak Hansel akhirnya sadar dan tidak akan lama lagi dia bakal jadi sepertimu, honey!" jawab Ella tersenyum.
"Ha? Sepertiku? Maksudnya?" Devan gagal paham.
"Aduh kamu ini, maksud aku itu kak Hansel bakal jadi CEO di perusahaan Papa Vian. Dia tidak akan jadi sekretarismu!"
"APA! DIA JADI CEO?" Devan sungguh kaget mengetahuinya.
"Loh kok marah?" tanya Ella mengerutkan kening merasa heran.
"Wah ini tidak boleh dibiarkan! Hansel itu masih punya masa kontrak denganku, dia masih sekretarisku! Dia tidak boleh jadi CEO!"
Deg! Ella kaget sampai-sampai ia tercengang.
"Loh kok malah tambah marah-marah? Kamu tidak senang ya Kak Hansel jadi CEO, honey?" tanya Ella garuk-garuk kepala.
"Bukan itu sayang, maksud aku itu dia harus habiskan masa kontraknya sebelum jadi CEO di perusahaan lain,"
"Ya tapi kan honey, kamu cuma tinggal pecat kak Hansel." Ella makin heran pada Devan yang bersikeras tak mau melepaskan Hansel.
"Yang jelas tidak bisa! Hansel tetap harus di sampingku! Sekarang aku mau ke rumah ayah mertua, aku mau protes!" Devan pergi dari vila. Ella makin tercengang sembari berpikir keras setelah mendengar kata 'Hansel tetap harus di sampingku'.
"Kenapa tiba-tiba dia bicara begitu? Apa mungkin-" Ella sontak menutup mulutnya sudah mencerna sesuatu.
"OMG! Jangan-jangan Devan di belakang aku sudah diam-diam selingkuh sama kak Hansel? Jadi dia tidak mau melepaskan kak Hansel?" pikir Ella menyentuh dadanya yang sesak.
__ADS_1
"Eits, bentar dulu. Masa sih Devan segitunya?"
"Apa mungkin aku yang salah menafsirkannya? Kalau begitu aku harus pergi menyusul Devan!" Ella naik ke lantai dua. Setelah menghubungi baby sitter agar tidak masuk hari ini, Ella pun pergi ke rumah Tn. Vian sekarang juga bersama baby twins.