Hasrat Terindah Istri Kecilku

Hasrat Terindah Istri Kecilku
12. Jaga Ucapanmu


__ADS_3

Sesampainya di dalam perusahaan, Ella telah sampai di ruang CEO. Terlihat Devan memopang dagu melihat kedatangan Istri dan dua anaknya.


Dua baby twins tersenyum lebar melihat Ayah mereka sedang duduk menatap mereka. Begitupun Ella hanya tersenyum melihat dua anaknya berjalan dengan kaki kecil mereka ke arah Devan.


"Papaaaa!" pekiknya berebutan ingin naik ke pangkuan Devan.


Melihat keluarga kecilnya datang, Devan hanya bisa tertawa geli. "Iiih, tumben Istriku dan dua anak Papa ke sini," ucap Devan menggendong Vino duluan lalu duduk di pangkuannya. Setelah itu meraih Vina lalu duduk ke pangkuannya juga. Ella sedikit kaget melihat tingkah mereka yang pastinya akan mengganggu Devan.


"Bagaimana hari ini, apa semua lancar?" tanya Ella meletakkan rantangnya ke atas meja.


"Lancar, semua lancar. Apalagi kalau ada kalian pasti semuanya berjalan lancar, sayang."


Ucapan Devan terdengar geli di kedua telinga Ella. Terlihat Devan mencium bergantian puncak kepala dua anaknya.


"Oh ya, apa yang kamu bawa?" Devan melirik isi rantang yang kini dibuka oleh Istrinya.


"Hayoo tebak, aku bawa apa untukmu,"


Devan berpikir sebentar, menebak isi rantangnya.


"Ah pasti cintamu kan?" tebak Devan membuat Ella diam mematung.


"Ih, apa sih bukan! Itu salah!" ujar Ella tersipu. Devan mengangkat alisnya melihat istrinya menunduk.


"Vino sama Vina tahu apa yang dibawa Mama?" Kini Devan bertanya pada dua anaknya yang lagi sibuk memainkan dasinya.


"Papa, papa!" kata Vino hanya bisa berkata seperti itu saja, begitupun Vina.


"Ahahaha, kalian makin gemesin deh!" ujar Devan mencubit lembut pipi Vino dan Vina.


"Hihihi, Papa!" tawa Vina cekikikan.


"Pfft, kalian ini selalu saja membuatku tertawa," ucap Ella kini selesai menyiapkannya.


"Hm, bagus dong sayang, dari pada buat kamu nangis terus," sahut Devan mengajak bermain dua anaknya.

__ADS_1


"Hm, resek!" cetus Ella tak suka mendengarnya.


"Ahaha, sudah-sudah jangan ngambek. Sekarang kita ke sana," Devan menunjuk ke arah sofa.


"Kita makan sama-sama." Devan berdiri membawa dua anaknya ke arah sofa dan diikuti oleh Ella. Terlihat keluarga kecil ini begitu harmonis dan rukun di jam sekarang. Namun tiba-tiba pandangan Devan tak sengaja melihat sekilas seseorang yang tak asing baginya.


"Hm, siapa yang lewat tadi?" pikir Devan berhenti makan.


"Honey, kamu kenapa?" tanya Ella yang sedang memberi minum ke Vina. Devan mengerutkan dahinya membuat Ella ikut mengerutkan keningnya.


"Honey," panggil Ella greget.


"Itu loh, tadi aku lihat seseorang lewat. Tapi mungkin aku salah lihat. Kita lanjut makan saja," kata Devan mengelus kepala Ella dengan lembut.


"Hm, baiklah." Ella hanya menurut lalu memperhatikan dua sang buah hatinya.


"Aku yakin, pasti itu Elisa. Tapi kalau memang itu dia, untuk apa datang ke sini?" pikir Devan. "Ya sudahlah, mungkin memang aku salah lihat."


Devan mengabaikan pikirannya dan fokus pada keluarga kecilnya. Tidak seperti satu wanita yang sekarang ini sedang berjalan mengendap-endap mencari sebuah ruangan. Ia yang tak lain adalah Nona Elisa dengan sebuah rantang di tangan kanannya.


"Tapi kalau aku tidak berikan ini padanya, aku juga akan merasa bersalah."


