
Devan makin gemas dengan tingkah istrinya. Lelaki berjas hitam ini dengan coolnya masuk menghampirinya. Para pengunjung sontak teralih ke arah Devan, mereka tidak sangka dapat bertemu dengannya.
"Astaga, bisakah kalian jangan berbuat rusuh di butikku?" Elisa memijit keningnya.
Devan menyilangkan tangan dan melirik Ella sedalam-dalamnya.
"Aku ke sini tidak ingin berbuat rusuh, aku hanya ingin membawa sekretarisku kembali ke kantor, jadi untukmu Nyonya Ella, kemarilah!" pinta Devan memainkan jari telunjuknya, meminta Ella ke arahnya. Ella pun maju dan meraih tangan Devan membuat suaminya tersenyum smirk melihat Ella mau patuh dengan perintahnya. Tapi ia kembali terkejut dan kesal setelah mendengar ucapan Ella.
"Hehehe, Pak Bos sepertinya aku tidak cocok di jabatan ini. Jadi aku minta sama Pak Bos, tolong pecat aku dari jabatan sekretaris!"
Devan dan Elisa terkejut melihat Ella membungkuk setengah badan. Dengan rasa kesal, Devan menaikkan dagu Ella dan merangkul pinggangnya. Menatap serius dan tajam dua bola istrinya.
"Oh sayang, kau sangat lucu juga ya. Baru kali ini ada bawahanku minta dipecat langsung dan ternyata itu istriku juga, apa kau sedang ingin bermain denganku?"
Ella cengengesan dan memainkan dua jarinya lalu menjawab, "Ya tidak, aku kan memang tidak tahu main komputer dan aku cuma minta dipecat dari jabatan sekretaris bukan minta dipecat dari status Istrimu, hehehe ...."
Elisa tertawa lucu mendengarnya, begitupun para pengunjung. Melihat mereka tertawa geli, membuat Devan mulai naik darah.
"Sini, kau tetap akan bekerja. Tak ada yang bisa memerintahku meskipun itu kamu istriku, tetap saja keputusanku tidak boleh dibantah. Sekarang kita kembali ke kantor," jelas Devan menarik Ella.
"Ya tapi kan, aku nyaman bekerja di sini. Ini sangat mudah untukku dari pada di kantormu."
"Tidak ada tapi-tapi, kau tetap harus bekerja dan belajar!"
Ella pun memberontak, ia jenuh berhadapan dengan komputer dan dokumen yang ditumpuk-tumpuk di atas meja.
"Ah tidak, aku tidak mau Pak Bos!"
Sekali lagi Elisa tertawa kecil melihat tingkah laku menggemaskan dari pasutri ini. Para pengunjung hanya geleng-geleng kepala. Namun sontak, seseorang berteriak.
"Kyaaa, astaga kenapa busana yang aku pilih bisa robek semudah ini, apa kualitas kainnya tidak bagus?" kagetnya dengan busana yang sobek terbelah dua. Devan dan Ella berhenti berdebat dan kini mendekati Elisa yang sedang berhadapan dengan Ibu yang berteriak tadi.
"Ini kenapa bisa?" tanya Ibu itu nampak marah pada Elisa.
"Tolong ya Bu, kalau jual itu harus yang berkualitas. Saya baru saja mengambilnya dan tiba-tiba saja robek begini, kalau seperti ini saya takut memakai dan membeli pakaian di sini. Mungkin saja ini kualitasnya sangat rendah dan pasti berasal dari perusahaan palsu." Ibu itu mulai mengoceh. Semua mata pengunjung lainnya kini melihat busana di tangan mereka. Nampak mereka mulai bimbang untuk membeli dan berlangganan.
"Tidak mungkin, kualitas di butik Kakakku sangat bagus. Ibu jangan fitnah dulu, atau jangan-jangan Ibu sengaja melakukan ini!" kata Ella angkat bicara, tidak terima Ibu itu menghina bisnis Elisa. Elisa mengepal tangan, ia amat tak sangka bertemu dengan seseorang yang mau mencari masalah dengannya.
Begitupun Devan yang merasa curiga, merasa Ibu ini memiliki niat terselubung.
"Siapa yang mengirimmu ke sini!"
Semua orang terperanjak kaget mendengar bentakan dari arah pintu. Devan, Ella dan Elisa sontak menoleh bersamaan. Terlihat senyum mengambang di bibir Elisa melihat pujaan hati datang ke butiknya.
"Aaaaa ... selamat datang, By!
Pluk!
Devan dan Ella saling tatap melihat tingkah manja Elisa memeluk Hansel.
"Terima kasih, bagaimana bisnismu?" tanya Hansel dengan lembut menyentuh pipi Elisa.
"Hm, semuanya baik-baik saja, tapi dia!" Elisa menunjuk Ibu itu.
"Dia datang ingin mengacau, By." Elisa sedih menatap Hansel.
Hansel menghela nafas dan pergi ke arah Ibu itu sambil menarik Elisa.
