
πππππππππ
"Mau tidur atau mau nunggu subuh?" tanya Bumi saat ia dan istrinya usai melakukan kewajiban di sepertiga malam.
"Aku mau tidur, ngantuk" jawab Yayang, dan itu sangat jelas dari matanya yang terlihat sedikit merah.
"Ya sudah, nanti aku bangunkan ya" Bumi meraih tengkuk Kahyangan untuk di cium keningnya lagi sebelum gadis itu merangkak naik keatas tempat tidur.
Tasbih yang berada di tangan, kini ia simpan di atas sajadah yang belum ia lipat, Bumi bangun dari duduknya menuju sofa depan TV.
"Masih ada satu jam lagi" gumamnya pelan sambil membuka layar laptop, sedikit demi sedikit Bumi akan mengerjakan pekerjaan kantornya di waktu luang agar tak terlalu menumpuk saat lusa ia kembali ke perusahaannya.
Hingga adzan berkumandang Ia pun menoleh kearah bidadari hatinya yang masih terlelap berbalut mukena.
"Sayang, bangun yuk. Dua rakaat dulu" bisiknya sambil terus menciuminya dengan lembut.
"Hem,"
"Ayo bangun, kita ambil wudhu lagi" ajak Bumi, ia mengangkat tubuh lemas Yayang yang seakan tak bertulang, Bumi mengulum senyum karna otaknya kini sedang mengingat kejadian sebelum mereka tidur tadi.
"Pasti kecapean nih"
******
Menjelang makan siang Bumi dan Kahyangan bersiap kembali pulang ke apartemen karna keduanya sudah di tunggu Reza dan Melisa sejak kemarin.
"Kami pamit, Oppa." ucap Bumi setelah mengurai pelukannya di ruang tamu.
"Hati hati dijalan, sering-sering lah berkunjung karna Kakak kalian sudah jarang kemari" pesan Oppa.
"Iya, hamilnya Hujan yang semakin besar membuat ia harus banyak istirahat" timpal Omma.
"Iya, Kami akan luangkan waktu untuk kalian"
Pasangan baya itu melepas kepergian cucu keduanya itu dengan cara mengantar sampai ke teras, Oppa dan Omma langsung melambaikan tangan saat mobil mewah Bumi keluar dari area Rumah utama yang megah.
.
__ADS_1
.
.
Bumi terus menggoda gadis halalnya itu sampai ia harus menutup wajahnya yang merah merona, bahkan Yayang mengancam untuk turun jika suaminya itu tak berhenti merayunya.
"Kamu receh banget sekarang, padahal dulu sok jual mahal" ledek Yayang yang tahu betul siapa Bumi.
"Gimaha gak receh, semua udah aku kasih ke kamu, Yang"
"Jual mahal rugi ya" cibir Yayang sembari menghindari saat pipinya lagi-lagi hendak di cubit pelan oleh sang suami.
Keduanya tertawa dan saling melempar candaan, dulu mereka berpacaran dengan sikap yang begitu dewasa lain halnya kini yang justru bagai remaja, karna tak ada beban dan rasa takut yang Bumi dan Kahyangan rasakan saat bersama.
Semua itu seakan hilang saat proses ijab kabul berlangsung lancar hingga berakhir Sah untuk keduanya.
"Udah lama banget aku gak kesini, Bu" ucap Yayang saat di depan pintu apartemen mertuanya.
"Semua masih sama, ayo masuk"
Dengan langkah beriringan dan saling menggenggam tangan, keduanya pun masuk dengan peasaan yang tak bisa di gambarkan.
Bumi membuka pintu dengan sangat pelan, senyum lebar terukir di wajah tampannya manakala Reza dan Melisa menoleh bersamaan.
"Sayangnya mama" Nyonya besar Rahardian itu pun bangun dan siap menerima pelukan menantu keduanya.
"Apa kabar, Mah, Pah"
"Baik, Sayang."
Setelah berbasa-basi dan saling memeluk kini ke empatnya mengobrol di ruang tengah, banyak hal yang mereka ceritakan selama bertahun-tahun tanpa kabar.
" Bu, papa tunggu kamu di ruang kerja papa" ucap Reza sambil bangkit dari duduknya.
"Iya, Pah"
Bumi menoleh kearah Kahyangan, perasaannya mendadak tak enak saat melihat Reza berlalu dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Pergilah, aku sama mama akan menyiapkan makan siang"
Titah Yayang, ia tahu jika suaminya seakan ragu untuk ikut dengan papa mertuanya ke atas.
"Hem, baiklah"
Bumi bangun dari duduknya, ia melangkah gontai dengan hati berdebar, jantungnya mendadak serasa ingin melompat dari dalam tubuhnya.
Dengan tangan dingin yang tiba-tiba keluar keringat ia pun berusaha tenang saat membuat knop pintu.
Cek lek.
.
.
.
.
.
.
.
.
Astaghfirullahalazim... kalian ngapain pada disini?
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Huleeeeeee...
Rapat orang ganteng di mulai π€£π€£π€£π€£π€£
Apa julukan malam indah si anak bawang?
__ADS_1
penasaran?
Like komennya dulu yuk βΊπ