Elisa berdiri sendirian sambil menyentuh dagunya. Ia sedang resah soal tujuannya hari ini. Sangat jelas dari raut wajahnya yang murung.


"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" sahut seseorang dari arah belakang Elisa. Elisa tersentak kaget, ia pun perlahan berbalik. Kedua matanya sedikit melebar melihat wanita yang tak asing baginya.


"Re-renita?" Elisa terbata-bata.


"Ups, bukan kah ini Nona Calisca, mantan kekasih Presdir Devan. Oh mungkin tepatnya, wanita yang ditinggal nikah gara-gara mempelai pria lebih memilih adikmu," ucap Renita yang pernah menolong Ella waktu itu. Perkataan Renita sedikit mencibir nasib malang Elisa, ia juga dekat dengan Hansel.


"Kau! Jaga ucapanmu, kau ini cuma karyawan biasa di sini. Beraninya berkata seperti itu padaku!" Elisa berkata sinis, tak terima dirinya dihina. Ingin rasanya menampar mulut yang suka mencemohnya.


"Oh ya, aku memang karyawan di sini. Tapi bagaimana denganmu yang tak ada hubungannya dengan perusahaan?"


Elisa terdiam mendengar ucapan Renita, merasa sedikit ada benarnya.

__ADS_1


"Terus mengapa kau bisa datang ke sini dengan sebuah rantang? Apa kau datang untuk menggoda mantanmu kembali?" lanjut Renita memainkan polpen di tangannya. Memandang remeh wanita anggun di depannya.


Telinga Elisa terasa memanas. Benar-benar sudah memancing emosinya. Dengan sinis dan angkuh, Elisa mendorong tubuh Renita hanya dengan satu tangannya.


"Auw!" jerit Renita hampir terjatuh.


"Cih! Dengar baik-baik, kau lebih baik diam saja, urus urusanmu sendiri! Dasar karyawan tak becus!" cibir Elisa menyenggolnya. Dengan keangkuhannya, ia pergi mengabaikan Renita.


"Hei Nona, kenapa kau ke sana? Itu bukan ruang mantanmu ahahaha," tawa Renita melihat Elisa pergi.


"Ck, menyebalkan! Orang di perusahaan ini semuanya gila!" rutuk Elisa kesal menendangkan kakinya. Emosinya belum turun, akan tetapi berhenti saat kedua matanya melihat papan nama ruangan yang dia cari-cari tadi. Senyum manis kian terlihat di bibirnya. Dengan senang hati, Elisa membuka perlahan ruangan Hansel Carlous.


Kreeek!


Elisa memandangi isi ruangan, alis kirinya langsung terangkat melihat ruangan itu kosong.


"Hm, kenapa kosong?" gumamnya menyentuh dagu.


"Harusnya dia ada di sini, apa mungkin aku salah ruangan?" pikirnya mulai berjalan ke meja Hansel lalu tersenyum melihat papan nama di atas meja.


"Sekretaris Hansel," gumam Elisa meletakkan rantangnya. Ia duduk sambil memandangi papan nama Hansel.


"Mungkin dia sedang disuruh oleh Devan, lebih baik aku tunggu dia kembali."


Elisa tak henti-hentinya tersenyum. Ia tak sadar dengan dirinya sekarang. Merasa bagaikan sedang menunggu kekasihnya datang. Sibuk melihat dokumen di atas meja, Elisa dikejutkan dengan pintu ruangan terbuka. Ia segera menoleh dan langsung berdiri melihat orang yang dia tunggu-tunggu sudag datang.


"Eh, Nona Elisa?" ucap Hansel mengakat sebelah alis, merasa sangat terkejut dan heran melihat mantan kekasih Presdirnya berada di dalam ruangannya. Apalagi sangat aneh rasanya melihat Elisa tersenyum padanya. Sungguh hari ini Elisa sangat cantik di matanya.


Deg!


Jantungnya kembali berdetak, sangat jelas terdengar mulai dag-dig-dug.


Bersambung ...


Yuk Vote, komen dan like. Hihihi ... jangan malu-malu ya babang Hansel didatangi bidadari cantik🤣

__ADS_1


__ADS_2