"Apa yang Ibu perdebatkan dengan kekasihku?" tanya Hansel dengan dingin berbicara. Devan dan Ella kini cuma berdiri menonton apa yang akan terjadi.
Ibu itu menelan ludah merasa bukan waktunya menjalankan tugasnya, tapi sekarang dia harus berakting demi tujuannya berjalan lancar untuk menghancurkan bisnis Elisa.
"Saya-" ucap Ibu itu maju.
__ADS_1
"Saya di sini sangat kecewa, baru pertama kali memasuki butik ini saya sudah disambut dengan tatapan sinis kalian. Apalagi busana ini benar-benar jelek, jika saya sampai membelinya dan keluar memakainya, mungkin saya bisa telan_jang dan dilihat oleh banyak mata diluar sana." Ibu itu mulai bicara menantang.
Ingin rasanya Elisa menampar Ibu itu, jelas-jelas tak ada yang bisa diremehkan dari kualitas busana miliknya. Namun Hansel mencoba menahan emosi Elisa.
"Benarkah itu? Lalu kenapa orang yang membelinya baik-baik saja dan cuma Ibu yang mengalaminya. Jika Ibu ingin mengacau di sini, lebih baik Ibu keluar saja," usir Hansel menunjuk pintu.
"Saya tidak bisa keluar sebelum kalian ganti rugi pada saya," tolak Ibu itu makin bertingkah. Malah meminta rugi begitu saja.
Elisa mulai geram dan maju.
"Dengar Bu, anda ini baru saja masuk, anda bahkan belum membayar busana yang Ibu pegang, jadi untuk apa kami harus ganti rugi. Ibu sendiri yang harusnya beri kami ganti rugi," kata Elisa menunjuk Ibu itu.
"Hei, dengar Nona. Dari awal saya sudar bayar, Nona sendiri yang pasti pura-pura lupa dan mau memeras saya. Kalau begini, saya bisa tuntut kalian di pengadilan kalau tidak mau ganti rugi! Sekarang berikan saya 20 juta dan saya tidak akan mempermasalahkannya," ucap Ibu itu meminta uang.
Semua pengunjung merinding dengan perdebatan panas ini yang malah bawa-bawa pengadilan.
Ella yang dari tadi mulai greget ingin menjambak Ibu itu. Namun bagi Devan, ia malah santai dan masih mau melihat perdebatan antara pembeli dan penjual.
"Tolong Bu! Ibu jangan malah membalikkan fakta, jelas-jelas Ibu ini tidak memberiku sepeserpun uang. Jangan malah seenaknya ingin memeras kami dan menghancurkan bisnis saya!" ujar Elisa masih menahan kesabarannya untuk tidak menampar.
"Itu benar, Ibu lebih baik berkata jujur sebelum kami bertindak," bela Hansel sambil menenangkan Elisa.
"Ck, jujur apa?" tanya Ibu itu berlagak sombong.
"Jujurlah kalau ada orang yang sengaja mengerimmu kemari!" jawab Hansel mempertegaskan.
"Ck, mengapa kau malah memfitnah saya! Saya ke sini hanya ingin membeli tapi kalian malah memperlakukan saya seperti ini, sangat keterlaluan hiks," ucap Ibu itu mulai berakting menangis nampak menyedihkan.
Hansel dan Elisa saling pandang ingin mencakar Ibu ini yang jelas-jelas mau merusak nama baik butiknya. Namun Ibu itu berhenti menangis setelah mendengar tepukan tangan dari Devan.
"Sungguh drama yang indah, apa anda tidak malu jika sebenarnya yang salah di sini adalah anda. Anda berkata jujurlah, tidak usah menambah masalah di sini," ucap Devan merangkul pinggang Ella. Masih dengan tampang coolnya.
"Salah? Saya salah? Hei Pak, di sini saya dirugikan. Busana yang saya beli malah robek semudah ini, harusnya uang saya dikembalikan," ujar Ibu itu masih membela dirinya sendiri. Sontak, Devan maju dan langsung meraih tangan kanan Ibu itu, kemudian menaikkannya.
"Lihat, siapa yang patut disalahkan. Untuk apa Ibu membawa pisau ini ke dalam butik?" tanya Devan merebutnya. Ibu itu ketakutan kini kedoknya ketahuan.
Dengan cepat, Elisa menampar Ibu itu dengan keras tanpa balas kasihan. Ia saking kesal dan marahnya dipermainkan.
PLAK!
Muka Ibu itu memerah, semua mata merasa jijik dengan Ibu itu.
"Tidak bisa dipercaya, Ibu benar-benar mencari masalah. Sekarang apa yang akan kau pertahankan di sini?" kata Elisa menatapnya tajam membuat Ibu itu menciut ketakutan.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu berbuat demikian?" lanjut Hansel ikut menatapnya.
"Huuuuuuuuuuuu ....." sorak para pengunjung melemparkan hinaan.
"Saya-saya,"
"Saya apa, ha!" bentak Elisa dengan amarahnya.
