Heavenly Earth

Heavenly Earth
Extra Bab 10


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


"Kak Nella, aku boleh bertanya sesuatu?"


Nella yang masih setia menjadi sekertaris nya di perusahaan pribadi Bumi itu pun menoleh. Wanita yang kini sudah menjadi istri dari seorang dokter Hewan itu sampai mengernyitkan dahinya.


"Kamu masih inget kakak?" ejek Nella.


Bumi hanya tersenyum simpul karna malu merasa tersindir.


Semenjak kembali dan menghalalkan hubungannya dengan Kahyangan harus ia akui jika seluruh pusat dunia seakan mengarah pada istrinya, ia bagai lupa jika dulu sering menangis di pangkuan Nella yang hanya bisa mengusap kepalanya untuk menenangkan pria yang sudah ia anggap adiknya itu.


"Kok senyum senyum?" tambahnya lagi yang kini justru menggoda.


"Mau aku marah?" balas Bumi kembali ke mode dingin dan angkuhnya.


"Sepertinya lebih baik begitu, kakak mual melihatmu yang terlalu bucin!" sahut Nella.


Keduanya tertawa, Nella adalah salah satu jejeran wanita terbaik dalam hidupnya yang tahu bagaimana Bumi berjuang mempertahankan perasannya pada satu wanita.

__ADS_1


"Kamu mau tanya apa?"


"Aku ingin istriku cepat hamil, caranya gimana?" Bumi yang kini sudah mendekat tapi tetap memberikan jarak di antara mereka.


"Bikinlah yang rajin" kekeh Nella, Bumi yang biasanya cuek siapa sangka akan bertanya hal itu padanya.


"Aku udah rajin bikin, bahkan nambah, Kak" ucapnya dengan sangat percaya diri.


"Sabar, Bu. Nikah baru sebulan udah ribut pengen cepet punya anak. Nikmatin saja dulu waktu kalian berdua, gak inget perjuangan mu seperti apa dulu saat sibuk menangisinya?" ledek Nella lagi, ia benar-benar sedang merasa gemas pada putra kedua Rahardian itu.


"Aku hanya ingin lebih mengikatnya agar tak lagi meninggalkanku, aku masih saja takut dia hilang dan tak kembali bahkan aku sering panik saat bangun tidur dia tak ada dalam pelukanku, kak" lirih nya yang sekaan masih trauma karna pernah di tinggalkan bertahun-tahun lamanya tanpa kepastian.


"Amin dan Iman yang sama tak menjadi jaminan aku dan dia tetap bersama, 'kan? aku ingin dia nyaman dengan caraku yang ingin melindunginya" ucap Bumi.


"Jangan terlalu mengikatnya dengan semua aturan konyol mu yang kadang kakak saja sampai menggelengkan kepala, wanita butuh rasa nyaman bukan sekedar aman, wanita butuh untuk di percaya bukan sekedar Cinta. Kamu harus memberi dia kesempatan untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri." tegas Nella, ia sangat tahu Bumi bukan pria yang menganggap semua hal sepele. Bumi akan memikirkan baik buruknya semua yang akan ia perbuat, melakukan semuanya sampai menjadi sempurna menurut versinya.


"Aku tahu, kadang aku terlalu cemas padanya. Aku tak akan terima jika ada luka di tubuhnya, kak" timpal Bumi.


"Kamu tak ingin ia terluka oleh orang lain, tapi apa kamu yakin tak akan melukainya? terkadang yang menurut kita benar belum tentu baik bagi orang lain, belajarlah saling memahami, Bu. Jangan terlalu egois." pesan Nella lagi, ia tentu paham dengan maksud aturan yang di lakukan atasannya itu.

__ADS_1


"Dia justru akan terluka dengan ikatan yang kamu buat sendiri, jika itu terlalu kencang" tambah Nella


Bumi menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dengan kedua mata terpejam, seakan mengingat perjalan cintanya selama sepuluh tahun yang tak mudah, mulai dari jatuh cinta pada pandangan pertama, di hadapkan dengan keyakinan yang berbeda dan ia harus menunggu lagi sampai keduanya yakin jika semua atas dasar takdir dari yang maha Kuasa.


"Jadilah sepasang sepatu untuk hubungan kalian"


"Sepatu, kenapa?" tanya Bumi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pasangan terbaik itu adalah sepatu, karna bentuknya tak persis namun serasi. Saat berjalan tak pernah kompak tapi tujuannya sama, bila yang satu hilang yang lain tak memiliki arti.


__ADS_2