Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
50. Menahan Godaan


__ADS_3

Pagi telah tiba, Ella perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa dipeluk oleh seseorang, senyum manis Ella merekah melihat wajah Devan yang imut bila sedang tidur.


"Pfft, apa tidurnya kemarin pulas?"


Ella tertawa kecil dan perlahan-lahan memindahkan tangan Devan dari atas perutnya. Ella beranjak berdiri dan mengucek sebentar matanya agar pandangannya makin jelas.


"Huaaaa ... ini sudah jam berapa?" Ella menguap dan mencari jam dinding. Namun sama sekali tak ada jam di kamar itu.


"Sudahlah, kalau begini aku harus keluar melihat jam di ruang tengah," gumam Ella masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membasuh mukanya dan menjemur pakaiannya yang dia cuci di tali jendela, sekarang Ella berjalan ke arah Devan.


"Ha ... hah," Ella merasakan nafasnya yang sudah segar habis gosok gigi. Ia pun tersenyum karena tak ada bau apa-pun. Diam-diam, Ella pun berjongkok dan mencium pipi Devan. Memberi kecupan pagi untuk sang suami tercinta yang masih tertidur.



"Pfft, ahaha. Dia sepertinya memang kurang tidur," desis Ella tertawa kecil dan membelai rambut Devan, melihat ada warna hitam di bawah mata suaminya. Setelah membelai Devan, kaki Ella berjalan ke arah jendela lain. Melihat sekeliling vila yang indah dan dikelilingi rerumputan hijau segar. Ella menghirup udara banyak-banyak dan menghela nafas. Ia pun mengambil BH miliknya yang sudah kering dan memasangkan ke tubuhnya dan juga CD-Nya.


Kreeeek!


Pintu kamar dibuka perlahan, Ella mengeluarkan kepalanya dan celingak-celinguk merasa takut juga untuk keluar mengambil cemilan dan melihat jam.


"Sepertinya sepi, kemana bapak tua itu?"


Ella berpikir, mungkin saja pemilik vila keluar untuk memburu. Ini kesempatan Ella berjalan ke arah dapur. Ella dengan berani dan perlahan menginjak anak tangga, merasa deg-degan untuk menuruni tangga kayu di bawahnya.


"Fiuh, sepertinya bapak itu memang lagi keluar," gumam Ella berjalan dan mengelus dada merasa lega. Saat mau masuk ke dapur, matanya membola dan bersembunyi di belakang dinding, Ella menelan ludah tak sangka bapak itu sedang duduk di meja makan di dalam dapur sedang memandang sebuah foto sambil memakan sesuatu, seperti sandwich sendirian.


"Astaga, kenapa aku ketakutan begini?" Ella gemeteran di tempat dan kembali mengintip bapak itu. Sontak dua matanya tertuju pada tangan besar bapak itu menyapu pinggir matanya. Air mata nampak perlahan turun.


"Dia, apa tadi itu sedang menyapu air matanya?" pikir Ella bersandar ke tembok. Seketika ia tersentak bapak itu memanggilnya.


"Hei, untuk apa kau berdiri di sana!" ujar bapak itu berteriak sedikit.


Deg!


Ella menelan ludah dan perlahan masuk.


"Maaf, ma-maaf Pak. Saya tadi hanya ingin masuk mengambil cemilan, saya tidak bermaksud-"


"Tidak usah takut, ambillah sandwinc ini!" pinta bapak itu menunjuk mangkuk yang berisi sandwinc buatannya.


"Ba-baik, Pak. Terima kasih," ucap Ella mengambil mangkuk itu dan sekilas melihat isi foto yang dipegang sang bapak. Foto bagaikan keluarga kecil, satu wanita cantik yang dirangkul olehnya dan satu bocah kecil yang berusia dua tahun. Namun bocah itu terlihat tak asing bagi Ella.


"Tidak masalah, sekarang beri tahu padaku. Kapan kalian akan pergi dari vilaku ini?" tanya bapak itu berdiri karena merasa risih ditatap oleh Ella.


"Se-sebentar lagi, Pak. Setelah suami saya bangun, kami akan pergi dari sini," jawab Ella ketakutan.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Otot bapak itu sangat besar dan memiliki kepribadian yang sangar. Bahkan suaranya begitu berat, walau begitu bapak ini punya sedikit sifat yang baik dalam memperlakukan orang lain.


"Baguslah, hari ini saya akan pergi dari sini juga. Karena itulah kalian harus pergi dari sini sebelum aku mengurung kalian di vila ini," kata bapak itu menatap tajam dan tak main-main.


"Ba-baik, terima kasih infonya, Pak!" ucap Ella membungkuk sedikit dan keluar segera. Namun berhenti saat mendengar suara lirih sang bapak.


"Huft, kemana lagi aku harus cari dirimu," keluh sang bapak terlihat putus asa.


Ella buru-buru naik ke atas, ia merasa ada yang aneh pada bapak itu. Ia merasa bapak itu orang yang misterius dan punya tingkah laku yang aneh. Soalnya, tadi bapak itu terlihat galak namun di belakang Ella malah diam-diam mengeluh dan sedih.


Ella pun masuk dan segera menutup pintu, untung saja ia tak membuat marah bapak pemilik vila.


"DOR!" teriak Devan menganggetkannya.


"Aaaaaaa! Kodok makan kodok!" pekik Ella kaget hampir melempar mangkuk sandwinc. Devan tertawa lepas melihat raut wajah Istrinya cemberut karena kejahilan Devan.


"Hish, honey!" cetus Ella memukul-mukul manja dada Devan yang ternyata suaminya ini sudah bangun dan habis mandi.