Ibu itu membungkuk setengah badan sambil mengelus pipinya.
"Jujur saya tidak tahu, saya hanya di suruh oleh seseorang misterius. Saya-saya minta maaf," ucapnya ketakutan dan segera kabur keluar membuat semua orang terkejut. Namun sayangnya, setelah melewati pintu keluar. Dua polisi berhasil menangkapnya.
"Aaaa, lepaskan saya. Apa salah saya!" ronta Ibu itu.
"Anda telah melakukan kesalahan, anda dilaporkan telah mencemarkan nama baik. Mari ikut kami ke kantor polisi!" tegas Pak polisi menarik paksa Ibu itu.
"Tidak, saya tidak bersalah!" ronta Ibu itu makin menjadi-jadi dan pada akhirnya dibawa pergi.
"Huft, syukurlah biang rusuh pergi juga," hela Elisa ingin jatuh pingsan, untungnya Hansel segera menangkapnya.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu malu Ibu itu, dia benar-benar mencari masalah. Saya sangat percaya pada kualitas butik ini," kata salah satu Ibu-Ibu dan diikuti anggukan para Ibu lainnya.
"Maaf ya Bu, atas kejadian tadi membuat kalian tidak nyaman," ucap Hansel menggendong Elisa yang lemas gara-gara berdebat.
"Tidak masalah, Pak. Kami tetap percaya pada kalian."
Ella ikut menghela nafas melihat para Ibu-ibu kembali melihat-lihat dan merasa lega melihat Hansel membawa Elisa ke tempat duduknya, terlihat Hansel dengan hati-hati menyandarkan Elisa.
"Ekhm, sampai kapan kita berdiri di sini?" Ella tersentak dan segera menoleh ke Devan.
"Hehehe, Pak Bos mendiangan balik lagi deh ke kantor," usul Ella cengengesan.
Devan menjentikkan jarinya dan berkata, "Benar, kita harus kembali ke kantor sayang," goda Devan langsung mengangakat Ella bagaikan barang.
"Kyaaaa, aku tidak mau ikut!" pekik Ella dibawa keluar. Sedangkan Hansel dan Elisa tertawa kecil melihat mereka.
"Tidak ada penolakan!"
"Huaaaa aku tidak mau, aku mau cilok honey!" ronta Ella menunjuk penjual gerobak di pinggir jalan. Devan berhenti lalu menoleh ke penjual cilok.
"Tidak boleh makan jajan sembarangan," tolak Devan berjalan kembali.
"Hiks, aku pengen makan cilok honey, pokoknya cilok, cilok, cilok!" ronta Ella merengek. Devan berhenti lagi dan terpaksa menurunkan Ella.
"Ya sudah, kita makan cilok!" Devan menarik Ella. Dengan gembira pun Ella tersenyum.
"Terima kasih, honey aku tersayang."
"Pfft, ahahaha, dasar istri cengeng!" ledek Devan membuat Ella manyun.
"Ish, menyebalkan!" dengus Ella menyilangkan tangan. Keduanya pun tiba di penjualan cilok.
"Pak minta satu tusuk ciloknya!" ujar Devan.
"Bukan satu Pak, tapi 100 tusuk!" pinta Ella membuat Devan terbelalak.
"Eh, sayang. Itu terlalu banyak! Kasih dua tusuk saja Pak!" ujar Devan lagi.
"Tidak Pak, kasih 100 tusuk!"
"Jangan Pak! Dua tusuk saja!"
Keduanya pun berdebat membuat penjual cilok merasa pusing yang harus dipilih siapa. Nampak keduanya saling tunjuk-menunjuk.
"Honey, aku maunya 100 tusuk cilok. Perut aku yang minta loh, honey," rengek Ella mengelus perutnya.
"Ha perut? Kau hamil sayang?" tebak Devan membuat Ella terperanjak kaget.
"Bukan hamil, tapi lapar honey," keluh Ella mengelus perutnya lagi.
"Hm, ya sudah. Kasih 100 tusuk cilok Pak!" pinta Devan akhirnya mengalah. Devan bukannya kikir, tapi dia takut Ella akan kenapa-napa makan jajan dipinggir jalan. Tapi bagi Ella, ini sudah terbiasa untuknya makan jajan di pinggiran jalan.
Devan dan Ella kini duduk sambil makan cilok. Terlihat Ella begitu lahap memakan satu demi satu tusuk cilok. Melihat nafsu makan Ella yang meningkat membuat Devan tersenyum, ia sedang memikirkan Ella yang gemoy dengan bukit kembarnya yang lebih gemoy alias mont0k.
Namun alangkah terkejut, setelah habis makan cilok dan berjalan ke mobil Devan, tiba-tiba Ella mual-mual.
"Hueeeeeek!"
"Hueeeeeek!"
"Sayang kau kenapa?" tanya Devan berdiri merasa panik. Ella tak menjawab, malah kembali mual.
"Hueeeek!"
__ADS_1