Heavenly Earth

Heavenly Earth
bab 37


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁


Semenjak hari itu, tak ada lagi komunikasi yang terjalin antara Bumi dan Khayangan. Bukan memutus silaturahmi tapi keduanya sedang menahan untuk tau meski itu hanya sebuah kabar.


Hati yang masih terluka ternyata membuat mereka lebih egois untuk bertahan pada pendiriannya masing masing bahkan rindu pun kini sudah mulai di abaikan.


"Mau berangkat kapan, kak?" tanya Melisa saat ia membuka pintu kamar si tengah.


"Sore, Mah. Pesawatnya kan malem" jawab Bumi yang merentangkan tangan ingin memeluk wanita terbaiknya itu.


"Kenapa gak pake punya papa sih?, biar lebih aman" rayunya lagi pada Bumi.


"Aku mau liburan, Mah bukan mau bisnis kaya papa" kekeh Pemuda itu.


Melisa menatap sendu wajah anak kebanggaannya itu, masih tak rela rasanya ia mengizinkan Bumi berlibur meski hanya sepuluh hari lamanya ke luar negeri.


Tapi Putranya butuh suasana baru untuk sedikit saja melupakan rasa sakit hatinya, dan ia berharap dengan cara ini Bumi bisa kembali menata hidupnya jauh lebih baik untuk masa depannya yang jauh.


"Mama gak boleh nangis, janji?" goda Bumi saat melihat Melisa sudah berkaca-kaca.


"Mana mungkin mama gak nangis, anak ganteng mama mau jalan-jalan, eh.. tapi semoga kesenggol gadis cantik dan baik hati ya" Melisa tak kalah menggoda.

__ADS_1


"Aku main, Mah. Bukan cari pacar Lo disana" Jawab Bumi sambil tertawa, tak ada sedikit pun terbesit dalam benaknya kini untuk mencari sosok pengganti Kahyangan, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.


******


Jam dua siang Bumi keluar dari apartemen setelah berpamitan dengan Melisa dan Hujan yang kebetulan ada di dapur sedang menyiapkan beberapa cemilan untuknya jika ia rindu masakan sang mama nanti selama di luar negeri.


Ia berjalan tergesa menuju lift yang akan membawanya ke lobby apartemen.


Sampai di sana sudah ada satu mobil yang ia sewa untuk mengantarnya ke suatu tempat yang sebenarnya tak ingin ia datangi.


"Ke alamat yang sudah saya beritahu ya, pak" ucap Bumi pada si supir yang duduk di belakang kemudi.


Bumi menyandarkan tubuhnya di kursi belakang, ia menatap kosong jalanan yang terik mataharinya bagai membakar isi dunia.


Ia tak punya alasan atas kepergiannya kali ini, tapi ada sedikit niat dalam hatinya jika ini harus jadi yang terakhir untuknya.


Hampir satu jam perjalanan akhirnya mobil sewaannya berhenti di seberang jalan sebuah resto ternama yang terletak di pinggiran ibu kota, terlihat cukup ramai meski waktu makan siang sudah lewat.


Dua manik mata Bumi tak lepas dari bangunan itu berharap satu detik saja ia bisa melihat gadis Kesayangannya itu keluar.


Perasaan resah, tak sabar kesal dan juga sedih menjadi satu sedang bergelut dalam serpihan hatinya yang masih terluka.

__ADS_1


Bumi masih setia menunggu sampai tiba saatnya gadis itu benar benar keluar, tubuh langsing tingginya melangkah bersama pemuda yang cukup ia kenal menuju sebuah motor yang terparkir.


Senyum getir langsung tersungging di sudut bibir Bumi yang bergetar menahan perih.


"Harusnya aku emang gak kesini, aku buat diriku sengaja untuk menambah luka padahal yang kemarin aja sakitnya masih luar biasa. semudah itu kamu melupakan ku?, kini hadirnya tak lagi menjadi bayangan untuk hubungan kita, Yang" Bumi bergumam Kecil sambil menghapus tetes cairan bening di ujung matanya.


.


.


.


.


.


Kita balik ke apartemen, Pak.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***


__ADS_1


__ADS_2