"Ahahaha, apa yang kau lakukan diluar? Kenapa tiba-tiba berani mengambil cemilan tanpa diriku?" tanya Devan dengan mata sipit merasa curiga.


Ella mengatur nafasnya dan memeluk Devan. Membuat lelaki ini berhenti tertawa.



"Tadi itu aku mau ambil cemilan karena perut aku lapar dan hampir jantungan tau, untung saja bapak pemilik vila ini orang yang baik. Jadi dia tidak memarahiku saat ke dapur tadi," jelas Ella mendongak pada Devan.


"Tidak kok, lihatlah aku sehat begini!" ujar Ella berputar-putar di depan Devan.


"Ahaha, sudah! Jangan lakukan ini, kepalaku pusing melihatmu!" tawa Devan langsung mendekap tubuh Ella.


"Aduh, kau pasti kemarin begadang ya?" tanya Ella dipeluk oleh Devan. Pertanyaan Ella tidak dijawab, melainkan hidungnya dicubit.


"Au, honey!" cetus Ella kesal memajukkan mulutnya.


"Pfft, sudah-sudah. Sekarang kita makan, setelah ini kita kembali ke vila Dean." Devan mencium pipi Ella membuat Istrinya merona.


"Hm, baiklah." Ella tersenyum manis diacak-acak rambutnya oleh Devan. Keduanya pun duduk dan makan sandwinc bersamaan. Namun tak sangka, saat Ella mau melahap gigitan terakhirnya, Devan dengan cepat mencium bibirnya. Mata Ella membola mulutnya dillumat lembut.


"Iiih, honey! Jangan ambil kesempatan begini!" marah Ella menyilangkan tangan melihat Devan.


"Memangnya kenapa? Bibir kamu ini lebih enak dicium dari pada sandwinc sayangku," gemas Devan mencubit pipi Ella. Ella tertawa kecil dan memeluk Devan.


Setelah makan dan memakai baju mereka yang kemarin, keduanya pun pamit pada bapak pemilik vila.


"Ini biaya penginapan kami, terima kasih sudah-"

__ADS_1


"Tidak usah, aku tidak membutuhkannya." Kata bapak itu menolak, membuat Devan dan Ella terkejut. Padahal jumlah uang ditangan Devan sangatlah banyak.


"Ka-kalau begitu, kami pamit pergi dulu, pak. Terima kasih," ucap Ella segera menarik Devan pergi dari villa itu untuk kembali ke vila mereka sendiri.


Bapak misterius itu masuk dan bersiap ingin pergi juga. Ia menutup pintu villa dan membawa satu foto yang selalu dia bawa. Mencari sebuah jejak untuk tujuannya.


Beda di sisi lain, terlihat Hansel baru bangun dari tidurnya. Dia kaget mendapati dirinya seorang diri.


"Di mana Nona Elisa?" gumam Hansel ingin turun dari brankar. Namun tak jadi karena suara kekasihnya mengagetkannya.


"Good morning, By!" ujar Elisa muncul dari luar membawa sebuah rantang.


"Pfft, ternyata Nona dari keluar," tawa Hansel dengan tingkah Elisa.


"Hehe, ya dong By. Aku kan pacar kamu, jadi harus pulang dulu bawain makanan buat kamu, By."


Hansel mengernyit merasa ada yang aneh dengan cara bicara Elisa.


"Kenapa, By?" tanya Elisa meletakkan rantang itu.


Hansel garuk-garuk kepala dan bertanya balik.


"Itu, kenapa Nona memanggil saya begitu? By itu apa?"


Elisa tertawa kekeh dan merangkul leher Hansel. Menatap dua mata hitam kekasihnya. Hansel menelan ludah, apalagi dua oppai Elisa yang gede hampir menenggelamkan wajahnya.


"Hm, kamu mau tau apa mau tau banget, By?" rayu Elisa membuat Hansel merinding.


"Aku ras dua-duanya, hehehe," Hansel ingin sekali mimisan dengan dua oppai yang menggodanya. Ingin rasanya *******-***** benda yang kenyal-kenyal itu.


Elisa melepaskan rangkulannya dan duduk di kursi dekat brankar.


"By itu aku singkat dari kata Hubby. Hehehe, itu panggilan sayangku," cengir Elisa memainkan jari-jarinya. Hansel tertawa kecil melihat perubahan Elisa. Hubungannya ini membuat Nona sulung keluarga Marchela terlihat ceria.


"Tidak masalah kan aku panggil kamu begitu?" lanjut Elisa mendongak melihat Hansel.


Hansel mengangguk dan dengan lembut mencium kening Elisa. Rasanya Elisa ingin menjerit dikecup oleh Hansel.


Cup!


"Tidak masalah, Nona. Apa yang anda sukai, saya ikut senang."


Elisa berdiri, sangat gembira mendengarnya. Sontak ia memeluk Hansel membuat dua oppainya berhasil menempel ke wajah Hansel.


"Thank you, By! Aku senang banget!" girang Elisa memeluknya erat. Hansel langsung mimisan merasa benda kenyal-kenyal itu membentur pada dua pipinya. Ia bagaikan ingin melayang saja.

__ADS_1


"Ha? By!" pekik Elisa keget melihat Hansel pingsan dengan hidung berdarah. Elisa dengan panik keluar tidak seperti Hansel yang pingsan tak dapat menahan godaan dari oppai Elisa.


Sungguh lucu, baru juga oppainya Elisa, Hansel sudah tak berdaya. Bagaimana kalau dia sudah menikah dan membuat debay dengan Elisa? Apa dia sanggup bergelut di atas ranjang dengan tubuh seksi dan oppai yang halus, lembut dan montok?


__ADS_2